Jumat, 12 Februari 2016

Cerpen



Terjebak Hatimu
Oleh : Mel A.



            Aku tak tahu caranya menghentikan semua ini. Segala yang telah terjadi di antara aku dan perempuan yang telah berhasil merebut hatiku di waktu yang tepat pada saat yang tak tepat itu. Mungkin sudah terlambat untuk diakhiri begitu saja. Aku tak punya alasan yang tepat untuk meninggalkannya, dan tak pernah ada alasan yang tepat untuk menyudahi hubungan yang terlanjur jauh ini. Pada awalnya pun aku tak punya alasan yang tepat mengapa aku bisa melakukan semua ini.
            Semua terjadi begitu saja, aku pun tak bisa mengingat dengan jelas mengapa tiba-tiba terlintas di pikiranku untuk lebih dekat dengannya. Mengapa otakku memerintahkan bibirku untuk meminta pin BBM-nya, dan mengapa otakku menyuruh jemariku untuk berkomunikasi intens dengannya? Lebih gilanya lagi, kenapa kami saling sambut satu sama lain? Kenapa semua bisa terjadi tanpa kendali? Dan di titik ini, aku mulai resah memikirkan bagaimana menciptakan akhir yang indah, setidaknya kesudahan yang baik-baik saja. Entahlah.
***
            Kembali aku mengutuk diri. Saat hari ke hari kami bagai sepasang sayap yang tak bisa terbang jika salah satu dari kami pergi. Aku kecanduan dia, perempuan yang tak semestinya hadir di saatku tak mungkin lagi terlepas dari kehidupanku sebelum mengenalnya. Aku bagai terjebak dalam labirin, berputar-putar tak tahu jalan keluar. Aku terjebak hatimu, Mulan.
            Satu hal yang selalu kujaga hingga detik ini, tak pernah sekali pun aku mengucap kata cinta untuknya. Aku tahu persis dia sangat mengharapkan ungkapan kata indah yang bisa membuatnya terlena. Aku tak hendak membuatnya terlalu berharap, khawatir jika aku tak mampu menjadi apa yang dia mau. Aku tak mau menyakitinya.
            Itulah sebabnya tak pernah kuberkata cinta. Pernah satu kali kuucap LOVE YOU dengan isyarat bibirku tanpa suara, saatku berada di atas tubuhnya. Dan aku masih ingat saat dia membalas dengan gerakan bibirnya yang mengucap LOVE YOU MORE tanpa suara pula. Kegilaan yang sulit dihentikan dan aku tak tahu cara menjauhinya. Saat ini dia bagai candu yang membuatku ketergantungan, sulit kuhindarkan.
            Aku tahu bila dia diam-diam menyelidiki kehidupanku lewat media sosialku. Sepertinya dia sudah tahu banyak hal tentang hidupku tanpa kubercerita. Tapi tak sekali pun kudapati dia membahas dan menanyakan hal tentang kehidupan pribadiku bersamanya. Mungkin dia tak ingin mengetahui hal yang nantinya malah akan membuatnya terluka. Aku sadar akan hal itu. Dan itulah sebabnya mengapa aku tak pernah menceritakan tentang kehidupanku bersama muhrimku itu.
            Seperti perempuan lain pada umumnya, aku paham bila dia sering bercerita tentang kami kepada sahabatnya. Aku tak mampu melarangnya untuk tak mengatakan apapun kepada siapapun tentang hubungan yang absurd ini. Aku rasa dia sudah cukup dewasa untuk tak sembarang mengobral curahan hatinya. Untungnya dia hanya percaya kepada beberapa sahabatnya saja.
            Tidak pernah aku merasa khawatir bila dia akan merusak kehidupanku bersama muhrimku. Aku merasa nyaman dan tak tebersit ketakutan dia akan bertindak anarkis menuntut segala hal berkaitan dengan apa yang telah kulakukan padanya. Sungguh aku tak mampu membayangkan jika itu sampai terjadi. Tapi aku begitu yakin, dia tidak akan bertindak konyol dan sebodoh itu. Aku sangat mempercayainya.
            “Pagi, semangat ya buat hari ini.”
            Di pagi hari selalu kusempatkan untuk menyapanya, sekadar berkabar dan mengucap kata rindu bila beberapa hari kami tak berjumpa. Aku tak pernah menyangka, bila kehadiranku di hidupnya sangat berdampak besar pada perubahan psikisnya yang sedang rapuh. Aku bagai magnet semangat bagi hidupnya. Itu pula yang menjadi pertimbanganku tak mampu lagi beranjak dari hidupnya. Aku tak mau mematahkan semangatnya yang sedang membara saat ini.
            Impian indahnya terlalu sayang bila disia-siakan. Aku melihat banyak potensi terpendam dalam dirinya yang belum maksimal dia keluarkan untuk memperbaiki kehidupan yang baginya suram. Kerapuhan hatinya hanyalah dampak dari pikiran negatif akan kisah hidupnya yang tak berjalan sesuai keinginannya.
Banyaknya kegagalan yang dia rasakan membuatnya terpuruk. Sehingga dia mengabaikan impian yang pernah dimulainya namun tak dilanjutkan hanya karena tak punya seseorang yang bisa membangkitkan semangatnya. Kini dia telah menemukan seorang tersebut,  dan orang itu adalah aku. Dia telah menaruh harap yang terlalu banyak kepadaku. Itu juga yang menahan kakiku untuk tak pergi darinya. Aku benar-benar terjebak di duniamu, Mulan. Aku terhanyut dan terbawa arus mimpi indahmu itu.
Pernah kumencoba menghilang beberapa saat darinya. Sengaja aku tak berkabar seharian penuh, hanya untuk menguji diriku apakah aku sanggup menjauh darinya. Tapi dia tampak kalem dan tak berusaha keras mencari tahu keberadaanku di hari itu. Hanya kudapati dia membuat status di BBM yang menurutku seperti kode menanyakan kabarku. Sepertinya aku kurang peka. Ternyata dia merasa resah kehilangan kabarku, itu semakin membuatku gamang.
            Ya Tuhan, aku sungguh tak mampu mengucap kata pisah. Tapi aku tak mau rasa ini semakin berkembang dan hanyut terlalu jauh lagi. Aku mulai mengurangi intensitas komunikasiku hanya untuk pelan-pelan menjaga jarak darinya. Semoga perlahan dia paham akan sikapku. Bukannya berniat jahat dan bersikap berengsek untuk mencampakkannya begitu saja setelah apa yang kami jalani selama beberapa bulan ini. Tapi aku tak mau merenggut kepercayaan muhrimku. Sebisa mungkin aku harus mengusahakan agar semuanya tampak baik-baik saja.
            Satu hal yang tak bisa kujelaskan tentang perasaanku adalah tak ada kata yang tepat untuk mengungkapkan rasa nyaman yang luar biasa saat bersamanya. Mungkin kata-kata itu melebihi dari kata cinta. Bagiku cinta hanya sepenggal kata tanpa makna yang artinya tidaklah berpengaruh besar pada apa yang kurasa. Itulah sebabnya aku tak pernah mengucap kata cinta padanya. Kedewasaan berpikir adalah satu-satunya yang bisa membuatku terikat pada hubungan ini. Lagipula kami saling dukung dan bantu satu sama lain. Tak ada kata merugi sebelah pihak atau menghancurkan dalam hal apapun.
            Hal negatif yang kami lakukan hanya sebagai pemanis dan penyeimbang hubungan, juga karena tak bisa menampik kodrat sebagai manusia biasa yang dianugerahi nafsu syahwat. Tapi kisah kami tidak hanya tentang seks dan obral kemesraan seperti ababil yang baru mengenal cinta. Kedewasaan dalam bercintalah yang kami utamakan. Saling pengertian dan selalu ada saat salah satu dari kami membutuhkan bantuan. Kami sungguh sepasang sayap yang utuh mengepak bersama mencapai resolusi hidup kami.
            Bila ada hal yang patut disalahkan dalam hubungan ini mungkin adalah takdir yang terlambat mempertemukan kami. Dan hati yang tak mampu menampik rasa serta membiarkan otak kanan tak mencerna logika, lagi-lagi ini tentang kodrat kami sebagai manusia biasa. Kamu sunggguh berarti, Mulan. Biar hatiku yang berbicara pada hatimu tanpa suara dan aksara. Tapi hatiku sungguh ingin berkata, bahwa aku telah terjebak hatimu dan sulit keluar dari labirin mimpi indah kita. Kelak jika kita bisa keluar dari labirin rasa yang menjebak kita, aku akan berusaha menemukan jalan terbaik dan teraman untuk kita lalui bersama. Tanpa ada luka apalagi air mata. Dan semua akan baik-baik saja.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar