Kamis, 18 Februari 2016

Cerpen

I’m gonna Love You Like I’m gonna Lose You
Oleh : Mel A.



            Sedari awal aku tahu ini tak akan pernah mudah. Apa yang aku jalani bagaikan memasang bom waktu yang setiap saat bisa menghancurkan kehidupanku, dan dia. Ya, dia. Laki-laki yang terlanjur masuk terlalu dalam di kehidupanku yang absurd. Aku telah menyeretnya ke arus mimpiku, membelenggunya dengan kisah tanpa masa depan. Yang aku tahu tentang kisah ini hanyalah ini akan berjalan pada hari ini, entah esok, entah lusa nanti, aku tak akan pernah bisa prediksi bagaimana akhir dari kisah ini. Apakah akan bahagia atau justru sebaliknya. Atau mungkin tak ada akhir sama sekali, abadi. Entahlah.
            Itulah sebabnya, aku sudah siap kehilangan dia kapan saja. Pada saat aku memulai pun, aku sudah merasa kehilangannya. Aku akan selalu siap menguatkan hati untuk hal terburuk sekalipun. Bersamamu, bagaikan melepas tentara ke medan perang, harus berbesar hati mendapat kabar buruk setiap saat. Harus siap kehilangan setiap waktu. Dan harus berjiwa besar melepasmu sewaktu-waktu. Ini tentang mencintai tanpa ada terucap kata cinta. Ini hubungan absurd yang mampu membangkitkan semangat hidup. Ini tentang hal salah yang begitu benar.
***
            “Kamu tahu rasanya dikhianati?”
            Aku menatap mata sayu Tyas, ada genangan bening di pelupuknya saat mengucapkan kalimat tadi. Aku bergeming, mendengarkan semua celotehnya tanpa berkata-kata. Di saat gamang dan butuh teman bertukar cerita, Tyas hanya ingin didengarkan saja, sudah kuhafal tabiat sahabatku yang satu ini. Tyas hanya butuh pendengar, tanpa aku bersusah berkomentar atau memberi masukan klasik yang kurasa Tyas sudah tahu isinya.
            “Aku mungkin bisa memaafkannya, tapi tidak melupakan cara dia menyakitiku.”
            Kuperhatikan wajah berangnya, Tyas sedang menahan emosi, aku bisa merasakan itu. Pelan kuusap pundaknya, berharap sentuhanku mampu sedikit meredam saga yang sedang bergolak di pikirannya. Genangan bening itu mengalir juga dari sudut matanya, Tyas terisak dan akhirnya wajahnya jatuh di pundakku.
            Masih dalam diam, aku hanya mampu memberikan sentuhan lembut yang kuharap dalam membuatnya nyaman dan tenang. Tyas tak butuh banyak kata, biar dia saja yang bercerita. Aku hanya perlu menunggu dia menyelesaikan tangisnya. Saat Tyas mulai mengalihkan pembicaraan, saat itulah untukku membuka percakapan dua arah.
            “Aku pengin banget kayak kamu, nggak pernah merasa disakiti.”
            Ini saatku bersuara, Tyas sudah selesai dengan melodramanya.
            “Karena aku nggak pernah mengizinkan hatiku untuk tersakiti.”
            How?”
            “Jangan terlalu dalam mencintai. Sewajarnya saja, jadi kalau kecewa juga akan merasa biasa saja.”
            Aku terpana dengan kalimatku sendiri. Apa iya aku bisa seperti itu? Tapi aku selalu memakai prinsip untuk tampak kuat di hadapan semua orang. Selemah apapun aku, jangan sampai ada yang tahu, termasuk dia. Laki-laki yang telah memberi warna baru hidupku. Tak ada yang boleh tahu. Sedalam apa perasaanku dan selemah apa pertahananku biar aku sendiri saja yang menanggungnya. Aku hanya ingin melihat semua orang berbahagia. Abaikan diri sendiri, yang penting melihat orang bahagia karenaku itu sudah bisa membawa kebahagiaan tersendiri bagiku.
            “Tapi kamu bukannya nggak pernah merasa kecewa, kan?”
            “Itu sudah jadi makananku setiap saat. Jadi sudah nggak aneh dengan perasaan kecewa.”
            “Bagaimana kamu bisa sekuat itu?”
            Aku hanya tertawa kecil mendengar pertanyaan Tyas. Kali ini aku harus jujur.
            “Aku cuma pura-pura kuat aja. Dengan berpura-pura kuat, maka alam bawah sadarku akan mendukungnya. Lalu akan ditransfer ke sel-sel otakku yang akan memberi sugest positif. Jadilah aku beneran kuat.”
            “Hanya perlu berpikir positif?”
            “Yups.” Jawabku singkat.
            Dalam hati aku terbahak, sedikit merasa bersalah juga telah membohongi sahabatku itu. Tapi berbohong demi kebaikan menurutku tak apalah. Daripada harus melakukan melodrama bersama, galau berjamaah yang ujung-ujungnya cuma akan menurunkan semangat hidup saja. Aku selalu berusaha tampak baik-baik saja di hadapan semua orang. Tak menunjukkan kesusahan apalagi pamer kegalauan di media sosial. Terkadang lucu melihat tingkah orang-orang yang bangga pamer aib diri sendiri. Bagiku itu hanya hal konyol yang tak akan mengubah keadaan. Orang biasanya bertanya karena penasaran ingin tahu, bukan karena benar-benar peduli. Jadi lebih baik dipendam sendiri.
            Sebesar apapun keinginanku untuk mengungkapkan isi hati kepada dunia, selalu bisa kutahan sekuat mungkin. Aku mempunyai cara tersendiri untuk menyampaikan kegundahan itu. Tak perlu lewat suara, tak perlu banyak kata-kata, cukup aksara yang walau hanya orang-orang yang peka yang bisa pahami itu semua. Begitulah caraku berbagi duka, hanya lewat untaian kata yang melagu di dinding bisu. Dan hanya jiwa-jiwa yang peka saja yang akan tahu. Aku berharap dia adalah salah satu jiwa yang peka itu. Ya, dia. Laki-laki yang kehadirannya bagaikan napas bagiku.
            Aku tak ingin seperti Tyas atau sahabatku yang lain. Bermelodrama lalu berakhir entah ke mana. Meninggalkan jejak luka yang semua orang bisa baca dan hanya bisa tertawa. Mempertontonkan kebodohan sendiri tanpa hikmah yang jelas membekas. Aku adalah aksara yang membeku, membisu, dan hanya bisa disentuh oleh hati yang mampu memecah heningku. Tak perlu ada tangisan di setiap dukaku, sungai air mataku telah mengerontang. Tangisanku hanya untuk kebahagiaan atau sekadar rasa haru saat melihat sesuatu yang mampu menyentuh relung batinku. Bukan untuk luka dan kecewaku.
***
            Sering aku bertanya, apa itu hakikat cinta? Jawaban yang kutemukan adalah melepaskan. Ya, mencintai berarti rela melepaskan, memberi tanpa harap kembali dan menerima apa adanya bukan ada apanya. Bila hati sudah tak mampu melakukan hal tersebut, itu tandanya tak ada rasa cinta. Cinta adalah mampu menerima segala kekurangan, bukan hanya tentang kebahagiaan dan kesenangan. Dan bagiku, cinta tak butuh diucapkan, cukup dirasakan.
Satu hal yang kurasa tentang cinta adalah perjuangan. Berjuang bersama orang yang mampu bertahan tak hanya dalam suka, tapi juga duka. Tak lekas beranjak di kala nestapa, tak lantas hanya ada di saat gembira. Cinta tak hanya tentang hawa nafsu, emosi sesaat, dan pemenuhan syahwat. Tapi cinta adalah tentang bahagia, menangis, tertawa dan sedih secara bersama. Tapi apa semua akan ada artinya bila tak terucap? Apakah harus diucapkan untuk meyakinkan bahwa itu cinta?
            Jika sampai detik ini aku tak juga mendapatkan kata cinta dari orang yang kuharapkan, aku akan tetap berbesar hati. Mungkin cinta yang terucap hanya sekadar singgah lalu bisa saja lekas pergi. Berbeda dengan  cinta yang datang dari hati, tak terucap lisan tapi bisa dirasakan. Hanya perlu bukti bukan janji. Tak perlu obral omongan yang penting kepastian. Bagiku itulah cinta, bukan sekadar kata-kata.
            Dan jika aku sudah merasakan cinta, maka aku akan cepat percaya. Disaat aku sudah mempercayai seseorang, aku hanya akan mendapatkan dua hal, dapat teman hidup atau pelajaran hidup. Semoga dengannya aku mendapatkan hal yang pertama, untuk hal kedua aku sudah kenyang merasakannya. Tak perlu lagi ada pelajaran dalam hidupku, lagipula aku sudah terlalu pintar untuk menyiasati semua permasalahan hidup. Mencintai adalah melepaskan, ya..., aku akan mencintainya seolah aku akan melepaskannya.
***
          

Tidak ada komentar:

Posting Komentar