Kamis, 25 Februari 2016

Cerpen



Jangan Pernah Bertanya
Oleh : Mel A.



            “Jangan tanyakan hal yang aku pun tak tahu jawabannya. Kumohon, jangan … “
            Rapalku dalam hati setiap berada di samping perempuan ini. Aku tahu, ada hal yang sangat ingin diketahuinya yang sampai detik ini tak juga kutahu cara menyampaikannya. Yang kutahu hanyalah tentang kenyamanan saat bersamanya. Bukankah dia juga tahu, rasa nyaman itu lebih berbahaya dibanding rasa cinta. Masihkah dia terus bertanya?
***
            Ini bukan tentang siapa dan mengapa, tapi tentang rasa. Perasaan yang tak pernah kumengerti mengapa aku bisa merasakannya. Perasaan nyaman yang teramat sangat saat bersamanya. Perasaan takut kehilangan dan takut ketahuan, semua bercampur aduk menjadi kekhawatiran yang terkadang membuat pikiranku kalut. Ini salah, ya aku tahu apa yang kulakukan adalah sebuah kesalahan fatal bagi sebuah pernikahan.
            Aku tak punya alasan mengapa bisa jatuh ke lain hati. Tapi yang jelas aku tak pernah mengobral janji atau memberi harapan pasti. Ini memang tak adil baginya yang kulihat isi kehidupannya saat ini hanya ada aku setiap waktu. Kulihat dari isi akun tumblr-nya dan status-status BBM-nya. Diary elektroniknya selalu bercerita tentang aku. Walau dia tak pernah mengutarakan langsung tapi aku cukup peka untuk memahami artinya.
            Mungkin dia tidak pernah tahu, bila aku selalu mengikuti kata hatinya lewat aksara yang digoreskannya di dinding kebisuan favoritnya. Aku selalu membacanya, aku paham keinginannya. Tapi mengapa dia pun tak pernah mengutarakannya secara langsung? Apa yang ditakutkannya? Apakah sama seperti apa yang aku takutkan? Jawaban, ini mengenai jawaban akan pertanyaan yang belum kutemukan jawabannya.
            Bisa jadi dia khawatir bila aku tak mampu menjawab saat dia bertanya kelak. Ya, sepertinya aku memang tak mampu menjawabnya. Jadi kumohon, jangan pernah mempertanyakan hal itu, Mulan. Alam bawah sadarku selalu mengingatmu, apa itu tak cukup? Waktuku pun banyak kuhabiskan untuk memikirkanmu dan hubungan kita yang menurutmu absurd.
            “Ini bukan hubungan yang absurd. Aku menyayangimu, Mulan.”
            Itu adalah kalimat yang sangat ingin kuutarakan setiap kamu dipelukku, Mulan. Tapi apakah tidak terdengar gombal atau sok romantis? Kamu selalu tahu, aku adalah sosok yang realistis. Kurasa tanpa kubercerita pun kamu bisa tahu segala tentangku. Selalu kudapati kamu mampu menjawab pertanyaan hatimu sendiri. Jadi, tak perlu lagi bertanya padaku, bukan?
            Ini bukan hubungan yang absurd. Kurasa aku tak perlu meyakinkanmu dengan kata-kata. Kamu perhatikan saja sikap dan tindakanku yang selalu tentang kita. Tanpa kuberkata pun bukankah kamu sudah mampu menjabarkannya semua melalui dinding aksara di akun tumblr-mu itu. Aku tahu, semua tentang kita. Seolah yang ada di kepalamu itu hanya aku, duniamu selalu tentang aku. Kamu berlebihan, Mulan.
            Jangan pernah bertanya, Mulan. Jangan prediksikan hari depan kita. Jangan mengkhawatirkan yang belum tentu terjadi. Jangan bersedih jika terkadang sikapku tak sesuai harapanmu. Bukankah aku tak pernah mengiming-imingimu dengan harapan apapun. Aku tak akan menegaskan tentang itu, aku tak akan membahas tentang kegelisahan hatimu. Aku hanya ingin membuatmu nyaman di sampingku, tertawa bersama melupakan masalah hidup yang ada. Itu sudah lebih dari cukup, kan? Jadi, berhentilah bertanya, kita jalani saja.
***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar