Senin, 29 Februari 2016

Cerpen



Tak Akan Ada Cerita Dalam Sebuah Rahasia
Oleh : Mel A.

            Apakah aku sudah boleh panik? Ini nggak biasanya, lebih dari tiga hari dia menghilang nggak berkabar. Bahkan nggak ada tanda-tanda dia mengaktifkan gadget-nya. Notifikasi terakhir whatsapp-nya pun menunjukkan tanggal dan jam terakhir saat kami berjumpa, tiga hari yang lalu. Apa mungkin dia punya hobi baru, bermain sulap? Makanya bisa simsalabim menghilang begitu saja, hadeehh.
            Belakangan ini selalu begitu, sepertinya ada sesuatu yang mengganggu pikirannya sehingga sikapnya jadi aneh. Aku merasa bersalah, merasa nggak berarti dan entah segudang pikiran negatif lainnya bercokol di kepala. Dasar nggak berguna, makiku dalam hati pada diri sendiri. Aku pasangan yang nggak berguna buat dia. Nggak bisa jadi teman pelipur laranya, hanya menambah beban pikirannya saja.
            Aku bukan tipe yang suka menebak-nebak. Bukan terlalu ingin tahu juga, tapi setidaknya buat apa kehadiranku di hidupnya bila nggak bisa memberikan kontribusi apapun untuknya. Aku berusaha berpikir positif, mungkin dia sakit, mungkin gadget-nya bermasalah, mungkin dia pergi ke tempat yang jauh lalu tersasar dan hilang sinyal. Atau mungkin dia amnesia?
            “Uring-uringan lagi? Dia menghilang lagi?”
            “Hooh.”
            “Udah tabiatnya kali, ntar juga nongol lagi.”
            “Tapi aku merasa nggak dihargai.”
            Lebay!”
            “Aku dianggap nggak ada.”
            “Mulai baper deh.”
            “Kayaknya sih gitu.”
            “Males ah dengerinnya.”
            “Pan dari tadi kita chatting, bukan teleponan, emang kamu bisa dengerin suara aku?”
            “Jaius!”
            “Ssst, jangan nyebut-nyebut tokoh berbahaya.”
            “Au ah.”
            “Kok jadi kamu yang sewot? Kan aku yang lagi emosi.”
            “Hey Miss lebay plus baper, enough ya. Sikap kamu kayak gini lama-lama bisa bikin dia nggak nyaman ntarnya.”
            “Apa dia mulai nggak nyaman ya ama aku?”
            “Terus aja mikir yang nggak-nggak.”
            “Lho kan itu tadi idemu.”
            “Dasar baper.”
            “Kamu tahu? Aku pengin banget lihat dia marah. Pengin tahu kalo lagi marah dia kayak apa, sih?”
            “Mulai ngaco deh.”
            “Enggak ngaco kok. Biasanya orang kalo lagi marah kan bakalan keliatan watak aslinya gimana. Itu yang aku pengin tahu.”
            “Kamu mulai kelewatan.”
            “Apa iya?”
            “Tanya langsung aja ke dia.”
            “Enggak berani.”
            “Payah! Beraninya curhat ke aku doang.”
            “Kalo curhat ke kamu seru, bisa main drama kan kita.”
            “Kamu tuh, drama quenn!”
            “Hahahaha.”
            Oke cukup. Sepertinya aku harus mengikuti saran sahabatku untuk nggak terlalu baper apalagi berpikiran negatif sama dia. Pikirkan bahagia, pikirkan hal positif, pikirkan semua kebaikannya. Selama ini dia nggak pernah bikin aku kecewa, kan? Enggak pernah kok. Eh, pernah ... ya kali ini. Kecewa karena sikapnya yang penuh rahasia.
            Kalo dalam hubungan ini masih ada rahasia, gimana bisa jadi sebuah cerita? Nggak akan ada cerita dalam sebuah rahasia. Apa yang mau diceritain kalau semuanya masih serba ditutupi? Apa dia sengaja mau bikin aku penasaran? Oh, come on! Hilangkan prasangka dan pikiran negatif itu. Dia baik-baik saja.
***
            “Mulan, dia sakit!”
            Oh, God. Firasatku benar, terjadi sesuatu padanya. Kutahu itu dari temannya.
            “Liat status sama DP BBMnya, kode buat lo.”
            Temannya memberitahuku lagi. Tadi aku sangat sibuk sekali sehingga nggak sempat menyentuh handphone-ku sejak beberapa jam lalu. Langsung aku melihat notifikasi BBM, sontak mataku memanas. Perasaan bersalah kian menyesakkan ulu hati saat menatap gambarnya yang lagi terkulai lemas dengan jarum infus menancap di tangan kirinya. Menyesal atas prasangka burukku kepadanya. Ternyata dia bukan menghilang seperti pradugaku sebelumnya. Maafin aku, Sayang.
            Sepertinya dia sakit juga gara-gara aku. Terakhir kami menghabiskan waktu bersama kulihat kondisi fisiknya sepertinya drop sekali. Tapi dia memaksakan diri tetap menemuiku. Seharusnya aku peka dan nggak memaksanya untuk menghabiskan malam itu bersamaku. Aku egois, nggak bisa membaca situasi. Aku pasangan yang nggak berguna!
            Seharusnya malam itu aku habiskan dengan memberikan pundakku untuknya bersandar. Seharusnya malam itu kupasang telingaku untuknya bercerita tentang kesahnya. Seharusnya malam itu kubiarkan dia beristirahat saja. Tapi dia nggak pernah mengeluh, boro-boro mau cerita. Dia menyimpan banyak sekali rahasia, sepertinya. Aku hanya bisa menebak-nebak saja. Dari sekian beban hidup terberatnya, aku hanya tahu sebagian besarnya saja. Apa salah jika aku ingin berbagi cerita suramnya? Apa berlebihan jika aku ingin mengurangi beban batinnya? Jika menurutnya aku nggak berhak tahu tentangnya, lalu buat apa aku ada di hidupnya?
            Jika memang aku nggak bisa membantunya, setidaknya aku bisa dijadikan tempatnya berkeluh kesah. Setidaknya dengan bercerita akan mengurangi beban pikirannya. Bukankah pikiran yang dipendam sendirian akan menjadi beban yang memberatkan isi kepala. Sebenarnya penyakit itu datangnya dari pikiran, membawa sugesti ke sistem imun tubuh yang bisa menyebabkan kondisi fisik menjadi drop. Seandainya aku bisa menjelaskan sama dia tentang itu semua.
            Aku nggak pernah sakit karena selalu membebaskan pikiranku. Mengeluarkan segala yang terpendam lewat curhat kepada sahabatku yang bisa kupercaya. Tyas, ya cuma dia yang bisa membuatku nggak khawatir aibku akan bocor ke mana-mana. Cuma Tyas yang bisa membuat bebanku hilang melayang setelah berceloteh padanya. Aku harap aku pun bisa menjadi tempat pembuangan bebanmu, Sayang. Jangan menyimpan beban yang hanya memberatkan pikiran. Itu bukan mengeluh, tapi berbagi, bukankah itulah fungsi sebuah hubungan, saling berbagi, bukan?
            Jika kebersamaan kita hanya sekadar have fun, aku nggak yakin hubungan kita akan lama bisa bertahan. Yang kuinginkan kebersamaan yang saling berkesinambungan. Jangan berpikir nggak enak hati, takut membebani atau apalah. Jika sungguh menyayangi pasti segala masalah bisa diatasi bersama. Kita sepatutnya menjelma sepasang sayap yang saling mengepak. Nggak akan bisa terbang bila salah satu dari kita rapuh. Kita harus selalu mengutuh.
            “Aku merasa bersalah.”
            “Ini bukan salahmu.”
            “Aku merasa kosong.”
            “Dia pasti akan kembali mengisi harimu lagi, bersabarlah.”
            “Ini bagian tersulit dari apa yang aku jalani.”
            “Inilah hidup, Mulan. Kamu yang memilih ini, bukan?”
            “Aku ..., hampa.”
            Come on, stopped to become Miss lebay and baper again.”
            “...”
            “Kenapa harus dia?”
            “Kamu percaya takdir?”
            “Hmmm.”
            “Tuhan yang mengirimnya untukku. Dari berjuta umat-Nya, kenapa harus dia? Karena Tuhan yang memilihnya untukku.”
            “Kamu yakin yang kamu jalani ini benar? Kamu yakin pilihanmu tepat?”
            “Aku jahat ya?”
            “Satu sisi iya. Di sisi lain aku paham, dia motivasi terbesarmu saat ini. Dia yang udah menghidupkan lagi impianmu yang mati suri. Dia yang membuatmu bergerak lagi untuk mengejar mimpi dan masa depan yang kamu anggap mustahil untuk kamu realisasikan. Dan dia moodbooster-mu saat ini. Aku nggak bisa bilang ini salah atau benar, kamu jahat atau nggak. Yang pasti, aku lihat kamu lebih bahagia sejak ada dia.”
            “Kenapa harus dia? Kenapa hatiku jatuh sama dia? Kenapa nggak bisa sama yang lain aja? Kenapa sekarang pikiranku didominasi sama dia?”
            Everything happen for a reason. Nggak ada yang kebetulan di dunia ini, semua sudah diatur oleh-Nya. Termasuk perasaanmu ke dia, jadi ... hilangkan perasaan bersalahmu.”
            “Apa aku nggak pandai menjaga hati?”
            “Mungkin.”
            “Jadi benar, aku jahat ya?”
            “Sudahi saja.”
            “Enggak bisa.”
            Biar waktu yang menyudahi babak drama kehidupan ini. Biar takdir yang memisahkan kami. Selama kami nggak saling menyakiti dan nggak terganggu satu sama lain, ini nggak akan pernah berakhir. Perkara salah atau benar, biar menjadi rahasia Tuhan. Yang pasti, selama masih ada rahasia di antara kita, kisah kita nggak akan pernah utuh jadi sebuah cerita.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar