Minggu, 06 Maret 2016

Cerpen



Relationship or Relationshit?
Oleh : Mel A.

            Mulan merasa seperti Bella Swan dalam serial Twilligh New Moon. Saat Edward Cullen menghilang dari hidup Bella sehingga Bella tidak mempunyai semangat hidup lagi. Mulan merasakan hal yang sama seperti yang Bella rasakan. Hampa dan tak tahu mesti melakukan apa dalam hidupnya. Mulan mati rasa.
            “Aku nggak bisa apa-apa.”
            “Emang kamu maunya gimana?”
            “Cuma pengin tahu kabarnya, gitu aja kok susah banget ya.”
            “Ingat status kalian, itu yang bikin susah.”
            “Aku hopeless.”
            “Mau kamu perjuangin juga bakalan sia-sia, Mulan.”
            Apa benar hubungan ini hanya sia-sia? Mulan tak pernah bisa menemukan jawaban dari pertanyaan hatinya itu. Yang Mulan tahu, sekarang ia mulai merasakan sakit yang tak bisa dijelaskan seperti apa bentuknya. Rasa sakit yang menjelma tanpa bisa diprediksi bagaimana cara menyembuhkannya. Mulan sendiri tak pernah paham, kenapa ia bisa merasakan sakit yang tak jelas dari mana datangnya.
            Entah mengapa, Mulan selalu merasa hidup tak pernah adil untuknya. Semua yang ia korbankan selalu berakhir kesia-siaan, termasuk apapun yang dijalaninya untuk mendapatkan kebahagiaan sejati. Padahal Mulan tak pernah mengeluh dengan apapun yang ia jalani, hanya saja kenapa tak pernah ia rasakan feedback yang sesuai harapannya dari apa yang telah ia lakukan, apapun itu dalam segala hal.
            “Aku selalu tulus, totalitas dalam segala hal termasuk soal perasaan. Tapi entah mengapa semesta nggak pernah memberikan balasan seimbang dari apapun yang aku lakukan. Hukum The Secret sepertinya nggak berlaku dalam hidupku.”
            “Mulan, balasannya mungkin nggak kamu dapatkan dari orang yang kamu tuju. Mungkin semesta membelokkannya dengan memberimu hal baik lainnya. Tetaplah berpikir positif apapun yang terjadi.”
            “Kamu tahu, kan? Gimana rasanya harus menjalani hal yang nggak sesuai keinginan hati. Apalagi ini soal perasaan, soal hati, soal bagaimana kamu menghabiskan sisa usiamu hidup dengan orang yang sudah nggak kamu cintai.”
            “Bukankah dicintai lebih baik daripada mencintai? Itu prinsipmu, kan? Kenapa? Mau mengubah prinsipmu lagi tentang cinta?”
            “Hhhh, cinta. Aku bahkan nggak pernah merasakan apa itu cinta.”
            “Hei, come on. Jangan hanya karena orang yang kamu cinta nggak pernah berucap cinta sama kamu, lantas kamu mendokrin kalau kamu nggak pernah dicintai. Aku mencintai kamu, Mulan, cinta sebagai sahabat. Aku baru salah satunya lho, apa itu belum cukup? Berapa banyak laki-laki yang masih mengharap untuk bisa dekat dengan kamu, apa itu nggak buat kamu merasa kalau banyak yang cinta sama kamu?”
            “Cinta itu apa, sih?”
            “Cinta itu, kalau ada orang yang bisa dan rela melakukan apapun yang kamu inginkan, itu namanya cinta.”
            “Berarti benar, dia nggak cinta sama aku.”
            “Cuma karena dia nggak bisa ngelakuin apa yang kamu inginkan?”
            “Cuma berkabar aja apa susahnya, sih? Seharusnya dia peka kalau aku adalah tipe yang haus perhatian.”
            “Kadar kepekaan orang beda-beda, Mulan. Kalau kamu nggak ungkapkan secara gamblang, bicarakan langsung ke dia, gimana dia bisa tahu?”
            “Entahlah, aku sulit membaca hatinya. Sulit melacak jalan pikirannya. Atau mungkin aku yang berlebihan dan mulai nggak konsekuen dengan perasaanku sendiri.”
            “Bukankah dari awal sudah kuperingatkan? Jaga hatimu, jangan sampai main hati, apalagi jatuh cinta. Kamu akan merasakan sakit sendiri, dia nggak salah, kamu yang terlalu bodoh selalu saja nggak pernah bisa belajar dari pengalaman.”
            “Ya, itulah aku. Bodoh dan nggak pernah bisa belajar dari pengalaman.”
            “Oh, come on! Ini cuma drama, Mulan.”
            I don’t think so.”
            “Jaga imajimasimu, yang kamu jalani dunia nyata, bukan ilusi. Mimpimu untuk hidup bersamanya dalam ikatan pernikahan adalah mustahil. Terlalu banyak yang akan dikorbankan. Apa kamu bisa hidup bahagia di atas penderitaan banyak jiwa?”
            “Itulah mengapa sebabnya aku selalu membenci dunia nyata. Realita jauh berbeda dari isi kepala.”
            “Kamu pikir bisa terus hidup di dunia mimpimu?”
            “Entahlah.”
            “Berpikirlah realistis.”
            “Apa aku nggak berhak hanya sekadar pengin tahu kabarnya aja? Apa itu terlalu berat untuknya? Salahku apa? Kenapa seenaknya saja tidak peduli dengan kepedulianku. Sekarang aku paham kenapa dia nggak pernah sekalipun mengucap kata cinta dalam hubungan kami.”
            “Mulan, menurutku dia mencintaimu. Hanya terlalu takut untuk mengungkapkannya karena dia nggak mau melambungkanmu sesaat. Sebab dia tahu seperti apa masa depan hubungan kalian, suram, Mulan. Kalian hanya berjalan di hari ini, nggak tahu besok akan seperti apa cerita tentang kalian. Nggak pernah ada masa depan untuk hubungan terlarang.”
            “Ya, karena aku hanyalah seorang Mulan, bukan Mayang Sari.”
            “Dia itu beda, masalahnya lain, dia memakai cara yang nggak natural.”
            Whatever ... I hate this bullshit."
        “Kamu tahu, Mulan? Buat aku, ketika seorang lelaki menanyakan padaku tentang sebuah pernikahan, aku akan katakan padanya bahwa pernikahan itu bukanlah takdir, melainkan proses. Like we build a long bridge between mind and heart.”
            That’s the problem now. I think I was build a mind and heart with him. And I can’t stopped that feel.
            Again? Kapok kenapa, sih?”

            “Oke, aku kapok. It’s enough!”
            “Hey, are you okay? Don’t answer me. YOU MUST BE OKAY, MULAN.”
            I hope so, I should be okay!”
            “Harus!”
            Ya, seharusnya Mulan tak boleh kalah oleh keadaan ataupun perasaannya sendiri. Walaupun entah mengapa ia selalu saja merasa kalah. Selalu bagai dipecundangi oleh keadaan yang tak pernah berpihak padanya. Mulan sadar kalau sandiwara kehidupannya akan lebih berwarna jika ia rela menjadi kaum yang tertindas. Ya, mungkin memang seharusnya begitu. Bukankah perempuan yang selalu menjadi korban? Sekarang Mulan mengerti satu hal, no happy ending for forbidden relationshit. Ya, relationshiT, with T, no P.
***


             
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar