Selasa, 15 Maret 2016

Cerpen



Karena Kutahu Engkau Begitu
Oleh : Mel A.



            Pengin banget bilang ke dia, kalo mengubah suatu kebiasaan dalam suatu hubungan itu efeknya riskan. Apalagi kalo mengubah kebiasaan intensitas dalam berkomunikasi, bisa mengakibatkan kerenggangan yang ujung-ujungnya bakalan bikin ilfil. Dan aku pengin banget dia tahu, aku nggak mau kalo itu sampe terjadi dalam hubungan kami yang masih dikatakan absurd ini. Aku nggak mau kalo ini sampe berakhir cuma karena hilangnya intensitas komunikasi.
            “Biasanya juga gitu, kan?”
            “Iya, sih. Tapi … lama-lama mengkhawatirkan,”
            “Mulai dah!”
            “Enggak, ini serius.”
            “Batas maksimal hilang komunikasi tiga hari, kan?”
         “Sebaiknya nggak berubah kayak gini. Aku khawatir bisa bikin hilang kenyamanan.”
            “Baru juga tiga hari. Rangga ama Cinta aja ampe 14 taon nggak ketemuan. Tapi masih lanjut tuh.”
            Plis, deh!”
            “Hahahaha. Besok juga dia nongol lagi, kalian yayang-yayangan lagi, aku dilupain lagi deh.”
            “Tyas sayang, kapan aku pernah lupain kamu?”
            “Pasti lupa kalo kamu udah ketemuan ama dia. Dan langsung inget aku lagi kalo dia mulai menghilang dan kamu lantas uring-uringan trus inget sama aku cuma buat curhat dan numpahin emosi kamu yang nggak jelas itu.”
            “Enggak gitu juga kali.”
            “Keseringannya pan gitu, keleus.”
            Whatever-lah ya. Aku nggak tau gimana nyampein ke dia kalo aku khawatir kalo begini terus.”
            “Mulan sayang, kalo kamu cuma berani pake kode keras doang mah dia nggak bakalan berubah.”
            “Aku aja bisa ngertiin dia, masa dia nggak, sih?”
            “Karena kamu nggak pernah serius bahas masalah ini ama dia.”
            “Karena aku tau dia begitu.”
            “Ya udah, kelar urusannya.”
            Tapi aku tetap pengin banget dia tahu, kalau yang terjadi saat ini sepertinya bisa merenggangkan hubungan ini. Aku merasa nggak berguna sebagai pasangannya, nggak bisa bikin dia semangat di tengah masalah hidup yang sedang dialaminya. Aku malah merasa dia jadi nggak nyaman lagi berhubungan denganku dalam situasi seperti sekarang ini. Tapi apa aku harus diam saja dengan sikapnya yang seperti itu? Dan berusaha menguatkan hati dengan mengatakan semua akan baik-baik saja? Sudahlah, Mulan. Kamu kan tahu kalau dia memang begitu.
***
            Aku bisa lebih tenang sekarang, dia memang begitu. Menghilang dan tiba-tiba muncul seperti nggak terjadi apa-apa. Mungkin Tyas benar, aku terlalu berlebihan berperasa, aku terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu sesuai pradugaku. Aku hanya berprasangka. Seharusnya aku mengkondisikan seandainya aku berada di posisinya sekarang. Keterpurukan memang bisa mengubah seseorang. Aku terlalu memaksakan keinginan terhadapnya, tampaknya seperti itu.
            “Kamu udah tahu, kan? Kalo dia begitu?”
            “Iya.”
            Eveythings is okay, kan?”
            I still don’t think so.”
            “Apa lagi?”
            “Aku lagi ngejalanin apa, sih?”
            “Hey, Mulan. Ask your self!
            “Seandainya aku tahu jawabannya.”
            When enough is enough.”
            I can’t!
            So?”
            “Seandainya aku bisa menghentikan ini.”
            “Kenapa nggak kamu tanya juga ke dia?”
            “Aku butuh sesuatu yang bisa menggantikan dia seandainya ini harus kuakhiri.”
            Some one new?”
            No! Are you kidding me? Dia nggak seperti yang lain, dia nggak pernah bikin kesalahan dengan menyakitiku seperti yang lain. Ini cuma soal keadaan, cuma aku yang terlalu bodoh buat memahami jalan pikirannya dalam kondisi sekarang ini. Aku egois.”
            “Mulan, sudahlah…”
            “Antar aku ke psikiater.”
            Again?”
            “Aku butuh obat itu lagi.”
            “Kamu siap menjadi seperti aku? Androphobia?”
            “Aku lelah menjadi nymphomania.”
            “Baiklah, I’m with you.”
            When?”
            As soon as possible. Yang terbaik selalu buat kamu, Mulan.”
            Thanks, Tyas.”
            “Sekarang masih kurang yakin kalo banyak yang mencintai kamu dan selalu ada buat kamu? Enggak ada alasan kamu buat drop dan patah semangat menjalani hidupmu yang sempurna dan luar biasa itu.”
            “Jangan lebay!”
            “Aku serius. Seandainya kamu bisa hilangkan moody dan kebaperanmu itu, hidupmu baik-baik aja, Mulan.”
            “Tapi hampa.”
            “Hadehh, kamu tuh ya! Kita harus rutin ke psikiater kayaknya.”
            I’m ready for that. Aku nggak mau menghancurkan hidup siapa-siapa. Aku terlalu sayang sama dia.”
            Pilihan terakhir, ini jalan terbaik. Walaupun nggak harus dijelaskan dengan cara apapun terhadapnya. Tapi aku mau dia paham dan tahu kalau aku terlalu rendah diri untuk menjelaskan keinginan yang sangat sederhana ini. Aku tidak bisa hidup tanpa suntikan semangat darinya. Aku tidak bisa bertahan tanpa kehadirannya. Kecuali jika aku melakukan satu hal, terapi ekstrim yang mengharuskanku mengkonsumsi benzodiazepine itu lagi, yang mungkin bisa mengubah kepribadianku lagi. 
              Entah bisa bertahan berapa lama. Tapi yang pasti aku berusaha menyadari satu hal, dia memang begitu dan sepertinya akan terus seperti itu. Mungkin baru akan sadar setelah aku menghilang dari hidupnya. Mungkin dia nggak akan pernah tahu, tapi aku tahu kalau dia memang begitu.
***

2 komentar:

  1. misterinya apa, yang penting bersyukur aja dulu ... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyah... banyak-banyak bersyukur ya, hehe.

      Hapus