Sabtu, 19 Maret 2016

Cerpen



Mulan
Oleh : Mel A.

            Aku hanya seorang Mulan, bukan Mayang Sari. Aku nggak bakalan tega merebutnya dari muhrimnya seperti yang Mayang Sari lakukan kepada Halimah, apalagi konon menggunakan cara yang tidak natural. It’s bullshit! Buat apa memperjuangkan kebahagiaan semu, ditambah dia tidak menunjukkan itikad baik sebagai lelaki pejantan yang berani ambil risiko atas apa yang dilakukannya baik itu benar atau pun salah. Tidak lantas menjadi pecundang yang hanya mau bermain aman dan memikirkan kebahagiaannya sendiri, lalu berlindung di balik kata maaf jika telah menyakiti.
            Bukankah jika tulus menyayangi seseorang maka pengorbanan adalah hal yang tak sulit dilakukan? Termasuk melepaskan. Cinta adalah melepaskan, sepertinya itu yang harus Mulan lakukan. Melepaskan cintanya untuk kehidupan yang lebih baik bagi dia. Mulan masih mampu berpikir logis atas kebodohan yang telah mereka jalani. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki.
            “Alasannya mengada-ada!”
            “Dia nggak beralasan kok. Niatnya baik, tapi sayangnya tetap aja merugikan sebelah pihak. Dan dampaknya memang nggak bakalan bagus kalo diterusin.”
            “Kadang logikamu jalan, Mulan. Tapi masih aja bodoh!”
            “Cinta kan bikin orang jadi bodoh. Bikin orang jadi mabuk sehingga menimbulkan rasa nyaman seperti kecanduan.”
            “Tapi logika tetap harus jalan, kan?”
            “Ya, aku harus ngalah. Aku memang perempuan nggak baik, tapi nggak akan jadi makin buruk dengan menghancurkan hidup dan kebahagiaan orang lain. Aku nggak mau mengorbankan masa depannya hanya karena keegoisan”
            “So?”
            “Biarlah aku kembali menjadi pasien psikiater untuk mengatasi bipolar disorderku dan jadi pengkonsumsi benzodiazepine lagi untuk meredam libidoku. Demi dia, aku harus bisa. Enggak ada jalan lain, aku nggak mau sampe mati konyol lagi. Aku berhak bisa merasakan hidup normal. Atau mending jadi androphobia sekalian biar aku nggak pusing lagi sama yang namanya laki-laki.”
            “Hey, come on! Kamu nggak harus ngorbanin hidupmu buat jalanin hal bullshit lagi. About benzodiazepine okelah, kamu memang butuh itu, tapi kalo harus balik lagi ke psikolog yang gak jelas, mending kamu rutin aja curhat ama aku, ntar lama-lama aku bisa jadi psikiater yang baik buat kamu, dan biaya konsultasinya bisa kita pake buat holiday aja, good idea, kan?”
            “Hmm … dan kita bikin planning lagi buat keliling Indonesia.”
            “Yups. My Mulan is come back!”
            “Semoga berhasil.”
            “Kamu nggak cerita ke dia tentang bipolarmu itu?”
            “Sudah, tapi kayaknya dia nggak paham atau aku yang nggak bisa ngejelasin dengan bahasa awam. Entahlah, sepertinya dia nggak peka. Dia terlalu sibuk memikirkan urusannya sendiri, ketakutannya akan masa depan suram dan perilaku abnormalnya yang dia sendiri nggak paham kenapa dia bisa lakuin hal itu. Pecundang!”
            “Ternyata kamu belum nemuin seorang “Bambang”. Yang bisa ninggalin seorang Halimah demi Mayang Sari.”
            “Karena aku hanya seorang Mulan, bukan Mayang Sari.”
            Ya, aku hanya seorang Mulan yang berjuang menemukan seseorang yang tepat demi memberantas bipolar disorderku tanpa harus menjadi pasien psikiater lagi. Menemukan pasangan yang mampu menjadi The One and Only dalam hidupku. Yang bersamanya aku tak pernah mengeluh menjalani sesulit apapun hidup, yang bersamanya aku bisa menjadi apa adanya, bersamanya aku mampu mewujudkan semua impian hidup tanpa batas, bersamanya aku adalah manusia berwujud nyata, tidak menjadi bayangan. Bersamanya, sampai akhir usia aku tak harus menahan diri untuk tak menunjukkan kebersamaan di hadapan semua orang. Dengannya, aku bisa kapan saja dan di mana saja memajang foto kami berdua di media mana pun. Tak ada yang disembunyikan, tak ada yang tersakiti, dan bersamanya semua akan baik-baik saja.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar