Minggu, 17 April 2016

Cerpen



Dia, yang Kuingin Selalu Ada
Oleh : Mel A.

            Dia, yang tak pernah mengucap kata cinta untukku, tiba-tiba menyatakan ingin menghalalkanku menjadi muhrimnya. Ya Tuhan, berkali aku meyakinkan diri kalau ini bukan mimpi. Kupandang lekat wajah lelaki yang kini menjadi moodbooster dalam hidupku, kutatap mata indahnya, kulihat ada kejujuran di sana. Dia, yang memang selalu tak dapat kutebak pemikirannya, berucap dengan lugas bahwa hubungan kami baiknya diperjelas statusnya.
            Rupanya kata cinta memang tak penting baginya. Kenyamananlah yang paling utama. Ternyata benar, rasa nyaman itu mengalahkan yang namanya cinta, bahkan lebih berbahaya. Cinta bisa hilang dalam hitungan waktu, tapi rasa nyaman dan sayang tak pernah terbatas waktu. Kini aku paham, hal itulah yang selama ini dia berikan padaku. Rasa sayang dan kenyamanan, bukan cinta.
***
            Ini kali pertama, aku menjalani hubungan percintaan tanpa sekali pun terucap kata cinta. Entah apa yang membuat dia sangat berat mengucap cinta, membuatku tak berani memulai untuk berucap cinta padanya. Aku khawatir ucapan cintaku hanya akan disambutnya dengan tawa, mungkin lebih parahnya dia hanya diam dan akan membuatku terluka. Sudah cukup aku merasakan sakitnya cinta tak semestinya. Mungkin itu yang dia lakukan padaku, tak ingin membuatku sakit.
            “Aku tahu ini salah, tapi aku mau hubungan kita bisa halal, jadi kita nggak khawatir buat melangkah lebih jauh lagi.” ucapmu kala itu.
            Sebenarnya aku belum bisa membaca ke mana arah hubungan kita. Yang sangat ingin kita halalkan tapi tak menemukan jalannya.
            “Tapi aku takut kalau keinginanku akan nyakitin kalian berdua.” lanjutmu.
            Di titik itu aku tersadar, aku adalah orang ketiga bagimu, yang berpotensi menghancurkan hidupmu bersama muhrimmu. Tapi logikaku membeku, aku bahagia bersamamu, hingga mampu menjalani hal tersulit denganmu. Bersamamu, aku selalu baik-baik saja. Itu yang membuatku sulit untuk membuka mata dan meninggalkan apa yang terjadi di antara kita.
            Aku tahu, berharap memilikimu seutuhnya adalah hal paling jahat yang pernah aku lakukan dalam hidupku. Meski pada kenyataanya aku tak mempunyai nyali untuk melakukan itu, pun dia. Sampai detik ini apa yang kami jalani bagaikan menempuh perjalanan panjang yang tak berarah. Kadang kami tersesat hingga tak tahu jalan pulang. Tapi kami menikmati petualangan ini, membuat kami enggan berhenti.
            Tak pernah sekali pun kami saling bertanya dan membahas tentang cinta. Tak ada percakapan romantis dan membuang waktu untuk membahas masalah hati. Kami terlalu sibuk untuk melakukan itu. Saat bersama, kami hanya menghabiskan waktu dengan tertawa. Bercerita tentang kisah hidup yang tak pernah mudah. Kami sungguh tak berani bermimpi untuk mengabadikan kisah ini. Yang kami jalani hanya hari ini, tak peduli esok dan lusa nanti.
            Padahal ingin sekali aku mendengar rayuannya kala fisik kami saling menagih rindu. Tapi dia seolah kelu, hanya mampu menunjukkan bahasa tubuhnya saja. Aku perempuan yang penuh dengan kata-kata, sementara dia lebih suka terdiam dan tertawa. Tak ada obrolan mesra selepas raga saling bertukar cerita. Pillow talk kami habiskan hanya dengan menonton stand up comedy kesukaannya.
            Itu sebabnya aku cukup terhenyak saat tiba-tiba dia mengucap kalimat ingin menghalalkan hubungan kami. Aku tak tahu harus senang atau merasa bersalah. Aku terlalu egois membiarkan dia menjadi laki-laki yang membagi hati. Tapi untuk menyudahi kebersamaan kami, aku masih belum siap. Memang tidak ada kata siap untuk apapun itu, tapi aku sudah bisa membayangkan bagaimana hampanya hidupku tanpa dia.
            “Kamu sudah pikirkan hal terburuknya?” tanya Tyas suatu ketika.
            Tyas, karibku satu-satunya yang selalu tak pernah memvonis salah setiap kekonyolanku. Tyas selalu memosisikan dirinya bila menjadi aku. Tak pernah ia menyalahkan apapun perbuatanku yang sudah jelas-jelas sangat salah dan aku sangat menyadari itu. Tapi Tyas selalu ada dan tak pernah mencela, hanya memberikan pandangan yang terkadang cukup menohokku dengan nasihat tersiratnya. Lembut, pelan namun menikam tajam. Itu yang lebih membuatku tertampar dibanding ceramah yang hanya membuat sakit telinga.
            “Kamu tahu aku, kan? Bagiku kesendirian lebih mematikan dibanding bersanding dengan pilihan yang tak tepat.” jawabku gamblang.
            Aku adalah perempuan yang selalu salah memilih pasangan. Seolah itu sudah menjadi kutukan bagi diriku yang tak pernah berhenti mencari apapun yang kuingini. Sayangnya, aku terlalu egois untuk menyadari bahwa aku selalu bunuh diri dengan kebodohanku ini. Aku sangat menikmati luka yang kubuat sendiri. Menabur garam di atas luka yang menganga dan selalu mampu tertawa setelahnya. Aku rasa aku menjelma gila.
            “Kamu nggak gila sebenarnya, cuma menjelang sakit jiwa. Dan kamu akan sembuh setelah menemukan orang yang mampu menghentikan semua tabiatmu itu.” ucap Tyas.
            “Sayangnya, aku nggak pernah berhasil menemukan orang yang bisa menghentikanku.”
            “Karena kamu selalu salah menentukan pilihan.”
            “Aku nggak pernah tahu hatiku akan memilih siapa. Aku nggak bisa memaksa hatiku untuk bertahan pada siapa. Aku nggak mampu membohongi hati dan terus bersandiwara menutupi keinginan hati.”
            “Jadi, kapan kamu akan berhenti mencari hati yang tepat untuk jiwamu yang sakit itu.”
            “Aku butuh seorang yang mampu meyakinkanku kalau aku bukan bayangan. Aku ini nyata, aku butuh diakui, aku bukan barang curian yang malu dipertunjukkan dan selalu disembunyikan. Aku ini manusia normal, bukan boneka atau binatang peliharaan. Aku butuh pengakuan.”
            “Ya sudah, kalau gitu tinggalkan dia. Semoga setelah ini hatimu bisa tepat menemukan muaranya, bukan persinggahan lagi.”
            I hope so. Tak ada yang mustahil, kan? Tuhan Maha pembolak balik hati manusia.”
            “Berhentilah berharap pada kekasih orang, Mulan. Kasihanilah kaum kita, muhrimnya juga hawa yang sama seperti kita. Tempatkan sakitmu bila jadi dia, gunakan hatimu yang masih sehat itu. Kamu juga nggak mau 'kan bila berada di posisi muhrimnya?”
            “...”
            I’ll be there, aku akan selalu mengerti sakit jiwamu itu. Kamu akan sembuh, Mulan. Percayalah, aku akan mendampingimu sampai kamu benar-benar sembuh.”
            I was tired.”
            Don’t give up. Jangan sia-siakan masa depan indahmu dengan kekonyolan yang hanya akan membinasakan impian indahmu itu. Remind your dream, Mulan. Come on!”
            Thanks for God yang udah mengirim malaikat sebaik kamu untukku, Tyas.”
            “Hey, I’m just ordinary people, not an Angel.”
            No, you are my guardian Angel.”
            Whatever. Jangan berhenti minum obatmu, kamu pasti bisa sembuh total.”
            I will.”
            Aku masih yakin pada satu hal, kesembuhan datangnya selalu dari usaha, bukan obat. Sebab obat sifatnya fana, seperti fitrah manusia, pun cinta. Jadi, berhentilah berharap pada manusia yang fana. Walaupun aku masih tetap berharap pada dia. Dia, yang kuharap mampu menjadi penyembuhku, dia yang kuingin menjadi pasangan hidupku, hanya dia yang saat ini kuingini selalu. Dia, yang kuharap mampu menganggapku ada, bukan tiada.
***
           

2 komentar:

  1. mbameeel, aku suka cerpennyaaaa. terus jadi inget seseorang hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillaaahhh kalo Happy suka. Ingat siapa hayooo...

      Hapus