Sabtu, 23 April 2016

Cerpen



Maaf, Aku Tak Selalu Ada Untuk Kita
Oleh : Mel A.

            Maaf, lagi-lagi hanya kata itu yang mampu kulontarkan kepada perempuanku yang satu ini. Untuk yang kesekian kalinya aku tak menepati rencana yang sudah kami susun rapi. Padahal sudah jauh hari kami merancang bersama tentang perjalanan jauh ini. Tapi pada akhirnya, lagi-lagi perempuanku harus pergi sendiri. Aku tak pernah keberatan dengan aktivitasnya yang sering membutuhkan waktu untuk bepergian jauh, ke luar kota bahkan luar pulau. Aku percaya padanya, apa yang ia lakukan demi usahanya meraih impian indahnya.
            Kulihat kecewa di matanya, walaupun nada bicaranya selalu meyakinkanku kalau dia baik-baik saja dan selalu memahami kondisiku. Dia selalu tampak mati-matian berusaha mengerti keadaanku, selalu dia yang mengalah, jarang sekali aku melakukan itu. Sungguh, aku tak berniat menyakitinya dengan hal seperti ini. Seandainya aku bisa, aku akan bersikap adil terhadap keduanya, terhadap dia dan perempuanku yang pertama.
            Aku adalah lelaki yang membagi hati. Aku tak bisa menyalahkan siapa-siapa dalam hal ini, bukan salahnya yang sudah membuatku harus berbagi segala hal yang ada dalam hidupku saat ini. Bukan salahku pula mengapa aku bisa menemukan sosok perempuan lain dalam hidupku selain muhrimku. Semua terjadi di luar kemampuanku sebagai manusia yang hanya bisa menjalani hidup tanpa kata munafik. Aku membutuhkannya, sosok lain yang membuat adrenalinku memuncak. Seseorang yang mampu mengenyahkan kejenuhanku. Sosok yang menguatkanku saat sisi lainku sedang melemahkanku.
            Terkadang aku merasa berkepribadian ganda sejakku mempunyai perempuan kedua. Tapi perempuan ini begitu beda. Dia mampu mengikat hatiku dengan sikapnya yang selalu meluluhkanku. Dia melengkapiku dalam segala hal. Dalam hubungan kami sejauh ini memang terlalu banyak dosa yang kami ukir dengan indahnya. Terkadang membuatku terkapar dengan perasaan bersalah, membunuh sisi batinku yang lain saatku sedang di samping perempuan pertamaku. Tapi aku membutuhkannya, semangat hidupku dan segelintir masalahku mampu terpecahkan bersama perempuan kedua.
            Ini salah, setiap orang pasti akan meneriakkan hal yang sama. Aku berengsek di mata muhrimku dan semua manusia sejagat raya, perempuan keduaku berpredikat jalang dan perusak rumah tangga orang. Begitulah penilaian semua orang tentang hubungan terlarang. Tak ada yang benar, tak ada baiknya di mata semua orang. Menjadi kutukan paling mematikan bagi pelakunya. Aku terhina, aku biadab, tak bermoral dan beragam bahasa cacian yang kudapatkan.
            Tapi apa salah? Jika aku ingin menjadikan hubungan ini sah? Poligami memang tabu di abad ini. Tak ada perempuan pertama yang bersedia tanpa sebab dan pengecualian yang tak memberatkanku untuk melakukan itu. Walau aku yakin, perempuan keduaku berbesar hati menerima keputusanku. Sungguh, aku tak mampu memilih. Sebab muhrimku telah memberiku sepasang buah hati. Selalu itu yang memberatkanku.
            Meski di satu sisi hati kecilku kerap melirih, mampukah aku menjadi adil bagi kedua perempuanku? Untuk saat ini, perempuan keduaku selalu yang harus mengalah. Aku tak selalu ada untuknya, aku tak mampu memberi waktuku sebanyak yang aku punya. Walaupun dia sangat sadar akan hal itu dan selalu menerima keadaanku apa adanya, bukan ada apanya.
            Ini entah untuk apa, mengapa dan bagaimana bisa menjadi sejauh ini. Perjalanan yang tak menemukan arah, bahkan tak tahu bagaimana cara untuk kembali pulang. Aku tersesat dalam perjalanan indah yang penuh bahaya. Setiap saat aku bisa terbunuh oleh kesialan yang tak kutahu kapan akan datang. Aku hanya bisa berharap keberuntungan selalu berpihak padaku. Dan aku tetap bisa bersama perempuan keduaku.
            “Kalau sampai terjadi sesuatu, dalam keadaan terburuk, kamu bisa tinggalkan aku.” ucap perempuan keduaku malam itu.
            “Ngomong apa sih kamu?” sahutku gusar.
            Sungguh, aku benci mendengar kalimat itu. Aku mau semua tetap berjalan baik-baik saja. Perempuan keduaku terkadang terlalu berlebihan dengan perasaannya. Aku maklumi itu, setiap perempuan memang selalu berlebihan, tak terkecuali perempuan pertamaku. Dan ujung-ujungnya mereka bersikap posetif sebagai bentuk over protektif kepadaku. Aku selalu mencoba untuk pahami itu, walaupun aku bukanlah tipikal yang senang diperlakukan seperti itu. Namun aku mencoba pahami bahwa ini adalah risiko dari yang namanya pernikahan. 
            “Aku nggak mau sampai terjadi sesuatu yang buruk denganmu. Aku ada buat kamu bukan untuk memperburuk kondisi kehidupanmu.”
            “Aku pernah mengalami yang lebih buruk dari ini. Semua akan baik-baik saja. Trust me, okey.” hiburku pada diri sendiri.
            Awalnya sempat kuberpikir jika keterpurukan hidup yang sedang kualami saat ini adalah akibat dari kelakuanku berkaitan dengan perempuan keduaku. Tapi kembali kutelusuri jatuh bangunku akan kehidupan sebelum kumengenal perempuan keduaku, sepertinya tak jauh beda. Jadi rasanya tak adil jika aku mendokrin kehadirannya adalah penyebab dari keterpurukan yang sedang kualami. Satu hal lagi, perempuan keduaku tak selalu merepotkanku dalam berbagai hal, justru sebaliknya.
            Jika sampai detik ini aku tak pernah mengucap kata cinta untuknya itu karena aku bukanlah tipikal lelaki pengobral kata apalagi janji. Aku tak pernah memberikan harapan apapun berkenaan dengan hubungan yang kami jalani. Dia tahu, aku tak bisa menjelma romantis dan tak pernah memaksakan diri untuk sok peduli dengan cara memberikan perhatian yang berlebihan dalam hal komunikasi. Aku tak selalu ada untuknya, dia pun bisa menerima itu. Anggap saja ini adalah bagian dari risiko hubungan yang kami jalani.
            “Maafin aku ya, aku nggak bisa selalu ada untuk kita.” ucapku pada perempuan keduaku sebelum melepasnya melakukan perjalanan ke luar kota. Sepertinya, kelak aku juga akan mengucapkan kalimat yang sama pada perempuan pertamaku, suatu hari nanti.
***


2 komentar: