Kamis, 05 Mei 2016

Cerpen



Akhir Kita yang Entahlah
Oleh : Mel A.

            Lagi, aku tak pernah bisa berkata-kata di hadapannya. Selalu seperti itu, tatapnya selalu mampu membungkamku. Semua kalimat yang sudah kususun rapi sebelum bertemu kini buyar seketika saat jemarinya lembut merengkuhku. Aku sungguh terhipnotis olehnya, lagi dan lagi. Niat untuk menyudahi hubungan ini selalu tak mampu kuungkapkan secara gamblang. Bahkan pertanyaan yang sudah kusiapkan jauh hari hingga detik ini masih bersemayam di otak kiri. Bibirku kelu setiap kali dia memelukku. Dia seolah memiliki mesin waktu yang mampu menghentikan gerakku, membuatku selalu kehilangan kata-kata.
            Padahal kalimat yang ingin kusampaikan sederhana saja, “Aku menyayangimu, mari kita sudahi ini demi kebaikanmu.” Kalimat sederhana yang sulit diucapkan. Bahkan kini aku mulai menjawab semua pertanyaan hatiku sendiri. Aku mulai membiasakan diri dengan karakter dan tabiatmu itu. Aku mulai paham apa yang kamu suka dan tak suka tanpa kamu menjelaskan semua.
            Kini aku mulai terbiasa dengan sikap cuekmu itu. Tak berkabar sebelum dan sesudah pertemuan bagiku kini hal yang biasa. Teringat kamu bukanlah tipikal lelaki yang suka berbasa-basi, tak heran bila ucapan selamat pagi, siang dan malam bukanlah menjadi hal penting bagimu. Bahkan untuk mendapat kabarmu aku harus sabar menunggu. Sungguh bukan hal yang menyenangkan sebenarnya, tapi aku harus mengambil risiko bila bersikeras bertahan dengan hubungan kita yang entahlah.
***
            Kamu sama sekali tak pernah menyakitiku dalam hal apapun. Sulit untukku mencari celamu, aku tak tahu harus beralasan apa ingin menyudahi hubungan ini. Kita masih saling membutuhkan dan merasa nyaman satu sama lain. Sepertinya kamu akan tergelak jika rasa kemanusiawianlah yang kujadikan alasan mendorongku untuk melakukan itu. Bukankah kita adalah manusia yang tak punya rasa manusiawi?
            Munafik sekali kalau aku ingin menyudahi hubungan ini dengan alasan insaf. Memangnya aku melakukan kejahatan jenis apakah? Justru kami saling menyelamatkan satu sama lain, itu menurutku. Dan otakku tak henti berpikir mencari alasan logis dan mencari cara untuk menyampaikannya. Ataukah aku tinggal bilang kalau aku membutuhkan sosok yang nyata? Sepertinya aku yang akan menyakitinya.
            Sungguh, aku tak ingin ada akhir di antara kita. Tapi mempertahankan hubungan absurd ini lama-lama membuatku menjelma zombie. Aku hidup, tapi bagai jasad tak berjiwa. Aku ada, tapi dia membuatku tampak tiada. Sungguh sama sekali tidak menyenangkan posisiku saat ini, selalu yang menjadi pesakitan. Apa yang kuharapkan tak pernah terwujud, impian indah untuk mendapatkan pasangan yang sesuai harapan semakin karam.
            “Mengeluh lagi?” tanya Tyas sebelumku berceloteh panjang lebar tentang lelakiku itu, kali ini.
            “Apa aku tampak mengeluh?” Aku balik bertanya.
            “Enggak juga sih, cuma kamu tampak lelah.” Sahut Tyas lugas.
            “Apakah butuh waktu bertahun-tahun untuk mendalami karakter seseorang dan kecocokan suatu hubungan?”
            “Menurutku nggak, kalau kamu cukup cerdas membaca karakter dia, kamu nggak butuh waktu lama untuk mengetahui apakah dia pasangan yang tepat dan menyenangkan dalam jangka panjang, bahkan selamanya tanpa akhir.”
            “Aku nggak bicara soal akhir!”
            “Setiap cerita pasti ada akhir, Mulan.”
            “Aku tak menginginkan akhir dengannya. Tapi jika memang harus berakhir, mungkin ini sudah saatnya untukku melakukan hibernasi.”
            That’s good! Bukankah sendiri lebih menyenangkan?”
            “...”
            Oh come on, konsekuenlah pada omongan.”
            I hope so, but ...”
            “Kenape? Plin plan? Hadehh!”
            “Ini tuh dia yang nggak peka atau aku yang terlalu ngarep, ya?”
            “Dua-duanya.”
            Pembahasanku tentang lelakiku itu tak pernah ada habisnya. Setiap kali dia menghilang tak berkabar selalu saja muncul keinginan untuk menyerah dan menyudahi hubungan kami. Tapi begitu dia hadir di hariku spontan harapanku segar kembali dan semudah itu aku melupakan semua pikiran negatifku tentangnya. Hatiku selalu memaksa untuk mengerti walau tak pernah dimengerti, selalu mencoba memahami walau tiada dipahami. Apa selalu begitu tabiat semua lelaki?
            Aku sama sekali tak bisa membayangkan jika pada akhirnya aku harus meluapkan semua unek-unek yang terpendam secara langsung tanpa melalui kode keras. Lagi pula kurasa dia tak selalu peka dan memahami apa inginku jika tak kusampaikan secara detail dan gamblang tentang keinginanku pada hubungan yang semakin absurd ini. Aku hanya merindukan dia yang seperti di awal perkenalan, itu saja.
            Mengapa harus mengubah segalanya, membuat yang biasa menjadi tak biasa. Memicu praduga dan pikiran negatif saja. Mengapa hanya aku yang merawat rasa, sedang dia berjalan seolah tak ada aku di hidupnya. Apakah sudah menjadi tabiat perempuan selalu mampu bertahan dalam pesakitan? Sementara lelaki hanya menganggap perasaan bukanlah suatu hal yang penting. Dalam hubungan ini  kami memang berperan sebagai supporter, bukan baby sitter. Itulah sebabnya dia tak membutuhkan perhatianku lebih. Dia hanya membutuhkanku untuk menutupi kehampaannya, mengisi kekosongan hatinya kala penat dan jenuh melandanya. Hanya sebatas itu keberadaanku di hidupnya.
***
            “Sayang, aku pengin lihat rambut kamu panjang, deh. Pasti bagus kalo rambut kamu panjang.” ucap lelakiku kala itu.
            Di satu sisi aku bahagia dengan keinginannya itu. Menurutku itu menandakan dia ingin hubungan ini berjalan dalam waktu lama. Untuk memanjangkan rambut sepundakku saat ini mungkin membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bisa mencapai setahun. Itu berarti dia masih menginginkanku ada di hidupnya dalam waktu lama. Belum lagi dengan deadline impian yang dia targetkan kepadaku.
            “Sayang, mana lagu terbaru buatanmu? Aku pengin lihat kamu sukses dengan impianmu itu. Pasti seru kalau kamu bisa bikin film trus sountracknya kamu juga yang bikin. Seperti Dee, kamu sangat ingin menjadi sekreatif seorang Dee, kan?”
            Lagi-lagi aku terharu dengan semangat yang dia tanamkan padaku. Selalu mampu melambungkanku seketika. Saat kami bercerita tentang indahnya masa depan akan impianku, dia selalu menjadi pendengar dan peng-support yang baik. Aku jadi berpikir sepertinya kisah ini tak akan ada akhir. Atau mungkin seharusnya jangan sampai berakhir. Aku tak mau melepasnya hanya untuk membiarkannya jatuh ke lain hati lagi. Aku akan memelihara hubungan ini sebaik mungkin tanpa ada yang tersakiti satu sama lain. Dan untuk akhir yang entahlah, aku tak mau lagi mempersoalkannya.
***

1 komentar:

  1. “Aku menyayangimu, mari kita sudahi ini demi kebaikanmu.”

    BalasHapus