Selasa, 17 Mei 2016

Cerpen



Tak Perlu Ada Cinta Antara Kita
Oleh : Mel A.

            Aku takut! Sekarang aku benar-benar takut. Aku takut tak mampu melepasmu lagi, aku takut tak sanggup kehilanganmu lagi, aku takut dengan perasaanku yang semakin ingin memilikimu seutuhnya. Aku sangat takut jika terus memelihara hubungan ini maka perasaanku akan semakin subur bertambah menyayangimu apa adanya, seutuhnya dengan segala kekuranganmu. Dan bila rasaku telah sampai di titik itu, aku bisa menggila dan melakukan apa saja demi kita. Sungguh, aku benar-benar takut atas itu semua.
***
            Apa itu cinta? Dari awalku mengenalmu hingga detik ini kita sama sekali tak pernah membahas tentang cinta. Sebenarnya apa yang kita jalani? Cintakah? Kita sama sekali tak pernah saling mengucap kata cinta satu sama lain. Yang kita tahu hanya saling menyayangi dan menghabiskan waktu bersama dengan tertawa. Berbagi suka dan duka bersama, dalam keadaan tersulit pun kita masih bisa membagi tawa bahagia. Kita saling menerima kekurangan masing-masing untuk hal terburuk sekali pun.
            Kita sepasang yang tak pernah mengucap kata cinta. Walau terkadang lidahku terasa gatal ingin sekali saja berkata “Aku sangat mencintaimu, Sayang.” Entah kapan kalimat itu bisa tersampaikan. Mungkin nanti, setelah aku benar-benar yakin kita akan saling memiliki, seutuhnya, selamanya. Tapi kapan? Entahlah. Aku takut untuk membayangkannya.
            Kemarin, aku dan kamu hampir saja membahas tentang akhir dari hubungan kita. Tapi dengan tegas kamu menggagalkannya. Aku tak menyangka kamu mengambil keputusan itu, meneruskan hubungan ini dalam batas waktu yang tak ditentukan, entah kapan, tapi kamu tak setuju dengan adanya perpisahan.
            “Kalau kehadiranku membebanimu, aku ikhlas melepasmu. Aku nggak mau kehadiranku memperburuk keadaanmu.” ucapku.
            “Kamu ngomong apa sih? Aku nggak mau kamu bicara kayak gitu ya. Apaan sih kamu tuh? Kamu nggak mau kita lanjut? Kamu nggak bahagia sama aku?” sanggahmu seraya mendekapku erat.
            “Hey, bukan begitu maksudku...”
            “Ya udah jangan ngomong kayak gitu lagi. Aku nggak suka ya ngebahas hal kayak gini. Pokoknya aku nggak mau dengar kamu ngomong kayak gitu lagi. Aku sayang banget sama kamu, Mulan.” Pelukanmu semakin erat, hinggaku kehilangan kata-kata yang sudah tersusun rapi di kepala. Selalu begitu keadaannya, kamu selalu mampu meluluhkanku hanya dengan cara yang sederhana.
            “Aku mau kita tetap sama-sama, aku mau lihat kamu meraih impian kamu...”
            “Sebenarnya aku udah nggak punya impian...”
            “Kamu masih punya mimpi, Mulan. Aku yang akan bantu kamu wujudkan semua impian kamu itu.”
            “Sekarang aku cuma pengin hidup tenang, dan melihat kamu bahagia tanpa beban.”
            “Kamu harus wujudkan impian kamu, Mulan. Harus!”
            Kamu adalah alasan mengapa aku tetap berusaha mewujudkan impian yang selalu karam. Walau terkadang kamu pun terlihat lelah dengan dirimu sendiri, tapi kamu tetap berusaha menjadi penyemangatku. Aku tak pernah berharap apapun darimu selain kebersamaan kita yang hanya terjadi dalam waktu sempit. Aku sangat nyaman bersentuhan denganmu, menghilangkan penat dan beban pikiranku walau hanya sesaat.
            Kita belum berani menunjukkan pada dunia tentang apa yang kita jalani. Kita memang pecundang yang terlalu takut pada keadaan. Tak berani memperjuangkan keinginan absurd yang kita rasakan. Bersembunyi atas nama etika dan norma agama. Bilakah suatu saat kita mampu mendobrak tabu? Anarkisme terhadap diri sendiri demi membebaskan belenggu nurani. Terlalu berat memang, tapi itulah hidup, selalu berat untuk hal apapun itu. Tapi bersamamu, semua yang berat selalu kurasa ringan saja. Mungkin itulah cinta.
***
            “Halo, Mbak Mulannya ada?” Suaramu terdengar khas di ponselku.
            “Mbak Mulannya nggak ada, Mas.” Candaku seraya menahan tawa.
            “Kalo Sayangku ada?”
            Sekarang kamu jauh lebih romantis dan perhatian. Kamu mulai lebih banyak meluangkan waktu untuk berkomunikasi denganku. Dalam keadaan tersibuk pun kamu selalu menyempatkan hanya untuk menanyakan apakah aku sudah makan, aku sedang apa dan di mana, dan obrolan ringan tak penting yang selalu membuat kita tertawa.
            Tapi masih saja, kamu tak pernah sekali pun mengucap kata cinta. Sejuta ungkapan sayang dan panggilan sayang serta sentuhan sayang bertubi kamu limpahkan, tak sekali pun kata cinta kamu ucapkan. Suatu saat mungkin aku harus menanyakan hal ini padamu, apakah cinta suatu hal yang berat bagimu untukku? Walau hanya omongan kosong belaka? Mengapa kata cinta sangat kaujaga ketat hingga tak sekali pun terucap?
            Bagiku cinta adalah pengorbanan. Ringan melakukan apapun untuk hal terberat sekalipun bagiku itu karena terdorong rasa cinta. Cintalah yang membuat diri mampu untuk bertahan dalam kondisi tersulit sekali pun. Aku tak pernah menuntut banyak padamu, apapun itu. Aku selalu ingin membuatmu nyaman bersamaku, lepas tanpa beban apapun itu.
            Kamu tidak perlu membuktikan apapun untuk meyakinkanku kalau kebersamaan kita sungguh berarti di hidupmu. Aku hanya perlu merasakan desah napasmu walau hanya sesekali saja dalam kurun waktu tertentu. Kamu tak perlu 24 jam dalam seminggu berada di sisiku, aku harus mengerti posisimu. Sudah bisa mendengar suaramu melalui telepon saja atau berkabar melalui pesan singkat itu sudah lebih dari cukup untukku. Itu sudah menandakan kamu selalu berusaha ada untukku.
           Satu hal yang kumengerti tentang cinta adalah bahwa perasaan cinta bisa sirna dimakan waktu. Rasa jenuh dapat mengikis cinta. Mungkin itu sebabnya kamu tak pernah ingin menghadirkan cinta di antara kita. Itu semata karena kamu tak menginginkan perasaan cinta hilang suatu saat nanti.
            Aku rasa kini tak perlu membahas tentang cinta lagi bersamamu. Apa yang kita jalani saat ini sudah cukup membuktikan padaku kalau kamu ada di hidupku. Sebagai apapun itu, aku akan berusaha selalu ada untukmu, Sayangku. Mungkin memang tak perlu ada cinta antara kita, sebab bagi kita kenyamanan adalah segalanya. Dan rasa nyaman itu jauh lebih berbahaya daripada rasa cinta.

            ***


4 komentar:

  1. Saya suka dengan cerpen"nya Mba..

    BalasHapus
  2. Saya suka sama cerpen nya Mba..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasiii udah nyempetin baca :)

      Hapus