Jumat, 16 September 2016

.



Sesuatu yang Entahlah

            Apa yang salah dengan cara kerja otakku? Mengapa bisa begitu bodohnya diperdaya oleh kata hati? Apa sebenarnya keinginan hati? Aku pun belum menemukan jawaban dari pertanyaan yang kerap membuatku bingung sendiri. Aku seolah tak pernah menemukan tujuan hidup, melangkah tanpa tahu ke mana harus pergi, lebih parahnya lagi aku tak bisa menemukan jalan pulang.
            Aku hilang arah, bergantung pada suasana hati untuk dapat melanjutkan perjalanan hidup hari ini. Bagiku, hidup hanya untuk hari ini. Aku tak hendak memikirkan masa depan dan tak akan kembali ke masa lalu. Aku adalah sosok yang entahlah. Yang aku tahu, aku amat sangat beruntung menemukanmu.
            Ya, kamu. Aku menemukanmu di saat aku hilang arah. Kamu menuntunku untuk selalu semangat menjalani hari yang tak pernah pasti. Seperti kita yang tak pernah pasti menjalani ikatan yang entahlah. Kita bersama hanya untuk hari ini. Aku terlalu takut berharap tentang bagaimana kita di esok hari.
            Kita tak pernah memiliki hari esok, apalagi lusa. Hari ini yang kita jalani adalah menempuh sesuatu yang entahlah. Tapi aku kuat bersamamu. Kamu selalu mampu membuatku lupa akan pahitnya kesendirian melawan takdir yang kerap memberiku harapan palsu. Bersamamu aku mempunyai semangat hidup satu hari ke depan selama aku mengetahui kamu masih ada untukku esok hari.
            Sebenarnya aku lelah, terpikir untuk berhenti melangkah. Tinggalkan semua yang fana dan pergi untuk selamanya. Tapi kehadiranmu menahanku untuk pergi jauh. Kedatanganmu membuatku tersadar bahwa hidup harus terus diperjuangkan seburuk apapun keadaan. Kamu membuatku terbangun dari impian yang entahlah. Kamu penyembuh luka hatiku, pengobat segala rasa sakitku. Sebegitu berpengaruhnya kamu bagi hidupku.
            Entah dengan kamu, apakah aku mempunyai pengaruh sama besarnya di hidupmu seperti yang aku rasa terhadapmu. Tanpamu aku tidak baik-baik saja. Entah kamu tanpaku, apa kamu masih bisa baik-baik saja jika aku tak lagi bersamamu. Rasanya tidak adil sekali untukku, tapi ini adalah pilihan hidupku. Aku memilih hidup dengan cara seperti ini, cara yang tak lazim tidak seperti keinginan orang kebanyakan.
            Keinginanku sulit dicerna, absurd. Seperti hidupku yang absurd, hubungan kita yang absurd. Aku sendiri pun tak memiliki bayangan seperti apa aku nanti satu detik ke depan. Yang aku tahu, selama kamu masih bersamaku, maka hidupku akan baik-baik saja. Tapi masalahnya sekarang aku harus mengambil suatu keputusan terberat dalam hidupku. Aku harus mengubah prinsip hidup yang entahlah menjadi sesuatu yang pasti.
            Alasannya hanya satu, aku tahu aku bukan yang terbaik buat kamu. Oleh sebab itu aku ingin menghentikan semua kebodohan ini dan menjalani sesuatu yang tidak entahlah lagi. Aku harus menjalani sesuatu yang pasti dan meninggalkan sesuatu yang entahlah tadi. Karena kamu tidak menjadikanku sesuatu yang membuatmu selalu baik-baik saja, berbeda denganku tadi. Dan itu membuatku merasa terpedaya oleh entah apa.
            Jika aku bukanlah aku yang kamu tahu saat ini, apakah kamu akan mengunci hatimu dan menghentikan semua kekonyolan hidupmu? Berhenti mencari yang terbaik walaupun kamu tidak berniat mencari. Berhenti menemukan sosok lain lagi selain aku jika aku adalah sosok paling sempurna di dunia ini.
            Jika kondisi fisikku sesempurna makhluk Tuhan yang paling sempurna, jika status sosialku berada di strata paling atas dari segala status sosial terbaik di dunia, jika hidupku semudah dan seindah kehidupan di surga, apakah kamu hanya untukku saja dan berhenti berpikir akan menemukan sosok pendamping atau pelengkap hidupmu yang lain lagi di luar sana?
            Sungguh, ketakutanku amat sangat luar biasa jika harus mengetahui kamu berpindah ke lain hati. Tapi aku ini apalah, aku hanya sosok yang entahlah yang aku sendiri pun tak paham aku ini seperti apa. Tidak salah jika alam bawah sadarmu masih saja berkelana dan menginginkan yang terbaik entah untuk apa.
            Yang terbaik itu menurutmu seperti apa? Yang terbaik itu apakah tidak bisa menjadi setia? Sepertinya tidak akan bisa selama kita masih menjadi sosok yang entahlah. Seseorang yang memiliki sosok sempurna pun masih saja bisa tak setia, apalagi hanya bersama sosok sepertiku yang entahlah.
            Lalu? Kapan aku akan menghentikan semua ketidakpastian hidupku? Dan aku hanya bisa tertawa menanggapi pertanyaan hatiku sendiri sambil mengucap ... “Entahlah!”
***


*Catatan pagi setelah terbangun bersamamu dan membahas sesuatu yang entahlah.

2 komentar:

  1. Saya suka dengan tulisan" kakak, kenapa ga nulis buku aj kakak?

    BalasHapus