Senin, 26 September 2016

.



Why Love is so Hurt?

            Why love is so hurt, Kak?”
            Aku tercenung, tak langsung menanggapi pertanyaanmu. Jauh di lubuk hati aku membenarkan pernyataan kalau cinta itu memang menyakitkan apapun bentuknya tanpa pengecualian. Bahkan untuk cinta yang tak bertepuk sebelah tangan pun tetap akan menyakitkan bila salah satunya tak mampu setia. Meski cinta tak terhalang restu orang tua pun bisa menyakitkan pula bila dijalani dengan tak adanya kejujuran dan tak saling pengertian. Cinta yang tak disembunyikan juga tetap akan menyakitkan bila ternyata hati pasangan masih bisa tergoda oleh lain jiwa.
            “Kamu benar, love is so hurt!”
            Akhirnya aku tak mampu lagi memberi alasan mengapa cinta itu menyakitkan. Apapun bentuknya cinta memang menyakitkan pada akhirnya. Sakit bila dikecewakan, sakit bila sedang merindu, sakit bila dikhianati, padahal awalnya dari sebuah rasa cinta. Ternyata cinta itu sangat tidak penting dan sebaiknya memang tidak harus ada rasa cinta.
            Sekarang aku jadi tahu, kenapa selama ini dia tak pernah menyatakan cinta padaku. Aku akhirnya mampu menjawab pertanyaan hatiku sendiri, mengapa selama ini tak pernah terucap kata cinta dari dia untukku. Dia tak mau menyakitiku oleh cinta, bukan? Aku rasa begitu. Karena dia lebih paham tentang apa itu cinta, karena dia bukan laki-laki pengobral cinta. Dia adalah laki-laki yang penuh dengan kasih sayang, dan itu sudah lebih dari cukup bagiku.
            “Kak, kamu nggak pernah tanya sama dia tentang cinta?”
            “Aku terlalu takut untuk bertanya, aku nggak mau merasa bodoh oleh pertanyaan yang aku sudah tau sendiri apa jawabannya.” Sahutku menanggapi pertanyaanmu tentang hubunganku dengan dia.
            “Apa kamu nggak merasa sakit menjalani hubungan seperti itu, Kak?” tanyamu lagi.
            “Hidup ini seperti cinta, life is so hurt too. Jadi tinggal dijalani aja, siapa yang tahu akan takdir, siapa yang sangka dengan nasib, jalani dengan ikhlas maka rasa sakit itu akan terabaikan jika hidupmu nyaman.”
            “Dia laki-laki seperti apa sih, Kak? Sebegitu nyamannya kamu sama dia.”
            “Dia laki-laki yang nggak pernah mengucap kata cinta, yang pasti dia nggak pernah menyakitiku. Dia penuh perhatian dan kasih sayang, itu yang aku butuhkan dan itu sudah lebih dari cukup. Aku nggak butuh cinta kalau akhirnya hanya akan menyakitkan.”
            “Ya, love is so hurt, Kak. Lebih baik kalau kita nggak usah mengenal cinta.”
            Ada yang bilang kalau cinta itu pengorbanan. Hidup itu pengorbanan. Jadi cinta itu adalah hidup. No, cinta dan hidup memiliki makna yang sama, sama-sama berkorban. Namun, bukankah sebaiknya tidak ada yang dikorbankan dalam hubungan kita, bukan? Sekarang kita sudah tahu, jadi tinggal kita jalani saja tanpa ada yang harus berkorban apapun itu.
            Kasih sayang itu saling memberi dan menerima. Take and give yang sebenarnya kita butuhkan tanpa harus berkorban. Kenyamanan dan kepuasan yang kita inginkan, bukan kata-kata bullshit tentang cinta. Jadi,  jika hubungan tak ingin terasa menyakitkan jangan pernah terkontaminasi oleh rasa cinta. Cinta itu bullshit, hanya sebuah kata tanpa makna dan merupakan alat yang pada akhirnya hanya akan membuatmu merasa sakit.
            Love is so hurt! So, stop it!
***



*catatan kecil perbincangan tentang cinta bersama seorang sahabat.

4 komentar:

  1. Suka sama tulisan"nya, kenapa ga nulis novel aj kak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. On progres... doain cepet kelar yaa.. :)

      Hapus
  2. Qo jarang update lg kak, udah ga sabar nih baca tulisan kak Mel lg..

    BalasHapus