Senin, 21 November 2016

.



Sesosok Senja
Oleh : Mel A.
            Bagiku kau adalah sesosok senja. Keindahanmu selalu hadir di hidupku walau hanya sesaat saja setiap harinya. Tapi serupa senja, walau kau menghilang saat malam tiba, namun aku yakin esok sore kau akan menjelang senantiasa. Itulah yang tak pernah membuatku takut setiap harus berpisah denganmu menjelang malam tiba. Aku melepasmu dengan keyakinan esok kau pasti akan hadir kembali untukku.
            Kau dan aku kini semakin mengerti, bahwa perpisahan bukanlah hal yang patut ditakuti. Karena jeda yang kita jalani hanyalah suatu kondisi, dan itu bukan penghalang bagi kita untuk menyerah dan terus memperjuangkan kebersamaan ini. Kau adalah sosok yang selalu kunanti, dan kuberharap senja yang kulalui bersamamu bisa kurasakan hingga usia kita menjelang senja nanti. Betapapun mustahilnya harapan yang kubuat, aku selalu yakin waktu akan selalu mampu menjawab.
            “Saat ini, kalau sehari saja aku tak bisa menemuimu aku merasa sangat jauh darimu.” ucapmu suatu ketika.
            “Seperti ada perasaan bersalah ...” lanjutmu.
            Aku mulai merasa waktu telah mengubah pemikiranmu tentang kita. Tanpa sadar kau mulai menjadikanku bagian dari hidupmu. Sekuat apapun kau menampik rasa itu, kenyamanan hubungan kita akan mengalahkannya. Kau bisa saja membohongi diri sendiri tak terlalu memikirkan serius akan hubungan ini, tapi sikapmu yang mulai menunjukkan kepedulian berlebih terhadapku berbicara lain.
            Aku hanya bisa memperhatikan sampai sejauh mana kau mampu berbuat adil di dua sisi kehidupanmu saat ini. Namun, aku tak lagi merasa tersisih dalam kondisi apapun. Jikalau esok hari kau tak mampu mengabarkan diri pun aku sudah cukup mengerti. Isyaratmu akan tetap bisa kutangkap melalui dinding kebisuan kita. Bahasa yang bisa kutangkap maknanya, dan aku yakin hanya ditujukan untukku saja.
            Tak ada lagi hal yang perlu aku khawatirkan darimu selain keinginanku akan kesehatanmu. Aku hanya ingin kau sehat selalu agar aku selalu bersemangat jalani hari-hariku. Aku ingin pancaran lembayungmu senantiasa indah bercahaya. Agar senjaku selalu berwarna dan hidupku semakin indah saja.
            Harapku tak banyak, hanya ingin melewati senja ini dan kembali menemui sosokmu lagi, hanya itu saja. Pergilah, dan kembalilah senja yang indah. Tak akan sulit untuk melepasmu kini, karena kau sudah pasti akan kembali lagi.
***
            Terkadang tebersit di benakku keinginan untuk menyerah pada segala hal. Hidupku sudah terlalu sulit untuk dijalani saat ini. Langkahku semakin terasa berat, kesendirian sungguh membuat bebanku bertambah marak. Dan sesosok senja terkadang membuatku gundah, tetap bertahan atau sebaiknya kutinggalkan.
            Namun, seperti apapun pemikiranku untuk pergi darimu, keindahan lembayungmu selalu mampu menambatkanku agar tak beranjak lagi dari pesonamu. Aku selalu bergeming tatkala kau memelukku, kehangatanmu selalu meyakinkanku kalau bersamamu hidupku akan baik-baik saja. Sehingga aku mampu menolak siapapun yang berusaha menarikku dari sisimu.
            Kau tak pernah tahu, aku pun tak pernah bercerita padamu, tentang pesona lain yang tengah berjuang merebut hatiku darimu. Kau selalu mampu menambatku dengan segala keteduhanmu. Sehingga aku berpikir tak akan ada lagi yang bisa menggantikan indahmu seperti apapun itu.
            “Apa kamu benar-benar yakin dengan keputusan untuk melanjutkan saja ketidakpastian hidupmu itu?” tanya seorang sahabat tentang sesosok senjaku.
            “Bukankah tak ada hal yang pasti di dunia ini? Suatu kepastian pun kadang tidaklah pernah berjalan sesuai rencana dan keinginan.” sahutku.
            Memang, terkadang aku membutuhkan suatu hal yang bisa kujadikan alasan untuk selalu bertahan menjalani hubungan yang menurut sahabatku itu tak jelas. Tapi sungguh, bersamanya aku sama sekali tak butuh suatu ikrar apapun. Asalkan dia masih selalu ada di keseharianku itu sudah lebih dari cukup.
            Bahkan kini sesosok senjaku terkadang tanpa sadar mulai membahas tentang masa depan kami secara tersirat, tapi lagi-lagi aku terlalu takut untuk berharap. Kuiyakan saja setiap apa yang dia inginkan terhadap kelangsungan hubungan yang masih terasa absurd ini. Yang kutahu hanya menjalani di hari ini, esok adalah rahasia Illahi yang tak pernah kutahu akan seperti apa jalan ceritanya nanti.
***
            Sepertinya waktu semakin menjawab semua tanya hatiku akan kesungguhan dari apa yang aku jalani. Tak terhitung berbagai masalah dan duka keterpurukan yang kujalani bersamanya. Segala yang terjadi pada kehidupan kami tak terpikir sama sekali untuk menyerah setiap kali rasa lelah mendera dan memaksa untuk mengalah pada keadaan.
            Tahukah kau apa yang membuatku bahagia bersamamu wahai sesosok senja? Seburuk apapun keadaan kau selalu mampu membuatku menertawakan takdir Tuhan. Bersamamu aku lupa cara menangisi keterpurukan. Kau tak pernah kehilangan cara untuk membuatku tertawa dan selalu berpikir bahwa semua akan baik-baik saja. Bersamamu aku merasa kuat.
            Walaupun kau tak pernah memberiku kepastian akan hubungan kita akan seperti apa ke depannya, namun kehadiranmu selalu pasti kudapatkan. Seperti senja yang selalu pasti akan datang setiap malam menjelang. Kau menjelma hal yang pasti dari sekian ketidakpastian yang kualami dalam hidup. Memang, tak pernah ada hal pasti di dunia ini selain lembayung senja yang pasti akan muncul di penghujung hari. Dan kau sesosok senja, semoga kau selalu menjadi hal yang pasti dalam hidupku untuk kini dan nanti.
***
              

2 komentar: