Sabtu, 03 Desember 2016

.



Kuatkan Aku, Cinta
Oleh : Mel A.

            “Jangan pernah buat hatiku patah. Jika hatiku patah aku akan mudah menyerah.” ucapku di tengah isak yang tersendat.
            “Aku nggak mau jadi penghalang kebahagiaanmu.” sahutmu.
            “Definisi bahagia itu apa sih menurut kamu?”
            “Bahagia itu nggak ada beban.”
            “Apa menurutmu hubungan kita adalah beban?”
            “Ini soal kebahagiaan kamu, bukan tentang aku.”
            “Aku bahagia sama kamu, aku nggak mau yang lain buat bahagiain aku.” tukasku, dan kau terdiam.
            Entah apa inti dari pembicaraan ini, masing-masing kita memiliki pembenaran sendiri. Kau dengan pikiran negatifmu bahwa aku mulai jenuh dengan masalah hidupmu, dan aku dengan pikiran negatifku bahwa kau menginginkan aku pergi dari hidupmu. Kita kembali tak menemukan titik temu. Berputar-putar dengan pemikiran salah dan saling menyalahkan sesuatu yang entahlah.
            Sebenarnya apa yang ada di benak kita saat ini? Terpikir untuk menyerah setelah begitu jauh melangkah? Aku kecewa dengan pemikiran negatif kita yang tak pernah berusaha untuk saling terbuka. Selalu harus ada yang memulai untuk bertanya. Mengapa begitu sulitnya untuk saling terbuka pada segala hal?
            “Apakah ada yang mau kamu ceritain ke aku? Aku sudah baca postingan tumblr-mu, sepertinya ada yang belum kamu ceritakan tentang sesuatu yang kamu seharusnya paham apa yang aku maksudkan.” Kau memancingku dengan pertanyaan yang menyudutkanku.
            “Ya, ada hal yang belum aku ceritain ke kamu. Menurutku itu nggak penting.”
            “Segala hal tentang kamu itu penting buat aku, bahkan untuk sesuatu yang menurutmu nggak penting.” Kau mendesakku.
            “Sebenarnya ada laki-laki lain yang tengah berusaha mengambil hatiku belakangan ini.”
            “Trus? Kalian sudah ada komunikasi pribadi?” Suaramu terdengar datar tanpa ekspresi, membuatku berpikir kau sepertinya sangat ingin melepasku begitu saja tanpa ada reaksi untuk mempertahankan hubungan kita.
            “Aku nggak tertarik untuk membuka hatiku untuk siapapun. Selama masih ada kamu aku nggak akan merespons siapapun yang ingin dekat denganku lebih dari sekadar teman.”
            “Tapi aku jadi ngerasa udah jadi penghalang kebaikan buat kamu, Sayang. Kalau ternyata laki-laki itu lebih baik dan lebih pantas buat kamu kenapa nggak?”
            “Kamu pengin banget ya ngelepas aku dan biarin aku sama yang lain?”
            “Bukan gitu. Aku cuma mau kamu dapat yang terbaik.”
            “Yang terbaik buat aku cuma kamu. Apa kamu nggak pernah berpikir untuk miliki aku seutuhnya?”
            Akhirnya pertanyaan yang terendap lama itu mencuat sudah, apapun jawabanmu aku pasrah. Jika keinginanmu tak sejalan dengan apa yang aku pikirkan, aku cukup merasa bersyukur sudah bisa bersamamu sejauh ini. Memperjuangkan sesuatu yang entahlah, yang tak pernah kutahu akan berujung seperti apa.
            “Bukankah semua tergantung kamu? Aku sudah berniat untuk menghalalkan kita, katamu ini soal waktu, bukan?” jawabmu meyakinkan.
            “Ya, ini cuma soal waktu. Jadi tolong, jangan pernah menyuruhku untuk membuka hati dengan siapapun itu. Pilihanku sudah bulat, aku mau bertahan sama kamu dengan segala risikonya apapun itu. Aku yakin kamu bisa jadi yang terbaik buat aku. ”         
            Aku tahu konsekuensi dari apa yang kujalani saat ini. Tapi sepertinya aku terlanjur jauh melangkah dan hilang arah. Sepertinya butuh waktu lama untukku mampu kembali menemukan jalan pulang. Sama sepertimu yang membutuhkan waktu hampir setahun lamanya untuk mengucap kata cinta dan yakin untuk menghalalkan hubungan kita. Akhirnya kata cinta kau kumandangkan juga setelah kau menyerah pada pilihan yang tak pernah mampu kau jatuhkan. Aku tahu, kau tak pernah bisa memilih.
            Waktu memang mampu menjawab segala hal, tentang tanya, tentang pembuktian dan tentang keyakinan. Aku hanya butuh waktu untuk membuktikan kebenaran pilihan hidupku. Kau hanya butuh waktu untuk meyakinkan diri kalau kau mampu. Kita hanya butuh waktu untuk mewujudkan apa yang sudah kita mulai. Waktu yang akan memberikan hasil akhir. Akan berakhir indah, ataukah hanya akan menjadi kisah tragis yang membuncah.
***
            Pada akhirnya aku menemukan cinta yang tak pernah kau ucapkan selama setahun kebersamaan kita. Kau yang tak pernah berucap cinta membuatku terperangah saat kalimat sakti itu kau ucapkan. Apakah memang butuh waktu selama itu bagimu untuk meyakinkan kesungguhanku padamu? Sungguh, aku terlalu takut untuk berharap banyak pada apa yang kujalani saat ini.
            Menurutku tak ada hal yang pasti di dunia ini, itulah sebabnya mengapa aku tak pernah meminta kepastian padamu atas apa yang kita jalani. Aku tak ingin membuatmu tertekan pada keadaan yang selalu melemahkanmu dari waktu ke waktu. Aku tak mau menjadi penyebab hal terburuk yang kau alami dalam hidupmu.
            Aku ingin menjadi pelengkap hidupmu, yang selalu ada saat kau membutuhkan tempat untuk berbagi. Aku harap kita bisa saling menguatkan satu sama lain dalam keadaan terburuk dan terpuruk. Mungkin benar, kalau cinta adalah sesuatu yang mampu menguatkanmu. Entah benar atau salah, tak akan ada yang mampu menghalangi sebuah perasaan pada siapapun itu.
            Apa yang membuatmu tiba-tiba mempertanyakan sesuatu yang sempat ragu untuk kuceritakan padamu? Sesuatu yang akan menjadi penghalang langkah kita untuk menghalalkan kebersamaan ini. Tapi aku dengan sangat yakin mengutarakannya padamu, kalau pilihanku tetap kamu dan cuma kamu. Tak ada yang akan bisa merebut hatiku dari kamu. Walaupun logika menghadang tetap saja aku punya berbagai cara untuk mengenyahkannya, kita akan terus bersama.
            Untuk itu, jangan pernah buat aku menyerah pada hubungan kita, sesulit apapun keadaan. Jangan pernah membuatku patah. Bila hatiku patah maka aku akan sangat mudah menyerah. Aku selalu yakin kau mampu membuat hidup kita lebih bahagia. Bahagia yang tanpa beban. Bahagia yang tak hampa. Bahagia yang saling melengkapi dan saling menguatkan. Maka dari itu, selalu kuatkan aku, Cinta.
***
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar