Minggu, 16 Juli 2017

.



Mimpi

            Seperti biasa, pagi itu kita terbangun karena berisiknya alarm yang berteriak dari handphone-ku. Dan sudah menjadi ritual kita menghabiskan pillow talk di pagi hari dengan menceritakan mimpi semalam. Malam tadi aku tak bermimpi tentang kamu, bahkan mimpiku semalam menguap begitu saja. Ah, hanya bunga tidur rupanya.
            Tapi kamu dengan lancarnya menceritakan mimpimu semalam. Seolah kamu merasakan bahwa itu sangat nyata. Aku tercenung dalam situasi masih setengah mengantuk. Tapi telingaku mendengar dengan sadar setiap kalimat yang kamu lontarkan tentang mimpimu itu.
            “Aku mimpi kamu dilamar laki-laki lain.” ucapmu pelan.
            Aku hanya menanggapinya dengan tawa kecil, “Trus?” sahutku.
            “Kayak nyata banget.”
            “Artinya?”
            “Enggak tahu. Tapi aku ingat banget kejadian dalam mimpi itu.”
            Yang aku tahu, jika kita terbangun dan masih mengingat dengan jelas mimpi yang kita alami, itu merupakan suatu pertanda, bukan bunga tidur semata. Tapi aku tidak mau mempermasalahkan tentang mimpimu itu karena aku tidak sedang dekat atau didekati dengan lelaki mana pun selain kamu.
            “Kamu nggak lagi dekat dengan laki-laki lain, kan?”
            “Maksud kamu?”
            “Ya aku nanya. Cuma pengin tahu aja.”
            Aku memicingkan mata dan mulailah berkeliaran pertanyaan di kepala. Ini bukan kali pertama kita membahas tentang hal semacam ini. Tapi mimpimu kali ini membuatku bertanya-tanya, apa ada hubungannya dengan perjalanan kita? Perjalanan yang semakin tak berarah dan kita hanya berputar-putar dalam sebuah labirin yang menjebak kita di dalamnya. Kita tak bisa kemana-mana!
            “Aku nggak sedang dekat dengan siapapun, cuma kamu.”
            “Kasih tahu aku ya, kalo ada yang lagi deketin kamu.”
            “Kamu pengin banget ya aku ada yang deketin?”
            “Bukan gitu, aku cuma nggak mau kamu nyembunyiin hal kayak gini dari aku.”
            “Apa sih yang aku sembunyiin dari kamu? Semuanya kamu udah tahu apapun itu tentang aku.”
            Dan seperti biasa, perdebatan pagi itu menguap dan hanya menjadi sebuah ritual pillow talk kita kala sedang tidur bersama. Setelahnya, kamu beranjak dengan meninggalkan jejak pelukan hangat dan kecupan sayang sebelum punggungmu menghilang di balik pintu depan. Selalu begitu, semuanya tampak baik-baik saja.
***
            Seharian ini mood-ku memburuk. Terjadi hal tak terduga yang menyebabkan buyarnya semua rencana yang sudah kususun rapi jauh-jauh hari. Ditambah lagi perdebatan hebat dengan atasan yang sangat menjengkelkan. Sudah biasa, tak menjadi hal berarti bagiku. Namun, dalam kondisi seperti ini, saat kenyataan tak sesuai harapan, aku mudah sekali merasa down. Dan efeknya sulit berpikir positif.
            Aku berusaha menahan diri sekuat hati untuk tak mengeluh dengan keadaan yang tak mengenakkan ini, walau dadaku terasa sesak. Dalam kondisi seperti ini aku hanya butuh sebuah pelukan yang mampu menenangkan pikiran, sayangnya kamu sudah bergegas pergi tadi pagi. Aku harus bersabar menunggu kamu menghubungiku lagi. Tiba-tiba aku merasakan rindu yang amat sangat, padahal baru tadi malam kita tidur saling berpelukan.
            Terlintas kembali obrolan kita tadi pagi. Dalam kondisi bad mood seperti ini, yang muncul di otak kanan hanya pikiran negatif. Aku meraih gadget, membuka sebuah situs dan mencari tahu arti mimpimu semalam. Aku tercenung saat membaca sebuah ulasan tentang pikiran alam bawah sadar yang hadir melalui mimpi.
            Mungkinkah mimpimu itu berarti kamu menginginkan aku pergi dari hidupmu? Kamu berharap ada laki-laki lain yang membawaku pergi jauh darimu? Dengan alasan itu, kamu bisa melepasku dengan mudah. Dengan begitu kamu tak perlu merasa bersalah atas sesuatu yang tak bisa kamu jalani, kamu terbebas dengan kekhawatiranmu akan sebuah pilihan. Kamu tak lagi harus memilih!
            Pikiranku semakin kacau saja. Ingin rasanya meneleponmu saat ini juga untuk kembali ke rumah kita dan membahas masalah ini hingga tuntas. Aku paling tidak suka menyimpan unek-unek denganmu. Semua harus dibahas hingga tuntas, kamu harus tahu tentang apa yang aku pikirkan saat ini. Kamu harus merasakan apa yang aku rasakan hari ini.
            Tapi aku meragu kembali, aku selalu takut jika apa yang aku sampaikan membuatmu berpikiran lain. Aku takut kamu menyangka aku membalikkan fakta dan hanya menduga-duga tanpa alasan. Ya, memang ini hanyalah praduga yang tak beralasan. Jadi teringat lagi, pernah sekali kita berada di posisi ini tapi kamu terbebas tanpa bukti, aku yang salah menduga kala itu. Tapi kamu harus tahu apa yang aku pikirkan tentang kita saat ini.
            Aku tak hendak mengeluh di depanmu. Aku selalu berusaha untuk menjadi pasangan yang kuat dan mandiri. Karena aku tahu, itu yang kamu butuhkan dari sosok perempuan sepertiku. Kamu tidak suka jika aku manja dan cengeng menghadapi permasalahan hidup. Kamu tidak mau jika aku mengeluh dan berpikir yang aneh-aneh tentang kamu. Ya, aku tahu kamu tak suka itu. Tapi aku tidak bisa menyembunyikan kekhawatiranku, aku takut kehilanganmu, meski itu tak pantas.
            Terbersit di benakku, hancurkah hidupmu saat ini karena kehadiranku di hidupmu? Hingga alam bawah sadarmu memintaku untuk pergi tanpa kamu sadari dengan pasti. Tapi keinginanmu hadir melalui mimpi. Dan itu sangat menggangguku saat ini. Jika itu inginmu, aku akan lakukan apapun yang kamu mau. Aku tak ingin memaksakan apapun terhadapmu jika kamu tak mau. Itulah sebabnya mengapa aku tak pernah memaksamu untuk memilih.
            Jika kamu menginginkanku tetap di sini, aku akan tetap bertahan seburuk apapun keadaan. Sampai kamu tak sanggup lagi memperjuangkan kita, aku akan tetap menerima. Karena rasa cintaku akan mengalahkan segalanya, termasuk mengalahkan keegoanku untuk memilikimu seutuhnya. Tidak, aku tidak akan pernah menempatkan kamu dalam posisi sulit yang kamu tak mau menjalaninya.
***
            Aku mulai mengikhlaskan hari yang buruk ini berlalu selama 12 jam. Hatiku mulai sedikit tenang walau masih ada sesuatu yang mengganjal perasaan. Senja hampir usai saat handphone-ku berdering, ada namamu muncul di layar, senyumku mengembang seketika. Aku sangat ingin membahas tentang mimpimu semalam, apakah etis membicarakan hal penting lewat telepon? Tapi aku bukan tipe yang suka menunda.
            “Aku jadi kepikiran tentang mimpi kamu semalam.”
            “Tuh, kan?”
            “Aku cari tahu arti mimpi kamu itu.”
            “Lagi ada yang deket kan ama kamu? Cerita aja gapapa.”
            “Apa sih? Kan udah aku bilang aku nggak lagi dekat ato dideketin ama laki-laki manapun. Ini aku malah jadi mikirnya kamu yang mau aku deket sama lelaki lain.”
            “Lho? Kok malah ngebalikin? Kok malah aku yang disalahin?”
            “Aku baca sesuatu tentang keinginan alam bawah sadar yang datang melalui mimpi.”
            “Trus kamu ambil kesimpulan kalo aku yang pengin kamu kayak gitu?”
            “Iya. Maaf, seharian ini aku lagi nggak bisa berpikir positif. I had a bad day, I’m in a bad mood condition.”
            “Jangan mikir yang aneh-aneh deh. Justru aku yang takut kehilangan kamu, mungkin saking aku mikirin kamu makanya ampe kebawa mimpi. Bukan berarti aku pengin kamu sama laki-laki lain. Salah tanggep nih kamu.”
            “Entahlah, mungkin aku terlalu khawatir. Kita jadi salah paham gini. Gara-gara mimpi, pikiran aku jadi jelek gini ke kamu. Maaf ya.”
            “Ya udah yang penting kalo ada apa-apa cerita.”
            Kamu sudah tahu segala hal tentang hidupku, entahlah dengan kamu. Selama ini kita tak pernah mempermasalahkan hal rumit apapun yang pernah kita alami. Semua seolah baik-baik saja, tampak sempurna dan berjalan mulus tanpa rintangan. Walau kita masih terlalu takut memperjuangkan keinginan yang terdalam. Yang penting semua baik-baik saja, biar waktu yang akan menentukan seperti apa akhir cerita kita.
***
           


Selasa, 23 Mei 2017

.



Aku, Kamu, Dia dan Impian Absurd Kita

            Ini konyol, amat sangat konyol. Hal paling mustahil yang kujalani dalam hidup saat ini adalah memenuhi permintaanmu untuk mengambil hati perempuan yang seharusnya menjadi rivalku. Katamu hanya itu satu-satunya cara agar kita dapat mewujudkan impian untuk dapat tetap hidup bersama. Agar kamu mendapat restu untuk memasukkanku ke dalam hidupmu tanpa perlu sembunyi lagi.
            Sepertinya kita mulai lelah sembunyi. Niatmu untuk membuka tabir hubungan kita yang absurd ini masih saja belum menemukan titik terang. Sesekali memang ada jalan tak terduga yang seolah sengaja Tuhan rancang untuk membuka tabir kita. Meski jalan itu dikarenakan kejadian tragis yang tak pernah kita rencanakan. Lambat laun muhrimmu itu tahu tentangku, tentang kita. Tapi masih saja kamu menjelma pecundang setiap kali dihadapkan untuk membuat keputusan.
            Kita sadar ini salah, tapi kita selalu punya alasan untuk melakukan pembenaran atas apa yang kita lakukan. Pembenaran versi kita yang pastinya semua orang menganggap salah. Kita punya dunia sendiri yang kita akui bahwa apa yang kita jalani adalah bukan suatu kesalahan. Itu sebabnya kita tak berhenti untuk bisa memperjuangkan kebersamaan ini, seberat apapun risikonya.
            Katamu kita tak harus mengkhawatirkan hal yang belum tentu terjadi. Yang penting kita bisa saling memahami bahwa kita saling membutuhkan. Tuhan pastinya punya alasan tersendiri mengapa kita dipertemukan, hal ini adalah kebetulan yang pastinya sudah dirancang Tuhan untuk kita. Lagi-lagi kita selalu melakukan pembenaran sendiri. Tak peduli kita telah menyakiti banyak hati. Kita sangat egois dan tak tahu diri.
            Aku akan pergi, suatu saat nanti. Bila kamu yang meminta aku untuk pergi dari hidupmu, bukan dia. Aku tidak akan menggubris apapun yang dia ucap terhadapku, beribu kali dia mengusirku dari hidupmu tapi jika kamu tak mau, aku akan tetap bertahan, seburuk apapun keadaan. Kamu yang memintaku untuk tetap ada di hidupmu, maka kamu pula yang harus memintaku untuk pergi, suatu saat nanti.
            Aku tahu apa inginmu terhadapku. Kamu ingin aku berhasil menjadi sosok yang bisa membanggakan dirimu. Baiklah, aku akan selalu berusaha menjadi apa yang kamu mau, meski perih menderaku tanpa kamu tahu. Mungkin kamu tahu, hanya saja kamu tak pernah menunjukkan kepedulianmu terhadapku. Itu sudah jadi sifatmu yang aku harus pahami itu.
            Belakangan ini pikiranku buntu, hingga jemariku tak pernah mampu merangkai untaian lagu. Otakku disibukkan oleh bagaimana cara agar kita bisa keluar dari permasalahan perekonomian yang merenggut banyak sekali waktu pertemuan kita. Kita disibukkan oleh pekerjaan yang menyita banyak waktu dan membuat kita sangat berjarak.  
            Kita sudah tak seperti dulu, banyak sekali hal yang tak pernah kita bisa selesaikan dengan baik, termasuk usaha kita untuk selalu bersatu. Impian kita yang menggunung tak pernah kita bahas lagi untuk mewujudkannya. Kamu disibukkan oleh urusanmu sendiri, aku merasa terabaikan. Kamu tak pernah merasa bersalah sudah membuatku susah, seolah menyakiti bagimu adalah hal yang biasa.
            Mungkin kamu tak pernah sadar terlalu banyak yang kutahu tentangmu yang tak pernah kamu ceritakan kepadaku. Bahkan ketika kamu berbohong pun aku selalu berusaha berpura-pura tak tahu. Aku sengaja membiarkan kamu terus membohongiku, aku anggap ini hukuman bagiku atas segala kesalahan yang kita buat selama ini.
            Aku terlalu cerdas bisa mengetahui banyak hal tentangmu, tapi terlalu bodoh untuk mampu mencerna dengan logika atas segala penderitaan yang kurasa. Bagiku kebahagiaanmu adalah segalanya, aku tak ingin menambah beban hidupmu. Biarlah waktu yang akan membuka mata hatimu kelak, mungkin setelah kamu sadar telah membunuhku perlahan dengan segala ketidakpastian yang kamu buat.
            Aku akan terus membiarkan keadaan ini berlarut hingga kamu memutuskan untuk menghentikan sandiwara yang kita buat. Saat kamu tersadar bahwa hidup memang harus memilih hanya salah satu saja yang harus kamu ambil, bukan lebih dari satu. Perempuanmu tak pernah menghendaki dan tak akan bisa menerima keinginan absurdmu itu. Hanya aku yang bisa memahami inginmu, hanya aku.
            Saat kamu terus memaksaku untuk menjadi apa yang kamu mau, saat itu pula aku semakin mengerti bahwa kamu tak pernah bersungguh memahamiku. Kamu hanya ingin aku yang memahamimu, kamu hanya ingin dimengerti tapi tak mau coba mengerti aku. Kamu dengan segala keegoisanmu yang tetap tak pernah mampu membuatku membencimu, kamu tahu itu. Tapi kamu tak pernah tahu, kalau aku tak pernah berhenti berusaha menjadi apa yang kamu mau.
***



Jumat, 14 April 2017

.



Tak Ada Kata dan Waktu yang Tepat untuk Mengakhiri Kita

            Aku selalu kehilangan aksara saat bertatap denganmu, semua kalimat yang sudah kususun rapi di kepala buyar seketika saat kau memelukku. Seakan tak pernah ada kata dan waktu yang tepat untukku bisa mengungkapkan semua yang berjejalan di kepala. Tentang kita yang semakin tak saling memahami satu sama lain belakangan ini.
            Entah aku yang tak mengerti kamu atau kamu yang tak memahami inginku. Kita tak pernah menemukan titik temu. Tapi saat kita bertemu, semua selalu baik-baik saja. Segala persoalan sirna seketika, seakan kita tak mempunyai permasalahan apa-apa. Padahal saat kamu tak bersamaku, isi kepalaku selalu berontak menuntut penjelasan dari semua pertanyaan yang belum kutemu jawabnya.
            Kita memang sudah membahas segala hal, tak ada yang terlewat. Aku selalu berusaha untuk tak memendam apapun yang kurasa. Bahkan beberapa waktu terakhir kita sering memperdebatkan segala hal. Dan ujung dari perdebatan selalu berakhir manis dan indah, seolah semua masalah telah terselesaikan dengan mudah.
            Aku sangat ingin sekali membuatmu marah. Di saat marah akan mudah melihat dan menilai watak asli seseorang. Itu yang sangat ingin aku lakukan terhadapmu. Aku ingin kita saling mengenal segala hal terburuk dalam diri kita, agar tak ada lagi sedikit pun rahasia yang tersisa. Memutuskan untuk hidup bersama berarti tak ada lagi yang namanya rahasia, itu menurutku. Kita pasti mempunyai pemikiran yang berbeda, tapi setidaknya kita bisa menyatukannya jika satu sama lain saling terbuka dan meniadakan rahasia.
             Sikapmu yang tak pernah mampu meredam prasangka burukku selalu menimbulkan asumsi negatif dalam otakku. Sekuat apapun usahaku untuk selalu berpikir positif atas semua lakumu tetap saja tak mampu meredam banyak tanya yang masih berkeliaran di kepala. Penjelasanmu bagiku hanyalah obat penenang untuk meredakan pikiran negatifku saja. Tapi chemistry kita sudah membentuk suatu ikatan bathin yang membuatku mampu berfirasat atas segala hal tentangmu, terutama saat kamu sedang berdusta.
            Aku selalu tahu saat kamu berusaha menutupi sesuatu. Alam bawah sadarku mempunyai radar yang kuat dan firasat yang selalu tepat. Memang sulit dijelaskan dengan logika, tapi aku selalu mampu membuktikan itu semua pada akhirnya. Semua firasatku selalu benar adanya, kamu memang tak pernah berusaha mengelak saat ucapku begitu telak.
            Tapi haruskah kejujuran itu terucap dengan keterpaksaan? Padahal akan sangat nyaman bila kita saling mengetahui keadaan satu sama lain sekecil apapun itu. Buat apa malu untuk mengeluh dan mengungkapkan hal terburuk sekali pun, untuk itulah kita hidup berpasangan. Mungkin kita hanyalah pelengkap hidup, bukan pasangan hidup. Tapi setidaknya kita bukan orang lain lagi, bukan?
            Aku tidak sedang mengulangi kesalahan yang sama dengan orang yang berbeda, bukan? Sangat ingin aku menemukan jawaban itu secepatnya, agar aku bisa menentukan sikap sebelum mengambil keputusan yang lebih fatal lagi dalam hidupku. Sudah waktunya untuk menyudahi pembenaran sendiri. Kita harus sejurus agar bisa terus, kita harus senalar agar tidak bubar, kita harus saling mengerti agar tidak ada yang tersakiti.
            “Kamu nggak mau, kan? Kalo aku sampe curhat di status tentang perasaan aku ke kamu? Komunikasi yang baik itu dasar utama untuk hubungan yang baik, Sayang.” ucapku.
            “Iya, aku paham. Tapi aku nggak suka dengan hubungan yang meniadakan privacy. Itu bentuk hubungan yang nggak dewasa.” sahutmu.
            Posesif sesungguhnya suatu bentuk tameng menjaga hubungan dari kecurangan. Posesif akan menimbulkan efek positif berupa kesetiaan. Dan posesif adalah bentuk rasa takut kehilangan. Cemburuku tidak buta, kan? Ada alasan kuat di balik itu. Sikapmu belakangan ini membuatku bertanya-tanya, menimbulkan rasa unsecure secara tiba-tiba. Ini bukan efek dari kondisi keterpurukan, aku tak pernah bermasalah dengan kondisi terburuk sekali pun.
            Aku tak pernah mengeluh dan selalu menerima keadaanmu apapun itu. Aku selalu bersyukur masih bisa berjuang bersamamu menghadapi segala kepahitan hidup. Yang menjadi pertanyaanku, aku berjuang untuk apa? Jika yang aku perjuangkan tak menunjukkan kepeduliannya. Apa ini hanya perasaanku saja? Efek dari asumsi negatif atas sikapmu yang ambigu? Sekali lagi, ini sebenarnya aku yang tak mengerti kamu atau kamu yang tidak juga memahami inginku?
            Segala hal harus dibicarakan, untuk hal yang sepele sekali pun. Kita terlalu banyak berbasa-basi dalam rangka pengalihan isu dan mengelak dari hal paling krusial. Satu-satunya cara untuk mengelak adalah dengan mengalihkan pembicaraan, selalu itu yang kamu lakukan saatku sedang membahas sesuatu yang tak kamu ingin aku tahu. Selalu begitu.
            Memutuskan untuk mempunyai pasangan berarti harus siap selalu berbagi dalam segala hal. Kita sudah terlalu jauh melangkah ke depan, sudah tak ada peluang untuk berbelok jalan selain meneruskan perjalanan ini bersama sampai tujuan. Walaupun kita masih belum menemukan alamat yang dituju, setidaknya kita sudah tak hilang arah. Kita sudah keluar dari labirin dan menemukan titik terang menuju jalan pulang.
            Semua kejadian terburuk sudah kita lalui, dan tak ada perubahan sikapmu untuk mengakhiri hubungan kita dalam kondisi apapun, kita selalu mampu bertahan. Aku semakin yakin kalau kita tidak lagi sedang main-main. Kamu memang bukan pengobral janji, tak pernah mengimingiku hal yang tak pasti. Sekali lagi ucapmu, ‘Ini hanya soal waktu.’
            Semua soal waktu. Kita hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengakhiri semua ketidakpastian kita. Hanya butuh waktu untuk mengakhiri kekacauan yang sudah kita buat dan membereskan semua dari awal. Kita hanya butuh komunikasi yang intens untuk saling menemukan apa yang kita inginkan. Dan pada akhirnya, kita memang saling membutuhkan.
***


Selasa, 28 Maret 2017

.

Saat Logika Berkata, Cinta saja Tidak Cukup untuk Kita

            Sepertinya batas kemampuanku untuk mengerti keadaan ini berada diambang punah. Kapasitasku untuk berjuang mulai melemah, saatku di hadapkan pada pilihan yang sulit, orang tua dan keluarga atau sesosok cinta. Masalahnya terletak pada cinta yang ambigu, cinta yang kuperjuangkan tanpa ada bayang-bayang kepastian masa depan. Cinta yang kujalani hanya untuk hari ini, esok entah bagaimana ceritanya nanti. Kadang hal itulah yang membuatku gamang.
            Sesosok cintaku pun sepertinya merasakan hal yang sama, yang kami jalani absurd semata. Walau sudah mengerahkan segala upaya untuk tetap bersama, sepertinya kepastian belum memihak dengan segera. Masih tentang apa yang bisa dijalani hari ini, entah esok dan lusa nanti. Masih saja dengan alur cerita yang belum ada ending-nya. Membuat hati bertanya-tanya, aku ini sedang memperjuangkan apa?
            Memang benar yang orang tua bilang, hidup itu tak cukup hanya dengan cinta. Sebesar apapun rasa cinta yang dimiliki sepasang manusia, seiring waktu akan terkikis juga bila tak dijaga oleh faktor penunjangnya. Sekeras apapun aku berusaha bertahan dengan kondisi terburuk, tetap saja logika selalu berteriak di dalam kepala. Kesabaran yang kupelihara perlahan berontak dan berusaha lari dariku.
            Sekuat apapun aku menjaga pada akhirnya tetap dihadapkan pada pilihan juga. Apakah sebaiknya aku tak harus memilih apapun dalam hidup? Bukankah dengan tidak memilih pun berarti aku telah menjatuhkan pilihan juga? Sesosok cinta atau keluarga? Aku tak mungkin mengabaikan keluarga, mereka yang mampu untuk selalu ada untukku. Sedangkan sesosok cintaku terlalu sibuk memperjuangkan hidupnya untuk keluar dari segala permasalahan hidup. Lalu aku harus apa? Terlalu banyak pertanyaan yang belum mampu kumenjawabnya.
            Tapi aku telah terperangkap dan sulit untuk membebaskan diri dari jerat cinta tanpa logika ini. Sekuat apapun usahaku untuk mengedepankan logika selalu saja kalah oleh tatap mata sesosok cinta. Mata itu selalu berusaha meyakinkanku kalau semuanya akan baik-baik saja. Pelukan sesosok cintaku selalu saja mampu membuatku bertahan dalam keadaan terburuk sekali pun. Genggaman erat sesosok cintaku selalu meluluhkan hati. Dan pada akhirnya menggoyahkan keyakinanku akan logika.
            Manusia tidak akan hidup dengan makan cinta! Selalu begitu logika berbicara, selalu ada tuntutan dari kebutuhan yang tak bisa dikesampingkan. Tapi bukankah sesosok cintaku selalu berusaha untuk membuat keadaan menjadi baik-baik saja? Aku hanya butuh sabar dan membantunya agar kami bisa membuat keadaan menjadi jauh lebih baik. Dia butuh dorongan semangat dan kekuatan dari cinta yang akan membuatnya merasa berarti.
            Namun, aku hanya ingin sekali saja mengeluh. Aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku tak sekuat yang dia kira. Sekuat apapun aku di depannya, aku tetaplah manusia biasa yang punya batas kemampuan dalam segala hal. Aku mulai hilang arah dan lelah. Aku butuh dia selalu ada untukku setiap waktu untuk menguatkanku, aku ingin sesosok cinta memberiku semangat untuk terus bertahan. Aku ingin terus mampu berusaha dan merasa semua akan baik-baik saja.
            Tapi lagi-lagi aku selalu kehilangan aksara setiap kali bertatap dengan sesosok cinta. Mendadak lemahku lenyap bila bersamanya, ada kekuatan yang menyerang dan memaksa mengenyahkan logika. Apakah ini wujud ketulusan cinta? Apakah cinta telah berhasil menguatkan kita? Sepertinya aku harus mengabaikan logika. Ya, kalau begitu abaikan saja logika. Dan tetap percaya bahwa cinta akan selalu menguatkan kita.
***