Minggu, 10 Desember 2017

.



Karena Aku Sangat Mencintaimu

            Kita tidak akan pernah bisa menemukan waktu yang tepat untuk menyudahi semua drama ini. Kalau pun harus dilanjutkan, ceritanya sudah tidak sinkron lagi. Para penonton akan kecewa dan pergi begitu saja tanpa merasa penasaran untuk tahu bagaimana ending kisah kita. Jadi, aku memutuskan untuk menyudahi episode ini dengan ending yang menggantung.
            Kelak kalau kamu sudah bisa mencapai apa yang kamu cari, kemapanan, kekuatan mental dan keberanian untuk mengakui keinginan terdalam dari alam bawah sadarmu. Aku berjanji, aku masih di sini. Aku masih memberi kesempatan untuk meneruskan kisah kita yang menggantung, tapi tidak pakai sandiwara ala sinetron kacangan lagi. Aku ingin kehidupan nyata di mana aku tidak perlu lagi sembunyi.
            Aku tidak lelah kok, aku tidak pernah lelah menjalani hidup ini. Aku hanya tidak ingin mematikan dongeng perempuan lain hanya untuk menghidupkan dongengku sendiri. No, aku tidak sejahat itu. Kamu yang paling tahu aku, aku tidak akan sanggup melakukan itu. Ini bukan soal batas kesabaran atau terburu-buru agar kamu memutuskan dan memberi jawaban pasti. Aku tidak butuh kepastian apa pun atas hubungan yang absurd ini. Karena sedari awal kita sudah tahu konsekuensinya akan seperti apa. Sebenarnya aku terlalu takut untuk mendapatkan akhir yang tidak bahagia. Itulah sebabnya kubuat cerita ini jadi menggantung saja. Biar penonton yang menebak akan seperti apa kelanjutannya. Apakah akan ada sekuelnya atau Sang Sutradara ingin mengganti ide ceritanya saja. Biar semesta yang bicara.
***
            “Kasih aku kesempatan sekali lagi buat buktiin kalo aku bukan pemeran antagonis dalam lakon ini.” ucapku pelan.
            “Sampai kapan?” sahut Rin
            “Satu purnama. Aku janji.”
            We’ll see!” tukas Rin dengan ketusnya.
            Sebenarnya aku adalah makhluk Tuhan paling beruntung sedunia. Dicintai banyak orang dan tak pernah kekurangan kasih sayang. Keluargaku baik-baik saja, sahabatku, Rin, sangat menyayangiku, pun kamu yang aku tahu kamu sangat mencintaiku. Aku juga bersyukur selalu diselamatkan dari berbagai kesulitan hidup, selalu ada jalan keluar dari arah yang tidak terduga-duga. Tuhan sangat sayang padaku, menamparku agar aku selalu tersadar dan terjaga dari kekhilafan yang tak berujung.
            Kamu harus tahu tentang hal ini sekarang juga. Aku tidak akan pernah bisa bicara jika menatap matamu. Aku tidak mau terhipnotis lagi, aku harus bicara melalui telepon saja. Aku punya kekuatan jika tak bertatap muka denganmu, aku kuat, ya... aku kuat.
            “Aku jahat ya selama ini sama dia.” ucapku memulai pembicaraan kami di telepon malam ini seusai Rin menamparku habis-habisan tadi.
            “Kita udah bahas ini beratus kali, ya. Untuk saat ini yang kita omongin cuma akan jadi pepesan kosong aja. Kamu tahu kalo aku masih belum bisa ngasih solusi.”
            “Kita nggak akan pernah menemukan waktu yang tepat sampai solusi itu kita dapat. Kalau pun kamu mapan kelak, belum tentu juga akan jadi jaminan dia bisa menerimaku masuk di antara kalian.”
            “Tapi kita sudah berusaha, kan? Dan kamu sudah menunjukkan kemajuan dengan rencana kita sebelumnya.”
            “Aku nggak tega dengan pengakuannya. Kamu sadar nggak sih? Dia nggak bahagia!”
            “Aku tahu dia nggak bahagia. Tapi bukan berarti aku nggak berusaha buat bikin dia bahagia.”
            “Dia akan bahagia kalo kamu cuma miliknya seorang. Dia akan bahagia kalo kamu bisa bimbing dia dengan sabar dan nggak bikin dia nangis terus karena keluhan-keluhan kamu yang sepele itu. Kalian cuma perlu jujur walaupun itu menyakitkan daripada kamu menyimpan bangkai busuk yang kalo dia sampai cium itu baunya akan langsung membunuh psikis dan mentalnya. Lebih parah mana?”
            “Aku nggak paham deh maksud pembicaraan kita ke arah mana? Tujuannya apa kamu bahas masalah ini?”
            “Aku mau kita jadi manusia baik-baik. Hidup normal nggak pake drama terus.”
            “Kamu capek ya sama aku?”
            “Aku sudah terbiasa hidup capek. Ini bukan alasan, pertanyaan kamu nggak akan jadi solusi buat kita. Malah akan bikin kita terus  berputar-putar dalam labirin dan nggak pernah nemuin jalan keluar.”
            “Terus mau kamu apa?”
            “Tolong bahagiakan dia. Jadikan dia hanya satu-satunya dalam hidup kamu. Kalo kamu bahagiain dia berarti kamu udah bahagiain aku juga. Jangan hidup dalam kekonyolan lagi. Cukup ini yang terakhir, mau sampai kapan hidup sandiwara terus? Kalian pasti akan bahagia kalo bisa saling melengkapi satu sama lain. Dia istri yang baik, hebat, luar biasa. Aku malah ngerasa nggak ada apa-apanya dibanding dia. Aku nggak jauh lebih baik dari dia. Kamu nggak akan bisa menemukan pendamping hidup sesempurna dia. Kamu cuma butuh kesabaran ekstra buat bentuk dia jadi pelengkap hidup kamu. Sudah ada jalannya, kan? Tinggal ikuti aja alurnya, jangan pake belok-belok lagi. Jalan aja terus yang lurus, jangan lihat ke belakang lagi. Abaikan aku!”
            “Nay!”
            Kudengar samar suaranya terisak. Kamu menangis, sedih dengan kenyataan yang tak sesuai ekspektasimu. Kamu boleh berpikiran apa pun tentang sikapku saat ini. Keputusan untuk keluar dari labirin drama ini. Rin telah membukakan pintu alternatif buat kita. Supaya semuanya baik-baik saja. Menyudahi sandiwara absurd ini, walaupun dengan ending yang menggantung.
            “Maafin aku yang nggak bisa mengambil sikap tegas untuk hubungan kita.” ucapmu.
            “Karena kamu nggak sadar kalo alam bawah sadarmu sangat takut kehilangan dia. Kamu lebih pro ke dia, dan kalo pun kamu harus memilih kamu pasti akan memilih dia. Jangan bilang kalo kamu nggak bisa memilih, pada kenyataannya dulu kamu pernah berpikir untuk mengakhiri kita dan memilih dia.”
            “Itu dulu, keadaannya sekarang udah beda. Apa kamu nggak bisa rasain perubahan diri aku sejak aku mutusin untuk lebih serius dengan hubungan kita.”
            “Aku bisa rasain kok, aku tahu kamu udah berubah. Kamu udah nggak konyol lagi dengan masih berpikir untuk jalan dengan beberapa perempuan sekaligus selain aku. Pikiran kamu udah mulai lurus. Makanya itu aku yakin banget kalo kamu udah siap jadi suami yang monogami dan bisa bahagiain dia seorang.”
            “Kamu nggak bisa baca pikiran aku saat ini, Nay.” isakmu makin santer terdengar.
            “Kita nggak pernah punya waktu yang tepat untuk ngebahas masalah ending sandiwara kita terhadapnya. Setiap kali kita ketemu langsung aku nggak akan pernah bisa bersuara. Aku takut natap mata kamu, aku takut buat ungkapin semua ini. Aku mau kita sudahi drama ini. Aku nggak bisa bikin yang happy ending untuk saat ini, jadi mungkin lebih baik kita biarin aja ending-nya menggantung.”
            “Nay...”
            “Aku yakin kamu laki-laki yang bertanggung jawab. Tanpa aku meminta dan menagih kewajibanmu pun aku sangat yakin kamu akan bereskan semua kekacauan ini. Aku nggak akan mempermasalahkan urusan gono gini kita, pasti ada jalannya.  Aku ikhlasin semuanya.”
            Dan kamu makin tersedu.
            “Sudahlah. Sekarang kamu istirahat ya. Pasti kamu capek seharian kerja. Semua akan baik-baik aja kok. Trust me.”
            I love you, Nay.”
            Dan sandiwara kita pun menemukan titik ending-nya, walaupun menggantung. Mungkin masih butuh adaptasi beberapa waktu sampai kita tak lagi saling merasa kehilangan satu sama lain. Kamu tahu kenapa aku melakukan ini? Karena aku sangat mencintaimu.
***


#No more tears, No more drama, it was enough!


Selasa, 03 Oktober 2017

.


Kisi Hati




            Ini harus dibahas. Ini sudah melampaui batas. Kesabaran memanglah seharusnya tak berbatas, tapi ini sudah di luar batas kemampuan untuk bisa menyimpan semua ini seorang diri. Aku memang wanita mandiri, selama aku mampu untuk bertahan sendiri aku tak akan membebani siapapun itu, termasuk kamu. Ya, kamu. Kamu orang terpenting dalam hidupku. Mengalahkan orangtua, keluarga dan buah hatiku. Posisi kamu selalu nomor satu di hidupku. Walaupun aku tidak pernah menjadi prioritas di hidupmu.
            Aku selalu punya stok kesabaran lebih untuk kamu, tidak akan pernah habis. Walaupun saat ini aku sedang kehabisan amunisi untuk menghadapi kesulitanku sendiri. Seharusnya aku butuh kamu tak hanya dalam suka dan suka. Di mana kamu saatku sedang berduka? Ah, kamu tak perlu ada di saat aku sedang susah. Biarlah kutelan sendiri sisi pahit ini. Kamu butuh aku untuk membahagiakanmu, bukan menjadi penambah beban hidupmu.
            Jadi apa masih perlu dibahas? Bagian yang mana? Episode ketidakpedulianmu di saatku butuh tempat untuk berkeluh kesah? Bukankah aku tak boleh mengeluh dan tampak rapuh di hadapanmu. Bukankah aku harus menjadi wanita tegar selalu. Agar kamu selalu membutuhkanku dan tidak akan pergi dariku. Harus seperti itukah caraku mempertahankanmu? Bertahan sendiri mempertahankan hubungan yang seharusnya dijalani berdua, sehatkah hubungan kita?
            Tapi aku selalu tak pernah bisa menunjukkan kelemahanku di hadapmu. Aku tak mau kamu pergi karena merasa beban hidupmu semakin berat karenaku. Walaupun kejadian semalam sangatlah menohokku. Ketidakpedulianmu saatku butuh telingamu untuk mendengar curahan hatiku membuatku bertanya, inikah cinta yang layak diperjuangkan?
            Sepele memang, dan sangat tak layak untuk diperdebatkan. Walau kisi hati sangat bergemuruh dan seketika rapuh. Bagaimana aku akan menceritakan semua kesulitan hidupku saat ini yang itu pun bermula karenamu? Bagaimana aku harus jujur membuka semua kepahitan yang kutahan untuk tak kumuntahkan? Semua kutelan sendiri dan kuhadapi seorang diri. Hanya karena aku terlalu takut kehilanganmu bila aku berubah menjadi lemah.
            Aku tak boleh lemah, aku masih punya semangat untuk menyelesaikan semua masalah ini walaupun sendiri. Kamu hanya perlu tahu bagian bahagiaku saja. Kehadiranmu sudah cukup bagiku mengurangi sedikit beban hidupku. Tak perlu kamu juga ikut memikul bebanku yang tak seharusnya menjadi porsimu. Kita belum menjadi sepasang yang berhak untuk saling berbagi dalam suka dan duka. Karena kita belum menjadi siapa-siapa selama ikatan kita belum jelas adanya. Itulah sebabnya aku tak mau kamu tahu semua laraku.
            Aku tak mau mengulangi kesalahan yang sama dengan melepaskan seseorang hanya karena masalah duka. Karena hidupku sudah terlalu penuh dengan kedukaan yang entah kapan akan berakhir. Kamu tak perlu terlibat terlalu jauh ke sisi duka kehidupanku. Kamu bahagiaku dan hanya perlu tahu tentang kebahagiaanku saja.
            Tapi kisi hati terkadang berontak dan muncul ego yang menuntut untuk mengharuskan kamu perlu tahu semua tentangku. Tentang dukaku yang tak berkesudahan ini, tentang lara yang menjadi makanan sehari-hari. Tentang sebab akibat buruknya kualitas hidup saat ini. Aku ingin kamu tahu semua tentang itu. Tentang pengorbanan hati, pikiran dan perasaan terhadap apa yang sedang kuperjuangkan atas kebersamaan kita. Perlukah kamu tahu semuanya?
            Tapi di sisi lain aku takut jika penilaianmu terhadapku menjadi nol. Atau bahkan kamu bisa samakan aku dengan dia yang tak mampu menjadi satu-satunya dalam hidupmu sehingga kamu masih butuh satu pasangan lagi sebagai pelengkap hidupmu. Aku ingin jadi pelengkapmu yang denganku kamu sudah merasa utuh dan berhenti untuk terus mencari.
            Itulah sebabnya mengapa hingga kini aku membungkam diri untuk tak menggugahmu dengan segala permasalahan terdalam hidupmu yang belum kamu tahu. Mungkin ini hanya soal waktu. Semoga kepekaanmu akan terasah jika kamu semakin dalam mengenalku. Mengenal sisi lainku yang tak semua orang tahu bahwa aku hanya ingin tampak bahagia selalu di depan oran-orang yang kusayang.
            Untuk permasalahan ketidakpedulianmu itu, aku akan terus berpikir positif terhadapmu. Kamu terlalu lelah membagi waktu dan pikiranmu atas dua dunia yang kamu jalani saat ini. Tak mudah bagimu untuk bisa mewujudkan kebahagiaan semua orang yang kini ada di hidupmu, termasuk aku. Perjuanganku tinggal selangkah lagi untuk bisa mengetahui hasil akhir perjalanan kita yang hanya akan ada dua jawabannya. Berakhir dengan indah sesuai harapan kita atau harus sudah dan lanjutkan hidup tanpa kamu lagi.
            Satu pekan lagi kita bisa memprediksi akan diteruskan atau tidak perjuangan ini. Satu purnama lagi kita akan buktikan bahwa perjuangan ini bukanlah hal yang sia-sia. Jika realita yang akan terjadi di luar ekspesktasi, maka aku sudah siap untuk angkat kaki dari hidupmu. Sebelum hal pahit itu terjadi, aku hanya akan meninggalkan kesan termanis untukmu. Tak perlu membebanimu dengan segala hal yang masih bisa untuk kutangani sendiri. Walau kisi hati selalu memohon untuk dimengerti. Sudahlah, biar saja kumengerti sendiri.
***

Jumat, 25 Agustus 2017

.

Membunuh Rasa

            Entah apa yang harus aku lakukan untuk bisa membunuh rasa ini. Berbagai cara yang kulakukan hanya berujung pesakitan dan penyesalan saat niat meninggalkanmu hendak kujalankan. Aku selalu menimbang satu hal, bagaimana jika aku menjadi dia, perempuan yang telah kita sakiti bersama. Pastilah aku akan melakukan hal yang sama jika menjadi dia, melindungi kekasih hati agar tak pindah ke lain hati. Sungguh ironis dan miris sekali.
            Tapi berkali aku meniatkan untuk menguatkan hati melepasmu pergi, selalu gagal dan gagal lagi. Karena kamu tak pernah benar-benar pergi dan sepertinya memang tak berniat untuk pergi dari hidupku. Kamu selalu tahu bagaimana caranya memperlakukanku dengan baik. Kamu terlalu baik dan terlalu sempurna untuk bisa kucari alasan yang tepat agar aku bisa mengembalikanmu kepadanya dan tak lagi ke mana-mana.
            Setiap kali isi kepala mulai mengeluarkan aroma kebencian tatkala kamu membuat sedikit kesalahan, hanya dalam hitungan detik kamu mampu menghilangkan itu semua. Kamu sangat tahu bagaimana caranya menghapus semua rasa benci di hatiku dan terus menumbuhkan benih-benih cinta dan menyuburkan kasih sayang yang semakin mendalam. Kamu selalu mengerti bagaimana harus bersikap setelah membuatku menangis saat kecewa karena ulahmu. Dan lagi-lagi pupus sudah kebencian itu, terganti dengan rasa sayang yang makin kuat mengikat hanya dengan kata maaf dan dekapan erat.
            Kita amat sangat terlambat untuk membunuh rasa ini. Rasa yang semakin tumbuh subur dan berkembang hingga mengakar terlalu dalam dan sangat kokoh. Tak ada yang bisa merubuhkan kekuatan cinta kita termasuk rasa iba dan perasaan bersalah terhadap apapun kesalahan yang telah kita lakukan terhadapnya. Selalu ada pembenaran untuk itu semua yang lagi-lagi meruntuhkan logika. Kita selalu benar, dan akan selalu benar.
            Bahkan kini kita semakin menggila, keberanian kita semakin menjadi. Aku selalu punya nyali untuk mendekatinya, atas saran dan inginmu, kita harus berusaha mendekatinya untuk kebersamaan kita. Impianmu kita harus bersama, kamu bersamaku dan bersamanya, kita bersama-sama semuanya. Aku sih yes, bagaimana dengan dia? Masih menjadi tanda tanya dan membutuhkan perjuangan yang sangat keras untuk bisa meruntuhkan hatinya agar menerima kebersamaan kita.
            Ini kisah yang ganjil. Atau aku yang terlalu antimainstream. Menerima kenyataan berbagi hati tapi tak ingin merebutmu dari siapapun. Aku tak akan lakukan itu, mungkin itu yang membuatmu selalu nyaman bersamaku. Tak ada ketakutanmu atas kebersamaan ini. Bahkan kamu tak lagi bisa memilih. Pilihanmu hanya satu, mendapatkan semuanya atau tak sama sekali, kamu sudah siap kehilangan semuanya untuk kemungkinan terburuk. Kamu seperti pasrah dan manut takdir. Apakah kebersamaan kita adalah takdir?
            Berbagai sindiran, kode keras dan ungkapan penentangan dirinya atas kebersamaan kita sudah mulai terlihat dan terasa bertebaran di halaman sosial media miliknya. Tidakkah kamu sadar? Itu untuk kita, untukmu terutama. Tapi kamu menutup mata dan tetap melanjutkan perjalanan kita yang semakin berarah. Kita memang masih terjebak dalam labirin, tapi kini sudah mulai terang dan kita tahu ke mana harus melangkah. Waktu yang akan menentukan kapan perjalanan kita menemukan rumahnya untuk pulang.
            Sangat tak terbayangkan, bila kita bisa bersama hingga akhir usia, bersamanya juga. Hidup dalam alkisah trilogi yang sulit dicerna logika atas besarnya hati yang tertutup oleh cinta. Tapi untuk kemungkinan terburuknya, siapa yang mau mengalah jika dia tetap menganut paham monogami dan tak sudi berbagi hati? Aku... aku yang akan pergi. Aku tak akan membiarkanmu kehilangan segalanya. Karena bagiku, pencapaian tertinggi dari mencintaimu adalah merelakanmu.
***

Minggu, 23 Juli 2017

.



Dua Dunia

            Aku merasa hidup di dua dunia. Aku dengan kehidupanku bersama keluargaku, teman-temanku, lingkungan tetanggaku, pekerjaanku, dan aku dengan kehidupanku bersamamu, hanya bersamamu saja. Begitu pun kamu, kita bagai terasing dari dunia luar. Kita menciptakan dunia kita sendiri yang kita tak ingin orang lain tahu tentang kita.
            Awalnya aku merasa baik-baik saja dan sama sekali tidak keberatan dengan keinginanmu tentang dunia kita berdua. Tapi tadi malam, aku merasa menjadi pribadi yang berbeda. Saat kulihat ketakutan di matamu, entah takut atau khawatir, aku sulit membedakannya. Saat kamu tidak bisa menghubungi duniamu dengannya, saat tiba-tiba keluargamu tak bisa kamu hubungi sama sekali, sementara kamu sedang berada di dunia kita. Kamu sangat gelisah, membuatku ikut resah.
            “Nggak biasanya orang rumah nggak bisa dihubungi sama sekali.” ucapmu.
            “Mungkin sudah tidur, ini sudah larut.” sahutku berusaha menenangkanmu.
            “Tapi ini nggak biasanya. Aku telepon berkali-kali nggak ada yang angkat. Mungkin jangan-jangan ... dia melihat kita tadi.”
            Wajahmu pias, pikiranmu tiba-tiba menjadi negatif. Aku bisa merasakan ketakutanmu. Dan kamu memutuskan untuk pergi meninggalkanku malam ini untuk pulang ke duniamu bersamanya. Aku terdiam, mencoba memahami situasi dan berusaha membaca pikiranmu. Hanya ketakutan yang aku rasakan dari setiap gerak-gerikmu. Aku tidak boleh egois, duniamu dengannya lebih penting dari pada dunia kita.
            “Pulanglah, lihat ada apa di sana.”
            “Maaf ya, Sayang. Aku cuma khawatir di sana kenapa-kenapa.”
            Aku hanya mengangguk sambil berusaha menyembunyikan kekecewaan. Ah, tidak seharusnya aku merasa kecewa. Dunia kita bukanlah apa-apa. Duniamu dengannya adalah segalanya. Kamu tidak akan mengorbankan duniamu hanya untuk dunia kita yang hanya segelintir ini. Aku harus tahu diri.
            Tiba-tiba ponselmu berbunyi, muncul beberapa pesan singkat dari duniamu yang di sana, mengabarkan kalau dia ketiduran dan baru saja tersadar kamu telah menghubunginya berkali-kali sedari tadi. Kulihat ada rona lega di wajahmu, ketakutanmu sirna begitu tahu kalau duniamu yang di sana baik-baik saja.
            Sekilas terbaca olehku beberapa chat dari duniamu yang di sana memberimu pesan manis yang romantis dan penuh perhatian serta kasih sayang. Di akhiri kata love you darinya, membuat hatiku meranggas seketika. Aku jahat! Ya, sungguh terlalu dan jahatnya aku menahanmu di sini, di dunia kita yang tak seharusnya ada.
            Sepertinya kamu tampak peka dengan perubahan air wajahku. Gestur tubuhku mungkin mengeluarkan sinyal perasaan bersalah sehingga kamu mendesakku untuk mengungkapkan apa yang kurasa, apa yang ada di pikiranku sampai aku terlihat kaku dan tampak tergugu.
            “Kamu kenapa? Aku nggak suka deh kalo kamu kayak gini.”
            “Aku biasa aja, enggak kenapa-kenapa.”
            “Jangan bohong, aku tahu kamu. Jangan kamu kira aku juga nggak kayak gini ya kalo lagi khawatirin kamu. Aku salah ya?”
            “Laki-laki nggak pernah salah. Aku yang salah, aku jahat ya. Enggak seharusnya aku ada di antara kalian.”
            “Tuh, kan? Ini lagi yang dibahas. Kita udah berapa ratus kali ya bahas masalah ini, aku nggak suka.”
            “Kamu tahu nggak? Saat orang benar-benar sangat mencintai dan menyayangi, cuma ada dua hal yang bisa dilakukan, memperjuangkan ... atau, melepaskan. Menurut kamu apa yang harus aku lakukan?”
            “Kita udah sejauh ini dan kamu masih bertanya apa yang seharusnya kamu lakukan? Kamu masih ragu ya sama aku?”
            “Aku cuma nggak mau perjuangan kita akan menjadi hal yang sia-sia.”
            “Sia-sia atau nggak, yang terpenting kita udah berusaha buat berjuang. Dan aku akan buktikan sama kamu kalo aku udah berusaha untuk berbuat adil. Walopun saat ini masih jauh dari kata adil, tapi aku selalu berusaha. Apa menurutmu masih kurang? Apa kamu nggak bisa merasakan?”
            Aku hanya bisa terdiam melihat kesungguhan di matamu. Berkali-kali tatapan itu selalu membuatku luluh, menyebabkan hatiku rapuh dan selalu tak mampu untuk berkata tidak. Lagi-lagi kita menyelesaikan pertikaian tentang dunia kita dengan pelukan hangat dan kecupan sayang. Hingga semua percakapan tadi menguap begitu saja tanpa menyisakan perdebatan panjang yang tak berujung. Ya, sesudah itu dunia kita akan tampak baik-baik saja, selalu begitu keadaannya.
***