Selasa, 28 Maret 2017

.

Saat Logika Berkata, Cinta saja Tidak Cukup untuk Kita

            Sepertinya batas kemampuanku untuk mengerti keadaan ini berada diambang punah. Kapasitasku untuk berjuang mulai melemah, saatku di hadapkan pada pilihan yang sulit, orang tua dan keluarga atau sesosok cinta. Masalahnya terletak pada cinta yang ambigu, cinta yang kuperjuangkan tanpa ada bayang-bayang kepastian masa depan. Cinta yang kujalani hanya untuk hari ini, esok entah bagaimana ceritanya nanti. Kadang hal itulah yang membuatku gamang.
            Sesosok cintaku pun sepertinya merasakan hal yang sama, yang kami jalani absurd semata. Walau sudah mengerahkan segala upaya untuk tetap bersama, sepertinya kepastian belum memihak dengan segera. Masih tentang apa yang bisa dijalani hari ini, entah esok dan lusa nanti. Masih saja dengan alur cerita yang belum ada ending-nya. Membuat hati bertanya-tanya, aku ini sedang memperjuangkan apa?
            Memang benar yang orang tua bilang, hidup itu tak cukup hanya dengan cinta. Sebesar apapun rasa cinta yang dimiliki sepasang manusia, seiring waktu akan terkikis juga bila tak dijaga oleh faktor penunjangnya. Sekeras apapun aku berusaha bertahan dengan kondisi terburuk, tetap saja logika selalu berteriak di dalam kepala. Kesabaran yang kupelihara perlahan berontak dan berusaha lari dariku.
            Sekuat apapun aku menjaga pada akhirnya tetap dihadapkan pada pilihan juga. Apakah sebaiknya aku tak harus memilih apapun dalam hidup? Bukankah dengan tidak memilih pun berarti aku telah menjatuhkan pilihan juga? Sesosok cinta atau keluarga? Aku tak mungkin mengabaikan keluarga, mereka yang mampu untuk selalu ada untukku. Sedangkan sesosok cintaku terlalu sibuk memperjuangkan hidupnya untuk keluar dari segala permasalahan hidup. Lalu aku harus apa? Terlalu banyak pertanyaan yang belum mampu kumenjawabnya.
            Tapi aku telah terperangkap dan sulit untuk membebaskan diri dari jerat cinta tanpa logika ini. Sekuat apapun usahaku untuk mengedepankan logika selalu saja kalah oleh tatap mata sesosok cinta. Mata itu selalu berusaha meyakinkanku kalau semuanya akan baik-baik saja. Pelukan sesosok cintaku selalu saja mampu membuatku bertahan dalam keadaan terburuk sekali pun. Genggaman erat sesosok cintaku selalu meluluhkan hati. Dan pada akhirnya menggoyahkan keyakinanku akan logika.
            Manusia tidak akan hidup dengan makan cinta! Selalu begitu logika berbicara, selalu ada tuntutan dari kebutuhan yang tak bisa dikesampingkan. Tapi bukankah sesosok cintaku selalu berusaha untuk membuat keadaan menjadi baik-baik saja? Aku hanya butuh sabar dan membantunya agar kami bisa membuat keadaan menjadi jauh lebih baik. Dia butuh dorongan semangat dan kekuatan dari cinta yang akan membuatnya merasa berarti.
            Namun, aku hanya ingin sekali saja mengeluh. Aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku tak sekuat yang dia kira. Sekuat apapun aku di depannya, aku tetaplah manusia biasa yang punya batas kemampuan dalam segala hal. Aku mulai hilang arah dan lelah. Aku butuh dia selalu ada untukku setiap waktu untuk menguatkanku, aku ingin sesosok cinta memberiku semangat untuk terus bertahan. Aku ingin terus mampu berusaha dan merasa semua akan baik-baik saja.
            Tapi lagi-lagi aku selalu kehilangan aksara setiap kali bertatap dengan sesosok cinta. Mendadak lemahku lenyap bila bersamanya, ada kekuatan yang menyerang dan memaksa mengenyahkan logika. Apakah ini wujud ketulusan cinta? Apakah cinta telah berhasil menguatkan kita? Sepertinya aku harus mengabaikan logika. Ya, kalau begitu abaikan saja logika. Dan tetap percaya bahwa cinta akan selalu menguatkan kita.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar