Jumat, 14 April 2017

.



Tak Ada Kata dan Waktu yang Tepat untuk Mengakhiri Kita

            Aku selalu kehilangan aksara saat bertatap denganmu, semua kalimat yang sudah kususun rapi di kepala buyar seketika saat kau memelukku. Seakan tak pernah ada kata dan waktu yang tepat untukku bisa mengungkapkan semua yang berjejalan di kepala. Tentang kita yang semakin tak saling memahami satu sama lain belakangan ini.
            Entah aku yang tak mengerti kamu atau kamu yang tak memahami inginku. Kita tak pernah menemukan titik temu. Tapi saat kita bertemu, semua selalu baik-baik saja. Segala persoalan sirna seketika, seakan kita tak mempunyai permasalahan apa-apa. Padahal saat kamu tak bersamaku, isi kepalaku selalu berontak menuntut penjelasan dari semua pertanyaan yang belum kutemu jawabnya.
            Kita memang sudah membahas segala hal, tak ada yang terlewat. Aku selalu berusaha untuk tak memendam apapun yang kurasa. Bahkan beberapa waktu terakhir kita sering memperdebatkan segala hal. Dan ujung dari perdebatan selalu berakhir manis dan indah, seolah semua masalah telah terselesaikan dengan mudah.
            Aku sangat ingin sekali membuatmu marah. Di saat marah akan mudah melihat dan menilai watak asli seseorang. Itu yang sangat ingin aku lakukan terhadapmu. Aku ingin kita saling mengenal segala hal terburuk dalam diri kita, agar tak ada lagi sedikit pun rahasia yang tersisa. Memutuskan untuk hidup bersama berarti tak ada lagi yang namanya rahasia, itu menurutku. Kita pasti mempunyai pemikiran yang berbeda, tapi setidaknya kita bisa menyatukannya jika satu sama lain saling terbuka dan meniadakan rahasia.
             Sikapmu yang tak pernah mampu meredam prasangka burukku selalu menimbulkan asumsi negatif dalam otakku. Sekuat apapun usahaku untuk selalu berpikir positif atas semua lakumu tetap saja tak mampu meredam banyak tanya yang masih berkeliaran di kepala. Penjelasanmu bagiku hanyalah obat penenang untuk meredakan pikiran negatifku saja. Tapi chemistry kita sudah membentuk suatu ikatan bathin yang membuatku mampu berfirasat atas segala hal tentangmu, terutama saat kamu sedang berdusta.
            Aku selalu tahu saat kamu berusaha menutupi sesuatu. Alam bawah sadarku mempunyai radar yang kuat dan firasat yang selalu tepat. Memang sulit dijelaskan dengan logika, tapi aku selalu mampu membuktikan itu semua pada akhirnya. Semua firasatku selalu benar adanya, kamu memang tak pernah berusaha mengelak saat ucapku begitu telak.
            Tapi haruskah kejujuran itu terucap dengan keterpaksaan? Padahal akan sangat nyaman bila kita saling mengetahui keadaan satu sama lain sekecil apapun itu. Buat apa malu untuk mengeluh dan mengungkapkan hal terburuk sekali pun, untuk itulah kita hidup berpasangan. Mungkin kita hanyalah pelengkap hidup, bukan pasangan hidup. Tapi setidaknya kita bukan orang lain lagi, bukan?
            Aku tidak sedang mengulangi kesalahan yang sama dengan orang yang berbeda, bukan? Sangat ingin aku menemukan jawaban itu secepatnya, agar aku bisa menentukan sikap sebelum mengambil keputusan yang lebih fatal lagi dalam hidupku. Sudah waktunya untuk menyudahi pembenaran sendiri. Kita harus sejurus agar bisa terus, kita harus senalar agar tidak bubar, kita harus saling mengerti agar tidak ada yang tersakiti.
            “Kamu nggak mau, kan? Kalo aku sampe curhat di status tentang perasaan aku ke kamu? Komunikasi yang baik itu dasar utama untuk hubungan yang baik, Sayang.” ucapku.
            “Iya, aku paham. Tapi aku nggak suka dengan hubungan yang meniadakan privacy. Itu bentuk hubungan yang nggak dewasa.” sahutmu.
            Posesif sesungguhnya suatu bentuk tameng menjaga hubungan dari kecurangan. Posesif akan menimbulkan efek positif berupa kesetiaan. Dan posesif adalah bentuk rasa takut kehilangan. Cemburuku tidak buta, kan? Ada alasan kuat di balik itu. Sikapmu belakangan ini membuatku bertanya-tanya, menimbulkan rasa unsecure secara tiba-tiba. Ini bukan efek dari kondisi keterpurukan, aku tak pernah bermasalah dengan kondisi terburuk sekali pun.
            Aku tak pernah mengeluh dan selalu menerima keadaanmu apapun itu. Aku selalu bersyukur masih bisa berjuang bersamamu menghadapi segala kepahitan hidup. Yang menjadi pertanyaanku, aku berjuang untuk apa? Jika yang aku perjuangkan tak menunjukkan kepeduliannya. Apa ini hanya perasaanku saja? Efek dari asumsi negatif atas sikapmu yang ambigu? Sekali lagi, ini sebenarnya aku yang tak mengerti kamu atau kamu yang tidak juga memahami inginku?
            Segala hal harus dibicarakan, untuk hal yang sepele sekali pun. Kita terlalu banyak berbasa-basi dalam rangka pengalihan isu dan mengelak dari hal paling krusial. Satu-satunya cara untuk mengelak adalah dengan mengalihkan pembicaraan, selalu itu yang kamu lakukan saatku sedang membahas sesuatu yang tak kamu ingin aku tahu. Selalu begitu.
            Memutuskan untuk mempunyai pasangan berarti harus siap selalu berbagi dalam segala hal. Kita sudah terlalu jauh melangkah ke depan, sudah tak ada peluang untuk berbelok jalan selain meneruskan perjalanan ini bersama sampai tujuan. Walaupun kita masih belum menemukan alamat yang dituju, setidaknya kita sudah tak hilang arah. Kita sudah keluar dari labirin dan menemukan titik terang menuju jalan pulang.
            Semua kejadian terburuk sudah kita lalui, dan tak ada perubahan sikapmu untuk mengakhiri hubungan kita dalam kondisi apapun, kita selalu mampu bertahan. Aku semakin yakin kalau kita tidak lagi sedang main-main. Kamu memang bukan pengobral janji, tak pernah mengimingiku hal yang tak pasti. Sekali lagi ucapmu, ‘Ini hanya soal waktu.’
            Semua soal waktu. Kita hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengakhiri semua ketidakpastian kita. Hanya butuh waktu untuk mengakhiri kekacauan yang sudah kita buat dan membereskan semua dari awal. Kita hanya butuh komunikasi yang intens untuk saling menemukan apa yang kita inginkan. Dan pada akhirnya, kita memang saling membutuhkan.
***