Minggu, 16 Juli 2017

.



Mimpi

            Seperti biasa, pagi itu kita terbangun karena berisiknya alarm yang berteriak dari handphone-ku. Dan sudah menjadi ritual kita menghabiskan pillow talk di pagi hari dengan menceritakan mimpi semalam. Malam tadi aku tak bermimpi tentang kamu, bahkan mimpiku semalam menguap begitu saja. Ah, hanya bunga tidur rupanya.
            Tapi kamu dengan lancarnya menceritakan mimpimu semalam. Seolah kamu merasakan bahwa itu sangat nyata. Aku tercenung dalam situasi masih setengah mengantuk. Tapi telingaku mendengar dengan sadar setiap kalimat yang kamu lontarkan tentang mimpimu itu.
            “Aku mimpi kamu dilamar laki-laki lain.” ucapmu pelan.
            Aku hanya menanggapinya dengan tawa kecil, “Trus?” sahutku.
            “Kayak nyata banget.”
            “Artinya?”
            “Enggak tahu. Tapi aku ingat banget kejadian dalam mimpi itu.”
            Yang aku tahu, jika kita terbangun dan masih mengingat dengan jelas mimpi yang kita alami, itu merupakan suatu pertanda, bukan bunga tidur semata. Tapi aku tidak mau mempermasalahkan tentang mimpimu itu karena aku tidak sedang dekat atau didekati dengan lelaki mana pun selain kamu.
            “Kamu nggak lagi dekat dengan laki-laki lain, kan?”
            “Maksud kamu?”
            “Ya aku nanya. Cuma pengin tahu aja.”
            Aku memicingkan mata dan mulailah berkeliaran pertanyaan di kepala. Ini bukan kali pertama kita membahas tentang hal semacam ini. Tapi mimpimu kali ini membuatku bertanya-tanya, apa ada hubungannya dengan perjalanan kita? Perjalanan yang semakin tak berarah dan kita hanya berputar-putar dalam sebuah labirin yang menjebak kita di dalamnya. Kita tak bisa kemana-mana!
            “Aku nggak sedang dekat dengan siapapun, cuma kamu.”
            “Kasih tahu aku ya, kalo ada yang lagi deketin kamu.”
            “Kamu pengin banget ya aku ada yang deketin?”
            “Bukan gitu, aku cuma nggak mau kamu nyembunyiin hal kayak gini dari aku.”
            “Apa sih yang aku sembunyiin dari kamu? Semuanya kamu udah tahu apapun itu tentang aku.”
            Dan seperti biasa, perdebatan pagi itu menguap dan hanya menjadi sebuah ritual pillow talk kita kala sedang tidur bersama. Setelahnya, kamu beranjak dengan meninggalkan jejak pelukan hangat dan kecupan sayang sebelum punggungmu menghilang di balik pintu depan. Selalu begitu, semuanya tampak baik-baik saja.
***
            Seharian ini mood-ku memburuk. Terjadi hal tak terduga yang menyebabkan buyarnya semua rencana yang sudah kususun rapi jauh-jauh hari. Ditambah lagi perdebatan hebat dengan atasan yang sangat menjengkelkan. Sudah biasa, tak menjadi hal berarti bagiku. Namun, dalam kondisi seperti ini, saat kenyataan tak sesuai harapan, aku mudah sekali merasa down. Dan efeknya sulit berpikir positif.
            Aku berusaha menahan diri sekuat hati untuk tak mengeluh dengan keadaan yang tak mengenakkan ini, walau dadaku terasa sesak. Dalam kondisi seperti ini aku hanya butuh sebuah pelukan yang mampu menenangkan pikiran, sayangnya kamu sudah bergegas pergi tadi pagi. Aku harus bersabar menunggu kamu menghubungiku lagi. Tiba-tiba aku merasakan rindu yang amat sangat, padahal baru tadi malam kita tidur saling berpelukan.
            Terlintas kembali obrolan kita tadi pagi. Dalam kondisi bad mood seperti ini, yang muncul di otak kanan hanya pikiran negatif. Aku meraih gadget, membuka sebuah situs dan mencari tahu arti mimpimu semalam. Aku tercenung saat membaca sebuah ulasan tentang pikiran alam bawah sadar yang hadir melalui mimpi.
            Mungkinkah mimpimu itu berarti kamu menginginkan aku pergi dari hidupmu? Kamu berharap ada laki-laki lain yang membawaku pergi jauh darimu? Dengan alasan itu, kamu bisa melepasku dengan mudah. Dengan begitu kamu tak perlu merasa bersalah atas sesuatu yang tak bisa kamu jalani, kamu terbebas dengan kekhawatiranmu akan sebuah pilihan. Kamu tak lagi harus memilih!
            Pikiranku semakin kacau saja. Ingin rasanya meneleponmu saat ini juga untuk kembali ke rumah kita dan membahas masalah ini hingga tuntas. Aku paling tidak suka menyimpan unek-unek denganmu. Semua harus dibahas hingga tuntas, kamu harus tahu tentang apa yang aku pikirkan saat ini. Kamu harus merasakan apa yang aku rasakan hari ini.
            Tapi aku meragu kembali, aku selalu takut jika apa yang aku sampaikan membuatmu berpikiran lain. Aku takut kamu menyangka aku membalikkan fakta dan hanya menduga-duga tanpa alasan. Ya, memang ini hanyalah praduga yang tak beralasan. Jadi teringat lagi, pernah sekali kita berada di posisi ini tapi kamu terbebas tanpa bukti, aku yang salah menduga kala itu. Tapi kamu harus tahu apa yang aku pikirkan tentang kita saat ini.
            Aku tak hendak mengeluh di depanmu. Aku selalu berusaha untuk menjadi pasangan yang kuat dan mandiri. Karena aku tahu, itu yang kamu butuhkan dari sosok perempuan sepertiku. Kamu tidak suka jika aku manja dan cengeng menghadapi permasalahan hidup. Kamu tidak mau jika aku mengeluh dan berpikir yang aneh-aneh tentang kamu. Ya, aku tahu kamu tak suka itu. Tapi aku tidak bisa menyembunyikan kekhawatiranku, aku takut kehilanganmu, meski itu tak pantas.
            Terbersit di benakku, hancurkah hidupmu saat ini karena kehadiranku di hidupmu? Hingga alam bawah sadarmu memintaku untuk pergi tanpa kamu sadari dengan pasti. Tapi keinginanmu hadir melalui mimpi. Dan itu sangat menggangguku saat ini. Jika itu inginmu, aku akan lakukan apapun yang kamu mau. Aku tak ingin memaksakan apapun terhadapmu jika kamu tak mau. Itulah sebabnya mengapa aku tak pernah memaksamu untuk memilih.
            Jika kamu menginginkanku tetap di sini, aku akan tetap bertahan seburuk apapun keadaan. Sampai kamu tak sanggup lagi memperjuangkan kita, aku akan tetap menerima. Karena rasa cintaku akan mengalahkan segalanya, termasuk mengalahkan keegoanku untuk memilikimu seutuhnya. Tidak, aku tidak akan pernah menempatkan kamu dalam posisi sulit yang kamu tak mau menjalaninya.
***
            Aku mulai mengikhlaskan hari yang buruk ini berlalu selama 12 jam. Hatiku mulai sedikit tenang walau masih ada sesuatu yang mengganjal perasaan. Senja hampir usai saat handphone-ku berdering, ada namamu muncul di layar, senyumku mengembang seketika. Aku sangat ingin membahas tentang mimpimu semalam, apakah etis membicarakan hal penting lewat telepon? Tapi aku bukan tipe yang suka menunda.
            “Aku jadi kepikiran tentang mimpi kamu semalam.”
            “Tuh, kan?”
            “Aku cari tahu arti mimpi kamu itu.”
            “Lagi ada yang deket kan ama kamu? Cerita aja gapapa.”
            “Apa sih? Kan udah aku bilang aku nggak lagi dekat ato dideketin ama laki-laki manapun. Ini aku malah jadi mikirnya kamu yang mau aku deket sama lelaki lain.”
            “Lho? Kok malah ngebalikin? Kok malah aku yang disalahin?”
            “Aku baca sesuatu tentang keinginan alam bawah sadar yang datang melalui mimpi.”
            “Trus kamu ambil kesimpulan kalo aku yang pengin kamu kayak gitu?”
            “Iya. Maaf, seharian ini aku lagi nggak bisa berpikir positif. I had a bad day, I’m in a bad mood condition.”
            “Jangan mikir yang aneh-aneh deh. Justru aku yang takut kehilangan kamu, mungkin saking aku mikirin kamu makanya ampe kebawa mimpi. Bukan berarti aku pengin kamu sama laki-laki lain. Salah tanggep nih kamu.”
            “Entahlah, mungkin aku terlalu khawatir. Kita jadi salah paham gini. Gara-gara mimpi, pikiran aku jadi jelek gini ke kamu. Maaf ya.”
            “Ya udah yang penting kalo ada apa-apa cerita.”
            Kamu sudah tahu segala hal tentang hidupku, entahlah dengan kamu. Selama ini kita tak pernah mempermasalahkan hal rumit apapun yang pernah kita alami. Semua seolah baik-baik saja, tampak sempurna dan berjalan mulus tanpa rintangan. Walau kita masih terlalu takut memperjuangkan keinginan yang terdalam. Yang penting semua baik-baik saja, biar waktu yang akan menentukan seperti apa akhir cerita kita.
***
           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar