Minggu, 23 Juli 2017

.



Dua Dunia

            Aku merasa hidup di dua dunia. Aku dengan kehidupanku bersama keluargaku, teman-temanku, lingkungan tetanggaku, pekerjaanku, dan aku dengan kehidupanku bersamamu, hanya bersamamu saja. Begitu pun kamu, kita bagai terasing dari dunia luar. Kita menciptakan dunia kita sendiri yang kita tak ingin orang lain tahu tentang kita.
            Awalnya aku merasa baik-baik saja dan sama sekali tidak keberatan dengan keinginanmu tentang dunia kita berdua. Tapi tadi malam, aku merasa menjadi pribadi yang berbeda. Saat kulihat ketakutan di matamu, entah takut atau khawatir, aku sulit membedakannya. Saat kamu tidak bisa menghubungi duniamu dengannya, saat tiba-tiba keluargamu tak bisa kamu hubungi sama sekali, sementara kamu sedang berada di dunia kita. Kamu sangat gelisah, membuatku ikut resah.
            “Nggak biasanya orang rumah nggak bisa dihubungi sama sekali.” ucapmu.
            “Mungkin sudah tidur, ini sudah larut.” sahutku berusaha menenangkanmu.
            “Tapi ini nggak biasanya. Aku telepon berkali-kali nggak ada yang angkat. Mungkin jangan-jangan ... dia melihat kita tadi.”
            Wajahmu pias, pikiranmu tiba-tiba menjadi negatif. Aku bisa merasakan ketakutanmu. Dan kamu memutuskan untuk pergi meninggalkanku malam ini untuk pulang ke duniamu bersamanya. Aku terdiam, mencoba memahami situasi dan berusaha membaca pikiranmu. Hanya ketakutan yang aku rasakan dari setiap gerak-gerikmu. Aku tidak boleh egois, duniamu dengannya lebih penting dari pada dunia kita.
            “Pulanglah, lihat ada apa di sana.”
            “Maaf ya, Sayang. Aku cuma khawatir di sana kenapa-kenapa.”
            Aku hanya mengangguk sambil berusaha menyembunyikan kekecewaan. Ah, tidak seharusnya aku merasa kecewa. Dunia kita bukanlah apa-apa. Duniamu dengannya adalah segalanya. Kamu tidak akan mengorbankan duniamu hanya untuk dunia kita yang hanya segelintir ini. Aku harus tahu diri.
            Tiba-tiba ponselmu berbunyi, muncul beberapa pesan singkat dari duniamu yang di sana, mengabarkan kalau dia ketiduran dan baru saja tersadar kamu telah menghubunginya berkali-kali sedari tadi. Kulihat ada rona lega di wajahmu, ketakutanmu sirna begitu tahu kalau duniamu yang di sana baik-baik saja.
            Sekilas terbaca olehku beberapa chat dari duniamu yang di sana memberimu pesan manis yang romantis dan penuh perhatian serta kasih sayang. Di akhiri kata love you darinya, membuat hatiku meranggas seketika. Aku jahat! Ya, sungguh terlalu dan jahatnya aku menahanmu di sini, di dunia kita yang tak seharusnya ada.
            Sepertinya kamu tampak peka dengan perubahan air wajahku. Gestur tubuhku mungkin mengeluarkan sinyal perasaan bersalah sehingga kamu mendesakku untuk mengungkapkan apa yang kurasa, apa yang ada di pikiranku sampai aku terlihat kaku dan tampak tergugu.
            “Kamu kenapa? Aku nggak suka deh kalo kamu kayak gini.”
            “Aku biasa aja, enggak kenapa-kenapa.”
            “Jangan bohong, aku tahu kamu. Jangan kamu kira aku juga nggak kayak gini ya kalo lagi khawatirin kamu. Aku salah ya?”
            “Laki-laki nggak pernah salah. Aku yang salah, aku jahat ya. Enggak seharusnya aku ada di antara kalian.”
            “Tuh, kan? Ini lagi yang dibahas. Kita udah berapa ratus kali ya bahas masalah ini, aku nggak suka.”
            “Kamu tahu nggak? Saat orang benar-benar sangat mencintai dan menyayangi, cuma ada dua hal yang bisa dilakukan, memperjuangkan ... atau, melepaskan. Menurut kamu apa yang harus aku lakukan?”
            “Kita udah sejauh ini dan kamu masih bertanya apa yang seharusnya kamu lakukan? Kamu masih ragu ya sama aku?”
            “Aku cuma nggak mau perjuangan kita akan menjadi hal yang sia-sia.”
            “Sia-sia atau nggak, yang terpenting kita udah berusaha buat berjuang. Dan aku akan buktikan sama kamu kalo aku udah berusaha untuk berbuat adil. Walopun saat ini masih jauh dari kata adil, tapi aku selalu berusaha. Apa menurutmu masih kurang? Apa kamu nggak bisa merasakan?”
            Aku hanya bisa terdiam melihat kesungguhan di matamu. Berkali-kali tatapan itu selalu membuatku luluh, menyebabkan hatiku rapuh dan selalu tak mampu untuk berkata tidak. Lagi-lagi kita menyelesaikan pertikaian tentang dunia kita dengan pelukan hangat dan kecupan sayang. Hingga semua percakapan tadi menguap begitu saja tanpa menyisakan perdebatan panjang yang tak berujung. Ya, sesudah itu dunia kita akan tampak baik-baik saja, selalu begitu keadaannya.
***



Tidak ada komentar:

Posting Komentar