Jumat, 30 Juli 2021

.


Aku, Kamu dan Ambigu 

 

            Aku masih terpaku memandangi halaman kosong di monitor laptop yang kursornya berkedap kedip menunggu lantunan mengalir dari jemariku. Tapi tak kunjung bergerak, padahal sudah terlalu banyak aksara yang berdesakan di kepala ingin segera dikeluarkan menjadi untaian tulisan. Pikiranku sangat random, melompat-lompat dari satu kejadian menuju kejadian yang saling sambung menyambung dan tak berujung. Handphone-ku berkedip, padahal sudah ku-silent dan mode getarnya pun kumatikan. Tapi ujung mataku masih saja menangkap notifikasi whatsapp yang masuk, mengganggu konsentrasi berpikirku.

            Lagi-lagi lelaki itu yang mengirimkan pesan. Seketika hatiku menghangat entah karena apa. Belakangan ini aku seperti merasakan sesuatu yang aneh, perasaan yang sedari dulu sudah kutolak dan kutahan mati-matian semampuku sejak lama kumengenalnya. Hanya karena aku sudah tak mau lagi dekat dengan lelaki yang tak mampu membawa perubahan besar di hidupku. Aku menyerah, aku memutuskan untuk berjuang sendiri, bagiku pasangan hidup hanya akan menambah beban hidup yang semakin hari semakin membuatku terpuruk.

            Tak ada yang paham tentang depresi yang kualami sejak lama. Aku terlalu pandai menyembunyikan itu semua demi buah hatiku dan keluarga. Aku tak mau terlihat lemah, mungkin rasa sakit yang teramat dalam yang akhirnya membuatku menjadi kuat. Aku menjadi sombong hingga dalam diri merasa mampu dalam segala hal tanpa bantuan pasangan hidup lagi.

            “Lagi apa?”

            Aku tak segera membuka pesan darinya. Sedikit bosan dengan percakapan yang terlalu klise. Mungkin juga karena mood-ku yang sedang buruk. Tapi intinya aku tak mau terlalu menanggapi lelaki yang masih berusaha mendekatiku dengan maksud dan tujuan yang sudah bisa kubaca sejak awal. Aku bosan menghadapi hal-hal yang itu-itu saja. Aku hanya butuh orang yang bisa membuatku kembali tertawa lepas tanpa beban. Aku sudah lelah terus menangis tanpa air mata. Aku butuh tertawa, menertawakan hal tak penting dalam hidup, tertawa yang tak dibuat-buat, tawa yang mampu mengurangi beban pikiranku.

            Satu hal lagi, aku tak mau ada yang masuk ke dalam hidupku yang sedang rumit ini. Aku sedang berada di dalam labirin yang masih belum bisa kutemukan jalan keluarnya. Belum ada satu pun yang berhasil mengeluarkanku dari dalam labirin yang gelap ini. Aku takut, hingga untuk dekat dengan siapapun aku sangatlah takut. Semuanya tampak menyeramkan bagiku, aku hanya butuh cahaya untuk menerangi jalanku. Aku tak butuh gapaian tangan seseorang yang menuntunku dalam gelap, aku ingin seseorang yang datang membawa cahaya, cukup itu saja.

            Handphone-ku menyala kembali, kali ini nama Rin muncul di layar. Sahabatku itu meneleponku dan aku tak bisa mengabaikannya.

            “Sibukkah?” Suara Rin membuka pembicaraan.

            “Sibuk mikir.” Jawabku sambil nyengir.

            “Mikirin Erwin?”

            “Sotoy.”

            “Status whatsapp-mu barusan sih apa, percuma lu mau boong sama gue, hahaha.” Rin tergelak.

            “Oke Mbok Cenayang, silakan baca pikiran gue sepuasnya.”

            “Tiati.”

            Always.” Sahutku paham perkataan Rin tadi.

            “Kita udah terlalu sakit, Bu. Udah cukup.”

            “Aku lagi di fase absurd.” Ucapku.

            “Aku ngerti, aku yakin kamu masih kuat sampe kamu bener-bener ketemu dengan orang yang tepat.”

            “Aku mau lihat sampe mana dia berjuang.”

            “Buat apa? Semua laki-laki itu kalo bikin drama alur ceritanya sama, Bu.”

            Aku dan Rin selalu mengalami dan merasakan hal yang sama untuk urusan laki-laki. Sehingga kami mengalami trauma yang teramat dalam bahkan mengalami kesulitan yang sama untuk bisa membuka hati lagi.

            “Aku mungkin sedang lemah...” Gumamku.

            “Kita ada untuk saling menguatkan, bukan?”

            “Makasi ya udah selalu ada.”

            “Aku juga, Bu.”

            Satu hal yang kupahami tentang sebuah perasaan, jika perasaan itu memang ada maka aku tak pernah merasa terganggu dengan kehadirannya. Aku tak pernah merasa terbebani dengan keadaannya dan bisa menerima semua kekurangannya. Tapi untuk saat ini aku belum bisa memastikan perasaan itu. Masih terasa sangat ambigu. Bahkan untuk mengakuinya pun masih terasa sulit. Atau memang rasa itu sudah benar-benar mati?

***

 


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar