Jumat, 05 Februari 2016

Cerpen

Ketika Raisa Jatuh Hati
Oleh : Mel A.



Ada ruang hatiku yang kau temukan
Sempat aku lupakan kini kau sentuh
Aku bukan jatuh cinta namun aku jatuh hati

            Raisa menoleh ke sebelah kanannya, ada Hardi sedang bersenandung mengikuti lantunan lagu yang terdengar sayup dari tape mobil yang mereka kendarai. Mobil merayap di antara kemacetan jalan di tengah kota Jakarta, di malam setibanya Raisa dari Bandung dan Hardi menjemputnya di terminal kedatangan. Raisa khusyuk mendengarkan Hardi bersenandung lagu Jatuh Hati, ia tersenyum sambil berkata dalam hati, “Seandainya kamu tahu, Har..., lagu yang sedang kamu nyanyikan ini cocok untuk kita.”
            Diam-diam Raisa selalu memperhatikan saat Hardi sedang mengemudi, selalu ada bahagia menyusup di hatinya yang merasa tentram saat berada di samping laki-laki yang bukan miliknya ini. Hardi memang bukan kekasih Raisa, setidaknya itu status yang tak patut disandang Raisa, mengingat Hardi adalah milik Diva. Lalu apa status kebersamaan mereka yang boleh dibilang teman tapi mesra ini?
Raisa terlalu takut untuk bertanya dan  mempermasalahkan status mereka. Sudah bisa berada di samping Hardi sudah lebih dari cukup baginya. Ia tak mau kehilangan sosok yang membuat hari-harinya selalu berwarna. Sedari awal mengenal dan mulai dekat dengan Hardi, Raisa tahu kalau apa yang mereka jalani takkan pernah mudah. Mengingat hubungan mereka tidak bisa dikatakan hubungan yang patut dipublikasikan.
Namun Raisa selalu yakin, cinta akan selalu menemukan jalannya. Dan karena cinta semua akan baik-baik saja. Tapi ada satu hal yang tak dimengerti oleh Raisa, mengapa cinta yang ia rasa tak pernah tepat waktu? Terlebih sejak awal ia dan Hardi melakukan hubungan layaknya sepasang kekasih, Hardi tak pernah sekali pun mengucap kata cinta. Dan hal itu menjadi tanda tanya besar di kepala Raisa. Cintakah mereka?
***
            “Mungkin Hardi nggak mau ngasih kamu harapan palsu.”
            Itu jawaban yang Raisa terima dari Pipit, sahabatnya, ketika Raisa mencurahkan perasaannya tentang Hardi.
            “Sepertinya Hardi tipe laki-laki yang tak mudah obral kata-kata.”
            Raisa menalar itu semua benar adanya. Sejak ia dan Hardi saling suka, tak pernah ada alasan apapun yang sanggup Hardi berikan padanya atas pengkhianatannya terhadap Diva. Raisa tak mau terlalu banyak bertanya hal yang nantinya akan membuat Hardi merasa tak nyaman. Raisa merasa bersalah dalam hal ini, menjalani hubungan yang tak semestinya. Tapi bukankah cinta tak pernah salah? Dan tak pernah tahu ke mana hati akan jatuh kepada siapa.
            Sebenarnya cinta atau hanya jatuh hatikah Raisa? Tak pernah ia menemukan jawaban atas semua pertanyaannya sendiri. Yang Raisa tahu, ia hanya bisa menjalani, tanpa tahu mau dibawa ke arah mana hubungannya dan Hardi ke depannya. Walaupun masih besar sekali tanda tanya di benak Raisa, mengapa sulit sekali bagi Hardi mengucap kata cinta? Padahal Hardi selalu bersikap protektif dan melakukan hal yang tidak bisa dikatakan sikap kepada teman biasa.
            Raisa hanya bisa merasakan perasaan sayang Hardi melalui sikap saja, tak pernah ada kata-kata mengiringinya. Saat Hardi dengan mesranya menyuapkan makanan ke Raisa ketika sedang makan berdua. Atau ketika Hardi memandang wajah Raisa dengan tatapan dalam dengan penuh rasa sayang, Raisa bisa merasakan itu semua. Genggaman tangan dan pelukan hangat yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata seromantis apapun, Raisa hanya bisa merasakannya saja.
            Satu hal yang membuat Raisa sangat takut kehilangan Hardi, ia merasa Hardi memberi semangat baru di hidupnya, semangat yang mampu mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan yang mengutuh. Hardi mampu membangkitkan impiannya yang sempat terpendam. Menggerakkan alam bawah sadarnya untuk bangkit melawan keterpurukannya. Begitu besar pengaruh kehadiran Hardi di hidup Raisa.
            “Apa yang ada di pikiran laki-laki seperti Hardi, ketika menjalani hubungan seperti ini? Tak merasa takut atau bersalahkah dia?”
            Lagi-lagi pertanyaan yang hanya bisa Raisa curahkan kepada sahabatnya itu. Raisa tak pernah sanggup mengeluarkan kata-kata yang ia terlalu takut atas jawaban yang menyakitkan. Raisa berusaha untuk tak menanyakan hal yang tidak ingin ia ketahui jawabannya jika itu hanya akan membuatnya kehilangan Hardi. Tidak akan pernah Raisa lakukan sampai kapanpun.
***
            Jatuh hati sepertinya beda dengan jatuh cinta. Raisa merasakan Hardi hanya jatuh hati padanya, tidak jatuh cinta. Karena Hardi tak pernah berusaha untuk memiliki Raisa seutuhnya, pun sebaliknya. Mereka terlalu takut mendapati kenyataan pahit, bahwa apa yang mereka lakukan tak akan berujung pada happy ending. Terpikirkan lagi oleh Raisa, bukankah cinta sejati tak memiliki akhir yang bahagia? Karena cinta sejati tak pernah berakhir. Lalu buat apa memikirkan ending?
            “Di dunia nyata, tak ada yang namanya happy ending.” ucap Pipit.
            “Tapi setidaknya ada kepastian, kan?” sahut Raisa.
            “Seharusnya kamu yang bertanya sama diri kamu sendiri. Kenapa mau ngejalani hubungan yang nggak ada kepastian seperti itu.”
            “Aku nggak bisa menampik perasaan. Susah banget buat bohongi diri sendiri.”
            “Kenapa nggak tanyakan langsung sama Hardi?”
            “Aku takut kehilangan dia.”
            “Kamu mulai main hati.”
            “Karena aku sudah jatuh hati.”
            Dan Raisa kembali hanyut dalam lantunan lagu Jatuh Hati yang kerap disenandungkan Hardi di saat kebersamaan mereka.

Kuterpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu
Terkagum pada pandangmu caramu melihat dunia
Kuharap kau tahu bahwa ku terinspirasi hatimu
Ku tak harus memilikimu, tapi bolehkah ku selalu di dekatmu

Katanya cinta memang banyak bentuknya
Yang kutahu pasti sungguh aku jatuh hati

***
           

Rabu, 03 Februari 2016

Serunya Kampus Fiksi Angkatan 15



Amazing! Dari sekian pengalamanku bersosialisasi dengan para penulis, aku rasa ini adalah pengalaman paling asyik, menarik dan menyenangkan. Dua hari hidup satu atap bersama 19 orang peserta Kampus Fiksi angkatan ke-15 di asrama DivaPress, Jogjakarta. Kegiatan yang memicu kembali semangatku untuk menghasilkan karya tulis. Acaranya seru, apalagi narasumbernya keren-keren. Setelah ini, semoga draft novel terendapku bisa segera rampung dan dibukukan, amiinnn.

Nggak akan bisa dilupain, tidur sekamar berjejalan bersama tujuh orang dari berbagai daerah. Dan sama sekali belum mengenal satu sama lain. Luar biasanya, setelah usut punya usut, barulah terungkap ternyata ada beberapa orang yang sudah berteman denganku di facebook selama dua tahun lalu, satu komunitas menulis di KOBIMO. Dunia nyata memang sempit sodara-sodara.

 ini kamar apa kapal ambruk yaaa...

Jadwal ngampusnya emang padat, jadi nggak punya banyak waktu buat jalan-jalan keliling Jogja. Tapi rapopo, ini bukan kedatanganku yang pertama di Jogja, jadi udah nggak begitu penasaran lagi buat keliling dan wisata kuliner. Walopun masih ada satu hal yang belum kesampean, pengin foto-foto di plang jalan Malioboro. Pas acara bebas dan sempat ke Malioboro, malah hujan deras, gatot lagi dah acara narsisnya di plang jalan Malioboro, hiks.

 Untungnya ada plang KW di mall Malioboro. Mayan, yang penting ada tulisan Malioboronya, hihihi.

Pengisi materinya keren-keren banget. Ada Agus Mulyadi, Pemred DivaPress, Editor-editor DivaPress, Pak Edi juga ngisi materi. Ada Uda Damhuri Muhammad juga lho.


Begini nih suasana kampus fiksi yang lagi serius tapi santai ngampusnya, hehe.

 Ceritanya lagi serius... hihihi.

Enggak cuma dikasih materi tentang nulis mulu. Kita juga dibekali ilmu agama di kampus fiksi ini. Pak Edi juga ternyata jago dakwah lhooo.

 
Dapat sertifikat, pulang disangoni buku sekardus gede (ampe kewalahan bawa pulangnya) dan yang lebih amazing lagi dapat kesempatan untuk bimbingan online langsung dimentori sama editor DivaPress. Wuaahhh, jadi nggak sabar buat utak atik draft novel yang terendap. Semoga jalan menuju cita-cita menjadi penulis profesional semakin terbuka lebar setelah ini, amiinnnn lagi.

 Yeaayyy... lulus!

Makasih banyak buat Pak Edi Akhiles yang sudah memberikan kesempatan emas ini. Semoga kebaikan Bapak menjadi ladang pahala yang tak terhingga amal ibadahnya.

 
Twistnya nih... Ternyata nggak ada yang tahu lho kalo Meilanny alias Mel Ara itu ternyata sudah punya anak dua, hahahahaha. 



Tadaaaaa... ini dia tampang-tampang teman sekamarku. Ketauan deh muka-muka jeleknya, hihihi.

 Aku, Puput, Mitri, Devi, Emma, Happy.


Siti Nur Banin jangan ngambek ya kalo yang aku pajang mukamu yang lagi nggak banget ini, hahahaha. (Langsung usap-usap perut dah dia)
 
Hahahahaha... Emma paling imut.

Colek buat si Happy yang masih nggak percaya kalo ada emak-emak gaul yang nyempil di kamarnya. 


Siti Nur Banin yang protes ternyata kita berteman di facebook sejak dua tahun lalu tapi baru bisa lihat penampakannya si Mel Ara itu seperti apa (soalnya nggak pernah pasang foto diri di pesbuk, hihihi)


Puput alias Putri kesekian dari beberapa yang punya nama Putri yang heboh selalu di sebelahku pas ngampus.


Dewi alias Devi yang plang namanya salah huruf V dan rajin bantuin aku ikat tali pita bajuku. 


Emma yang penampakannya sangat fenomenal dan berkarakter yang karena kamu kita satu asrama ngerasa jadi item kulitnya. 


Ika jelmaan Jupe ato Uut Permata Sari yang rame selalu. 


Nani sang Kepala Suku grup di whatsApp yang jago bikin karikatur (kok cuma Emma doank yang kamu lukis, sih?) 

Nani dan lukisan Emma

Nabila yang kritis abis dan paling rajin nanya di setiap sesi yang ternyata temannya Poet si Buleg Darmi (Aaaaaaa... jadi kangen kamu Poet). 



Dan semua teman-teman kampus fiksi yang seru-seru punya. Kalian luar biasa. Ketemuan lagi ya kita di bulan April 2016 pada Kampus Fiksi Emas. Daaahhhhhh...

19 peserta Kampus Fiksi angkatan 15.

Senin, 30 November 2015

Writing Project #DanBernyanyilah



Ternyata Hidupku Indah
Oleh : Mel A.


            “Kok nggak ada tanggung jawabnya, sih? Saya ‘kan belinya di sini!”
            “Bukannya tidak tanggung jawab, Pak. Tapi …”
            “Pokoknya saya nggak mau tahu!”
            Aku tergugu. Sebenarnya perlakuan seperti ini sudah jadi makananku sehari-hari sejak bekerja di toko handphone ini. Menekan emosi sudah menjadi kewajiban karyawan demi memuaskan pelanggan, bahkan untuk pelanggan yang tak tahu aturan.
            “Begini ya, Pak. Mohon dengar dulu penjelasan saya. Prosedur penjualan di toko kami memang tidak memberikan garansi ganti baru untuk pembelian handphone yang masa pembeliannya sudah lebih dari satu hari.”
            “Tapi ini kan baru dua hari, masa sudah mati. Handphone apaan ini?”
            “Sebelumnya maaf ya, Pak. Tidak semua produk memberikan jaminan kualitas yang sama walaupun dengan brand yang sama. Satu atau dua pasti ada yang gagal. Namanya juga buatan manusia, jadi Bapak harap maklum.”
            “Saya kapok belanja di sini. Jual barang jelek nggak ada garansinya lagi!”
            “Bukan nggak ada garansi, Pak. Tapi …”
            “Ah, sudahlah! Pokoknya saya kapok!”
            Laki-laki setengah baya berperawakan sangar itu tak mau mendengar penjelasan apapun lagi dariku. Tapi sebagai karyawan yang baik dan taat aturan perusahaan, aku tetap memberikan senyum terbaikku. Walaupun sebenarnya hati ini panas dan ingin berteriak … “Dasar manusia tak beretika! Tak tahu aturan! Padahal sudah jelas-jelas dari awal diberitahu tentang garansi dan sebagainya mengenai produk yang dibeli, tetap saja tidak mengerti!”
            Selalu kalimat itu yang ingin kuteriakkan kepada setiap pelanggan yang berperilaku seperti tadi. Sampai aku berpikir keras, apa yang salah dengan cara kerjaku? Semua standar operasional  prosedur sudah kujalankan dengan baik. Tapi para pembeli itu yang selalu berulah dan memosisikanku sebagai pihak yang bersalah. Padahal jelas-jelas merekalah yang tak tahu prosedur penjualan dengan baik.
            “Sabar ya, risiko kerja.”
            Selalu kalimat itu yang keluar dari mulut teman-teman seperjuanganku setiap kali harus menghadapi hal seperti ini. Sabar dan berjiwa besar adalah modal utama profesi sebagai seorang sales. Sabar, berjiwa besar dan tahan malu terhadap hinaan, cacian dan makian dari para pembeli yang tak tahu aturan itu. Terkadang membuatku merasa terhina sebagai seorang yang berpendidikan harus bekerja di tempat seperti ini.
            “Aku jenuh …”
            “Setiap manusia pasti merasakan jenuh.”
            “Jenuh dihina-hina terus sama orang yang nggak kita kenal sama sekali.”
            “Risiko profesi.”
            “Aku benci profesi ini.”
            “Kenapa nggak cari yang baru?”
            “Emang cari kerja gampang?”
            “Udah tahu kenapa mengeluh? Hadapi dong. Kalo cuma mengeluh malah tambah terasa bebannya. Dibawa enjoy, inilah hidup, nggak hanya ada hal suka dan yang baik-baik saja. Ada masanya kita berada di titik nadir.”
            “Ngomong gampang ya.”
            “Kamu tuh ya. Nggak bersyukur itu namanya.”
            Sejenak aku termangu mendengar penuturan Mulan, rekan sekerjaku. Dalam hati aku membenarkan perkataannya tadi. Tapi tetap saja hatiku memberontak dan tak terima dengan apa yang kualami. Selalu saja ada kejadian yang membuat semangat hidupku melemah. Selalu saja persoalan demi persoalan yang tak kunjung henti. Masalah kerjaan, keluarga, hingga percintaan. Aku tak pernah seberuntung teman-temanku yang lain. Apa yang salah dengan hidupku?
***
            Namaku Sarah. Sudah hampir setahun betah bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang retail. Produk yang harus aku jual adalah handphone beserta asesorisnya. Sebenarnya tempat kerjaku menyenangkan, hanya saja para pembeli yang terkadang membuatku kesal dan harus menahan emosi. Teman-teman kerjaku mengasyikkan, saling support dan tolong menolong dalam berbagai hal. Hanya saja atasanku yang terkadang menyebalkan.
            Kembali aku mengeluh, kenapa selalu saja ada hal-hal tak menyenangkan hadir di kehidupanku. Sekarang aku harus berhadapan dengan atasan yang arogan, tak punya belas kasihan. Membuat peraturan yang tak memperhatikan kemampuan karyawan. Sebenarnya apa yang salah? Aku yang pengeluh atau atasanku yang semena-mena? Hidup tak pernah ada titik temunya. Seperti aku dan Fe yang tak pernah bisa bersatu. Atau salahku mencintai laki-laki yang levelnya jauh di atasku?
            Aku ini apalah, hanya pemimpi yang bak pungguk merindukan Bulan. Hanya seorang Sarah yang merindukan perhatian Fe, rekan kerjaku yang jauh lebih beruntung dariku dengan posisi sebagai seorang supervisor. Sedang aku? Hanya penjaga toko yang setiap harinya harus siap dengan hinaan dan makian para Raja itu. Pembeli adalah Raja, bukan?
            Tidak ada satu pun di dunia ini yang bisa membuatku bersemangat untuk melanjutkan hidup. Kerjaan membosankan, pacar tak punya, keluarga berantakan. Ya Tuhan, apa salah hamba? Tak bisakah aku bahagia walau sekejap saja? Apa yang bisa membuatku bahagia? Apa bahagia itu harus punya uang banyak? Punya pacar ganteng, kaya dan berpendidikan, seperti Fe. Lagi-lagi Fe! Ah, andai laki-laki itu tahu.
            “Ikut gue yuk.”
            “Ke mana?” Sahutku acuh saat Mulan mengajakku pergi ke suatu tempat.
            “Pokoknya tempatnya asik, keren.”
            “Tempat apaan sih?”
            “Udah ikut aja. Nyesel lo kalo nggak ikutan. Pokoknya bisa ngilangin stress deh.”
            “Jangan bilang kalo lo mau ngajak gue dugem.”
            “Emang masih zaman ya dugem? Hahahaha.”
            “Terus?”
            “Bawel! Udah buruan siap-siap. Gue tinggalin lo!”
            “Iye, tunggu bentar nape!”
            Sepertinya aku butuh hiburan untuk menghilangkan penat. Mulan memang satu-satunya teman yang paling menyenangkan untuk diajak have fun. Dia selalu tahu tempat yang bisa membuatku betah dan nyaman. Sepertinya aku beruntung memiliki sahabat seperti Mulan. Syukurlah, ternyata aku masih memiliki satu hal terbaik dalam hidup, sahabat!
***
            “Ngapain ke sini? Mau shopping? Tanggal berapa ini?”
            “Siapa juga yang mau shopping. Udah tinggal ikut aja juga, bawel!”
            Aku mengikuti langkah kecil Mulan dari belakang. Pusat pertokoan ini tempat biasa aku dan Mulan menghabiskan uang insentif bulanan kami untuk membeli keperluan khas perempuan. Tiba-tiba aku melihat hal yang tak biasa di depan gerbang pusat pertokoan yang dipenuhi dengan patung kuda berwarna hijau tua itu. Aku melihat dua perempuan muda, kuperkirakan usianya sebaya denganku, dua puluhan, sedang menari-nari di depan pintu sebuah toko handphone.
            “Heh? Mereka lagi ngapain?” tanyaku seraya menggamit lengan Mulan.
            “Perhatikan mereka baik-baik, ya. Setelah ini gue jamin, lo bakalan berhenti ngeluh sama kerjaan lo.” Sahut Mulan sambil tersenyum simpul.
            Kedua perempuan itu terus menari, modern dance. Pakaian yang mereka kenakan sederhana, tidak menyolok dan menimbulkan kesan vulgar. Yang menarik perhatian para pengunjung adalah cara mereka menyambut setiap pelanggan yang melewati toko itu. Mereka menyambutnya dengan tarian dan salam dewi. Salam dewi yang selalu diajarkan atasanku di toko. Mengatupkan kedua tangan di depan dada dengan sedikit membungkuk.
            Satu hal yang lebih menarik perhatianku adalah alunan lagu yang mengiringi kedua perempuan itu menari. Dengan bit yang menghentak dan lirik lagu yang menimbulkan semangat. Tanpa sadar membuatku terpaku dan ingin mendengar lagu itu sampai bait terakhir.

Saat dirimu
Terhanyut dalam sedih yang kau rasakan
Seperti mendung hitam

Cobalah engkau sadari
Bahwa hidup ini terlalu indah
Untuk ditangisi

Dan bernyanyilah
Senandungkan isi suara hati
Bila kau terluka

Dengarkan alunan lagu
Yang mampu menyembuhkan lara hati
Warnai hidupmu kembali
Menarilah
Bernyanyilah

Saat jiwamu
Terlarut dalam gundah dan seakan
Tiada jalan keluar

Cobalah engkau pahami
Bahwa hidup ini terlalu singkat
Untuk disesali

Nyanyikan apa yang kau rasakan
Rasakan apa yang kau nyanyikan

            Lagu itu benar-benar membiusku. Bukan dua perempuan tadi yang kini menarik perhatianku, tapi lagu itu. Tanpa sadar aku tersenyum sendiri, tiba-tiba ada semangat yang menyusup begitu saja saat mendengar lirik lagu tadi. Entah kekuatan apa yang ada di lagu tersebut, membuatku bersemangat dan melupakan sejenak segala permasalahan yang selama ini kuanggap membebani pikiran.
            Mungkin kedua perempuan tadi yang membuatku merasa bahwa masih banyak orang yang tak memiliki pekerjaan seberuntung aku. Aku hanya perlu menahan malu di dalam toko, sedangkan kedua perempuan itu? Hebat sekali mereka mampu menahan malu di luar toko. Aku saja belum tentu mampu menjalani pekerjaan seperti itu. Pekerjaan yang terbilang unik dan baru kali ini aku menemui ada pekerjaan seperti itu.
            “Terobosan baru, menarik pengunjung dengan tarian di depan pintu toko.”
            Suara Mulan menggugah lamunanku.
            “Asyik ‘kan tempatnya. Hiburan gratis, hihihi.”
            Aku mendengar suara Mulan sambil lalu, lebih menikmati lagu dan penampilan kedua perempuan tadi. Berkali-kali mengucap syukur dalam hati dengan pekerjaan sekarang yang aku miliki. Bodohnya aku terlalu banyak mengeluhkan hal-hal yang kuanggap buruk dalam hidupku. Padahal apa yang kualami sebenarnya hanyalah sedikit ujian dalam hidup. Sebenarnya bukan ujian juga, tapi memang alur kehidupan yang sudah semestinya aku jalani dengan besar hati.
            Aku masih beruntung memiliki sahabat sebaik Mulan yang selalu mengerti suasana hati dalam segala kondisi. Keluargaku mungkin hanya masalah komunikasi, kalau aku tak terlalu sibuk dengan diri sendiri, seharusnya aku bisa lebih dekat dengan kedua orang tua. Setiap pekerjaan selalu berisiko apapun itu bentuknya, kenapa harus dikeluhkan? Dan Fe? Bukankah stok laki-laki bukan hanya Fe di dunia ini.
            Apa yang salah dengan diriku? Tak ada. Yang salah hanyalah pikiranku yang selalu negatif dalam mensugesti diri sendiri. Aku bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik lagi jika aku berkeinginan kuat untuk meneruskan pendidikan. Aku bisa mendapatkan kekasih idaman seperti Fe jika aku memperbaiki kualitas diri. Tak ada yang salah dengan hidupku. Tak ada duka atau lara. Tak ada yang perlu disesali atau dikeluhkan lagi.
            “Mulan, thanks ya.”
            “Buat apa?”
            “Sudah mengenalkan aku pada lagu ini.”
            “Lagu? Lagu apa?”
            “Lagu yang membuatku semangat hari ini, besok dan besoknya lagi. Selamanya.”
            Mulan menatapku heran, tapi kemudian tertawa saat melihatku ikut bergoyang mengikuti alunan Musikimia yang mengiringi kedua perempuan dancer tadi. Hidupku ternyata indah, terima kasih Tuhan.
***

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Project #DanBernyanyilah yang diselenggarakan oleh Musikimia, Nulisbuku.com dan Storial.co