Kamis, 10 April 2014


Delusi
           
            “Har …”
            Luna menggumam, terpana. Saat tersadar wajah yang menempel di kulit pipinya sangat berbeda dengan wajah yang biasa menemani tidurnya. Pram memang beralis tebal, tapi wajah yang ini beralis lebih tebal lagi dibanding milik Pram. Hidung Pram memang bangir, tapi tidak semancung ini. Terlebih lagi bibir itu berbeda sekali, sangat tipis tidak seperti bibir Pram. Dan … ya Tuhan, sejak kapan Pram berlesung pipit?
            Wajah itu terasa nyata, Luna bisa merasakan embusan napasnya, sentuhan kulitnya. Ia tidak sedang bermimpi, tidak! Luna semakin yakin kalau itu bukan mimpi saat bibir tipis itu mulai memagutnya. Luna terdiam, menikmati setiap detik apa yang terjadi. Tubuhnya terasa kaku, tapi Luna yakin ia tidak dalam keadaan tidur. Wajah itu tampak jelas, sangat jelas, tapi bukan Pram.
            “Har …” Luna kembali menyebut nama itu perlahan.
***
            Luna menatap butir-butir berlabel Benzodiazepine dan beberapa tube obat-obatan yang dapat meningkatkan kadar serotonin dalam otaknya. Teronggok rapi di sudut laci meja riasnya, tersembunyi. Sudah beberapa minggu terakhir ini ia tak menyentuh obat-obatan itu lagi. Luna memutuskan untuk terus menjalani terapinya sendiri, walaupun ia menjadi semakin sering berhalusinasi. Luna sadar, ia semakin terperangkap dalam aloerotisme yang kerap ia ciptakan untuk mengurangi rasa sakitnya.
            Hanya satu hal yang Luna tak mengerti, mengapa hanya bayang wajah seorang Har yang melintas di pikirannya saat rasa sakit itu mulai menyerangnya. Wajah itu seolah candu baginya, mampu menghilangkan rasa sakit yang selalu menyergapnya.
            “Apakah dosa jika aku melakukan itu untuk membahagiakan Pram?”
            Pertanyaan yang tak pernah Luna temukan jawabannya itu semakin sering menghantuinya. Antara merasa bersalah dan tak ingin dipersalahkan dengan apa yang dilakukannya.
            “Aku tak punya cara lain, aku lelah …”
            Luna semakin hanyut dengan pemikiran absurdnya.
***
            Wajah teduh Pram tetap tak bisa meneduhkan hati Luna yang tercabik dan terperangkap oleh perasaan aneh yang ia sendiri tak bisa mendefinisikan dengan kalimat seperti apa. Berkali Luna menghibur diri dengan melakukan berbagai asumsi logis yang mampu membuka pemikirannya akan suatu hal yang absurd dalam otaknya. Pram nyata … Har tidak! Berkali-kali Luna menegaskan dalam sel otaknya tentang realita akan hal itu.
            “Apa yang bisa aku lakukan untuk mengembalikan Lunaku yang dulu?” tanya Pram dengan tatapan lembutnya yang menghujam hati Luna.
            “Tidak ada, biarkan saja waktu yang akan bekerja.” Sahut Luna.
            “Apa kau bahagia bersamaku?” Pram kembali bertanya.
            Luna tersenyum, dalam hati ia ingin sekali berteriak mengeluarkan semua sesak yang selama ini hanya dipendamnya sendiri. Luna hanya tak tahu bahasa apa yang harus diungkapkannya kepada Pram yang sudah lebih dari sepuluh tahun menjadi bagian dari hidupnya. Menitipkan benih di rahimnya dan berjuang memenuhi semua kebutuhan hidupnya dan buah hati mereka. Luna merasa tak pantas jika harus menyakiti hati Pram.
            Selama ini yang Luna bisa lakukan adalah berusaha menjadi sosok istri seperti yang diinginkan Pram. Mengurusi semua kebutuhan Pram, memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri. Mulai dari beduk subuh saat Pram belum terjaga hingga Pram mulai lelap kembali dalam tidur malamnya. Luna melayani semua keperluan Pram tanpa keluh. Diabaikannya rasa sakit yang selama ini menggerayangi pikirannya, demi membahagiakan Pram dan buah hatinya.
            Luna paham, Pram tahu persis permasalahan hatinya. Pergolakan batinnya yang kerap timbul bila merunut kembali luka lama lembar kelam kehidupan masa lalu mereka. Pram juga tahu tentang beban batin yang tak pernah bisa Luna ungkapkan selama ini. Pram hanya menutup mata dan telinga selama kehidupan mereka bisa terus berjalan dengan baik-baik saja. Luna menghargai usaha Pram untuk berubah, maka tak adil jika ia harus mengedepankan keegoannya dan mengabaikan niat baik Pram padanya.
            “Kau istri yang baik, aku beruntung memilikimu ….” Gumam Pram, dan Luna hanya terdiam.
***
            Luna terus menghitung hari. Tak terasa berbulan sudah sejak ia memutuskan komunikasinya dengan Har. Hanya itu satu-satunya cara untuk menghilangkan ketergantungannya terhadap sosok maya tersebut. Sosok yang tak pernah hadir di kehidupan nyatanya, tapi mampu membantunya menghilangkan penderitaan batinnya selama ini. Entah bagaimana Har bisa melakukan itu, yang pasti Luna bisa meredam derita saat menemui Har di kesehariannya.
            Selama ini hanya Har yang mampu membuat otaknya bekerja normal, hanya Har yang bisa membuatnya tertawa lepas dan melupakan sejenak beban batinnya, hanya Har dan selalu Har yang membayangi pikirannya. Tapi Luna merasa bersalah dengan apa yang dilakukannya. Mencuri hati Har dan memaksa Har untuk mengerti penderitaannya. Mengapa ia tidak melakukan hal itu pada Pram? Mengapa ia justru menuntut Har untuk terus mengobati lukanya? Bukan kepada Pram? Luna tak pernah menemukan alasannya.
            Berkali Luna berusaha untuk menipu pikirannya, mengenyahkan Har dari otaknya, tapi usahanya hanya mampu bertahan dalam hitungan hari, setelah itu … sosok semu Har kembali menghantuinya lagi. Kini Luna mencoba mencari solusi untuk mengenyahkan Har dari hidupnya, walaupun ia harus ketergantungan dengan berbagai macam obat-obatan yang membuatnya semakin tak mengerti mengapa bisa sesulit itu menghilangkan sosok Har dari kehidupannya.
            “Dia punya kehidupan lain sebelum mengenalku, aku pun begitu. Kami bertemu di waktu yang salah, kami dibodohi oleh keadaan atau kami yang terlalu bodoh untuk tak mengerti keadaan. Ya, bodoh! Cinta itu memang bodoh!”
            Luna hanya berani mengungkapkan semua yang terpendam di hatinya kepada psikiaternya. Ia tak punya keberanian untuk mengungkapkan itu kepada Pram. Lebih tepatnya lagi menjaga perasaan Pram. Luna hanya berani menumpahkan segala rasa sakitnya pada berlembar-lembar halaman microsoft word-nya. Dan selama ini, hanya Har yang mampu mengerti dan menanggapi semua kesahnya. Hanya Har … ya, cuma Har.
***
“Pergilah! Kita jalani kehidupan nyata kita masing-masing. Kau bisa hidup tanpaku, kehidupan nyatamu di sana pasti lebih bahagia.”
            Luna melepaskan beban batinnya dengan menenggak kembali butiran-butiran berlabel Benzodiazepine yang ia peroleh dari psikiaternya. Pikirannya mendadak tenang, mengaburkan deretan memori tentang Har dalam sel otaknya. Memaksa langkahnya menuju hamparan sajadah yang sudah menantinya. Luna memutuskan untuk melepas Har pergi dari kehidupan semunya. Ia masih waras, ia tak mau dianggap gila oleh psikiaternya saat menaikkan dosis obat-obatan yang harus kembali ditelannya. Satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa ia tidak gila maka ia terpaksa melakukan itu, melepas Har dari kehidupannya.
            Dihapusnya satu folder memori dari otak kirinya yang selama ini disimpan rapi dengan  file bernama Har. Diniatkannya untuk tak lagi menyentuh kehidupan Har walau hanya di dunia maya. Luna akan berusaha menghadapi rasa sakitnya dan membuang jauh solusi delusi itu dari pikirannya. Luna hanya perlu meyakinkan diri kalau ia bisa. Luna hanya perlu selalu berada dalam keadaan sadar, bahwa Pram nyata … Har tidak!
***
“Cinta mengaburkan kenyataan dan fantasi, melenakan orang dalam kefanaan adiksi.”
—Noffret’s Note—

Minggu, 06 April 2014

Review Novel Seribu Kerinduan




Judul Buku                 : Seribu Kerinduan
No. ISBN                  : 9786027572195
Penulis                        : Herlina P. Dewi
Penerbit                      : Stiletto
Tanggal Terbit             : November 2013
Jumlah Halaman          : 249 halaman
Jenis Cover                 : Soft cover
Kategori                     : Novel Romance Dewasa
Teks                           : Bahasa Indonesia
Harga                         : Rp. 43.000


Cinta Akan Selalu Menemukan Jalannya

Ungkapan kalau jodoh tak akan ke mana begitu terasa di novel ini. Walaupun sebuah hubungan terpisah karena berbagai masalah, tak akan mengubah ending yang sudah dituliskan oleh-Nya. Hanya perlu usaha untuk memperjuangkannya. Ya … usaha!

Cinta memang patut diperjuangkan, jika cinta itu sangat berharga hingga bisa mempengaruhi kehidupan pribadi yang membuat hidup menjadi tak berarti jika tak bersama orang yang dicintai dan diinginkan kehadirannya secara nyata. Cinta itu harus memiliki, itulah realita cinta sejati.

Renata Kumala, seorang fashion editor yang kehidupannya menjadi hancur karena hubungannya bersama Panji harus kandas akibat perjodohan yang dilakukan Ibu Panji yang tak menyetujui hubungan mereka karena status sosial Renata yang tidak selevel dengan keluarga Panji yang keturunan ningrat. Kariernya yang cemerlang harus ia relakan karena depresi berkepanjangan akibat kehilangan seorang Panji. Sebegitu hebatnya cinta yang dirasakan Renata hingga ia merasa hilang arah ketika Panji terpaksa harus meninggalkannya karena memilih menyetujui perjodohannya sekadar menuruti keinginan Ibunya.

Renata yang merasa terabaikan karena menurutnya Panji tak memperjuangkan cintanya menjadi gelap mata, khilaf serta melakukan kebodohan dan mengambil jalan pintas untuk menutupi rasa kehilangannya. Ia memilih menjadi pelacur highclass. Menurutnya dengan melakukan pekerjaan itu ia merasa dibutuhkan, dihargai, disanjung dan dicintai oleh pelanggannya yang selalu merasa terpuaskan olehnya. Renata merasa bosan dengan kehidupannya karena tak pernah mampu mengikis sosok Panji dari pikirannya.

Renata menghabiskan waktunya hanya untuk menelusuri kenangannya saat masih bersama Panji. Hingga suatu saat ia merasa rindu untuk kembali ke kehidupannya sebelum Panji meninggalkannya. Takdir sudah memilihkan jalan hidupnya. Kerinduannya akan menulis kembali ternyata mampu membawanya move on dan meneruskan hidupnya tanpa dihantui bayangan Panji lagi. Ia menuangkan semua kisah perjalanan hidupnya pada novel yang ditulisnya. Dengan begitu Renata merasa lega karena telah mengeluarkan semua unek-unek dan beban hidupnya.

Hingga suatu ketika, Panji yang gagal dengan pernikahan hasil perjodohan Ibunya karena istrinya ternyata berselingkuh dengan mantannya, hingga Panji memutuskan bercerai dan kembali mencari Renata. Apakah Renata masih menerima kehadiran Panji yang tiba-tiba menyentuh hidupnya kembali setelah setahun lebih meninggalkannya dan membuat hidupnya hancur? Bagaimana sikap Panji yang mengetahui profesi Renata sebagai pelacur? Apakah Renata benar-benar berhasil move on setelah memutuskan kembali ke dunia menulisnya?
***
Novel yang sarat pesan moral ini akan membawa pembacanya terhanyut dalam kisah klise yang dibalut dengan teknik penceritaan yang luar biasa. Herlina P. Dewi begitu apik mengemas cerita dengan bahasa sederhana yang tidak menggurui pembaca. Bagaimana tentang realita kehidupan seorang manusia yang tak mampu menerima kenyataan takdirnya, ia menggambarkannya secara gamblang dengan alur yang eksotis. Ternyata sebuah kerinduan berhasil membawa pemikiran seseorang untuk tetap bertahan dan memperbaiki keadaan. 

Apa mungkin juga karena kerinduan saya pada sesuatu yang mendorong saya untuk membabat habis novel romantis ini? Entahlah … Saya hanya setuju pada satu kutipan dalam novel ini “Cinta akan selalu menemukan jalannya.”
—Di sini aku duduk dan menunggu …—
Waktu akan membawa cinta kembali kepada seseorang yang merindu. Yang dibutuhkan hanya satu … perjuangkan cintamu!
***

Sabtu, 29 Maret 2014

Alasan Membeli Buku


Bagi penulis seperti saya, buku adalah ‘makanan’. Jadi, kalo nggak baca bakalan ‘kelaparan’, karena idealnya seorang penulis adalah pembaca yang baik. Suka nulis tapi nggak suka baca sama artinya dengan nggak makan tapi pengin kenyang. Nah, masalahnya … kadang saya suka dilema dalam hal membeli buku. Sejak bergabung di grup-grup kepenulisan dan komunitas kelas menulis, saya jadi mempunyai banyak sekali kenalan penulis, mulai dari yang baru aja ‘melahirkan’ naskahnya sampai yang karyanya udah bejibun. Jumlahnya ada puluhan bahkan ratusan orang.

Yang saya bayangin, kalau dalam sebulan ada puluhan teman sesama penulis yang berhasil menerbitkan buku, dan nggak jarang mereka pasti menginfokan itu di grup atau secara pribadi agar saya ‘wajib’ memiliki, lalu apa kabar isi dompet saya nantinya? Ada rasa sungkan kalau saya nggak beli buku mereka, apalagi kalau teman yang lumayan kenal dekat dan sering curcol saban hari. Walaupun motif dari membeli buku mereka alasannya karena nggak enak hati dan belum tentu buku mereka sesuai kebutuhan saya atau jenis tulisannya saya suka. Kalau sehati sih ndak masalah, cuma melihat daftar antrian buku teman-teman yang ‘wajib’ saya beli sudah sangat panjang, kasihan juga melihat isi dompet saya jadinya … hiks.

Membeli buku memang suatu kebutuhan tersendiri bagi saya, dalam sebulan pastinya minimal ada lima buku yang wajib jadi bahan bacaan saya. Walaupun sekarang nggak harus beli buku juga kalau mau baca, cukup blogging atau googling aja kita bisa mendapatkan banyak sekali bahan bacaan. Cuma menurut saya, membaca via gadget itu kepuasannya beda. Ibarat makanan, membaca via internet itu ibarat makanan fast food bahkan junk food, gizinya jauh banget sama bacaan yang hardcopy, kenikmatan membacanya juga beda. Jadi mau secanggih apapun media informasi via internet, saya tetap memilih buku sebagai sumber ‘hiburan’ yang sangat memuaskan #halah

Untungnya sekarang saya punya cara tersendiri menyiasati supaya bisa memiliki buku yang saya inginkan tanpa harus menguras isi dompet secara berlebihan. Tapi saya punya prinsip yang masih saya pegang sampai detik ini, saya paling anti meminta buku secara gratis dari teman penulis walaupun itu udah soulmate banget. Saya akan tetap menghargai jerih payah mereka menghasilkan buku dengan membelinya. Kecuali kalo dia ikhlas memberikannya tanpa saya minta, rezeki nggak boleh ditolak toh? Tapi saya tetap say no to minta-minta gratisan buku ke teman penulis, titik!

Lebih baik saya cari diskonan atau ke tokbuk loakan untuk meminimalisasi pengeluaran. Atau ikutan kuis dan give away yang penulis adakan kalo pengin dapat gratisan buku. Setidaknya saya ada usaha dan membantu mereka mempromokan bukunya, sehingga nerima hadiahnya juga nggak pake malu karena pake usaha. Barteran buku masih lebih terhormat menurut saya, daripada ngerengek minta japrem. Kadang ada satu hal yang bikin saya miris, ketika saya harus merasa tak enak hati saat bilang nggak suka sama buku yang ditawarkan ke saya, padahal dia teman seperjuangan … he. Moso harus maksain diri tetap beli kalo ujung-ujungnya nggak bakalan saya baca. Jujur, dikasih gratis pun belum tentu saya minat buat baca kalo saya nggak suka, yang ada saya hibahkan ke orang tuh buku jadinya. Tapi yang pasti untuk menjaga perasaannya saya nggak koar-koar langsung ke dia soal itu #yaealahhh, nyare mate? Hihihi.

So, kadang saya punya alasan tersendiri untuk membeli buku yang di luar daftar antrian. Itulah jeleknya saya, suka nggak konsekuen sama daftar belanjaan, hiks. Selain memang urgent dan terdesak kebutuhan bahan tulisan, saya memang suka nggak bisa menahan diri untuk menyegerakan hal apapun yang saya kehendaki, kecuali satu hal … (apa yaaa, kasih tau nggak yaaa)

Di saat ibu-ibu kompleks tetangga rumah pada sibuk belanja baju, tas ato sepatu buat memenuhi passion mereka, saya justru ngubek-ngubek tokbuk buat hunting novel terbaru. Saat teman-teman sosmed pada heboh buka situs Berrybenka.com dan Zalora.com, saya lebih asyik ngacak-ngacak Bukabuku.com ato BukuKita.com. Untungnya saya nggak sendirian, setidaknya saya punya teman berbagi yang juga maniak belanja buku (bahkan ada yang lebih parah dari saya). Jadi sah-sah aja kalo beli buku jadi salah satu alasan tersendiri buat saya untuk tetap bertahan ‘hidup’.

Selasa, 11 Maret 2014

Menjeda Asa

Pada akhirnya kita hanya bisa merangkum bisu
Merunut detik dengan seribu tanya dan duga
Mengharap kabar dari kepekaan menghampa
Menunggu waktu terlewat dengan kegamangan jiwa

Pada akhirnya kita hanya bisa mengais harap
Mengeruk rindu pada celah kenangan
Menikmati kebersamaan pada relung pikiran
Menyentuh keindahan pada helai kebisuan

Pada akhirnya kita hanya bisa berpasrah pada Sang Sutradara
Mengikuti skenario dalam untaian delusi
Memamah perih yang mulai tak terkendali
Menjeda asa yang masih menggantung dan membumbung tinggi

Pada akhirnya kita hanyalah untaian lara
Sekilas kisah yang tergores pada lembaran ilusi
Memaksa hati untuk menyamarkan realita dan mimpi
Dalam asa yang kian terendap dan entah kapan mencuat kembali

Pada akhirnya aku dan kamu bukan lagi kita
Aku adalah bayang dan kamu adalah angan
Sementara kita?
Kita adalah asa yang menjeda



Rabu, 26 Februari 2014

Review Novel Tell Your Father, I am Moslem


Judul Buku                 : Tell Your Father, I am Moslem
No. ISBN                  : 9797958124
Penulis                        : Hengki Kumayandi
Penerbit                      : Wahyu Qolbu
Tanggal Terbit             : Februari 2014
Jumlah Halaman          : ix + 259 halaman
Jenis Cover                 : Soft cover
Kategori                     : Novel Religi
Teks                           : Bahasa Indonesia
Harga                         : Rp. 47.000


Keyakinan dan Logika yang Menghalangi Cinta

            Ini kisah cinta yang sangat pelik. Melibatkan keyakinan dua agama yang berbeda melawan kekuatan cinta dua remaja yang sangat besar. Seperti kisah Layla Majnun yang melegenda, dalam versi modern dibalut kisah romance yang dramatis dan menginspirasi.

            David, remaja tampan anak angkat seorang Pastor. Maryam, gadis cantik anak duta besar Uni Emirat Arab. Keduanya terlibat cinta pada pandangan pertama saat bertemu di sekolah. Cinta yang mereka rasakan sangat berbeda dan belum pernah mereka rengkuh sebelumnya seumur hidup sebelum perkenalan mereka. Cinta yang tak pernah mereka dapatkan dari orang-orang yang mereka sayangi.

            David dan Maryam sangat memegang teguh ajaran agama masing-masing. Walaupun sangat saling mencintai, namun keduanya berusaha keras melawan kata hati untuk menegakkan logika dan memegang teguh ajaran agama masing-masing. Perjuangan yang sangat berat saat harus berbohong pada diri sendiri untuk saling melupakan karena perbedaan keyakinan. Perjuangan yang menciptakan beban batin hingga membuat mereka depresi dan nyaris sekarat.

Di tengah kemelut permasalahan cinta mereka, ayah Maryam memutuskan untuk menjodohkan Maryam dengan Khaled demi memisahkan David dan Maryam. Merasa tak mempunyai daya dan tak ingin berpaling dari Tuhannya, Maryam akhirnya menerima perjodohan itu dengan satu syarat. Khaled tidak diizinkan menyentuhnya sampai ia mampu melupakan David.

Mampukah Khaled mempertahankan rumah tangganya dengan kondisi mempunyai istri yang sama sekali tak bisa disentuhnya? Apakah Maryam dan David mampu saling melupakan? Apalagi setelah Maryam mengetahui akhirnya David memilih untuk beralih keyakinan karena ternyata orang tua kandung David adalah seorang muslim. David yang telah menjadi seorang muslim dan tetap menanti Maryam.
***
Hengki Kumayandi menuliskan novel ini dengan bahasa yang santun dan berani. Berani menggambarkan secara detail pertentangan batin dua keyakinan berbeda yang saling mencinta. Dengan seimbang mendeskripsikan sisi positif dari agama tersebut, sehingga tidak ada kesan SARA dalam novel ini. Walaupun turut dijabarkan cuplikan isi ayat suci dari kedua agama tersebut.

Hanya ada beberapa bab yang terlalu dramatis hingga menimbulkan kesan berlebihan dalam novel ini. Saat kedua tokoh berusaha mempertahankan cinta mereka hingga keduanya jatuh sakit dan hampir sekarat karena menanggung beban psikis yang teramat berat. Namun, dalam sebuah fiksi terkadang alur yang melodrama juga dibutuhkan untuk menimbulkan emosi pembaca. Dan Hengki sukses membuat saya merasa trenyuh dengan kondisi tokoh yang memprihatinkan tersebut dalam memperjuangkan cinta mereka.
***

Senin, 27 Januari 2014

Review Kumcer Sepanjang Musim


Penulis      : - Aveus Har 
                    - Karina Ayu Pradita 
                    - Gari Rakai Sambu 
                    - Asya Azalea 
                    - Ovita Sari 
                    - Bagas Prasetyadi
Penyunting : Fatimah Azzahrah
Penerbit     : Media Pressindo
Ukuran       : 13 x 19 cm
Tebal          : 184 halaman
ISBN            : 978-979-911-325-2
Harga          : Rp. 28.500

Kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh 6 orang penulis handal yang beberapa di antaranya berprofesi sebagai editor, desainer bahkan sutradara. Malah ada beberapa orang mengaku kalau cerpen yang mereka buat ini adalah cerpen perdananya. Kumpulan cerita yang sebagian besar memiliki benang merah yang diceritakan dengan sudut pandang yang berbeda. Mengambil tema tentang musim, mulai dari musim hujan, kemarau, liburan, durian, kawin, mudik, pemilu, ujian, haji, kembang api sampai musim pancaroba. Tersaji lengkap dengan ide cerita yang sederhana namun memiliki pesan moral dan makna yang luar biasa.

            Masing-masing cerita mempunyai gaya kepenulisan yang berbeda. Sudut pandang dan gaya bahasa beragam, dikemas dengan diksi dan alur yang memesona, membuat saya penasaran untuk menuntaskan setiap cerita perjudulnya sampai halaman terakhir. Gaya bahasa yang santai, tidak membuat saya mengernyitkan dahi dengan istilah-istilah yang biasanya hanya dipahami oleh si penulisnya sendiri. Bacaan yang ringan dan sederhana namun sarat makna dan pembelajaran hidup.

            Ada kisah tentang bagaimana jatuh bangunnya kehidupan cinta dan sosialitas seseorang sampai bagaimana dia bisa mengatasi kegalauannya hingga berhasil move on dan keluar dari masalahnya. Tidak melulu tentang kisah cinta yang happy ending, kisah yang terkesan real dan apa adanya yang mungkin banyak dialami dalam kehidupan kita sehari-hari. Bahkan pada setiap kisah yang serba kebetulan, ternyata bisa menghasilkan alur cerita yang menakjubkan. Seperti cerpen romantis dan dramatis yang ditulis Gari Rakai Sambu dengan judul 'Selamat Datang Cinta'.

            Setiap judul dalam buku kumpulan cerita pendek ini menyajikan isi yang mengundang penasaran. Bagaimana diksi yang dikemas apik dan alur cerita yang melompat indah namun mudah dicerna. Membuat saya merasa perlu mengatakan bahwa ide Sepanjang Musim ini sangatlah antimainstream dan cocok buat tempat belajar bagi penulis yang ingin tahu bagaimana cara membuat cerita yang tidak biasa.

       Sebut saja ini kumpulan kisah sederhana, kumpulan kontemplasi, mungkin juga kumpulan cara memaknai cinta.