Sabtu, 20 Desember 2014

..



Mengerti


Tiada yang mengerti diri
Sekali pun diri sendiri
Seringnya yang ada selalu memaksakan diri
Tak tahu sampai kapan akan terus begini

Kau, terlalu sibuk dengan diri sendiri
Hingga aku harus berteriak ... "Hei, ada aku di sini!"
Tapi kau tetap tak peduli
Membisu dalam dunia dan pikiranmu sendiri

Bersamamu, hanya membebat bahagia jiwa
Mengharap kepekaan menghampa
Hingga mengerti selalu tak punya arti
Peduli pun hanya sebatas ilusi

Siapa yang akan peduli?
Angin pun berlalu pergi
Tinggalkan nurani yang sepi
Menanti seorang yang mampu mengerti



Rabu, 10 Desember 2014

Sekarang Aku Tahu



Sekarang aku tahu kenapa sahabat lelakiku memilih melajang hingga kini di usianya yang hampir kepala 4 itu.

Sekarang aku tahu kenapa penulis favoritku masih mendambakan seorang mbakyu hingga kini di usianya yang di atas kepala 3 itu.

Sekarang aku tahu kenapa teman lelakiku yang pernah gagal dalam pernikahannya lebih memilih tak beristri lagi.

Sekarang aku tahu kenapa berumah tangga tidak menjadi salah satu prioritas hidup para lelaki itu.

Sekarang aku tahu ... Aku tahu ... Aku tahu mengapa pernikahan tak pernah indah di mata para lelaki itu.

Sekarang aku tahu kenapa ... Kenapa ... Kenapa para lelaki seperti mereka memilih melajang di sisa usianya. 

Sekarang aku tahu ...


Jumat, 28 November 2014

.



Tanpa Nestapa

Aku bicara pada angin
Yang mampu menerbangkan asa
Juga menumpahkan rasa
Hingga sampai ke telingamu

Aku berbisik pada hujan
Rintiknya menenangkanku pelan
Derasnya mampu menyamarkan tangisan
Dinginnya membuatku tentram

Aku mencumbu pekatnya malam
Dalam penantian di kesendirian
Menunggu tak kenal waktu
Mengharap yang tak bisa diharap

Aku pun lari dari kehampaan
Melepas asa bersama logika
Menatap nyata dengan sempurna
Meninggalkan beban dengan langkah ringan

Aku yang tak mampu lagi menunggu
Membiarkan setiaku dalam gigilnya
Membakar amarahku dalam pedulinya
Melanjutkan hidupku tanpa nestapa


Selasa, 25 November 2014

Resensi Novel INSYA ALLAH You'll Find Your Way






Judul Buku            : INSYA ALLAH You'll Find Your Way
No. ISBN               : 9797959074
Penulis                 : Hengki Kumayandi
Penerbit               : Wahyu Qolbu
Terbit                  : November 2014
Jumlah Halaman    : viii + 352 Halaman
Jenis Cover          : Soft Cover
Kategori               : Novel Religi
Teks                     : Bahasa Indonesia
Harga Normal        : Rp. 49.000,-



Bram, Sang Guru Muda

Ini kisah tentang perjalanan hidup seorang guru muda bernama Bramudya Ilyas. Kisah yang diwarnai dengan berbagai kejadian yang mengharu biru. Bersama seorang sahabatnya yang bernama Fajrin, Bram merasakan banyak sekali momen suka duka yang mewarnai hari-harinya yang tak mudah untuk dijalani. Berawal dari kesulitan ekonomi, mendorong Bram yang masih berstatus mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di kota Jakarta, terpaksa mencari pekerjaan untuk membiayai hidupnya demi meringankan beban ibunya.

Berawal dari pertemuan Bram dengan Pak Tris, gurunya semasa SMA dulu, Bram mendapatkan tawaran pekerjaan mengajar di salah satu SMU yang berpredikat sangat bermasalah dengan para siswanya. Bram tak punya pilihan lain, mengingat susahnya mencari pekerjaan paruh waktu di kota besar. Dengan dorongan moril dari Elis, seorang yang diam-diam disukai oleh Bram lebih dari sekadar sahabat, akhirnya Bram mantap untuk mengambil tawaran mengajar dari Pak Tris tersebut.

Disitulah Bram mendapatkan tempaan hidup yang sesungguhnya. Ujian dan cobaan yang berat datang bertubi-tubi. Mulai dari harus mengatasi murid-murid yang nakal dan suka tawuran, hingga harus tetap membagi waktunya mengurus kuliah, masalah pribadi dan masalah murid-muridnya tersebut. Ditambah lagi urusan hatinya yang tak menemukan titik terang atas perasaan khususnya ke Elis. Malah disinyalir Fajrin pun mempunyai perasaan khusus ke Elis, membuat Bram salah paham dan hampir saja mengganggu persahabatan mereka.

Tapi takdir kadang tak seindah angan. Segala sesuatu yang sudah direncanakan berjalan tak sesuai keinginan. Bram harus berkali-kali menghadapi cobaan kehilangan orang-orang yang dicintainya. Kehilangan jati diri dan semangat hidup dibuatnya. Akankah Bram sang guru muda bisa bangkit lagi di tengah keterpurukannya dalam menjalani kehidupan cita dan cintanya? Di saat ia harus kehilangan orang-orang yang sangat dicintai dan berarti dalam hidupnya, mampukan Bram terus bertahan? Lalu bagaimana nasib cintanya terhadap Elis juga prahara persahabatannya dengan Fajrin?

***

                Novel kedua Hengki Kumayandi ini kembali membuat saya tergugah untuk membaca dan mengupas habis isinya. Di novel ini, saya menemukan banyak sekali motivasi dan semangat untuk bertahan hidup dari kisah seorang Bram. Dengan piawai, Hengki membuat alur cerita sederhana menjadi sangat elegan dan bikin saya terus penasaran dari bab per babnya. Selalu ada tanda tanya, kejutan dan ending yang tidak disangka-sangka.

                Secara tidak langsung, novel ini mengajarkan bagaimana cara menghadapi dan mengatasi permasalahan remaja di kota besar khususnya. Baik untuk para guru yang sekiranya mempunyai murid-murid yang tidak bisa di atur dan cukup menguras emosi dalam mendidik. Dengan lugas, Hengki memberikan semacam pencerahan bagaimana mengatasi hal tersebut. Penulis juga menyelipkan kisah cinta yang tidak menye-menye. Pesan religi sangat kuat namun disajikan dengan porsi yang pas khas anak muda. Jadi tidak berkesan menggurui dan terlalu menceramahi.

                Sepertinya Hengki Kumayandi sudah sehati dengan tema religi. Tapi masih dalam konteks yang tetap asyik untuk dikonsumsi bagi para remaja masa kini. Banyak pelajaran hidup yang tersirat di dalamnya. Secara tidak langsung juga membakar semangat saya untuk tetap meneruskan cita yang sempat tertunda. 

***


Kamis, 20 November 2014

..



Waktu Tunggu


Menunggumu tanpa batas waktu
Adalah hal terburuk dalam hidupku
Menanti tanpa pasti
Seperti bunuh diri tapi tak jua mati

Kau selalu mampu menahan langkahku pergi
Kakiku selalu terpahat menantimu di sini
Waktu tunggu sudah tak lagi berarti
Karena penantian ini tanpa batas yang pasti

Entah cinta atau aku yang bodoh
Selalu saja mampu bertahan dalam cemooh
Hingga kurasa akalku telah mati
Penantian ini sungguh membunuh diri

Kau semestinya tahu, tapi seolah tak mau tahu
Kau seharusnya peduli, tapi kau tetap biarkanku begini
Dalam derita penantian yang tiada henti
Mungkin hingga ragaku mati