Jumat, 25 Agustus 2017

.

Membunuh Rasa

            Entah apa yang harus aku lakukan untuk bisa membunuh rasa ini. Berbagai cara yang kulakukan hanya berujung pesakitan dan penyesalan saat niat meninggalkanmu hendak kujalankan. Aku selalu menimbang satu hal, bagaimana jika aku menjadi dia, perempuan yang telah kita sakiti bersama. Pastilah aku akan melakukan hal yang sama jika menjadi dia, melindungi kekasih hati agar tak pindah ke lain hati. Sungguh ironis dan miris sekali.
            Tapi berkali aku meniatkan untuk menguatkan hati melepasmu pergi, selalu gagal dan gagal lagi. Karena kamu tak pernah benar-benar pergi dan sepertinya memang tak berniat untuk pergi dari hidupku. Kamu selalu tahu bagaimana caranya memperlakukanku dengan baik. Kamu terlalu baik dan terlalu sempurna untuk bisa kucari alasan yang tepat agar aku bisa mengembalikanmu kepadanya dan tak lagi ke mana-mana.
            Setiap kali isi kepala mulai mengeluarkan aroma kebencian tatkala kamu membuat sedikit kesalahan, hanya dalam hitungan detik kamu mampu menghilangkan itu semua. Kamu sangat tahu bagaimana caranya menghapus semua rasa benci di hatiku dan terus menumbuhkan benih-benih cinta dan menyuburkan kasih sayang yang semakin mendalam. Kamu selalu mengerti bagaimana harus bersikap setelah membuatku menangis saat kecewa karena ulahmu. Dan lagi-lagi pupus sudah kebencian itu, terganti dengan rasa sayang yang makin kuat mengikat hanya dengan kata maaf dan dekapan erat.
            Kita amat sangat terlambat untuk membunuh rasa ini. Rasa yang semakin tumbuh subur dan berkembang hingga mengakar terlalu dalam dan sangat kokoh. Tak ada yang bisa merubuhkan kekuatan cinta kita termasuk rasa iba dan perasaan bersalah terhadap apapun kesalahan yang telah kita lakukan terhadapnya. Selalu ada pembenaran untuk itu semua yang lagi-lagi meruntuhkan logika. Kita selalu benar, dan akan selalu benar.
            Bahkan kini kita semakin menggila, keberanian kita semakin menjadi. Aku selalu punya nyali untuk mendekatinya, atas saran dan inginmu, kita harus berusaha mendekatinya untuk kebersamaan kita. Impianmu kita harus bersama, kamu bersamaku dan bersamanya, kita bersama-sama semuanya. Aku sih yes, bagaimana dengan dia? Masih menjadi tanda tanya dan membutuhkan perjuangan yang sangat keras untuk bisa meruntuhkan hatinya agar menerima kebersamaan kita.
            Ini kisah yang ganjil. Atau aku yang terlalu antimainstream. Menerima kenyataan berbagi hati tapi tak ingin merebutmu dari siapapun. Aku tak akan lakukan itu, mungkin itu yang membuatmu selalu nyaman bersamaku. Tak ada ketakutanmu atas kebersamaan ini. Bahkan kamu tak lagi bisa memilih. Pilihanmu hanya satu, mendapatkan semuanya atau tak sama sekali, kamu sudah siap kehilangan semuanya untuk kemungkinan terburuk. Kamu seperti pasrah dan manut takdir. Apakah kebersamaan kita adalah takdir?
            Berbagai sindiran, kode keras dan ungkapan penentangan dirinya atas kebersamaan kita sudah mulai terlihat dan terasa bertebaran di halaman sosial media miliknya. Tidakkah kamu sadar? Itu untuk kita, untukmu terutama. Tapi kamu menutup mata dan tetap melanjutkan perjalanan kita yang semakin berarah. Kita memang masih terjebak dalam labirin, tapi kini sudah mulai terang dan kita tahu ke mana harus melangkah. Waktu yang akan menentukan kapan perjalanan kita menemukan rumahnya untuk pulang.
            Sangat tak terbayangkan, bila kita bisa bersama hingga akhir usia, bersamanya juga. Hidup dalam alkisah trilogi yang sulit dicerna logika atas besarnya hati yang tertutup oleh cinta. Tapi untuk kemungkinan terburuknya, siapa yang mau mengalah jika dia tetap menganut paham monogami dan tak sudi berbagi hati? Aku... aku yang akan pergi. Aku tak akan membiarkanmu kehilangan segalanya. Karena bagiku, pencapaian tertinggi dari mencintaimu adalah merelakanmu.
***

Minggu, 23 Juli 2017

.



Dua Dunia

            Aku merasa hidup di dua dunia. Aku dengan kehidupanku bersama keluargaku, teman-temanku, lingkungan tetanggaku, pekerjaanku, dan aku dengan kehidupanku bersamamu, hanya bersamamu saja. Begitu pun kamu, kita bagai terasing dari dunia luar. Kita menciptakan dunia kita sendiri yang kita tak ingin orang lain tahu tentang kita.
            Awalnya aku merasa baik-baik saja dan sama sekali tidak keberatan dengan keinginanmu tentang dunia kita berdua. Tapi tadi malam, aku merasa menjadi pribadi yang berbeda. Saat kulihat ketakutan di matamu, entah takut atau khawatir, aku sulit membedakannya. Saat kamu tidak bisa menghubungi duniamu dengannya, saat tiba-tiba keluargamu tak bisa kamu hubungi sama sekali, sementara kamu sedang berada di dunia kita. Kamu sangat gelisah, membuatku ikut resah.
            “Nggak biasanya orang rumah nggak bisa dihubungi sama sekali.” ucapmu.
            “Mungkin sudah tidur, ini sudah larut.” sahutku berusaha menenangkanmu.
            “Tapi ini nggak biasanya. Aku telepon berkali-kali nggak ada yang angkat. Mungkin jangan-jangan ... dia melihat kita tadi.”
            Wajahmu pias, pikiranmu tiba-tiba menjadi negatif. Aku bisa merasakan ketakutanmu. Dan kamu memutuskan untuk pergi meninggalkanku malam ini untuk pulang ke duniamu bersamanya. Aku terdiam, mencoba memahami situasi dan berusaha membaca pikiranmu. Hanya ketakutan yang aku rasakan dari setiap gerak-gerikmu. Aku tidak boleh egois, duniamu dengannya lebih penting dari pada dunia kita.
            “Pulanglah, lihat ada apa di sana.”
            “Maaf ya, Sayang. Aku cuma khawatir di sana kenapa-kenapa.”
            Aku hanya mengangguk sambil berusaha menyembunyikan kekecewaan. Ah, tidak seharusnya aku merasa kecewa. Dunia kita bukanlah apa-apa. Duniamu dengannya adalah segalanya. Kamu tidak akan mengorbankan duniamu hanya untuk dunia kita yang hanya segelintir ini. Aku harus tahu diri.
            Tiba-tiba ponselmu berbunyi, muncul beberapa pesan singkat dari duniamu yang di sana, mengabarkan kalau dia ketiduran dan baru saja tersadar kamu telah menghubunginya berkali-kali sedari tadi. Kulihat ada rona lega di wajahmu, ketakutanmu sirna begitu tahu kalau duniamu yang di sana baik-baik saja.
            Sekilas terbaca olehku beberapa chat dari duniamu yang di sana memberimu pesan manis yang romantis dan penuh perhatian serta kasih sayang. Di akhiri kata love you darinya, membuat hatiku meranggas seketika. Aku jahat! Ya, sungguh terlalu dan jahatnya aku menahanmu di sini, di dunia kita yang tak seharusnya ada.
            Sepertinya kamu tampak peka dengan perubahan air wajahku. Gestur tubuhku mungkin mengeluarkan sinyal perasaan bersalah sehingga kamu mendesakku untuk mengungkapkan apa yang kurasa, apa yang ada di pikiranku sampai aku terlihat kaku dan tampak tergugu.
            “Kamu kenapa? Aku nggak suka deh kalo kamu kayak gini.”
            “Aku biasa aja, enggak kenapa-kenapa.”
            “Jangan bohong, aku tahu kamu. Jangan kamu kira aku juga nggak kayak gini ya kalo lagi khawatirin kamu. Aku salah ya?”
            “Laki-laki nggak pernah salah. Aku yang salah, aku jahat ya. Enggak seharusnya aku ada di antara kalian.”
            “Tuh, kan? Ini lagi yang dibahas. Kita udah berapa ratus kali ya bahas masalah ini, aku nggak suka.”
            “Kamu tahu nggak? Saat orang benar-benar sangat mencintai dan menyayangi, cuma ada dua hal yang bisa dilakukan, memperjuangkan ... atau, melepaskan. Menurut kamu apa yang harus aku lakukan?”
            “Kita udah sejauh ini dan kamu masih bertanya apa yang seharusnya kamu lakukan? Kamu masih ragu ya sama aku?”
            “Aku cuma nggak mau perjuangan kita akan menjadi hal yang sia-sia.”
            “Sia-sia atau nggak, yang terpenting kita udah berusaha buat berjuang. Dan aku akan buktikan sama kamu kalo aku udah berusaha untuk berbuat adil. Walopun saat ini masih jauh dari kata adil, tapi aku selalu berusaha. Apa menurutmu masih kurang? Apa kamu nggak bisa merasakan?”
            Aku hanya bisa terdiam melihat kesungguhan di matamu. Berkali-kali tatapan itu selalu membuatku luluh, menyebabkan hatiku rapuh dan selalu tak mampu untuk berkata tidak. Lagi-lagi kita menyelesaikan pertikaian tentang dunia kita dengan pelukan hangat dan kecupan sayang. Hingga semua percakapan tadi menguap begitu saja tanpa menyisakan perdebatan panjang yang tak berujung. Ya, sesudah itu dunia kita akan tampak baik-baik saja, selalu begitu keadaannya.
***



Minggu, 16 Juli 2017

.



Mimpi

            Seperti biasa, pagi itu kita terbangun karena berisiknya alarm yang berteriak dari handphone-ku. Dan sudah menjadi ritual kita menghabiskan pillow talk di pagi hari dengan menceritakan mimpi semalam. Malam tadi aku tak bermimpi tentang kamu, bahkan mimpiku semalam menguap begitu saja. Ah, hanya bunga tidur rupanya.
            Tapi kamu dengan lancarnya menceritakan mimpimu semalam. Seolah kamu merasakan bahwa itu sangat nyata. Aku tercenung dalam situasi masih setengah mengantuk. Tapi telingaku mendengar dengan sadar setiap kalimat yang kamu lontarkan tentang mimpimu itu.
            “Aku mimpi kamu dilamar laki-laki lain.” ucapmu pelan.
            Aku hanya menanggapinya dengan tawa kecil, “Trus?” sahutku.
            “Kayak nyata banget.”
            “Artinya?”
            “Enggak tahu. Tapi aku ingat banget kejadian dalam mimpi itu.”
            Yang aku tahu, jika kita terbangun dan masih mengingat dengan jelas mimpi yang kita alami, itu merupakan suatu pertanda, bukan bunga tidur semata. Tapi aku tidak mau mempermasalahkan tentang mimpimu itu karena aku tidak sedang dekat atau didekati dengan lelaki mana pun selain kamu.
            “Kamu nggak lagi dekat dengan laki-laki lain, kan?”
            “Maksud kamu?”
            “Ya aku nanya. Cuma pengin tahu aja.”
            Aku memicingkan mata dan mulailah berkeliaran pertanyaan di kepala. Ini bukan kali pertama kita membahas tentang hal semacam ini. Tapi mimpimu kali ini membuatku bertanya-tanya, apa ada hubungannya dengan perjalanan kita? Perjalanan yang semakin tak berarah dan kita hanya berputar-putar dalam sebuah labirin yang menjebak kita di dalamnya. Kita tak bisa kemana-mana!
            “Aku nggak sedang dekat dengan siapapun, cuma kamu.”
            “Kasih tahu aku ya, kalo ada yang lagi deketin kamu.”
            “Kamu pengin banget ya aku ada yang deketin?”
            “Bukan gitu, aku cuma nggak mau kamu nyembunyiin hal kayak gini dari aku.”
            “Apa sih yang aku sembunyiin dari kamu? Semuanya kamu udah tahu apapun itu tentang aku.”
            Dan seperti biasa, perdebatan pagi itu menguap dan hanya menjadi sebuah ritual pillow talk kita kala sedang tidur bersama. Setelahnya, kamu beranjak dengan meninggalkan jejak pelukan hangat dan kecupan sayang sebelum punggungmu menghilang di balik pintu depan. Selalu begitu, semuanya tampak baik-baik saja.
***
            Seharian ini mood-ku memburuk. Terjadi hal tak terduga yang menyebabkan buyarnya semua rencana yang sudah kususun rapi jauh-jauh hari. Ditambah lagi perdebatan hebat dengan atasan yang sangat menjengkelkan. Sudah biasa, tak menjadi hal berarti bagiku. Namun, dalam kondisi seperti ini, saat kenyataan tak sesuai harapan, aku mudah sekali merasa down. Dan efeknya sulit berpikir positif.
            Aku berusaha menahan diri sekuat hati untuk tak mengeluh dengan keadaan yang tak mengenakkan ini, walau dadaku terasa sesak. Dalam kondisi seperti ini aku hanya butuh sebuah pelukan yang mampu menenangkan pikiran, sayangnya kamu sudah bergegas pergi tadi pagi. Aku harus bersabar menunggu kamu menghubungiku lagi. Tiba-tiba aku merasakan rindu yang amat sangat, padahal baru tadi malam kita tidur saling berpelukan.
            Terlintas kembali obrolan kita tadi pagi. Dalam kondisi bad mood seperti ini, yang muncul di otak kanan hanya pikiran negatif. Aku meraih gadget, membuka sebuah situs dan mencari tahu arti mimpimu semalam. Aku tercenung saat membaca sebuah ulasan tentang pikiran alam bawah sadar yang hadir melalui mimpi.
            Mungkinkah mimpimu itu berarti kamu menginginkan aku pergi dari hidupmu? Kamu berharap ada laki-laki lain yang membawaku pergi jauh darimu? Dengan alasan itu, kamu bisa melepasku dengan mudah. Dengan begitu kamu tak perlu merasa bersalah atas sesuatu yang tak bisa kamu jalani, kamu terbebas dengan kekhawatiranmu akan sebuah pilihan. Kamu tak lagi harus memilih!
            Pikiranku semakin kacau saja. Ingin rasanya meneleponmu saat ini juga untuk kembali ke rumah kita dan membahas masalah ini hingga tuntas. Aku paling tidak suka menyimpan unek-unek denganmu. Semua harus dibahas hingga tuntas, kamu harus tahu tentang apa yang aku pikirkan saat ini. Kamu harus merasakan apa yang aku rasakan hari ini.
            Tapi aku meragu kembali, aku selalu takut jika apa yang aku sampaikan membuatmu berpikiran lain. Aku takut kamu menyangka aku membalikkan fakta dan hanya menduga-duga tanpa alasan. Ya, memang ini hanyalah praduga yang tak beralasan. Jadi teringat lagi, pernah sekali kita berada di posisi ini tapi kamu terbebas tanpa bukti, aku yang salah menduga kala itu. Tapi kamu harus tahu apa yang aku pikirkan tentang kita saat ini.
            Aku tak hendak mengeluh di depanmu. Aku selalu berusaha untuk menjadi pasangan yang kuat dan mandiri. Karena aku tahu, itu yang kamu butuhkan dari sosok perempuan sepertiku. Kamu tidak suka jika aku manja dan cengeng menghadapi permasalahan hidup. Kamu tidak mau jika aku mengeluh dan berpikir yang aneh-aneh tentang kamu. Ya, aku tahu kamu tak suka itu. Tapi aku tidak bisa menyembunyikan kekhawatiranku, aku takut kehilanganmu, meski itu tak pantas.
            Terbersit di benakku, hancurkah hidupmu saat ini karena kehadiranku di hidupmu? Hingga alam bawah sadarmu memintaku untuk pergi tanpa kamu sadari dengan pasti. Tapi keinginanmu hadir melalui mimpi. Dan itu sangat menggangguku saat ini. Jika itu inginmu, aku akan lakukan apapun yang kamu mau. Aku tak ingin memaksakan apapun terhadapmu jika kamu tak mau. Itulah sebabnya mengapa aku tak pernah memaksamu untuk memilih.
            Jika kamu menginginkanku tetap di sini, aku akan tetap bertahan seburuk apapun keadaan. Sampai kamu tak sanggup lagi memperjuangkan kita, aku akan tetap menerima. Karena rasa cintaku akan mengalahkan segalanya, termasuk mengalahkan keegoanku untuk memilikimu seutuhnya. Tidak, aku tidak akan pernah menempatkan kamu dalam posisi sulit yang kamu tak mau menjalaninya.
***
            Aku mulai mengikhlaskan hari yang buruk ini berlalu selama 12 jam. Hatiku mulai sedikit tenang walau masih ada sesuatu yang mengganjal perasaan. Senja hampir usai saat handphone-ku berdering, ada namamu muncul di layar, senyumku mengembang seketika. Aku sangat ingin membahas tentang mimpimu semalam, apakah etis membicarakan hal penting lewat telepon? Tapi aku bukan tipe yang suka menunda.
            “Aku jadi kepikiran tentang mimpi kamu semalam.”
            “Tuh, kan?”
            “Aku cari tahu arti mimpi kamu itu.”
            “Lagi ada yang deket kan ama kamu? Cerita aja gapapa.”
            “Apa sih? Kan udah aku bilang aku nggak lagi dekat ato dideketin ama laki-laki manapun. Ini aku malah jadi mikirnya kamu yang mau aku deket sama lelaki lain.”
            “Lho? Kok malah ngebalikin? Kok malah aku yang disalahin?”
            “Aku baca sesuatu tentang keinginan alam bawah sadar yang datang melalui mimpi.”
            “Trus kamu ambil kesimpulan kalo aku yang pengin kamu kayak gitu?”
            “Iya. Maaf, seharian ini aku lagi nggak bisa berpikir positif. I had a bad day, I’m in a bad mood condition.”
            “Jangan mikir yang aneh-aneh deh. Justru aku yang takut kehilangan kamu, mungkin saking aku mikirin kamu makanya ampe kebawa mimpi. Bukan berarti aku pengin kamu sama laki-laki lain. Salah tanggep nih kamu.”
            “Entahlah, mungkin aku terlalu khawatir. Kita jadi salah paham gini. Gara-gara mimpi, pikiran aku jadi jelek gini ke kamu. Maaf ya.”
            “Ya udah yang penting kalo ada apa-apa cerita.”
            Kamu sudah tahu segala hal tentang hidupku, entahlah dengan kamu. Selama ini kita tak pernah mempermasalahkan hal rumit apapun yang pernah kita alami. Semua seolah baik-baik saja, tampak sempurna dan berjalan mulus tanpa rintangan. Walau kita masih terlalu takut memperjuangkan keinginan yang terdalam. Yang penting semua baik-baik saja, biar waktu yang akan menentukan seperti apa akhir cerita kita.
***
           


Selasa, 23 Mei 2017

.



Aku, Kamu, Dia dan Impian Absurd Kita

            Ini konyol, amat sangat konyol. Hal paling mustahil yang kujalani dalam hidup saat ini adalah memenuhi permintaanmu untuk mengambil hati perempuan yang seharusnya menjadi rivalku. Katamu hanya itu satu-satunya cara agar kita dapat mewujudkan impian untuk dapat tetap hidup bersama. Agar kamu mendapat restu untuk memasukkanku ke dalam hidupmu tanpa perlu sembunyi lagi.
            Sepertinya kita mulai lelah sembunyi. Niatmu untuk membuka tabir hubungan kita yang absurd ini masih saja belum menemukan titik terang. Sesekali memang ada jalan tak terduga yang seolah sengaja Tuhan rancang untuk membuka tabir kita. Meski jalan itu dikarenakan kejadian tragis yang tak pernah kita rencanakan. Lambat laun muhrimmu itu tahu tentangku, tentang kita. Tapi masih saja kamu menjelma pecundang setiap kali dihadapkan untuk membuat keputusan.
            Kita sadar ini salah, tapi kita selalu punya alasan untuk melakukan pembenaran atas apa yang kita lakukan. Pembenaran versi kita yang pastinya semua orang menganggap salah. Kita punya dunia sendiri yang kita akui bahwa apa yang kita jalani adalah bukan suatu kesalahan. Itu sebabnya kita tak berhenti untuk bisa memperjuangkan kebersamaan ini, seberat apapun risikonya.
            Katamu kita tak harus mengkhawatirkan hal yang belum tentu terjadi. Yang penting kita bisa saling memahami bahwa kita saling membutuhkan. Tuhan pastinya punya alasan tersendiri mengapa kita dipertemukan, hal ini adalah kebetulan yang pastinya sudah dirancang Tuhan untuk kita. Lagi-lagi kita selalu melakukan pembenaran sendiri. Tak peduli kita telah menyakiti banyak hati. Kita sangat egois dan tak tahu diri.
            Aku akan pergi, suatu saat nanti. Bila kamu yang meminta aku untuk pergi dari hidupmu, bukan dia. Aku tidak akan menggubris apapun yang dia ucap terhadapku, beribu kali dia mengusirku dari hidupmu tapi jika kamu tak mau, aku akan tetap bertahan, seburuk apapun keadaan. Kamu yang memintaku untuk tetap ada di hidupmu, maka kamu pula yang harus memintaku untuk pergi, suatu saat nanti.
            Aku tahu apa inginmu terhadapku. Kamu ingin aku berhasil menjadi sosok yang bisa membanggakan dirimu. Baiklah, aku akan selalu berusaha menjadi apa yang kamu mau, meski perih menderaku tanpa kamu tahu. Mungkin kamu tahu, hanya saja kamu tak pernah menunjukkan kepedulianmu terhadapku. Itu sudah jadi sifatmu yang aku harus pahami itu.
            Belakangan ini pikiranku buntu, hingga jemariku tak pernah mampu merangkai untaian lagu. Otakku disibukkan oleh bagaimana cara agar kita bisa keluar dari permasalahan perekonomian yang merenggut banyak sekali waktu pertemuan kita. Kita disibukkan oleh pekerjaan yang menyita banyak waktu dan membuat kita sangat berjarak.  
            Kita sudah tak seperti dulu, banyak sekali hal yang tak pernah kita bisa selesaikan dengan baik, termasuk usaha kita untuk selalu bersatu. Impian kita yang menggunung tak pernah kita bahas lagi untuk mewujudkannya. Kamu disibukkan oleh urusanmu sendiri, aku merasa terabaikan. Kamu tak pernah merasa bersalah sudah membuatku susah, seolah menyakiti bagimu adalah hal yang biasa.
            Mungkin kamu tak pernah sadar terlalu banyak yang kutahu tentangmu yang tak pernah kamu ceritakan kepadaku. Bahkan ketika kamu berbohong pun aku selalu berusaha berpura-pura tak tahu. Aku sengaja membiarkan kamu terus membohongiku, aku anggap ini hukuman bagiku atas segala kesalahan yang kita buat selama ini.
            Aku terlalu cerdas bisa mengetahui banyak hal tentangmu, tapi terlalu bodoh untuk mampu mencerna dengan logika atas segala penderitaan yang kurasa. Bagiku kebahagiaanmu adalah segalanya, aku tak ingin menambah beban hidupmu. Biarlah waktu yang akan membuka mata hatimu kelak, mungkin setelah kamu sadar telah membunuhku perlahan dengan segala ketidakpastian yang kamu buat.
            Aku akan terus membiarkan keadaan ini berlarut hingga kamu memutuskan untuk menghentikan sandiwara yang kita buat. Saat kamu tersadar bahwa hidup memang harus memilih hanya salah satu saja yang harus kamu ambil, bukan lebih dari satu. Perempuanmu tak pernah menghendaki dan tak akan bisa menerima keinginan absurdmu itu. Hanya aku yang bisa memahami inginmu, hanya aku.
            Saat kamu terus memaksaku untuk menjadi apa yang kamu mau, saat itu pula aku semakin mengerti bahwa kamu tak pernah bersungguh memahamiku. Kamu hanya ingin aku yang memahamimu, kamu hanya ingin dimengerti tapi tak mau coba mengerti aku. Kamu dengan segala keegoisanmu yang tetap tak pernah mampu membuatku membencimu, kamu tahu itu. Tapi kamu tak pernah tahu, kalau aku tak pernah berhenti berusaha menjadi apa yang kamu mau.
***