Senin, 30 Juni 2014

Resensi Novel "LOVE, Interrupted"



Judul Buku              : Love, Interrupted
No. ISBN                 : 9786020304236
Penulis                    : Maya Lestari GF
Penerbit                  : Gramedia Pustaka Utama
Terbit                      : 15 Mei 2014
Jumlah Halaman        : 272 Halaman
Jenis Cover             : Soft Cover
Kategori                  : Novel Amore
Teks                        : Bahasa Indonesia
Harga Normal           : Rp. 55.000,-


Memperjuangkan Cinta Buah dari Perjodohan


Bagaimana rasanya jika harus menikah dengan lelaki yang masih memiliki kekasih? Itulah yang dialami Aisha, ketika ia memutuskan untuk menerima perjodohannya dengan Axel, lelaki yang masih sangat mencintai Amelie. Axel dijodohkan dengan Aisha karena orang tuanya tidak menyukai Amelie. Sebelum perjodohan itu terjadi, antara Aisha dan Axel ternyata membuat suatu kesepakatan pranikah tanpa sepengetahuan orang tua Axel. Aisha tahu pasti, bukan hal yang mudah menerima kenyataan harus menikah dengan lelaki yang bahkan tak menginginkannya. Apalagi Amelie adalah wanita yang jauh lebih baik secara fisik dan finansial dibanding dirinya. Tapi baik Aisha maupun Axel tidak bisa mengelak dari perjodohan itu. Aisha memutuskan untuk menjalaninya karena satu hal, ia sangat mencintai Axel.

Menikah, tinggal seatap namun tidur di kamar terpisah. Itu yang Aisha dan Axel jalani selama beberapa bulan pernikahan mereka. Axel yang menjadikan pernikahannya hanya sebagai kedok, membuat kesepakatan bahwa sandiwara pernikahannya dengan Aisha hanya akan berlangsung selama satu tahun. Setelah itu mereka akan bercerai dan Axel bisa menikahi Amelie, itulah yang sudah Axel rencanakan. Aisha sempat terpukul dengan kondisi sandiwara pernikahan yang ia jalani. Di mana ia harus berpura-pura di hadapan keluarga besar mereka kalau pernikahannya baik-baik saja, namun mendapat tekanan atas sikap Axel yang tidak memedulikan keberadaannya sebagai istri yang sah.

Di tengah keputus asaan atas pernikahan semunya, Aisha memutuskan untuk memperjuangkan cintanya kepada Axel. Dengan segala trik dan berbagai cara, Aisha berusaha membuat Axel jatuh cinta padanya. Mulai dari menarik perhatian Axel dengan berusaha menjadi istri yang baik, hingga menunjukkan kepada Axel akan kelebihan-kelebihan yang ia miliki sebagai wanita smart dan mandiri. Aisha sangat pintar mengambil simpati keluarga besar Axel sampai ke sahabat-sahabat bahkan karyawan di kantor Axel. Tapi tetap saja tak mudah menaklukan hati Axel yang sangat mencintai Amelie, dan mereka masih berhubungan dengan sepengetahuan Aisha sendiri. Namun Aisha tak menyerah, ia terus berusaha.

Apakah Aisha mampu membuat Axel memilih untuk meneruskan pernikahannya, lalu meninggalkan Amelie yang sudah enam tahun menjadi bagian dari hidup Axel? Berhasilkan Aisha membuat Axel jatuh cinta padanya?

***

            Novel ini lebih pantas dikatakan sebagai kamus penakluk hati lelaki. Maya Lestari GF membeberkan semua rahasia yang harus dimiliki perempuan yang ingin membuat pasangannya terikat baik lahir maupun batin. Dengan anggunnya, penulis mampu memikat hati pembaca, khususnya para wanita, jika ingin menaklukan kerasnya hati seorang pria. 

Novel yang sarat muatan lokalitas daerah Sumatera Barat ini, menyuguhkan sisi lain novel yang tidak hanya melulu menyuguhkan tentang kisah percintaan klise. Penulis dengan cerdasnya membuat terobosan dengan menyelipkan ilmu-ilmu dan keahlian yang patut dimiliki oleh para perempuan, khususnya yang akan atau sudah menikah, agar mampu mengikat hati pasangannya. Mulai dari keahlian memasak, membuat kerajinan tangan sampai berkarier dan wirausaha yang digambarkan pada tokoh Aisha. Nasihat yang tersirat sangat tidak menggurui pembaca. Belum lagi tentang pelajaran dan tips kesehatan yang sederhana namun ternyata sangat bermanfaat untuk diterapkan sehari-hari.

Karena novel ini adalah naskah finalis lomba novel amore yang diselenggarakan penerbit Gramedia, isinya sudah tidak diragukan lagi kualitasnya. Sangat inspiratif, edukatif dan mampu mengaduk-aduk emosi saya.

***

Kamis, 19 Juni 2014

Si Penggoda dan yang Tergoda, Siapa yang Salah?




Ada yang suka nonton ‘Catatan Hati Seorang Istri’ di RCTI? Kalau bukan sinetron yang diadaptasi dari bukunya Bunda Asma Nadia, mungkin aku nggak begitu tertarik buat ngikutin tayangannya. Tapi berhubung Bunda Asma Nadia adalah salah satu penulis favoritku, jadi aku merasa ‘wajib’ nonton. (Duh, kenapa nggak dibikin versi layar lebar aja sih, Bun?)  

Catatan Hati seorang Istri ini kalau dalam versi bukunya merupakan kumpulan kisah inspiratif. Sayang sekali masih ada di daftar antrian buku yang wajib saya beli, jadi belum bisa meresensi, hihihi. (Makanya nonton filmnya aja dulu … he.)

Tapi kali ini saya nggak bermaksud mengupas tentang buku atau film Catatan Hati Seorang Istri. Anggap aja cuma prolog buat gambaran dari apa yang mau saya tulis kali ini. Masih ada hubungannya kok, soalnya ini berkaitan dengan hubungan sepasang suami istri yang tengah diuji kesetiaannya.

Dalam suatu hubungan, apa pun itu, pasti nggak lepas dari yang namanya masalah, itu hal yang wajar. Masalah yang timbul bisa jadi dari pihak istri atau suami. Untuk masalah kesetiaan, pasti ada yang namanya pihak ketiga, sebut saja si penggoda. Nah, masalahnya … apakah akan terjadi masalah bila si penggoda tak berhasil menggoda? Itu tandanya tak ada yang tergoda, kan? Kalau ada? Berarti siapa yang salah dong? Apakah si penggoda? Toh kalau yang digoda nggak tergoda juga nggak akan terjadi yang namanya perselingkuhan, bukan?

Jangan bingung dulu, intinya gini. Siapapun pihak yang merasa dirugikan dengan hadirnya pihak ketiga kalau menurut saya bukanlah hal yang pantas untuk diributkan. Justru itu seharusnya jadi bahan introspeksi diri. Kok bisa jadi begini sih? Kenapa? Apa yang salah? Sebab bermula dari akibat lhoo, nggak mungkin ada asap kalo nggak ada api. Jadi intinya, untuk menghadapi pasangan yang tergoda nggak perlu pake emosi. Berkaca aja pada diri sendiri. Apa yang salah dalam diri sehingga tidak bisa mengikat hati pasangan, sampai-sampai pasangan bisa berpaling ke lain hati (baca: tergoda). Kalau masalah tabiat mungkin itu cuma kambing hitam dan alasan untuk menghibur diri sendiri untuk menutupi rasa malu dan nggak mau dipersalahkan (baca: membela diri).

Manusiawi sekali kalau khilaf bisa terjadi. Tapi si penggoda nggak akan berhasil kalau yang digoda punya iman yang kuat dan keteguhan hati untuk nggak pindah ke lain hati. Dalam hal ini saya nggak memihak kubu si penggoda atau yang tergoda. Saya berada di tengah-tengah sajalah. Nggak mau nyalahin siapa-siapa. Yang pasti cuma butuh antisipasi dini agar jangan sampai mengalami. Jangan jadikan khilaf sebagai tameng mengatasnamakan ‘hanya manusia biasa’. Sebab bila sudah khilaf berkepanjangan akan sulit untuk dihilangkan. 

Siapa yang bisa melarang orang jatuh cinta? Siapa yang bisa menahan hati bila sudah tak merasa nyaman dan ingin pergi? Kesetiaan terletak pada kenyamanan dan terpenuhinya kebutuhan, jadi bila pasangan Anda sudah tak setia, berarti dia sudah nggak nyaman lagi dengan Anda, dan ada sesuatu yang nggak terpenuhi kebutuhannya. Bukannya udah nggak cinta atau hilang rasa sayang, faktanya pasangan yang berselingkuh masih bisa mempertahankan hubungan dengan pihak pertama kok. (Survey membuktikan lhoo.)

Khilaf dan musibah nggak akan terjadi bila mampu mawas diri. Cinta itu ibarat tumbuhan, perlu dijaga, dirawat, dipelihara dengan baik. Akan tumbuh subur bila selalu diberi asupan bergizi. Intinya dalam sebuah hubungan yang dibutuhkan hanyalah take and give, itu aja kok. Tabiat jelek, akhlak bejat dan sifat yang berkarat masih bisa diperbaiki lho, asal ya itu tadi, terpenuhi semua kebutuhannya. Jadi bukan alasan kalo pihak pertama sudah setia mati-matian kok masih bisa tergoda juga? Sudah tahu jawabannya, kan?


Minggu, 15 Juni 2014

Award neh!



Udah lama juga nggak seru-seruan ngerjain award. Kali ini dapat colekan dari Mbak Nunu, jadi kudu ngerjain tugas biar nggak di-black list dari Storycake … #eh? *sungkem dulu, Mbak.

Sebelumnya udah pernah dapat award sekali, tapi yang ini isinya pasti beda.

Langsung aja deh, saya kerjain tugas yang pertama :

11 Hal tentang diriku :

1.      Biar kate udeh kepale tige, ane masih tetep kece kayak abege *uhuk
2.      Selalu merasa jadi seorang bunda paling sempurna dan bahagia di dunia dengan sepasang ‘malaikat mungil’ yang keluar dengan normal dari rahimnya *tssaaaahhh
3.      Masih eksis nulis nulis nuliiisssss
4.      Masih doyan baca novel ampe mabok
5.      Suka hunting GA dan event berhadiah novel *buat ngurangin bajet beli buku, hihi
6.      Udah nggak suka narsis-narsisan lagi *malu sama umur
7.      Anti nonton berita politik, korupsi dan kriminal di tipi
8.      Nggak pernah berhenti belajar tentang APAPUN, yang baik-baik tentunya
9.      Tetap selalu optimis dalam segala hal
10.   Lagi hobi jadi silent readers di sosmed … eh, kadang-kadang aja dink :D
11.  Selalu berharap dapat tiket, transportasi dan akomodasi freeee setiap tahun di bulan Oktober buat hadirin UWRF  #Ya Allah, semoga Mrs. Janet DeNeefe nyasar ke blog ini dan baca postingan ini, amiiinnn.

Saatnya menjalankan tugas kedua, menjawab 11 pertanyaan dari Mbak Nunu :

1.      Sunset or sunrise? Kenapa? Aku pilih Sunset karena selalu merasa ada harapan dan semangat baru kalo menyambut pagi.
2.      Jika uangmu cukup untuk membeli 1 barang, bag or shoes? Kenapa? Bag, nggak terlalu suka pake sepatu sih, hihi.
3.      Novel fiksi atau novel inspiratif? Kenapa? Wah, pilihan sulit nih.. Kalo bisa ya novel fiksi yang inspiratif dehh #nawar
4.      Buku atau e-book? Kenapa? Buku dong, nggak ribet, nggak khawatir mati lampu dan kehabisan baterai, bolak-balikin halamannya nggak pake loading … he.
5.      Tahu goreng atau tempe goreng? Kenapa? Tahu goreng, nggak doyan tempe kecuali kalo lagi kelaperan dan nggak ada makanan lain yang bisa dimakan.
6.      Mencintai atau dicintai? Kenapa? Dicintai, kalo mencintai nggak pake ‘saling’ … siap-siap makan ate. Kalo dicintai tapi nggak cinta, masih bisa belajar, biar waktu yang bicara … #gubraaagg
7.      Rumah atau mobil? Kenapa? Mobil, lebih fleksibel (baca: nggak betah di rumah)
8.      Makan atau minum? Kenapa? Minum, bisa ngilangin lapar, tapi kalo makan nggak bisa ngilangin haus, kan?
9.      Tidak mandi atau tidak make up? Tidak make up, wong nggak pernah make up-an kok, hihihi
10.  Hatta Radjasa atau Jusuf Kalla? Waduhh, pertanyaan 10 ama 11 menjebak neh, hahaha
11.  Prabowo atau Jokowi? Hmmmm, kasih tau nggak yaaaa

Sampailah pada tugas ketiga. Saya harus meneruskan award ini kepada 11 orang teman blogger lainnya. Dan yang terpilih adalaaahhh … tadaaaaa:
  1. Sabariah 
  2. Wangga 
  3. Rey 
  4. Kasihelia 
  5.  Una
  6. Azzah 
  7. Sherly
  8. Hardy Zhu
  9. Kamal Agusta 
  10. Koko
  11. Qempor 

Untuk ke-11 teman diatas yang mendapat award estafet ini, memiliki tugas meneruskan award ini ke-11 teman lainnya dengan cara yang sama seperti yang saya lakukan. Atau baca rulenya dibawah ini ya!

  1. Tulis 11 hal mengenai diri sendiri.
  2. Jawab pertanyaan yang saya ajukan.
  3. Tentuin 11 orang untuk dapat award ini dan link-kan mereka ke post-mu
  4. Bikin 11 pertanyaan baru untuk orang yang ingin kamu tag
  5. Pergi ke halaman blog mereka dan kasih tau kalo mereka dapat award ini
  6. Gak boleh Nge-tag Award balik ke saya yaaaa :)

Sekarang tinggal tugas keempat, berikut 11 pertanyaan dari saya yang harus kalian jawab, sertakan alasannya yaaaa.

  1. Pilih novel atau cerpen?
  2. Mending ngeblog ato baca buku?
  3. Suka jenis bacaan apa?
  4. Apa hewan kesayanganmu?
  5. Suka dingin atau panas?
  6. Pilih siang ato malam?
  7. Enakan di gunung ato laut?
  8. Bagusan hitam ato putih?
  9. Suka kue kering ato basah?
  10. Mending nonton film di tv ato beli vcd bajakan?
  11. Kalau lagi travelling suka hunting kuliner ato aksesoris?

Done!

Selesai sudahhh, buat kesebelas teman yang nerusin award estafet ini, kalian layak dapat ini:


Sabtu, 07 Juni 2014


Mencintai Bayangan


Mencintaimu takkan sesulit ini, jika kau ada di sini
Meski harus selalu berlabuh kala Matahari mulai jatuh
Dan kembali bertandang saat Mentari tenggelam
Semua akan terasa nyaman bila kau tak sekadar bayangan

Mencintaimu takkan menjadi hal yang sukar
Saat kita bisa saling berkelakar
Sedari pagi yang baru terbakar
Hingga senja yang mulai berpendar

Mencintaimu takkan menjadi hal yang absurd
Bila engkau sanggup tegaskan, bahwa kita takkan saling melepaskan
Namun, mencintaimu kini serupa angan
Saat bayangmu pun tak jua kutemukan, dan asa kita kembali menghilang