Jumat, 12 September 2014

Stalking ke Mantan, Apakah itu Suatu Bentuk Pengkhianatan Terhadap Pasangan?

Hayooooo ... Siapa yang masih suka stalking ke akun sosmed mantan?

Hmm, sadar nggak sih? Kalo ada yang melakukan hal itu, tandanya hati kecilnya belum ikhlas melepas hubungan yang telah berlalu. Mulut boleh memungkiri dengan berbagai alasan, tapi alam bawah sadar tak pernah berdusta. Bahwa bila seseorang masih 'kepo' sama kehidupan sang mantan, itu tandanya dia masih ada 'rasa' yang tertinggal walopun hanya sedikit.

Well ... Nggak usah berkelit kalau memang kenyataannya seperti itu. Sekuat apa pun melakukan pembelaan diri, tetap saja sikap itu menunjukkan kejujuran kata hati.

Trus? Gimana dong sama pasangannya yang sekarang. Apakah orang yang masih sering stalking ke mantan itu berarti dia telah mengkhianati pasangannya yang sekarang? Yups ... bisa dikatakan demikian. Walaupun hanya pengkhianatan batin, tapi itu tetap suatu bentuk pengkhianatan lhoooo.

Tanpa sadar apa yang dilakukan si stalker itu telah membentuk suatu niat tak direncana dalam dirinya. Bahwa orang tersebut masih menyimpan setitik harapan untuk bisa masuk lagi ke dalam kehidupan sang mantan. Silakan menampik habis-habisan kata hati Anda, tapi bila masih melakukan stalking juga itu bisa disebut suatu bentuk tindakan refleks karena alam bawah sadar Anda yang menginginkannya.

So? Buat para stalker mania ... ngapain sih pake acara stalking segala. Kalo memang masih pengin melanjutkan hubungan yang sempat terputus dengan mantan, kenapa nggak hubungi langsung? Perkara pengkhianatan dengan pasangan itu adalah masalah moralitas, dan itu Anda sendiri yang menentukan. Sebaiknya sebelum bertindak pikirkan dulu dengan matang. Bahwa pengkhianatan batin itu lebih berbahaya dari pada pengkhianatan yang dilakukan secara fisik. Kenapa? Batin itu tak pernah berdusta, tindakan dan ucapan bisa saja dibuat-buat. Tapi siapa yang bisa membohongi kata hati? Nggak bakalan ada!

***



Kamis, 11 September 2014

Para Pecundang

Apa sih perbedaan pecundang dan pengecut?

Menurut hasil survey saya dan utak atik ke Mbah Google, definisi kedua hal di atas adalah sebagai berikut :
Pecundang adalah orang yang berkali-kali ditawarkan kesempatan, mencoba, namun terus gagal. Hingga kegagalan itu menjadi hobi atau semacam identitas bagi dirinya. Pecundang terus mencoba namun tetap berkeluh kesah. Tidak ada inovasi!

Pengecut adalah orang-orang yang tidak pernah menang ataupun kalah. Bagaimana mau menang? Mencoba saja tidak berani! Bagaimana dia tahu dirinya kalah? menguji diri saja dia takut! Banyak orang pengecut berniat mengubah dunia, tapi tidak mau bergerak keluar. Mimpi besar tenaga tak ada. Ketika ditanya, pengecut berusaha membenarkan diri: cita-cita dimulai dari mimpi. Ya, mimpi dalam tidur nyenyak. Nikmat dalam imobilitas. Pengecut Biasanya selalu berada pada zona kenyamanan tanpa mau keluar dari zona nyaman tersebut! 

Okay ... itulah definisi pecundang dan pengecut yang menurut saya sih beda-beda tipis ya artinya. So, bagi yang merasa punya sifat definisi seperti di atas, sudah paham, kan?

Ada manusia yang punya segudang impian dan harapan, tapi terlalu takut untuk memperjuangkan dengan banyak alasan. Ada!

Ada manusia yang selalu setengah-setengah dalam bertindak. Selalu banyak pertimbangan yang hanya dijadikan alasan untuk nggak bisa move on dari hidupnya yang bullshit. Ada juga!

Ada manusia yang bisanya cuma lari dari kenyataan hidup. Punya impian dan keinginan seabrek tapi hanya berdoa tanpa berusaha. Hanya mengharapkan keajaiban datang dengan serta merta tanpa berusaha dan berani mengambil tindakan tegas untuk meraih impiannya. Ada lagi!

Yah, pokoknya macam-macam banget deh jenis pecundang itu. Yang pasti seorang pecundang nggak pernah total dalam melakukan segala hal. Predikat 'omdo' dan NATO sudah nggak asing lagi buat mereka. Jadi buat kamu yang merasa tersentil sama artikel ini ... Be totally present ya!




Rabu, 10 September 2014

..



Setelah Gerhana Tiba


Gerhana itu akhirnya tiba, Bulan takjub menatap Matahari di depannya. Anehnya, Matahari tak berani menatap Bulan. Lamat Bulan mendengar Matahari mendesah … “Aku masih belum berani menatapmu,”
“Kenapa?” tanya Bulan.
“Karena mata kamu seperti punya sihir, dan aku takut tersihir sama kamu.”
Bulan tertawa kecil mendengar pengakuan polos Matahari.
“Tiga tahun … akhirnya,” gumam Bulan tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Matahari yang tampak meredup.
Cahaya Matahari seolah terhisap oleh Bulan. Saat dengan lembutnya Bulan memagut bibir Matahari, sinarnya semakin redup. Matahari seolah takluk dalam pelukan Bulan. Mereka kini saling berbagi cahaya dalam jarak beberapa inci saja, saling menyentuh tanpa banyak kata. Bulan yang selama ini hanya mendapat bias pantulan cahaya Matahari dari kejauhan, kini bisa merasakan langsung kehangatan Matahari tanpa terhalang apa-apa lagi.
Mata mereka kini saling menatap, bibir mereka saling berpagut, dan jemari mereka tak henti saling menggenggam, seolah tak ingin lagi terpisahkan. Dan Bulan bisa mendengar dengan jelas saat Matahari membisikkan … “Menikahlah denganku,”
            Bulan terdiam sejenak, memastikan ia tak salah dengar atas penuturan Matahari tadi.
“Kau yakin?”
“Sangat yakin.”
“Setelah bertemu langsung dan melihatku apa adanya, kau yakin ingin menikahiku?”
“Aku tak akan berubah pikiran.”
“Aku tak sempurna, kau lihatlah sendiri. Mungkin aku tampak indah di kejauhan, tapi inilah aku, yang polos tanpa riasan.”
            “Justru aku sangat menyukaimu apa adanya. Aku tak mencari yang sempurna, aku ingin yang bisa mengerti dan menyayangiku tulus apa adanya. Dan itu adalah kamu.”
            Bulan masih terdiam, memikirkan satu hal yang membuatnya tak percaya dengan keinginan Matahari untuk menyatukan cinta mereka ke sebuah ikatan sakral dan suci.
            “Kenapa sekarang kamu yang tampak ragu?” Matahari mengernyit.
            “Bukannya ragu, aku hanya memikirkan posisi kita. Akankah kita bisa terus mengalami gerhana. Apakah tidak akan mengganggu kestabilan tata surya.”
            “Walaupun kita akan berjarak kembali, tapi aku pastikan gerhana pasti akan terjadi lagi, dan kita bisa terus berdekatan seperti ini sesering mungkin. Takdir yang mempersatukan kita, percayalah … semua akan baik-baik saja.”
            “Baiklah, aku akan meninggalkan Bintang untukmu. Aku harap tata surya tetap bisa berjalan normal walau aku dan Bintang sudah tak berdampingan lagi. Lalu bagaimana dengan Awan dan Camar kecilmu itu?”
            “Aku mencintaimu, Bulan … sangat menyayangimu. Aku ingin kita bersatu.”
Bulan tersenyum bahagia dan mempererat genggaman tangannya. Bulan tampak yakin dengan keputusannya untuk menikah dengan Matahari. Ia akan meninggalkan Bintang dan menciptakan sejarah baru dalam peredaran tata surya. Bulan dan Matahari akan memercikkan api cahaya cinta mereka tanpa ada jarak lagi.
***
            Gerhana itu terjadi hanya beberapa jam saja, tapi Bulan dan Matahari menggunakan quality time itu sebaik-baiknya. Mereka melepas semua kerinduan yang terpendam selama beberapa tahun penantian. Bukan hanya jiwa mereka yang bersatu, raga pun ikut terpadu. Bulan dan Matahari akhirnya bisa mewujudkan impian mereka selama ini, dan membuktikan bahwa tak ada yang mustahil di jagad raya ini. Dan mereka percaya, bersatunya mereka terjadi atas takdir Tuhan jua.
            “Kau harus janji, ini bukan pertemuan terakhir kita,” ucap Bulan sambil menggelayut manja di pundak Matahari.
            “Aku pastikan kita akan bertemu lagi, Sayang.”
        “Aku sayang kamu,” Bulan memeluk erat Matahari sebelum perpisahan mereka kembali.
            “Aku juga sayang banget sama kamu. Aku tak akan pernah berhenti memantulkan cahayaku ke kamu.”
Matahari harus berotasi kembali, berputar ke porosnya. Bulan berjanji, akan selalu setia menanti Matahari hadir secara nyata di hadapannya seperti saat ini. Dan sambil menunggu terjadi gerhana lagi, Bulan harus merasa puas hanya bisa menikmati pantulan cahaya Matahari kembali dari kejauhan. Bulan sadar, tak mudah baginya melepaskan diri dari Bintang, pun Matahari yang tak pernah mampu berada jauh dari Camar mungilnya. Tapi mereka tetap yakin, akan selalu ada keajaiban untuk menyatukan tulusnya cinta.
***
            Beberapa minggu berlalu sejak gerhana itu. Bulan mulai membuktikan janjinya kepada Matahari untuk berusaha melepaskan diri dari ikatan sucinya bersama Bintang. Bulan telah membuktikan, betapa kuat keinginannya untuk hidup bersama Matahari. Tak peduli bila apa yang ia lakukan dapat berakibat fatal bagi kestabilan tata surya di jagat raya ini. Bulan terus melakukan niatnya untuk berpisah dengan Bintang.
            Tapi setelah Bulan berusaha melepaskan diri dari Bintang, Bulan merasakan banyaknya perubahan yang terjadi pada Matahari. Matahari tak kunjung menampakkan keseriusannya dengan apa yang pernah Matahari ucapkan padanya tempo hari. Bulan meragu, merasa Matahari hanyalah pecundang yang tak berani mengambil risiko dan sama sekali tak menghargai pengorbanan yang telah Bulan lakukan.
            Di tengah kegalauannya, Bulan mendapati Bumi kembali hadir menampakkan diri setelah sekian lama menghilang. Entah apa maksud kedatangan Bumi saat ini, sedikitnya menimbulkan tanda tanya di hati Bulan. Dalam kondisi seperti ini, Bulan merasa tengah berputar-putar dalam suatu cerita yang tak ada habisnya. Saat ia akan mengakhiri kisahnya bersama Bintang, muncul Matahari menerangi gelap hatinya. Saat Matahari pernah menghianati, datang Bumi sebagai pengganti. Dan saat ceritanya bersama Bumi harus berakhir tragis, Matahari hadir kembali.
            Siklus tak berhenti sampai di situ karena sampai detik ini Bintang masih tak mau mengikhlaskan Bulan pergi dari hidupnya. Matahari, Bintang dan Bumi, kini tengah berputar-putar mengitari kehidupan Bulan. Di satu sisi Bulan merasa bersyukur, ternyata ia selalu di kelilingi benda-benda langit yang sangat peduli padanya. Tapi sayangnya, dari ketiga benda langit tersebut, tak ada satu pun yang berhasil membuat Bulan merasa mantap untuk menentukan pilihan.
            Bintang tak lagi mampu menyemangati hidupnya, Matahari selalu membuatnya meragu, Bumi pun tak jelas keberadaannya. Bulan hanya bisa merasakan kehadiran mereka sebatas ilusi saja. Dan seperti biasa, di saat seperti ini Bulan selalu membutuhkan saran dari semesta untuk menenangkan pikirannya.
            “Kenapa lagi, Bulan?” tanya Semesta, saat Bulan mendatanginya.
            “Matahari tak bisa diharapkan lagi,” gumam Bulan tertunduk sedih.
            “Kau selalu saja berprasangka dan mengambil kesimpulanmu sendiri.”
            “Aku yang merasakan dan menjalani, bagaimana bisa firasatku salah sedangkan memang kenyataannya Matahari tak pernah memperjuangkan cintanya secara nyata.”
            “Lalu gerhana tempo hari? Apa itu tak cukup bagimu untuk membuktikan kesungguhan Matahari?”
            “Entahlah, aku masih tak habis mengerti dengan jalan pikiran Matahari.”
            “Aku ada solusi, jika kalian memang bersungguh-sungguh ingin menikah, buatlah perjanjian tertulis sebelum kalian melakukan itu.”
            “Maksudmu?”
            “Kau jabarkan apa saja keinginanmu terhadap Matahari.”
            “Apa tidak berkesan aku tak memercayainya?”
            “Daripada kau selalu dibayangi keraguan?”
            Bulan terdiam, tapi dalam hati memikirkan saran Semesta tadi.
            “Baiklah, akan aku lakukan.”
            “Kalau Matahari benar mencintaimu, dia akan melakukan apa pun untukmu, seperti yang telah Bintang lakukan padamu.”
            Bulan merasa bersalah mendengar penuturan terakhir Semesta. Selama ini ia selalu mengabaikan keberadaan Bintang. Ia terlalu sibuk mengejar cinta Matahari yang hingga detik ini belum fix terealisasi. Kemunculan Bumi pun membuatnya gamang. Bila Matahari pergi lagi nanti, apakah ia harus kembali bersama Bumi hanya karena Bulan tak pernah merasa sanggup untuk sendiri?
            Bulan selalu haus akan cinta. Raganya selalu membutuhkan sentuhan. Tapi Matahari tak pernah mengerti akan kebutuhan batinnya yang selalu terabaikan belakangan ini. Bulan mengerang, mencoba untuk tak menyalahkan Matahari atas kondisi ini. Bagaimana pun juga Matahari berhak untuk menjalani kehidupannya sendiri. Bulan tak punya kuasa apa-apa terhadap Matahari, sang Awan-lah yang lebih berkuasa atas diri Matahari.
            Bulan semakin berputar-putar dengan kegamangan hatinya sendiri. Menimang dan memperkirakan, kelak … bila terjadi gerhana lagi, entah gerhana apa yang akan terjadi nanti. Gerhana Bulan atau gerhana Matahari, Bulan masih tak tahu pasti.
***


Kepada Matahari : Cinta bagimu hanyalah pantulan mimpi yang tak pernah terealisasi karena kau terlalu takut memperjuangkan mimpi itu sendiri.

Teruntuk Bumi : Cinta bagimu hanyalah ilusi karena kau tetap bersembunyi di balik kamuflase bullshit-nya mimpi.

Bintang : Cinta bagimu adalah perjuangan, tapi cintamu tetap yang terbaik, mungkin karena kau sudah ditakdirkan berpasangan dengan Bulan sejak jagad raya diciptakan. Tapi sayang, kau tak pernah mampu memberi cahaya kepada Bulan, hingga Bulan lebih mencintai Matahari hingga detik ini.

Bulan : Berhentilah mencari cinta sejati, cinta yang menghampiri tapi bila hanya datang dan pergi tak akan pernah memberimu arti sampai kapan pun. Mungkin akan lebih baik jika kau sendiri, atau tetap bertahan bersama mimpi indahmu untuk mendapatkan cinta sejati walau tak bersama Matahari. Atau pilihan terakhir … berharaplah terjadi keajaiban!



Jumat, 05 September 2014

Cinta yang Kembali Takkan Seperti Semula

Ups, maaf Bang Benny Arnas ... tagline 'Bersetia'-nya saya pinjam buat judul postingan saya kali ini yak ... he.

Yap ... Cinta yang pernah pergi, ketika kembali pasti keadaannya tak akan seperti semula lagi. Apalagi kalau perginya dengan meninggalkan 'luka'. Seperti gelas yang pecah, akan berserak dan (mungkin) sebagian partikelnya telah menghilang, sangat tidak mungkin untuk direkatkan kembali. Seperti paku yang telah ditancapkan di suatu bidang, saat dicabut pastinya akan meninggalkan bekas.

Begitu pun cinta. Bila seseorang yang pernah menyakiti menyatakan ingin merajut hubungan kembali, sedrastis apa pun perubahan yang terjadi pastinya tetap akan menyisakan sesak di hati. Akan ada kecanggungan dan yang paling fatal adalah trauma yang menyebabkan kekhawatiran dan hilangnya rasa kepercayaan pada akhirnya.

Walaupun rasa cinta masih tersisa dan besarnya niat untuk memperbaiki kondisi hubungan sangat kuat, tetap saja akan terkalahkan oleh kekhawatiran akan kejadian tak mengenakkan yang pernah terjadi. Ibarat merombak sebuah pakaian yang rusak dibandingkan dengan membuat pakaian baru, prosesnya akan lebih sulit. Begitu pun memperbaiki hubungan yang sempat retak, untuk mengembalikan suasana hati seperti awal pastinya akan butuh waktu dan kesabaran yang tidak sebentar.

Tapi kembali lagi ke individunya. Bahwa tidak semua isi kepala kita sama, dan tidak semua sifat orang sama pula. Jadi kembali kepada cinta lama itu adalah pilihan. Pilihan untuk hidup dengan dibayangi kekhawatiran dan krisis kepercayaan, atau lebih baik memulai hubungan baru yang akan lebih terasa nyaman. Tinggal bagaimana kita tidak jatuh pada lobang yang sama saja. Yak ... begitu!

***
 

Senin, 01 September 2014

Perjuangkan Cintamu

Wanita adalah makhluk SENSITIF (Plis underline and bold that word!)

Walopun nggak semua wanita juga sih, tapi 99,99% wanita adalah makhluk yang punya gengsi gede buat minta maaf duluan ke pasangannya walopun dia yang salah ... he. Banyak juga yang bilang kalo jalan pikiran wanita kadang susah dimengerti (padahal itu sebenarnya cuma pemikiran pasangan yang nggak peka). Laki-laki kadang berpikir segala sesuatunya harus dibicarakan secara gamblang tentang segala hal mengenai hubungan satu sama lain. Sedangkan si wanita menginginkan si laki-laki mempunyai inisiatif sendiri sebagai bukti seberapa besar rasa cinta yang dimiliki pasangannya tersebut.

Yap, sedikit kompleks memang. Sebenarnya kalau salah satu mau mengalah dan nggak pada ngegedein ego, segala sesuatu bisa diselesaikan baik-baik tanpa harus mengambil jalan pintas dan berpikir berpisah adalah keputusan terbaik karena merasa sudah tak ada solusi lagi. Sebenarnya ini hanya masalah seberapa besar kemauan salah satu pasangan untuk memperjuangkan cinta mereka agar hubungan tetap bertahan dalam keadaan apa pun. Tapi masalahnya ... jika hanya satu pihak yang terus mengalah dan berkorban serta selalu pengertian, sementara si pasangan selalu tak peduli dan meremehkan serta menganggap hubungan itu tak penting, so? apa lagi yang harus dipertahankan?

Memperjuangkan cinta bagi seorang wanita adalah bukti nyata keseriusan sebuah hubungan. Jika sang lelaki tak mempunyai kepekaan atau hanya omdo dan no acting, tak salah bila si wanita akan berpikir bahwa si lelaki tak serius dengan hubungan yang dijalani. Siapa sih yang nggak mau ngerasain cinta yang nyata? Nggak sekadar kata-kata tanpa bukti nyata. Kalau sudah begini ... kok saya jadi pengin nyanyiin lagunya Pink yang judulnya Most Girl ya ... hihihi.

Most girls want a man with the bling bling
Got my own thing, got the ching ching
I just want real love
Most girls want a man with the mean green
Don't wanna dance if he can't be
Everything that I dream of
A man that understands real love




Jumat, 29 Agustus 2014

Resensi Novel "Jika Cinta Dia"




Judul Buku            : Jika Cinta Dia
No. ISBN               : 9786027702295
Penulis                 : Koko Ferdie
Penerbit               : Eazy Book
Terbit                  : Juni 2014
Jumlah Halaman    : 180 Halaman
Jenis Cover          : Soft Cover
Kategori               : Novel Teenlit
Teks                     : Bahasa Indonesia
Harga Normal        : Rp. 35.000,-
 
 
 Memilih yang Pantas Untuk dipilih
 
Gea, remaja berpenampilan buruk rupa yang mempunyai impian besar untuk bisa menjadi kekasih Andro, cowok paling populer di sekolahnya. Sudah bisa ditebak, cinta Gea bertepuk sebelah tangan, Andro tak pernah merespons surat-surat rahasia yang sering Gea kirim untuk Andro. Secara tak sengaja, Gea bertemu Defan pada suatu insiden yang menyebabkan Gea menjadi sebal dengan seorang Defan yang ternyata adalah sahabat Andro. Ralat, mungkin lebih tepatnya mantan sahabat, karena Defan dan Andro ternyata sudah tak akur lagi sejak sahabat mereka yang bernama Devia meninggal dunia.
 
Saat pertama kali melihat Gea yang sangat 'apa adanya', Defan menemukan sesuatu yang berbeda di mata gadis 'buruk rupa' tersebut. Mengingatkannya pada mata Devia. Usut punya usut mengapa Andro dan Defan tak bersahabat lagi sejak Devia meningal, ternyata Defan dan Andro sama-sama menyukai Devia lebih dari sahabat, dan Andro menyalahkan Defan yang menjadi penyebab meninggalnya Devia.
 
Lalu apa hubungannya Gea dengan Devia?
 
Saat tiba-tiba Andro menerima cinta Gea yang pada awalnya karena taruhan. Gea terluka dan sakit hati pada Andro. Defan yang sejak awal tertarik pada sosok unik Gea, bermaksud membantu Gea untuk memberi pelajaran pada Andro dengan cara mengubah penampilan Gea melalui Andien, sahabat Defan yang cinta mati sama Defan. Dengan bantuan Andien, jadilah penampilan fisik Gea berubah total. Hingga Andro dan Defan takjub dan menemukan Gea menyerupai sosok Devia seutuhnya.
 
Perubahan drastis Gea ternyata membuat Andro jatuh cinta beneran pada Gea. Defan pun semakin tak mengerti dengan perasaan anehnya terhadap Gea yang disinyalir dia juga semakin cinta pada Gea. Akhirnya Gea bingung, pada siapa cintanya akan berlabuh, siapa yang akhirnya Gea pilih? Apakah Andro cinta matinya atau Defan yang dari awal bisa menerimanya apa adanya? 
***
 
Jika Cinta Dia adalah novel debutnya Koko Ferdie, teman satu grup saya di komunitas menulis KOBIMO (Kelas Online Bimbingan Menulis Novel). Salut buat Koko yang terus maju pantang mundur memperjuangkan naskah-naskahnya, nggak seperti saya yang masih ngegedein mood, hehe.
 
Ada beberapa kutipan yang sangat saya suka di novel bergenre teenlit ini. Jujur, sebenarnya saya kurang suka baca teenlit, apa karena faktor U saya juga kali ya (tapi novelnya keren kok, Ko. Nggak nyesel bacanya. Suer!)
 
Beberapa kutipan yang menurut saya lumayan keren :
 



 
Sayangnya, masih ada typo yang cukup fatal dan jauh banget pengertiannya dari kalimat yang dimaksud. It's oke ... bisa dimaklumi. Saya sempat merasa jenuh dengan alur ceritanya, sekali lagi ... entah karena emang saya nggak suka baca novel remaja atau emang saya lagi nggak mood pas baca (ngelirik PR bacaan yang masih bejibun ... he)
 
Tapiiiii, ada satu kutipan yang bikin saya 'JLEB' seketika. 
 
Belajarlah cara menangis yang benar. Jangan tangisi sesuatu yang nggak perlu ditangisi!   
-Defan, hal 101- 
 
Thankies, Ko. Aku akan selalu ingat kutipan yang satu ini (mulai belajar nggak cengeng lagi, hihi.)
 
So? Pesan moral yang bisa saya ambil dari novel ini, sebaiknya jangan menilai orang dari penampilan luarnya. Dan jangan mencintai seseorang karena bentuk fisiknya. Karena pada akhirnya yang pantas untuk dipilih adalah yang bisa menerima kita dengan segala kekurangan dengan apa adanya. Dan ingat! Bentuk fisik bisa mudah diubah, tapi sifat dan tabiat terkadang susah untuk diubah.
***   


    

Kamis, 28 Agustus 2014

Melepaskan yang Tak Perlu dipertahankan


Cinta itu seperti tanaman, perlu dipupuk dan dipelihara agar tetap subur sepanjang masa. Caranya simpel aja, jangan pernah menghilangkan kepekaan terhadap pasangan. Mengubah kebiasaan romantis yang awalnya selalu dilakukan, bisa jadi akan membuat pasangan merasa terabaikan. Perempuan adalah makhluk sensitif, seoptimis apa pun sifat seorang perempuan masih bisa terkalahkan oleh mood dan perubahan sikap pasangannya. Apalagi jika sang pasangan tak peka terhadap kebutuhan satu sama lain.

Menganggap enteng dan mengabaikan kebutuhan pasangan adalah hal sepele yang bisa berakibat fatal. Mungkin Anda bisa merasa aman karena beranggapan sudah memiliki dan merasa si dia sudah nggak akan kemana-mana lagi. Wait ... apa pun bisa terjadi, kan? Siapa yang bisa menduga isi hati manusia? Jangankan manusia, seekor hamster saja akan berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri kabur dari kandangnya jika sang majikan tak memberinya makan.

Coba renungkan, apa yang akan terjadi jika Anda tak mampu memenuhi kebutuhan pasangan. Pasti akan lebih fatal dari yang dilakukan oleh seekor hamster, bukan? Filosofi anarkisnya seekor hamster tadi sepatutnya bisa menjadi bahan renungan bagi manusia yang dianugerahi akal yang lebih cerdas dari pada hamster. Menjadi pembelajaran bahwa kepekaan untuk mempertahankan suatu hubungan sebenarnya hanya dengan satu langkah saja, penuhi semua kebutuhan pasangan Anda!

Jika Anda tak mampu bersikap adil dan menyepelekan kebutuhan pasangan, maka sebaiknya Anda berpikir ulang, apakah sebenarnya Anda sudah mampu untuk memiliki pasangan. Dan jika pada akhirnya pasangan Anda memutuskan untuk melepaskan diri dan tak mampu lagi mempertahankan hubungannya dengan Anda, sebaiknya introspeksi dirilah, karena tak semua orang mempunyai kepekaan yang sama, dan mempunyai cara yang berbeda untuk menyampaikan keinginannya.

Terkadang ucapan saja tak cukup untuk membuat seseorang mengerti dengan apa yang diinginkan. Terkadang dibutuhkan tindakan tegas untuk membuat jera. Untuk itulah peraturan dibuat, untuk itulah hukuman diberlakukan, untuk membuat jera.

Jadi, jangan salahkan pasangan Anda bila akhirnya dia memutuskan untuk melepaskan diri dan tak lagi mampu mempertahankan hubungan. Sebenarnya dia hanya perlu bertahan hidup untuk memenuhi kebutuhannya yang tak mampu Anda berikan.

Ternyata slogan 'Talk Less do More' itu memang sangat penting, perlu direnungkan oleh orang yang cuma bisa ngebacot gede tapi no acting!

***