Selasa, 23 Mei 2017

.



Aku, Kamu, Dia dan Impian Absurd Kita

            Ini konyol, amat sangat konyol. Hal paling mustahil yang kujalani dalam hidup saat ini adalah memenuhi permintaanmu untuk mengambil hati perempuan yang seharusnya menjadi rivalku. Katamu hanya itu satu-satunya cara agar kita dapat mewujudkan impian untuk dapat tetap hidup bersama. Agar kamu mendapat restu untuk memasukkanku ke dalam hidupmu tanpa perlu sembunyi lagi.
            Sepertinya kita mulai lelah sembunyi. Niatmu untuk membuka tabir hubungan kita yang absurd ini masih saja belum menemukan titik terang. Sesekali memang ada jalan tak terduga yang seolah sengaja Tuhan rancang untuk membuka tabir kita. Meski jalan itu dikarenakan kejadian tragis yang tak pernah kita rencanakan. Lambat laun muhrimmu itu tahu tentangku, tentang kita. Tapi masih saja kamu menjelma pecundang setiap kali dihadapkan untuk membuat keputusan.
            Kita sadar ini salah, tapi kita selalu punya alasan untuk melakukan pembenaran atas apa yang kita lakukan. Pembenaran versi kita yang pastinya semua orang menganggap salah. Kita punya dunia sendiri yang kita akui bahwa apa yang kita jalani adalah bukan suatu kesalahan. Itu sebabnya kita tak berhenti untuk bisa memperjuangkan kebersamaan ini, seberat apapun risikonya.
            Katamu kita tak harus mengkhawatirkan hal yang belum tentu terjadi. Yang penting kita bisa saling memahami bahwa kita saling membutuhkan. Tuhan pastinya punya alasan tersendiri mengapa kita dipertemukan, hal ini adalah kebetulan yang pastinya sudah dirancang Tuhan untuk kita. Lagi-lagi kita selalu melakukan pembenaran sendiri. Tak peduli kita telah menyakiti banyak hati. Kita sangat egois dan tak tahu diri.
            Aku akan pergi, suatu saat nanti. Bila kamu yang meminta aku untuk pergi dari hidupmu, bukan dia. Aku tidak akan menggubris apapun yang dia ucap terhadapku, beribu kali dia mengusirku dari hidupmu tapi jika kamu tak mau, aku akan tetap bertahan, seburuk apapun keadaan. Kamu yang memintaku untuk tetap ada di hidupmu, maka kamu pula yang harus memintaku untuk pergi, suatu saat nanti.
            Aku tahu apa inginmu terhadapku. Kamu ingin aku berhasil menjadi sosok yang bisa membanggakan dirimu. Baiklah, aku akan selalu berusaha menjadi apa yang kamu mau, meski perih menderaku tanpa kamu tahu. Mungkin kamu tahu, hanya saja kamu tak pernah menunjukkan kepedulianmu terhadapku. Itu sudah jadi sifatmu yang aku harus pahami itu.
            Belakangan ini pikiranku buntu, hingga jemariku tak pernah mampu merangkai untaian lagu. Otakku disibukkan oleh bagaimana cara agar kita bisa keluar dari permasalahan perekonomian yang merenggut banyak sekali waktu pertemuan kita. Kita disibukkan oleh pekerjaan yang menyita banyak waktu dan membuat kita sangat berjarak.  
            Kita sudah tak seperti dulu, banyak sekali hal yang tak pernah kita bisa selesaikan dengan baik, termasuk usaha kita untuk selalu bersatu. Impian kita yang menggunung tak pernah kita bahas lagi untuk mewujudkannya. Kamu disibukkan oleh urusanmu sendiri, aku merasa terabaikan. Kamu tak pernah merasa bersalah sudah membuatku susah, seolah menyakiti bagimu adalah hal yang biasa.
            Mungkin kamu tak pernah sadar terlalu banyak yang kutahu tentangmu yang tak pernah kamu ceritakan kepadaku. Bahkan ketika kamu berbohong pun aku selalu berusaha berpura-pura tak tahu. Aku sengaja membiarkan kamu terus membohongiku, aku anggap ini hukuman bagiku atas segala kesalahan yang kita buat selama ini.
            Aku terlalu cerdas bisa mengetahui banyak hal tentangmu, tapi terlalu bodoh untuk mampu mencerna dengan logika atas segala penderitaan yang kurasa. Bagiku kebahagiaanmu adalah segalanya, aku tak ingin menambah beban hidupmu. Biarlah waktu yang akan membuka mata hatimu kelak, mungkin setelah kamu sadar telah membunuhku perlahan dengan segala ketidakpastian yang kamu buat.
            Aku akan terus membiarkan keadaan ini berlarut hingga kamu memutuskan untuk menghentikan sandiwara yang kita buat. Saat kamu tersadar bahwa hidup memang harus memilih hanya salah satu saja yang harus kamu ambil, bukan lebih dari satu. Perempuanmu tak pernah menghendaki dan tak akan bisa menerima keinginan absurdmu itu. Hanya aku yang bisa memahami inginmu, hanya aku.
            Saat kamu terus memaksaku untuk menjadi apa yang kamu mau, saat itu pula aku semakin mengerti bahwa kamu tak pernah bersungguh memahamiku. Kamu hanya ingin aku yang memahamimu, kamu hanya ingin dimengerti tapi tak mau coba mengerti aku. Kamu dengan segala keegoisanmu yang tetap tak pernah mampu membuatku membencimu, kamu tahu itu. Tapi kamu tak pernah tahu, kalau aku tak pernah berhenti berusaha menjadi apa yang kamu mau.
***



Jumat, 14 April 2017

.



Tak Ada Kata dan Waktu yang Tepat untuk Mengakhiri Kita

            Aku selalu kehilangan aksara saat bertatap denganmu, semua kalimat yang sudah kususun rapi di kepala buyar seketika saat kau memelukku. Seakan tak pernah ada kata dan waktu yang tepat untukku bisa mengungkapkan semua yang berjejalan di kepala. Tentang kita yang semakin tak saling memahami satu sama lain belakangan ini.
            Entah aku yang tak mengerti kamu atau kamu yang tak memahami inginku. Kita tak pernah menemukan titik temu. Tapi saat kita bertemu, semua selalu baik-baik saja. Segala persoalan sirna seketika, seakan kita tak mempunyai permasalahan apa-apa. Padahal saat kamu tak bersamaku, isi kepalaku selalu berontak menuntut penjelasan dari semua pertanyaan yang belum kutemu jawabnya.
            Kita memang sudah membahas segala hal, tak ada yang terlewat. Aku selalu berusaha untuk tak memendam apapun yang kurasa. Bahkan beberapa waktu terakhir kita sering memperdebatkan segala hal. Dan ujung dari perdebatan selalu berakhir manis dan indah, seolah semua masalah telah terselesaikan dengan mudah.
            Aku sangat ingin sekali membuatmu marah. Di saat marah akan mudah melihat dan menilai watak asli seseorang. Itu yang sangat ingin aku lakukan terhadapmu. Aku ingin kita saling mengenal segala hal terburuk dalam diri kita, agar tak ada lagi sedikit pun rahasia yang tersisa. Memutuskan untuk hidup bersama berarti tak ada lagi yang namanya rahasia, itu menurutku. Kita pasti mempunyai pemikiran yang berbeda, tapi setidaknya kita bisa menyatukannya jika satu sama lain saling terbuka dan meniadakan rahasia.
             Sikapmu yang tak pernah mampu meredam prasangka burukku selalu menimbulkan asumsi negatif dalam otakku. Sekuat apapun usahaku untuk selalu berpikir positif atas semua lakumu tetap saja tak mampu meredam banyak tanya yang masih berkeliaran di kepala. Penjelasanmu bagiku hanyalah obat penenang untuk meredakan pikiran negatifku saja. Tapi chemistry kita sudah membentuk suatu ikatan bathin yang membuatku mampu berfirasat atas segala hal tentangmu, terutama saat kamu sedang berdusta.
            Aku selalu tahu saat kamu berusaha menutupi sesuatu. Alam bawah sadarku mempunyai radar yang kuat dan firasat yang selalu tepat. Memang sulit dijelaskan dengan logika, tapi aku selalu mampu membuktikan itu semua pada akhirnya. Semua firasatku selalu benar adanya, kamu memang tak pernah berusaha mengelak saat ucapku begitu telak.
            Tapi haruskah kejujuran itu terucap dengan keterpaksaan? Padahal akan sangat nyaman bila kita saling mengetahui keadaan satu sama lain sekecil apapun itu. Buat apa malu untuk mengeluh dan mengungkapkan hal terburuk sekali pun, untuk itulah kita hidup berpasangan. Mungkin kita hanyalah pelengkap hidup, bukan pasangan hidup. Tapi setidaknya kita bukan orang lain lagi, bukan?
            Aku tidak sedang mengulangi kesalahan yang sama dengan orang yang berbeda, bukan? Sangat ingin aku menemukan jawaban itu secepatnya, agar aku bisa menentukan sikap sebelum mengambil keputusan yang lebih fatal lagi dalam hidupku. Sudah waktunya untuk menyudahi pembenaran sendiri. Kita harus sejurus agar bisa terus, kita harus senalar agar tidak bubar, kita harus saling mengerti agar tidak ada yang tersakiti.
            “Kamu nggak mau, kan? Kalo aku sampe curhat di status tentang perasaan aku ke kamu? Komunikasi yang baik itu dasar utama untuk hubungan yang baik, Sayang.” ucapku.
            “Iya, aku paham. Tapi aku nggak suka dengan hubungan yang meniadakan privacy. Itu bentuk hubungan yang nggak dewasa.” sahutmu.
            Posesif sesungguhnya suatu bentuk tameng menjaga hubungan dari kecurangan. Posesif akan menimbulkan efek positif berupa kesetiaan. Dan posesif adalah bentuk rasa takut kehilangan. Cemburuku tidak buta, kan? Ada alasan kuat di balik itu. Sikapmu belakangan ini membuatku bertanya-tanya, menimbulkan rasa unsecure secara tiba-tiba. Ini bukan efek dari kondisi keterpurukan, aku tak pernah bermasalah dengan kondisi terburuk sekali pun.
            Aku tak pernah mengeluh dan selalu menerima keadaanmu apapun itu. Aku selalu bersyukur masih bisa berjuang bersamamu menghadapi segala kepahitan hidup. Yang menjadi pertanyaanku, aku berjuang untuk apa? Jika yang aku perjuangkan tak menunjukkan kepeduliannya. Apa ini hanya perasaanku saja? Efek dari asumsi negatif atas sikapmu yang ambigu? Sekali lagi, ini sebenarnya aku yang tak mengerti kamu atau kamu yang tidak juga memahami inginku?
            Segala hal harus dibicarakan, untuk hal yang sepele sekali pun. Kita terlalu banyak berbasa-basi dalam rangka pengalihan isu dan mengelak dari hal paling krusial. Satu-satunya cara untuk mengelak adalah dengan mengalihkan pembicaraan, selalu itu yang kamu lakukan saatku sedang membahas sesuatu yang tak kamu ingin aku tahu. Selalu begitu.
            Memutuskan untuk mempunyai pasangan berarti harus siap selalu berbagi dalam segala hal. Kita sudah terlalu jauh melangkah ke depan, sudah tak ada peluang untuk berbelok jalan selain meneruskan perjalanan ini bersama sampai tujuan. Walaupun kita masih belum menemukan alamat yang dituju, setidaknya kita sudah tak hilang arah. Kita sudah keluar dari labirin dan menemukan titik terang menuju jalan pulang.
            Semua kejadian terburuk sudah kita lalui, dan tak ada perubahan sikapmu untuk mengakhiri hubungan kita dalam kondisi apapun, kita selalu mampu bertahan. Aku semakin yakin kalau kita tidak lagi sedang main-main. Kamu memang bukan pengobral janji, tak pernah mengimingiku hal yang tak pasti. Sekali lagi ucapmu, ‘Ini hanya soal waktu.’
            Semua soal waktu. Kita hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengakhiri semua ketidakpastian kita. Hanya butuh waktu untuk mengakhiri kekacauan yang sudah kita buat dan membereskan semua dari awal. Kita hanya butuh komunikasi yang intens untuk saling menemukan apa yang kita inginkan. Dan pada akhirnya, kita memang saling membutuhkan.
***


Selasa, 28 Maret 2017

.

Saat Logika Berkata, Cinta saja Tidak Cukup untuk Kita

            Sepertinya batas kemampuanku untuk mengerti keadaan ini berada diambang punah. Kapasitasku untuk berjuang mulai melemah, saatku di hadapkan pada pilihan yang sulit, orang tua dan keluarga atau sesosok cinta. Masalahnya terletak pada cinta yang ambigu, cinta yang kuperjuangkan tanpa ada bayang-bayang kepastian masa depan. Cinta yang kujalani hanya untuk hari ini, esok entah bagaimana ceritanya nanti. Kadang hal itulah yang membuatku gamang.
            Sesosok cintaku pun sepertinya merasakan hal yang sama, yang kami jalani absurd semata. Walau sudah mengerahkan segala upaya untuk tetap bersama, sepertinya kepastian belum memihak dengan segera. Masih tentang apa yang bisa dijalani hari ini, entah esok dan lusa nanti. Masih saja dengan alur cerita yang belum ada ending-nya. Membuat hati bertanya-tanya, aku ini sedang memperjuangkan apa?
            Memang benar yang orang tua bilang, hidup itu tak cukup hanya dengan cinta. Sebesar apapun rasa cinta yang dimiliki sepasang manusia, seiring waktu akan terkikis juga bila tak dijaga oleh faktor penunjangnya. Sekeras apapun aku berusaha bertahan dengan kondisi terburuk, tetap saja logika selalu berteriak di dalam kepala. Kesabaran yang kupelihara perlahan berontak dan berusaha lari dariku.
            Sekuat apapun aku menjaga pada akhirnya tetap dihadapkan pada pilihan juga. Apakah sebaiknya aku tak harus memilih apapun dalam hidup? Bukankah dengan tidak memilih pun berarti aku telah menjatuhkan pilihan juga? Sesosok cinta atau keluarga? Aku tak mungkin mengabaikan keluarga, mereka yang mampu untuk selalu ada untukku. Sedangkan sesosok cintaku terlalu sibuk memperjuangkan hidupnya untuk keluar dari segala permasalahan hidup. Lalu aku harus apa? Terlalu banyak pertanyaan yang belum mampu kumenjawabnya.
            Tapi aku telah terperangkap dan sulit untuk membebaskan diri dari jerat cinta tanpa logika ini. Sekuat apapun usahaku untuk mengedepankan logika selalu saja kalah oleh tatap mata sesosok cinta. Mata itu selalu berusaha meyakinkanku kalau semuanya akan baik-baik saja. Pelukan sesosok cintaku selalu saja mampu membuatku bertahan dalam keadaan terburuk sekali pun. Genggaman erat sesosok cintaku selalu meluluhkan hati. Dan pada akhirnya menggoyahkan keyakinanku akan logika.
            Manusia tidak akan hidup dengan makan cinta! Selalu begitu logika berbicara, selalu ada tuntutan dari kebutuhan yang tak bisa dikesampingkan. Tapi bukankah sesosok cintaku selalu berusaha untuk membuat keadaan menjadi baik-baik saja? Aku hanya butuh sabar dan membantunya agar kami bisa membuat keadaan menjadi jauh lebih baik. Dia butuh dorongan semangat dan kekuatan dari cinta yang akan membuatnya merasa berarti.
            Namun, aku hanya ingin sekali saja mengeluh. Aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku tak sekuat yang dia kira. Sekuat apapun aku di depannya, aku tetaplah manusia biasa yang punya batas kemampuan dalam segala hal. Aku mulai hilang arah dan lelah. Aku butuh dia selalu ada untukku setiap waktu untuk menguatkanku, aku ingin sesosok cinta memberiku semangat untuk terus bertahan. Aku ingin terus mampu berusaha dan merasa semua akan baik-baik saja.
            Tapi lagi-lagi aku selalu kehilangan aksara setiap kali bertatap dengan sesosok cinta. Mendadak lemahku lenyap bila bersamanya, ada kekuatan yang menyerang dan memaksa mengenyahkan logika. Apakah ini wujud ketulusan cinta? Apakah cinta telah berhasil menguatkan kita? Sepertinya aku harus mengabaikan logika. Ya, kalau begitu abaikan saja logika. Dan tetap percaya bahwa cinta akan selalu menguatkan kita.
***

Minggu, 12 Februari 2017

.



Cinta tak Kasat Mata

            Aku ada, tapi tampak tiada. Seperti cinta kita, yang nyata namun tak kentara. Mungkin hanya sebatas ini Tuhan menginginkan, membuat skenario yang bergenre horor untuk hubungan kita. Bagaimana tidak horor, kita seperti hantu, menakutkan bagi siapa pun. Kita takut bila ada yang tahu, kita takut untuk mengakui pada dunia nyata bahwa kita ada. Kita takut bila keberadaan kita akan menghancurkan segalanya. Itulah sebabnya kita memilih untuk menjadi tak kasat mata.
            Kini aku mulai terbiasa menjadi sesuatu yang tiada. Walau aku selalu memastikan untuk selalu ada buat kamu saja. Kamu yang terlalu takut mengakui kita dengan berbagai dalih, kamu yang memaksa untuk membuatku tak kasat mata. Kamu yang terlalu kucinta, hingga membuatku rela menjelma bukan siapa-siapa.
            “Ini demi kebaikan kita,” ucapmu menenangkanku.
            Tebersit kekhawatiran di pikiranku, sampai kapan kita akan begini. Tapi prinsip hidupku yang hanya untuk hari ini selalu mengingatkan, bahwa tak dibutuhkan harapan dan masa depan untuk cinta yang tak kasat mata. Jalani saja, hanya entah yang bisa menjawab semua tanya. Tentang bagaimana dan akan seperti apa kisah kita selanjutnya. Menjadi episode tanpa ending, seperti sinetron kejar tayang yang tak tahu akan berakhir kapan.
***
            Impian itu masih menghantui, selalu menagih janji hati. Walau telah kubatalkan dan kubuang semua angan tentang masa depan, kamu tetap saja menjadi bayang. Terkadang hati sulit ditebak, entah apa maunya. Pikiran pun selalu berubah suasana, kadang bisa mengerti kadang tidak. Sesaat mampu pahami sesaat lagi sulit dimengerti.
            Mungkin ini hanya efek dari menjalani cinta yang tak kasat mata. Tapi belakangan ada kemajuan dari kisah kita. Kamu yang awalnya tak pernah mengucap kata cinta kini mulai membuka suara dengan lugasnya. Kesabaranku berhasil mengambil hatimu, ketulusanku sepertinya telah membuka matamu, menyadarkanmu bahwa aku tak sedang main-main menjalani kisah kita yang absurd ini.
            Aku rasa kita tidak membutuhkan banyak kata untuk buktikan kalau pada akhirnya kita telah saling mencinta. Kenyamanan yang kita rasakan satu sama lain cukup untuk menyadarkan bahwa kita memang saling membutuhkan pengukuhan ikatan. Itulah sebabnya, aku tak pernah berharap banyak atas apa yang telah kita jalani selama satu tahun ini. Hingga tercetus kata pernikahan yang kau niatkan atas hubungan kita.
            Aku pun tak dapat menjabarkan lewat kata-kata atas kebahagiaan yang kurasa melalui kata pernikahan. Niat tulusku atas hubungan ini hanyalah ingin memberi, memberi dan memberi. Tak peduli apa yang kuberi akan kembali atau tidak, itu sudah kuanggap sebagai ritual atas ketulusanku pada hubungan kita. Aku hanya merindukan satu hal, aku ingin tak hanya mengingatkanmu untuk menjaga kesehatan saat kamu sedang tak bersamaku. Lebih dari itu, aku ingin kamu jadi imamku.
            Magrib saat terdengar azan dari berbagai penjuru, menggugahku untuk memberanikan diri membisikkan keinginanku itu padamu.
            “Sayang, aku mau suatu saat nanti aku nggak hanya ngingetin kamu supaya jangan telat makan. Aku pengin banget ngingetin kamu supaya jangan telat untuk sholat.”
            Kamu tersenyum menanggapi ucapanku dan hatiku terasa lega.  Aku sungguh merindukan suasana religi di rumah kita. Satu hal yang tertinggal dari tanya hatiku, sangat ingin kutahu apakah kamu sudah merasakan ‘home’ saat bersamaku? Tapi tersadar akan kisah kita yang tak kasat mata, sepertinya aku harus lebih tahu diri.
            Yang pasti inginku tak muluk, aku hanya tak mau gagal untuk hal yang sama dengan orang yang berbeda. Aku paham, aku harus lebih banyak mengalah dan mengerti situasi semaksimal mungkin. Jangan sampai aku merasakan murkamu atas kelalaianku untuk hal yang tak kamu sukai. Aku harus kuat menahan ego untuk tak memaksakan kehendakku atas apa-apa yang aku ingini dan atas apa yang tak kusukai darimu.
            Walau sebenarnya masih banyak sekali tanya yang berkecamuk di kepala. Bukan karena masih tak percaya pada hubungan kita, tapi sikapmu yang terkadang ambigu, membuatku kaku. Seolah masih ada yang tak kamu ingin aku tahu tentang hidupmu, masih banyak yang tersembunyi entah apa itu. Aku hanya perlu meyakinkan diri bahwa kamu tak sedang main-main saja denganku saat ini.
            Menikah dengan kamu, masih menyisakan satu pertanyaan besar di kepalaku. Bisakah kita menikah dengan masih menyimpan banyak rahasia di kehidupan kita? Bisakah kita menikah dengan latar sandiwara yang masih menyimpan banyak tanya? Aku ingin pernikahan kita berjalan normal walaupun hubungan kita sangat abnormal.
            Sebenarnya terlalu banyak hal yang ingin kuungkap. Tapi bibir selalu kelu setiapku bertatap denganmu. Tak ingin membuatmu tersinggung dan merasa tak nyaman atas banyaknya pertanyaanku. Aku terlalu khawatir membuatmu berpaling dariku, hanya itu. Aku mungkin belum mampu menjadi apa yang kamu mau, tapi aku selalu berusaha menunjukkan padamu akan kesungguhanku.
            Ini bukan soal materi dan keterpurukan, tapi masalah kenyamanan akan kepercayaan untuk dapat terbuka satu sama lain dalam segala hal. Bagaimana bisa kamu masih saja merasa tak nyaman menyimpan privacy saat bersamaku, seolah ada rahasia besar tersimpan dalam handphone dan tas mu yang selalu kamu jauhkan dariku.
            Menikah berarti sepenuh hati kita bisa berbagi dalam segala hal. Membicarakan apa-apa yang terasa mengganjal, jika masih ada yang terpendam dan kita saling sungkan, sungguh sebenarnya kita belum siap untuk disatukan dalam ikatan pernikahan. Kita masih harus mendalami lagi satu sama lain, agar hati sungguh yakin dengan keputusan yang bukan main-main.
***
            Tampaknya Tuhan mengijabah keinginanku beberapa waktu lalu. Kamu menunjukkan perubahan di luar dugaan. Aku semakin yakin dengan pilihan hatiku, kamu imam yang aku inginkan untuk bisa menyempurnakan hidupku. Doaku terkabul, kini aku tak sungkan mengingatkanmu lagi untuk jangan telat sholat, tidak hanya mengingatkan jangan telat makan.
            Sungguh, aku semakin nyaman dengan kemajuan hubungan kita. Dari hal kecil yang mampu membahagiakan senantiasa. Memang belum lengkap sempurna, tapi setidaknya kita masih mengingat Tuhan dan takut akan dosa. Kita memang belum bisa memastikan arah dan ending dari kisah kita yang tak kasat mata. Tapi aku yakin, bersamamu hidupku akan selalu baik-baik saja. Karena cinta telah menemukan kita, dan kebahagiaan kita pun akan selalu menemukan jalannya.
***