Jumat, 29 Agustus 2014

Resensi Novel "Jika Cinta Dia"




Judul Buku            : Jika Cinta Dia
No. ISBN               : 9786027702295
Penulis                 : Koko Ferdie
Penerbit               : Eazy Book
Terbit                  : Juni 2014
Jumlah Halaman    : 180 Halaman
Jenis Cover          : Soft Cover
Kategori               : Novel Teenlit
Teks                     : Bahasa Indonesia
Harga Normal        : Rp. 35.000,-
 
 
 Memilih yang Pantas Untuk dipilih
 
Gea, remaja berpenampilan buruk rupa yang mempunyai impian besar untuk bisa menjadi kekasih Andro, cowok paling populer di sekolahnya. Sudah bisa ditebak, cinta Gea bertepuk sebelah tangan, Andro tak pernah merespons surat-surat rahasia yang sering Gea kirim untuk Andro. Secara tak sengaja, Gea bertemu Defan pada suatu insiden yang menyebabkan Gea menjadi sebal dengan seorang Defan yang ternyata adalah sahabat Andro. Ralat, mungkin lebih tepatnya mantan sahabat, karena Defan dan Andro ternyata sudah tak akur lagi sejak sahabat mereka yang bernama Devia meninggal dunia.
 
Saat pertama kali melihat Gea yang sangat 'apa adanya', Defan menemukan sesuatu yang berbeda di mata gadis 'buruk rupa' tersebut. Mengingatkannya pada mata Devia. Usut punya usut mengapa Andro dan Defan tak bersahabat lagi sejak Devia meningal, ternyata Defan dan Andro sama-sama menyukai Devia lebih dari sahabat, dan Andro menyalahkan Defan yang menjadi penyebab meninggalnya Devia.
 
Lalu apa hubungannya Gea dengan Devia?
 
Saat tiba-tiba Andro menerima cinta Gea yang pada awalnya karena taruhan. Gea terluka dan sakit hati pada Andro. Defan yang sejak awal tertarik pada sosok unik Gea, bermaksud membantu Gea untuk memberi pelajaran pada Andro dengan cara mengubah penampilan Gea melalui Andien, sahabat Defan yang cinta mati sama Defan. Dengan bantuan Andien, jadilah penampilan fisik Gea berubah total. Hingga Andro dan Defan takjub dan menemukan Gea menyerupai sosok Devia seutuhnya.
 
Perubahan drastis Gea ternyata membuat Andro jatuh cinta beneran pada Gea. Defan pun semakin tak mengerti dengan perasaan anehnya terhadap Gea yang disinyalir dia juga semakin cinta pada Gea. Akhirnya Gea bingung, pada siapa cintanya akan berlabuh, siapa yang akhirnya Gea pilih? Apakah Andro cinta matinya atau Defan yang dari awal bisa menerimanya apa adanya? 
***
 
Jika Cinta Dia adalah novel debutnya Koko Ferdie, teman satu grup saya di komunitas menulis KOBIMO (Kelas Online Bimbingan Menulis Novel). Salut buat Koko yang terus maju pantang mundur memperjuangkan naskah-naskahnya, nggak seperti saya yang masih ngegedein mood, hehe.
 
Ada beberapa kutipan yang sangat saya suka di novel bergenre teenlit ini. Jujur, sebenarnya saya kurang suka baca teenlit, apa karena faktor U saya juga kali ya (tapi novelnya keren kok, Ko. Nggak nyesel bacanya. Suer!)
 
Beberapa kutipan yang menurut saya lumayan keren :
 



 
Sayangnya, masih ada typo yang cukup fatal dan jauh banget pengertiannya dari kalimat yang dimaksud. It's oke ... bisa dimaklumi. Saya sempat merasa jenuh dengan alur ceritanya, sekali lagi ... entah karena emang saya nggak suka baca novel remaja atau emang saya lagi nggak mood pas baca (ngelirik PR bacaan yang masih bejibun ... he)
 
Tapiiiii, ada satu kutipan yang bikin saya 'JLEB' seketika. 
 
Belajarlah cara menangis yang benar. Jangan tangisi sesuatu yang nggak perlu ditangisi!   
-Defan, hal 101- 
 
Thankies, Ko. Aku akan selalu ingat kutipan yang satu ini (mulai belajar nggak cengeng lagi, hihi.)
 
So? Pesan moral yang bisa saya ambil dari novel ini, sebaiknya jangan menilai orang dari penampilan luarnya. Dan jangan mencintai seseorang karena bentuk fisiknya. Karena pada akhirnya yang pantas untuk dipilih adalah yang bisa menerima kita dengan segala kekurangan dengan apa adanya. Dan ingat! Bentuk fisik bisa mudah diubah, tapi sifat dan tabiat terkadang susah untuk diubah.
***   


    

Kamis, 28 Agustus 2014

Melepaskan yang Tak Perlu dipertahankan


Cinta itu seperti tanaman, perlu dipupuk dan dipelihara agar tetap subur sepanjang masa. Caranya simpel aja, jangan pernah menghilangkan kepekaan terhadap pasangan. Mengubah kebiasaan romantis yang awalnya selalu dilakukan, bisa jadi akan membuat pasangan merasa terabaikan. Perempuan adalah makhluk sensitif, seoptimis apa pun sifat seorang perempuan masih bisa terkalahkan oleh mood dan perubahan sikap pasangannya. Apalagi jika sang pasangan tak peka terhadap kebutuhan satu sama lain.

Menganggap enteng dan mengabaikan kebutuhan pasangan adalah hal sepele yang bisa berakibat fatal. Mungkin Anda bisa merasa aman karena beranggapan sudah memiliki dan merasa si dia sudah nggak akan kemana-mana lagi. Wait ... apa pun bisa terjadi, kan? Siapa yang bisa menduga isi hati manusia? Jangankan manusia, seekor hamster saja akan berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri kabur dari kandangnya jika sang majikan tak memberinya makan.

Coba renungkan, apa yang akan terjadi jika Anda tak mampu memenuhi kebutuhan pasangan. Pasti akan lebih fatal dari yang dilakukan oleh seekor hamster, bukan? Filosofi anarkisnya seekor hamster tadi sepatutnya bisa menjadi bahan renungan bagi manusia yang dianugerahi akal yang lebih cerdas dari pada hamster. Menjadi pembelajaran bahwa kepekaan untuk mempertahankan suatu hubungan sebenarnya hanya dengan satu langkah saja, penuhi semua kebutuhan pasangan Anda!

Jika Anda tak mampu bersikap adil dan menyepelekan kebutuhan pasangan, maka sebaiknya Anda berpikir ulang, apakah sebenarnya Anda sudah mampu untuk memiliki pasangan. Dan jika pada akhirnya pasangan Anda memutuskan untuk melepaskan diri dan tak mampu lagi mempertahankan hubungannya dengan Anda, sebaiknya introspeksi dirilah, karena tak semua orang mempunyai kepekaan yang sama, dan mempunyai cara yang berbeda untuk menyampaikan keinginannya.

Terkadang ucapan saja tak cukup untuk membuat seseorang mengerti dengan apa yang diinginkan. Terkadang dibutuhkan tindakan tegas untuk membuat jera. Untuk itulah peraturan dibuat, untuk itulah hukuman diberlakukan, untuk membuat jera.

Jadi, jangan salahkan pasangan Anda bila akhirnya dia memutuskan untuk melepaskan diri dan tak lagi mampu mempertahankan hubungan. Sebenarnya dia hanya perlu bertahan hidup untuk memenuhi kebutuhannya yang tak mampu Anda berikan.

Ternyata slogan 'Talk Less do More' itu memang sangat penting, perlu direnungkan oleh orang yang cuma bisa ngebacot gede tapi no acting!

***


Selasa, 26 Agustus 2014

Terkadang Kebahagiaan Adalah Tentang Kesedihan Orang Lain, pun Sebaliknya.

Bahagia di atas penderitaan orang lain, tertawa di atas tangisan orang lain. Itu adalah kalimat klise yang sering kita jumpai dalam hidup. Dan seringnya kita tak sadar bahwa keadaan seperti itu berbanding lurus dengan hukum alam yang saling berpasangan. Bahwa setiap momen yang terjadi dalam hidup, memang selalu ada timbal baliknya.

Dan istilah bahagia di atas penderitaan orang lain, tentunya suatu keadaan yang bukan untuk sebuah hubungan pasangan yang saling mencinta. Jika sepasang saling mencinta, pastinya akan sama-sama merasakan bahagia. Jika saling cinta, susah senang, menangis tertawa sepatutnya dilakukan dan dirasakan bersama. Tapi jika hanya sebelah pihak yang merasakan satu kondisi, maka bisa disebut itu adalah hubungan yang sangat tidak penting untuk dipertahankan.

Melepaskan sebenarnya adalah bentuk dari ketulusan mencinta. Bila pasangan sudah merasa tak nyaman dan bersikeras untuk menyudahi hubungan, apa lagi yang mesti dipertahankan? Semakin mengekang maka akan semakin menyiksa batin pasangan. Apa itu yang disebut cinta?

Bila seseorang sudah tak peduli lagi dengan kebutuhan pasangannya, tak lagi terjadi saling take and give, bisa dipastikan telah hilanglah rasa cinta dan sayang. Tapi bila nekat dipertahankan, dan bila salah satu atau keduanya tak kuat iman, bisa ditebak yang akan terjadi adalah pelarian.

Mempertahankan suatu hubungan karena dasar pengorbanan sebelah pihak tidak bisa dikatakan suatu hubungan yang sehat. Bahagia itu pilihan, pilihan untuk berani mengesampingkan sebesar apa pun risiko untuk dapat meraih kebahagiaan yang diinginkan.

***

 


Selasa, 05 Agustus 2014

Awet Rajet

Pernah dengar istilah "Awet Rajet"? Mempertahankan rumah tangga yang penuh dengan perselisihan dan ketidakcocokan. Biasanya alasan bertahan hanya satu, anak! Tapi bila sudah berusaha mempertahankan mati-matian, tapi tak kunjung menemukan solusi untuk menciptakan pernikahan yang sakinah mawadah warahmah, apa lagi yang harus dipertahankan?

Untuk hal paling kecil, pasangan tak lagi bisa diajak kerja sama. Pasangan tak lagi bisa menjadi tempat berbagi yang nyaman. Pasangan tak lagi menjadi sosok yang diinginkan, itu yang paling fatal. Masalahnya mungkin bukan karena adanya orang ketiga. Bisa jadi karena merasa hidup sangat tak berarti bila masih mempertahankan pernikahan yang tak mendatangkan keberkahan dalam hidup. Lebih banyak mudarat daripada manfaat, apa masih pantas dipertahankan?

Kebanyakan orang awam yang mampu bertahan dalam pernikahan yang tak membuahkan kebahagiaan, semata karena memegang teguh idealisme monogami. Berusaha menutupi rasa sakit dan mati-matian menjelma sosok munafik yang selalu memakai topeng dan hidup dalam kamuflase bullshit. Patut diacungkan jempol sosok yang seperti itu, tapi dengan catatan ... dia adalah sosok setia! Setia yang benar-benar bertahan dengan kebobrokan pernikahan tanpa berusaha mencari pelarian di belakang pasangan.

Di zaman sekarang, masih adakah sosok seperti itu? Hmmm ... kalau ada, dia adalah makhluk Tuhan paling sempurna. Yang mempunyai jiwa besar dan memahami ilmu ikhlas dengan sebenar-benarnya.

Pada dasarnya menjalani pernikahan yang awet rajet merupakan pilihan. Pilihan untuk mampu menderita dan hidup dalam tekanan batin tiada habisnya. Ya ... hidup itu memang pilihan, walau tak memilih pun juga adalah sebuah pilihan. Tapi pada akhirnya, proses hidup tetap harus memilih.

***


"Hari berganti, waktu bergulir, tanpa menunggu kesiapanmu menjalani takdir." 
—Poet—

Senin, 30 Juni 2014

Resensi Novel "LOVE, Interrupted"



Judul Buku              : Love, Interrupted
No. ISBN                 : 9786020304236
Penulis                    : Maya Lestari GF
Penerbit                  : Gramedia Pustaka Utama
Terbit                      : 15 Mei 2014
Jumlah Halaman        : 272 Halaman
Jenis Cover             : Soft Cover
Kategori                  : Novel Amore
Teks                        : Bahasa Indonesia
Harga Normal           : Rp. 55.000,-


Memperjuangkan Cinta Buah dari Perjodohan


Bagaimana rasanya jika harus menikah dengan lelaki yang masih memiliki kekasih? Itulah yang dialami Aisha, ketika ia memutuskan untuk menerima perjodohannya dengan Axel, lelaki yang masih sangat mencintai Amelie. Axel dijodohkan dengan Aisha karena orang tuanya tidak menyukai Amelie. Sebelum perjodohan itu terjadi, antara Aisha dan Axel ternyata membuat suatu kesepakatan pranikah tanpa sepengetahuan orang tua Axel. Aisha tahu pasti, bukan hal yang mudah menerima kenyataan harus menikah dengan lelaki yang bahkan tak menginginkannya. Apalagi Amelie adalah wanita yang jauh lebih baik secara fisik dan finansial dibanding dirinya. Tapi baik Aisha maupun Axel tidak bisa mengelak dari perjodohan itu. Aisha memutuskan untuk menjalaninya karena satu hal, ia sangat mencintai Axel.

Menikah, tinggal seatap namun tidur di kamar terpisah. Itu yang Aisha dan Axel jalani selama beberapa bulan pernikahan mereka. Axel yang menjadikan pernikahannya hanya sebagai kedok, membuat kesepakatan bahwa sandiwara pernikahannya dengan Aisha hanya akan berlangsung selama satu tahun. Setelah itu mereka akan bercerai dan Axel bisa menikahi Amelie, itulah yang sudah Axel rencanakan. Aisha sempat terpukul dengan kondisi sandiwara pernikahan yang ia jalani. Di mana ia harus berpura-pura di hadapan keluarga besar mereka kalau pernikahannya baik-baik saja, namun mendapat tekanan atas sikap Axel yang tidak memedulikan keberadaannya sebagai istri yang sah.

Di tengah keputus asaan atas pernikahan semunya, Aisha memutuskan untuk memperjuangkan cintanya kepada Axel. Dengan segala trik dan berbagai cara, Aisha berusaha membuat Axel jatuh cinta padanya. Mulai dari menarik perhatian Axel dengan berusaha menjadi istri yang baik, hingga menunjukkan kepada Axel akan kelebihan-kelebihan yang ia miliki sebagai wanita smart dan mandiri. Aisha sangat pintar mengambil simpati keluarga besar Axel sampai ke sahabat-sahabat bahkan karyawan di kantor Axel. Tapi tetap saja tak mudah menaklukan hati Axel yang sangat mencintai Amelie, dan mereka masih berhubungan dengan sepengetahuan Aisha sendiri. Namun Aisha tak menyerah, ia terus berusaha.

Apakah Aisha mampu membuat Axel memilih untuk meneruskan pernikahannya, lalu meninggalkan Amelie yang sudah enam tahun menjadi bagian dari hidup Axel? Berhasilkan Aisha membuat Axel jatuh cinta padanya?

***

            Novel ini lebih pantas dikatakan sebagai kamus penakluk hati lelaki. Maya Lestari GF membeberkan semua rahasia yang harus dimiliki perempuan yang ingin membuat pasangannya terikat baik lahir maupun batin. Dengan anggunnya, penulis mampu memikat hati pembaca, khususnya para wanita, jika ingin menaklukan kerasnya hati seorang pria. 

Novel yang sarat muatan lokalitas daerah Sumatera Barat ini, menyuguhkan sisi lain novel yang tidak hanya melulu menyuguhkan tentang kisah percintaan klise. Penulis dengan cerdasnya membuat terobosan dengan menyelipkan ilmu-ilmu dan keahlian yang patut dimiliki oleh para perempuan, khususnya yang akan atau sudah menikah, agar mampu mengikat hati pasangannya. Mulai dari keahlian memasak, membuat kerajinan tangan sampai berkarier dan wirausaha yang digambarkan pada tokoh Aisha. Nasihat yang tersirat sangat tidak menggurui pembaca. Belum lagi tentang pelajaran dan tips kesehatan yang sederhana namun ternyata sangat bermanfaat untuk diterapkan sehari-hari.

Karena novel ini adalah naskah finalis lomba novel amore yang diselenggarakan penerbit Gramedia, isinya sudah tidak diragukan lagi kualitasnya. Sangat inspiratif, edukatif dan mampu mengaduk-aduk emosi saya.

***

Kamis, 19 Juni 2014

Si Penggoda dan yang Tergoda, Siapa yang Salah?




Ada yang suka nonton ‘Catatan Hati Seorang Istri’ di RCTI? Kalau bukan sinetron yang diadaptasi dari bukunya Bunda Asma Nadia, mungkin aku nggak begitu tertarik buat ngikutin tayangannya. Tapi berhubung Bunda Asma Nadia adalah salah satu penulis favoritku, jadi aku merasa ‘wajib’ nonton. (Duh, kenapa nggak dibikin versi layar lebar aja sih, Bun?)  

Catatan Hati seorang Istri ini kalau dalam versi bukunya merupakan kumpulan kisah inspiratif. Sayang sekali masih ada di daftar antrian buku yang wajib saya beli, jadi belum bisa meresensi, hihihi. (Makanya nonton filmnya aja dulu … he.)

Tapi kali ini saya nggak bermaksud mengupas tentang buku atau film Catatan Hati Seorang Istri. Anggap aja cuma prolog buat gambaran dari apa yang mau saya tulis kali ini. Masih ada hubungannya kok, soalnya ini berkaitan dengan hubungan sepasang suami istri yang tengah diuji kesetiaannya.

Dalam suatu hubungan, apa pun itu, pasti nggak lepas dari yang namanya masalah, itu hal yang wajar. Masalah yang timbul bisa jadi dari pihak istri atau suami. Untuk masalah kesetiaan, pasti ada yang namanya pihak ketiga, sebut saja si penggoda. Nah, masalahnya … apakah akan terjadi masalah bila si penggoda tak berhasil menggoda? Itu tandanya tak ada yang tergoda, kan? Kalau ada? Berarti siapa yang salah dong? Apakah si penggoda? Toh kalau yang digoda nggak tergoda juga nggak akan terjadi yang namanya perselingkuhan, bukan?

Jangan bingung dulu, intinya gini. Siapapun pihak yang merasa dirugikan dengan hadirnya pihak ketiga kalau menurut saya bukanlah hal yang pantas untuk diributkan. Justru itu seharusnya jadi bahan introspeksi diri. Kok bisa jadi begini sih? Kenapa? Apa yang salah? Sebab bermula dari akibat lhoo, nggak mungkin ada asap kalo nggak ada api. Jadi intinya, untuk menghadapi pasangan yang tergoda nggak perlu pake emosi. Berkaca aja pada diri sendiri. Apa yang salah dalam diri sehingga tidak bisa mengikat hati pasangan, sampai-sampai pasangan bisa berpaling ke lain hati (baca: tergoda). Kalau masalah tabiat mungkin itu cuma kambing hitam dan alasan untuk menghibur diri sendiri untuk menutupi rasa malu dan nggak mau dipersalahkan (baca: membela diri).

Manusiawi sekali kalau khilaf bisa terjadi. Tapi si penggoda nggak akan berhasil kalau yang digoda punya iman yang kuat dan keteguhan hati untuk nggak pindah ke lain hati. Dalam hal ini saya nggak memihak kubu si penggoda atau yang tergoda. Saya berada di tengah-tengah sajalah. Nggak mau nyalahin siapa-siapa. Yang pasti cuma butuh antisipasi dini agar jangan sampai mengalami. Jangan jadikan khilaf sebagai tameng mengatasnamakan ‘hanya manusia biasa’. Sebab bila sudah khilaf berkepanjangan akan sulit untuk dihilangkan. 

Siapa yang bisa melarang orang jatuh cinta? Siapa yang bisa menahan hati bila sudah tak merasa nyaman dan ingin pergi? Kesetiaan terletak pada kenyamanan dan terpenuhinya kebutuhan, jadi bila pasangan Anda sudah tak setia, berarti dia sudah nggak nyaman lagi dengan Anda, dan ada sesuatu yang nggak terpenuhi kebutuhannya. Bukannya udah nggak cinta atau hilang rasa sayang, faktanya pasangan yang berselingkuh masih bisa mempertahankan hubungan dengan pihak pertama kok. (Survey membuktikan lhoo.)

Khilaf dan musibah nggak akan terjadi bila mampu mawas diri. Cinta itu ibarat tumbuhan, perlu dijaga, dirawat, dipelihara dengan baik. Akan tumbuh subur bila selalu diberi asupan bergizi. Intinya dalam sebuah hubungan yang dibutuhkan hanyalah take and give, itu aja kok. Tabiat jelek, akhlak bejat dan sifat yang berkarat masih bisa diperbaiki lho, asal ya itu tadi, terpenuhi semua kebutuhannya. Jadi bukan alasan kalo pihak pertama sudah setia mati-matian kok masih bisa tergoda juga? Sudah tahu jawabannya, kan?


Minggu, 15 Juni 2014

Award neh!



Udah lama juga nggak seru-seruan ngerjain award. Kali ini dapat colekan dari Mbak Nunu, jadi kudu ngerjain tugas biar nggak di-black list dari Storycake … #eh? *sungkem dulu, Mbak.

Sebelumnya udah pernah dapat award sekali, tapi yang ini isinya pasti beda.

Langsung aja deh, saya kerjain tugas yang pertama :

11 Hal tentang diriku :

1.      Biar kate udeh kepale tige, ane masih tetep kece kayak abege *uhuk
2.      Selalu merasa jadi seorang bunda paling sempurna dan bahagia di dunia dengan sepasang ‘malaikat mungil’ yang keluar dengan normal dari rahimnya *tssaaaahhh
3.      Masih eksis nulis nulis nuliiisssss
4.      Masih doyan baca novel ampe mabok
5.      Suka hunting GA dan event berhadiah novel *buat ngurangin bajet beli buku, hihi
6.      Udah nggak suka narsis-narsisan lagi *malu sama umur
7.      Anti nonton berita politik, korupsi dan kriminal di tipi
8.      Nggak pernah berhenti belajar tentang APAPUN, yang baik-baik tentunya
9.      Tetap selalu optimis dalam segala hal
10.   Lagi hobi jadi silent readers di sosmed … eh, kadang-kadang aja dink :D
11.  Selalu berharap dapat tiket, transportasi dan akomodasi freeee setiap tahun di bulan Oktober buat hadirin UWRF  #Ya Allah, semoga Mrs. Janet DeNeefe nyasar ke blog ini dan baca postingan ini, amiiinnn.

Saatnya menjalankan tugas kedua, menjawab 11 pertanyaan dari Mbak Nunu :

1.      Sunset or sunrise? Kenapa? Aku pilih Sunset karena selalu merasa ada harapan dan semangat baru kalo menyambut pagi.
2.      Jika uangmu cukup untuk membeli 1 barang, bag or shoes? Kenapa? Bag, nggak terlalu suka pake sepatu sih, hihi.
3.      Novel fiksi atau novel inspiratif? Kenapa? Wah, pilihan sulit nih.. Kalo bisa ya novel fiksi yang inspiratif dehh #nawar
4.      Buku atau e-book? Kenapa? Buku dong, nggak ribet, nggak khawatir mati lampu dan kehabisan baterai, bolak-balikin halamannya nggak pake loading … he.
5.      Tahu goreng atau tempe goreng? Kenapa? Tahu goreng, nggak doyan tempe kecuali kalo lagi kelaperan dan nggak ada makanan lain yang bisa dimakan.
6.      Mencintai atau dicintai? Kenapa? Dicintai, kalo mencintai nggak pake ‘saling’ … siap-siap makan ate. Kalo dicintai tapi nggak cinta, masih bisa belajar, biar waktu yang bicara … #gubraaagg
7.      Rumah atau mobil? Kenapa? Mobil, lebih fleksibel (baca: nggak betah di rumah)
8.      Makan atau minum? Kenapa? Minum, bisa ngilangin lapar, tapi kalo makan nggak bisa ngilangin haus, kan?
9.      Tidak mandi atau tidak make up? Tidak make up, wong nggak pernah make up-an kok, hihihi
10.  Hatta Radjasa atau Jusuf Kalla? Waduhh, pertanyaan 10 ama 11 menjebak neh, hahaha
11.  Prabowo atau Jokowi? Hmmmm, kasih tau nggak yaaaa

Sampailah pada tugas ketiga. Saya harus meneruskan award ini kepada 11 orang teman blogger lainnya. Dan yang terpilih adalaaahhh … tadaaaaa:
  1. Sabariah 
  2. Wangga 
  3. Rey 
  4. Kasihelia 
  5.  Una
  6. Azzah 
  7. Sherly
  8. Hardy Zhu
  9. Kamal Agusta 
  10. Koko
  11. Qempor 

Untuk ke-11 teman diatas yang mendapat award estafet ini, memiliki tugas meneruskan award ini ke-11 teman lainnya dengan cara yang sama seperti yang saya lakukan. Atau baca rulenya dibawah ini ya!

  1. Tulis 11 hal mengenai diri sendiri.
  2. Jawab pertanyaan yang saya ajukan.
  3. Tentuin 11 orang untuk dapat award ini dan link-kan mereka ke post-mu
  4. Bikin 11 pertanyaan baru untuk orang yang ingin kamu tag
  5. Pergi ke halaman blog mereka dan kasih tau kalo mereka dapat award ini
  6. Gak boleh Nge-tag Award balik ke saya yaaaa :)

Sekarang tinggal tugas keempat, berikut 11 pertanyaan dari saya yang harus kalian jawab, sertakan alasannya yaaaa.

  1. Pilih novel atau cerpen?
  2. Mending ngeblog ato baca buku?
  3. Suka jenis bacaan apa?
  4. Apa hewan kesayanganmu?
  5. Suka dingin atau panas?
  6. Pilih siang ato malam?
  7. Enakan di gunung ato laut?
  8. Bagusan hitam ato putih?
  9. Suka kue kering ato basah?
  10. Mending nonton film di tv ato beli vcd bajakan?
  11. Kalau lagi travelling suka hunting kuliner ato aksesoris?

Done!

Selesai sudahhh, buat kesebelas teman yang nerusin award estafet ini, kalian layak dapat ini: