Senin, 30 Mei 2016

My Dreams Come True



        Di tahun 2013, aku pernah membuat buku mimpi. Salah satu isinya adalah aku mempunyai keinginan untuk berkunjung ke kota Surabaya dan Malang untuk rafting di sana. Hingga tahun 2016 ini, impian untuk rafting belum juga kesampaian. Tapi aku selalu percaya, jika aku mempunyai keinginan dan impian, aku cari gambarnya dan aku tuliskan di buku mimpiku itu. Walaupun entah kapan waktunya akan terealisasi, aku tetap yakin mimpi-mimpiku suatu saat nanti bisa terwujud dengan jalan yang nggak disangka-sangka.
            Amazing, tanggal 26 Mei 2016 ini, salah satu impianku itu akhirnya bisa terwujud. Ke kota Surabaya dan Malang lalu rafting di sana. Persis seperti apa yang kutulis di buku mimpiku itu, aku pun berjumpa dengan salah satu penulis teman sosial mediaku. Impianku untuk bisa rafting terwujud secara nggak langsung melalui Poet, my sweetest soulmate. Poet memberikanku kado ulang tahun terindah di usiaku yang ke-35 di tahun ini.
            Terbang jam 5 subuh dari bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Juanda, Surabaya. Ini pertemuan kelima yang sebelumnya kami jadwalkan akan berlangsung di Ubud bulan Oktober nanti, ternyata perjumpaan kelima ini terealisasi lebih cepat dari perkiraan.


 At Bandara Juanda, Surabaya
              Dari Surabaya, kami langsung menuju Kota Malang. Sarapan nasi krawu di mobil saking mengejar waktu buat rafting, hihihi (piknik yang dikejar waktu). 
             Sampai di Malang langsung menuju Kampung Lumbung tempat penginapan. Pemandangannya fresh banget dahh. Cuma udaranya dingin banget, hipotermiaku mesti deh kumat-kumatan, hiks.

 Kampung Lumbung

                Setelah cek in, langsung cuss ke Kaliwatu buat rafting, yeaayyyy... seru-seruan pun dimulai. Tapi sayang, Poet nggak bisa ikutan rafting karena sesuatu dan lain hal, hiks. Tapi rapopo, dapet teman satu perahu yang seru-seru kok, hehe. Meskipun arusnya nggak terlalu deras, tapi have fun banget rafting di situ.





 Serasa sungai milik sendiri, abis potonya sendirian ajah, hihihi.

          
               Sampe sore selesai rafting, balik lagi ke penginapan. Istirahat ampe abis isya langsung jalan-jalan ke Batu Night Spectaculer. Lampion gardennya keren bangeetttt. Kalo nggak mabok gegara naik graviton di taman hiburannya mungkin kami bisa pulang subuh saking betahnya.




            Besoknya lanjut ke taman bunga Selecta. Pemandangannya... wuihhh, ajib deh pokoknya.



              Aku sempat mau diculik di Selecta ama Mbak Novy ER, hihihi. Berteman di dunia maya sejak 2012 baru kali ini bisa ketemuan ama penulis yang punya Villa Nova di Kota Malang ini.

            Pulang dari Selecta nyempetin beli oleh-oleh buat orang rumah dan teman-teman di toko, hehe. Lanjut penginapan, cek out, go to Gresik ke rumah Poet. Malemnya nongkrong di angkringan sambil curcol ampe malem.
            Tanggal 28 subuh balik lagi Tangerang dengan rasa masih nggak percaya kalo abis ketemuan ama Poet plus dikasih kado ulang tahun yang ajib. Salah satu mimpiku terwujud di tahun ini. Masih banyak lagi impian yang semoga bisa terwujud dengan jalan yang nggak disangka-sangka. Alhamdulillah, rezeki anak soleh.

Selasa, 17 Mei 2016

Cerpen



Tak Perlu Ada Cinta Antara Kita
Oleh : Mel A.

            Aku takut! Sekarang aku benar-benar takut. Aku takut tak mampu melepasmu lagi, aku takut tak sanggup kehilanganmu lagi, aku takut dengan perasaanku yang semakin ingin memilikimu seutuhnya. Aku sangat takut jika terus memelihara hubungan ini maka perasaanku akan semakin subur bertambah menyayangimu apa adanya, seutuhnya dengan segala kekuranganmu. Dan bila rasaku telah sampai di titik itu, aku bisa menggila dan melakukan apa saja demi kita. Sungguh, aku benar-benar takut atas itu semua.
***
            Apa itu cinta? Dari awalku mengenalmu hingga detik ini kita sama sekali tak pernah membahas tentang cinta. Sebenarnya apa yang kita jalani? Cintakah? Kita sama sekali tak pernah saling mengucap kata cinta satu sama lain. Yang kita tahu hanya saling menyayangi dan menghabiskan waktu bersama dengan tertawa. Berbagi suka dan duka bersama, dalam keadaan tersulit pun kita masih bisa membagi tawa bahagia. Kita saling menerima kekurangan masing-masing untuk hal terburuk sekali pun.
            Kita sepasang yang tak pernah mengucap kata cinta. Walau terkadang lidahku terasa gatal ingin sekali saja berkata “Aku sangat mencintaimu, Sayang.” Entah kapan kalimat itu bisa tersampaikan. Mungkin nanti, setelah aku benar-benar yakin kita akan saling memiliki, seutuhnya, selamanya. Tapi kapan? Entahlah. Aku takut untuk membayangkannya.
            Kemarin, aku dan kamu hampir saja membahas tentang akhir dari hubungan kita. Tapi dengan tegas kamu menggagalkannya. Aku tak menyangka kamu mengambil keputusan itu, meneruskan hubungan ini dalam batas waktu yang tak ditentukan, entah kapan, tapi kamu tak setuju dengan adanya perpisahan.
            “Kalau kehadiranku membebanimu, aku ikhlas melepasmu. Aku nggak mau kehadiranku memperburuk keadaanmu.” ucapku.
            “Kamu ngomong apa sih? Aku nggak mau kamu bicara kayak gitu ya. Apaan sih kamu tuh? Kamu nggak mau kita lanjut? Kamu nggak bahagia sama aku?” sanggahmu seraya mendekapku erat.
            “Hey, bukan begitu maksudku...”
            “Ya udah jangan ngomong kayak gitu lagi. Aku nggak suka ya ngebahas hal kayak gini. Pokoknya aku nggak mau dengar kamu ngomong kayak gitu lagi. Aku sayang banget sama kamu, Mulan.” Pelukanmu semakin erat, hinggaku kehilangan kata-kata yang sudah tersusun rapi di kepala. Selalu begitu keadaannya, kamu selalu mampu meluluhkanku hanya dengan cara yang sederhana.
            “Aku mau kita tetap sama-sama, aku mau lihat kamu meraih impian kamu...”
            “Sebenarnya aku udah nggak punya impian...”
            “Kamu masih punya mimpi, Mulan. Aku yang akan bantu kamu wujudkan semua impian kamu itu.”
            “Sekarang aku cuma pengin hidup tenang, dan melihat kamu bahagia tanpa beban.”
            “Kamu harus wujudkan impian kamu, Mulan. Harus!”
            Kamu adalah alasan mengapa aku tetap berusaha mewujudkan impian yang selalu karam. Walau terkadang kamu pun terlihat lelah dengan dirimu sendiri, tapi kamu tetap berusaha menjadi penyemangatku. Aku tak pernah berharap apapun darimu selain kebersamaan kita yang hanya terjadi dalam waktu sempit. Aku sangat nyaman bersentuhan denganmu, menghilangkan penat dan beban pikiranku walau hanya sesaat.
            Kita belum berani menunjukkan pada dunia tentang apa yang kita jalani. Kita memang pecundang yang terlalu takut pada keadaan. Tak berani memperjuangkan keinginan absurd yang kita rasakan. Bersembunyi atas nama etika dan norma agama. Bilakah suatu saat kita mampu mendobrak tabu? Anarkisme terhadap diri sendiri demi membebaskan belenggu nurani. Terlalu berat memang, tapi itulah hidup, selalu berat untuk hal apapun itu. Tapi bersamamu, semua yang berat selalu kurasa ringan saja. Mungkin itulah cinta.
***
            “Halo, Mbak Mulannya ada?” Suaramu terdengar khas di ponselku.
            “Mbak Mulannya nggak ada, Mas.” Candaku seraya menahan tawa.
            “Kalo Sayangku ada?”
            Sekarang kamu jauh lebih romantis dan perhatian. Kamu mulai lebih banyak meluangkan waktu untuk berkomunikasi denganku. Dalam keadaan tersibuk pun kamu selalu menyempatkan hanya untuk menanyakan apakah aku sudah makan, aku sedang apa dan di mana, dan obrolan ringan tak penting yang selalu membuat kita tertawa.
            Tapi masih saja, kamu tak pernah sekali pun mengucap kata cinta. Sejuta ungkapan sayang dan panggilan sayang serta sentuhan sayang bertubi kamu limpahkan, tak sekali pun kata cinta kamu ucapkan. Suatu saat mungkin aku harus menanyakan hal ini padamu, apakah cinta suatu hal yang berat bagimu untukku? Walau hanya omongan kosong belaka? Mengapa kata cinta sangat kaujaga ketat hingga tak sekali pun terucap?
            Bagiku cinta adalah pengorbanan. Ringan melakukan apapun untuk hal terberat sekalipun bagiku itu karena terdorong rasa cinta. Cintalah yang membuat diri mampu untuk bertahan dalam kondisi tersulit sekali pun. Aku tak pernah menuntut banyak padamu, apapun itu. Aku selalu ingin membuatmu nyaman bersamaku, lepas tanpa beban apapun itu.
            Kamu tidak perlu membuktikan apapun untuk meyakinkanku kalau kebersamaan kita sungguh berarti di hidupmu. Aku hanya perlu merasakan desah napasmu walau hanya sesekali saja dalam kurun waktu tertentu. Kamu tak perlu 24 jam dalam seminggu berada di sisiku, aku harus mengerti posisimu. Sudah bisa mendengar suaramu melalui telepon saja atau berkabar melalui pesan singkat itu sudah lebih dari cukup untukku. Itu sudah menandakan kamu selalu berusaha ada untukku.
           Satu hal yang kumengerti tentang cinta adalah bahwa perasaan cinta bisa sirna dimakan waktu. Rasa jenuh dapat mengikis cinta. Mungkin itu sebabnya kamu tak pernah ingin menghadirkan cinta di antara kita. Itu semata karena kamu tak menginginkan perasaan cinta hilang suatu saat nanti.
            Aku rasa kini tak perlu membahas tentang cinta lagi bersamamu. Apa yang kita jalani saat ini sudah cukup membuktikan padaku kalau kamu ada di hidupku. Sebagai apapun itu, aku akan berusaha selalu ada untukmu, Sayangku. Mungkin memang tak perlu ada cinta antara kita, sebab bagi kita kenyamanan adalah segalanya. Dan rasa nyaman itu jauh lebih berbahaya daripada rasa cinta.

            ***


Senin, 09 Mei 2016

Tentang Rasa

Jarak dan waktu tidak akan mematikan rasa, tapi komunikasi.
Jika komunikasi terhenti, maka secara perlahan rasa akan mati.



Kamis, 05 Mei 2016

Cerpen



Akhir Kita yang Entahlah
Oleh : Mel A.

            Lagi, aku tak pernah bisa berkata-kata di hadapannya. Selalu seperti itu, tatapnya selalu mampu membungkamku. Semua kalimat yang sudah kususun rapi sebelum bertemu kini buyar seketika saat jemarinya lembut merengkuhku. Aku sungguh terhipnotis olehnya, lagi dan lagi. Niat untuk menyudahi hubungan ini selalu tak mampu kuungkapkan secara gamblang. Bahkan pertanyaan yang sudah kusiapkan jauh hari hingga detik ini masih bersemayam di otak kiri. Bibirku kelu setiap kali dia memelukku. Dia seolah memiliki mesin waktu yang mampu menghentikan gerakku, membuatku selalu kehilangan kata-kata.
            Padahal kalimat yang ingin kusampaikan sederhana saja, “Aku menyayangimu, mari kita sudahi ini demi kebaikanmu.” Kalimat sederhana yang sulit diucapkan. Bahkan kini aku mulai menjawab semua pertanyaan hatiku sendiri. Aku mulai membiasakan diri dengan karakter dan tabiatmu itu. Aku mulai paham apa yang kamu suka dan tak suka tanpa kamu menjelaskan semua.
            Kini aku mulai terbiasa dengan sikap cuekmu itu. Tak berkabar sebelum dan sesudah pertemuan bagiku kini hal yang biasa. Teringat kamu bukanlah tipikal lelaki yang suka berbasa-basi, tak heran bila ucapan selamat pagi, siang dan malam bukanlah menjadi hal penting bagimu. Bahkan untuk mendapat kabarmu aku harus sabar menunggu. Sungguh bukan hal yang menyenangkan sebenarnya, tapi aku harus mengambil risiko bila bersikeras bertahan dengan hubungan kita yang entahlah.
***
            Kamu sama sekali tak pernah menyakitiku dalam hal apapun. Sulit untukku mencari celamu, aku tak tahu harus beralasan apa ingin menyudahi hubungan ini. Kita masih saling membutuhkan dan merasa nyaman satu sama lain. Sepertinya kamu akan tergelak jika rasa kemanusiawianlah yang kujadikan alasan mendorongku untuk melakukan itu. Bukankah kita adalah manusia yang tak punya rasa manusiawi?
            Munafik sekali kalau aku ingin menyudahi hubungan ini dengan alasan insaf. Memangnya aku melakukan kejahatan jenis apakah? Justru kami saling menyelamatkan satu sama lain, itu menurutku. Dan otakku tak henti berpikir mencari alasan logis dan mencari cara untuk menyampaikannya. Ataukah aku tinggal bilang kalau aku membutuhkan sosok yang nyata? Sepertinya aku yang akan menyakitinya.
            Sungguh, aku tak ingin ada akhir di antara kita. Tapi mempertahankan hubungan absurd ini lama-lama membuatku menjelma zombie. Aku hidup, tapi bagai jasad tak berjiwa. Aku ada, tapi dia membuatku tampak tiada. Sungguh sama sekali tidak menyenangkan posisiku saat ini, selalu yang menjadi pesakitan. Apa yang kuharapkan tak pernah terwujud, impian indah untuk mendapatkan pasangan yang sesuai harapan semakin karam.
            “Mengeluh lagi?” tanya Tyas sebelumku berceloteh panjang lebar tentang lelakiku itu, kali ini.
            “Apa aku tampak mengeluh?” Aku balik bertanya.
            “Enggak juga sih, cuma kamu tampak lelah.” Sahut Tyas lugas.
            “Apakah butuh waktu bertahun-tahun untuk mendalami karakter seseorang dan kecocokan suatu hubungan?”
            “Menurutku nggak, kalau kamu cukup cerdas membaca karakter dia, kamu nggak butuh waktu lama untuk mengetahui apakah dia pasangan yang tepat dan menyenangkan dalam jangka panjang, bahkan selamanya tanpa akhir.”
            “Aku nggak bicara soal akhir!”
            “Setiap cerita pasti ada akhir, Mulan.”
            “Aku tak menginginkan akhir dengannya. Tapi jika memang harus berakhir, mungkin ini sudah saatnya untukku melakukan hibernasi.”
            That’s good! Bukankah sendiri lebih menyenangkan?”
            “...”
            Oh come on, konsekuenlah pada omongan.”
            I hope so, but ...”
            “Kenape? Plin plan? Hadehh!”
            “Ini tuh dia yang nggak peka atau aku yang terlalu ngarep, ya?”
            “Dua-duanya.”
            Pembahasanku tentang lelakiku itu tak pernah ada habisnya. Setiap kali dia menghilang tak berkabar selalu saja muncul keinginan untuk menyerah dan menyudahi hubungan kami. Tapi begitu dia hadir di hariku spontan harapanku segar kembali dan semudah itu aku melupakan semua pikiran negatifku tentangnya. Hatiku selalu memaksa untuk mengerti walau tak pernah dimengerti, selalu mencoba memahami walau tiada dipahami. Apa selalu begitu tabiat semua lelaki?
            Aku sama sekali tak bisa membayangkan jika pada akhirnya aku harus meluapkan semua unek-unek yang terpendam secara langsung tanpa melalui kode keras. Lagi pula kurasa dia tak selalu peka dan memahami apa inginku jika tak kusampaikan secara detail dan gamblang tentang keinginanku pada hubungan yang semakin absurd ini. Aku hanya merindukan dia yang seperti di awal perkenalan, itu saja.
            Mengapa harus mengubah segalanya, membuat yang biasa menjadi tak biasa. Memicu praduga dan pikiran negatif saja. Mengapa hanya aku yang merawat rasa, sedang dia berjalan seolah tak ada aku di hidupnya. Apakah sudah menjadi tabiat perempuan selalu mampu bertahan dalam pesakitan? Sementara lelaki hanya menganggap perasaan bukanlah suatu hal yang penting. Dalam hubungan ini  kami memang berperan sebagai supporter, bukan baby sitter. Itulah sebabnya dia tak membutuhkan perhatianku lebih. Dia hanya membutuhkanku untuk menutupi kehampaannya, mengisi kekosongan hatinya kala penat dan jenuh melandanya. Hanya sebatas itu keberadaanku di hidupnya.
***
            “Sayang, aku pengin lihat rambut kamu panjang, deh. Pasti bagus kalo rambut kamu panjang.” ucap lelakiku kala itu.
            Di satu sisi aku bahagia dengan keinginannya itu. Menurutku itu menandakan dia ingin hubungan ini berjalan dalam waktu lama. Untuk memanjangkan rambut sepundakku saat ini mungkin membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bisa mencapai setahun. Itu berarti dia masih menginginkanku ada di hidupnya dalam waktu lama. Belum lagi dengan deadline impian yang dia targetkan kepadaku.
            “Sayang, mana lagu terbaru buatanmu? Aku pengin lihat kamu sukses dengan impianmu itu. Pasti seru kalau kamu bisa bikin film trus sountracknya kamu juga yang bikin. Seperti Dee, kamu sangat ingin menjadi sekreatif seorang Dee, kan?”
            Lagi-lagi aku terharu dengan semangat yang dia tanamkan padaku. Selalu mampu melambungkanku seketika. Saat kami bercerita tentang indahnya masa depan akan impianku, dia selalu menjadi pendengar dan peng-support yang baik. Aku jadi berpikir sepertinya kisah ini tak akan ada akhir. Atau mungkin seharusnya jangan sampai berakhir. Aku tak mau melepasnya hanya untuk membiarkannya jatuh ke lain hati lagi. Aku akan memelihara hubungan ini sebaik mungkin tanpa ada yang tersakiti satu sama lain. Dan untuk akhir yang entahlah, aku tak mau lagi mempersoalkannya.
***