Senin, 27 Juni 2016

Cerpen



Cinta yang Tak Pernah Berucap Cinta

            Ini kali pertama aku mendengar kamu mengucap kata love you. Setelah enam bulan menjalin hubungan yang entah apa namanya, akhirnya kamu mengucap kata cinta. Entah itu tanpa sadar atau mungkin hanya refleks saja saat kamu berucap love you. Biasanya saat mengucap salam sebelum mengakhiri pembicaraan di telepon, kamu hanya mengucap miss you, walaupun baru beberapa menit saja kita bertemu selalu saja miss you.
            Apa sebaiknya aku bertanya saja untuk meyakinkan hati kalau kalimat love you yang kamu lontarkan itu bukan faktor ketidaksengajaan? Sebegitu pentingnyakah sehingga harus kuperjelas? Bagaimana jika jawabannya tak sesuai keinginan hati? Toh tidak ada yang perlu diragukan lagi dari hubungan yang sedang kita jalani. Walaupun tidak ada kepastian ikatan apapun, tapi kita tak pernah berniat untuk mengakhirinya begitu saja.
            Kamu tak pernah menyakitiku, pun aku padamu. Kita saling menjaga keutuhan hubungan ini dengan tidak merusaknya dengan hal-hal konyol. Kita saling menerima kekurangan, dalam keadaan tersulit pun kita selalu mampu bertahan. Lalu apa lagi yang harus aku khawatirkan? Hanya karena satu kata sakti yang baru sekali kamu ucapkan? Yang kupikir tadinya mungkin kamu tak akan pernah mengucapkannya dalam keadaan tak sadar sekali pun. Tapi kamu sedang sangat sadar dan dalam kondisi santai. Tak mungkin mengucap kata love you karena refleks keceplosan. Sayang, tolong jawab tanya hatiku tentang ini.
***
            Tadinya kupikir hubunganku dan kamu hanya berorientasi pada kebutuhan biologis saja. Kupikir kita hanya saling melampiaskan hasrat seksual yang tak terpenuhi. Tapi sejauh ini perasaan kita sepertinya sudah berkembang menjadi lebih dari sekadar teman bercinta yang tak pernah sekali pun mengucap kata cinta. Kamu menjelma penyemangat hidupku. Kamu senantiasa memberiku bahagia yang tak hampa, menggenapi kekosongan hati dan menyulap duka menjadi tawa.
            Memang tak ada hal penting yang kita bahas setiap kali bertemu, hanya bertukar cerita tentang keseharian yang membosankan. Tak ada yang lebih penting selain bisa tertawa dan merengkuh kenikmatan bercinta. Selebihnya hanya omong kosong tentang impian yang entahlah. Impian yang semakin tenggelam oleh ketidakberdayaan diri memaksakan kemampuan isi otak untuk berkreatifitas dengan cerkas. Tapi kamu adalah salah satu alasanku terus berjuang mewujudkan semua impian itu, walau timbul tenggelam.
            Sejak bersamamu aku tak pernah lagi menenggak pil-pil benzodiazepine itu. Kamu lebih dari obat bagiku, obat termujarab yang mampu menstabilkan sakit jiwaku. Bipolar yang kuidap selama ini seakan sembuh sejak bersamamu. Kamu lebih berfungsi lebih dari pada aku harus menjadi pasien psikiater lagi. Aku tak membutuhkan psikiater lagi, aku tak memerlukan benzodiazepine lagi. Emosiku drastis menjadi stabil sejak bersamamu. Aku tak pernah mengalami swing mood lagi belakangan ini. Perasaan nyaman saat bersamamu perlahan membentukku menjadi manusia normal pada umumnya. Kamu sebegitu hebatnya.
            Lantas apa alasanku untuk mengakhiri hubungan ini? Apa alasanku untuk pergi dari kehidupanmu? Aku tak yakin kondisiku akan semakin membaik dengan keputusan yang menurutmu baik itu. Setiap kali membahas serius tentang apa yang sebenarnya tengah kita jalani hanya akan berujung pada kebisuan dan tanya yang tak pernah terjawab.
            “Aku nggak mau jadi pengaruh buruk buat kamu, Mulan.” Ucapmu malam itu.
            Aku menatapmu lekat, mencari tahu apa arti dari kalimat yang kamu lontarkan itu. Aku takut untuk bertanya, aku sungkan untuk memulai pembahasan tentang arah hubungan ini. Akan berakhir seperti apa dan bagaimana masa depan kita.
            “Intinya aja deh, kamu pikir dengan aku tanpa kamu, hidup aku bisa berjalan normal?”
            “Aku cuma nggak mau kamu terbebani dengan hubungan kita, Mulan.”
            “Apa aku kelihatan terbebani? Atau mungkin justru sebaliknya...”
            “Tuh, kan? Malah ngebalikin omongan deh.” Tukasmu seraya balik menatapku lekat.
            “Kita lagi ngebahas apa, sih?”
            Dan kamu pun hanya menghela napas berat lalu terdiam. Selalu seperti itu keadaannya. Tak ada bahasan tentang cinta atau perasaan apapun. Aku khawatir untuk memulai mengemukakan ribuan tanya yang masih bercokol di kepala. Enggan rasanya menanyakan perihal cinta bila kamu pun tak pernah ada gambaran tentang masa depan kita. Aku tak mau menuntut apapun darimu. Waktu yang kamu luangkan untukku sudah membuktikan keseriusanmu dalam menjalani hubungan ini. Waktu yang kita curi dan sarat dengan berbagai risiko. Itu sudah lebih dari cukup bagiku sebagai pembuktian keseriusanmu.
            Lantas apa yang salah dengan kita? Karena kita tak saling memiliki secara sah? Perlukah status kita perjuangkan jika hanya akan menimbulkan banyak korban? Lalu untuk apa mempermasalahkan masa depan jika kita pun tak pernah tahu sampai kapan kita masih bisa bernapas? Masalah kita hanya berputar-putar di sini saja, tak pernah ada jalan keluarnya. Tapi aku sudah terlanjur nyaman dengan keadaan yang rumit ini. Aku sangat menikmati kerumitan ini hingga mengabaikan aral yang sangat fatal. Entahlah, aku hanya butuh kamu, itu saja. Mengenai kata cinta dan ending kita? Abaikan saja.
***

Senin, 30 Mei 2016

My Dreams Come True



        Di tahun 2013, aku pernah membuat buku mimpi. Salah satu isinya adalah aku mempunyai keinginan untuk berkunjung ke kota Surabaya dan Malang untuk rafting di sana. Hingga tahun 2016 ini, impian untuk rafting belum juga kesampaian. Tapi aku selalu percaya, jika aku mempunyai keinginan dan impian, aku cari gambarnya dan aku tuliskan di buku mimpiku itu. Walaupun entah kapan waktunya akan terealisasi, aku tetap yakin mimpi-mimpiku suatu saat nanti bisa terwujud dengan jalan yang nggak disangka-sangka.
            Amazing, tanggal 26 Mei 2016 ini, salah satu impianku itu akhirnya bisa terwujud. Ke kota Surabaya dan Malang lalu rafting di sana. Persis seperti apa yang kutulis di buku mimpiku itu, aku pun berjumpa dengan salah satu penulis teman sosial mediaku. Impianku untuk bisa rafting terwujud secara nggak langsung melalui Poet, my sweetest soulmate. Poet memberikanku kado ulang tahun terindah di usiaku yang ke-35 di tahun ini.
            Terbang jam 5 subuh dari bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Juanda, Surabaya. Ini pertemuan kelima yang sebelumnya kami jadwalkan akan berlangsung di Ubud bulan Oktober nanti, ternyata perjumpaan kelima ini terealisasi lebih cepat dari perkiraan.


 At Bandara Juanda, Surabaya
              Dari Surabaya, kami langsung menuju Kota Malang. Sarapan nasi krawu di mobil saking mengejar waktu buat rafting, hihihi (piknik yang dikejar waktu). 
             Sampai di Malang langsung menuju Kampung Lumbung tempat penginapan. Pemandangannya fresh banget dahh. Cuma udaranya dingin banget, hipotermiaku mesti deh kumat-kumatan, hiks.

 Kampung Lumbung

                Setelah cek in, langsung cuss ke Kaliwatu buat rafting, yeaayyyy... seru-seruan pun dimulai. Tapi sayang, Poet nggak bisa ikutan rafting karena sesuatu dan lain hal, hiks. Tapi rapopo, dapet teman satu perahu yang seru-seru kok, hehe. Meskipun arusnya nggak terlalu deras, tapi have fun banget rafting di situ.





 Serasa sungai milik sendiri, abis potonya sendirian ajah, hihihi.

          
               Sampe sore selesai rafting, balik lagi ke penginapan. Istirahat ampe abis isya langsung jalan-jalan ke Batu Night Spectaculer. Lampion gardennya keren bangeetttt. Kalo nggak mabok gegara naik graviton di taman hiburannya mungkin kami bisa pulang subuh saking betahnya.




            Besoknya lanjut ke taman bunga Selecta. Pemandangannya... wuihhh, ajib deh pokoknya.



              Aku sempat mau diculik di Selecta ama Mbak Novy ER, hihihi. Berteman di dunia maya sejak 2012 baru kali ini bisa ketemuan ama penulis yang punya Villa Nova di Kota Malang ini.

            Pulang dari Selecta nyempetin beli oleh-oleh buat orang rumah dan teman-teman di toko, hehe. Lanjut penginapan, cek out, go to Gresik ke rumah Poet. Malemnya nongkrong di angkringan sambil curcol ampe malem.
            Tanggal 28 subuh balik lagi Tangerang dengan rasa masih nggak percaya kalo abis ketemuan ama Poet plus dikasih kado ulang tahun yang ajib. Salah satu mimpiku terwujud di tahun ini. Masih banyak lagi impian yang semoga bisa terwujud dengan jalan yang nggak disangka-sangka. Alhamdulillah, rezeki anak soleh.

Selasa, 17 Mei 2016

Cerpen



Tak Perlu Ada Cinta Antara Kita
Oleh : Mel A.

            Aku takut! Sekarang aku benar-benar takut. Aku takut tak mampu melepasmu lagi, aku takut tak sanggup kehilanganmu lagi, aku takut dengan perasaanku yang semakin ingin memilikimu seutuhnya. Aku sangat takut jika terus memelihara hubungan ini maka perasaanku akan semakin subur bertambah menyayangimu apa adanya, seutuhnya dengan segala kekuranganmu. Dan bila rasaku telah sampai di titik itu, aku bisa menggila dan melakukan apa saja demi kita. Sungguh, aku benar-benar takut atas itu semua.
***
            Apa itu cinta? Dari awalku mengenalmu hingga detik ini kita sama sekali tak pernah membahas tentang cinta. Sebenarnya apa yang kita jalani? Cintakah? Kita sama sekali tak pernah saling mengucap kata cinta satu sama lain. Yang kita tahu hanya saling menyayangi dan menghabiskan waktu bersama dengan tertawa. Berbagi suka dan duka bersama, dalam keadaan tersulit pun kita masih bisa membagi tawa bahagia. Kita saling menerima kekurangan masing-masing untuk hal terburuk sekali pun.
            Kita sepasang yang tak pernah mengucap kata cinta. Walau terkadang lidahku terasa gatal ingin sekali saja berkata “Aku sangat mencintaimu, Sayang.” Entah kapan kalimat itu bisa tersampaikan. Mungkin nanti, setelah aku benar-benar yakin kita akan saling memiliki, seutuhnya, selamanya. Tapi kapan? Entahlah. Aku takut untuk membayangkannya.
            Kemarin, aku dan kamu hampir saja membahas tentang akhir dari hubungan kita. Tapi dengan tegas kamu menggagalkannya. Aku tak menyangka kamu mengambil keputusan itu, meneruskan hubungan ini dalam batas waktu yang tak ditentukan, entah kapan, tapi kamu tak setuju dengan adanya perpisahan.
            “Kalau kehadiranku membebanimu, aku ikhlas melepasmu. Aku nggak mau kehadiranku memperburuk keadaanmu.” ucapku.
            “Kamu ngomong apa sih? Aku nggak mau kamu bicara kayak gitu ya. Apaan sih kamu tuh? Kamu nggak mau kita lanjut? Kamu nggak bahagia sama aku?” sanggahmu seraya mendekapku erat.
            “Hey, bukan begitu maksudku...”
            “Ya udah jangan ngomong kayak gitu lagi. Aku nggak suka ya ngebahas hal kayak gini. Pokoknya aku nggak mau dengar kamu ngomong kayak gitu lagi. Aku sayang banget sama kamu, Mulan.” Pelukanmu semakin erat, hinggaku kehilangan kata-kata yang sudah tersusun rapi di kepala. Selalu begitu keadaannya, kamu selalu mampu meluluhkanku hanya dengan cara yang sederhana.
            “Aku mau kita tetap sama-sama, aku mau lihat kamu meraih impian kamu...”
            “Sebenarnya aku udah nggak punya impian...”
            “Kamu masih punya mimpi, Mulan. Aku yang akan bantu kamu wujudkan semua impian kamu itu.”
            “Sekarang aku cuma pengin hidup tenang, dan melihat kamu bahagia tanpa beban.”
            “Kamu harus wujudkan impian kamu, Mulan. Harus!”
            Kamu adalah alasan mengapa aku tetap berusaha mewujudkan impian yang selalu karam. Walau terkadang kamu pun terlihat lelah dengan dirimu sendiri, tapi kamu tetap berusaha menjadi penyemangatku. Aku tak pernah berharap apapun darimu selain kebersamaan kita yang hanya terjadi dalam waktu sempit. Aku sangat nyaman bersentuhan denganmu, menghilangkan penat dan beban pikiranku walau hanya sesaat.
            Kita belum berani menunjukkan pada dunia tentang apa yang kita jalani. Kita memang pecundang yang terlalu takut pada keadaan. Tak berani memperjuangkan keinginan absurd yang kita rasakan. Bersembunyi atas nama etika dan norma agama. Bilakah suatu saat kita mampu mendobrak tabu? Anarkisme terhadap diri sendiri demi membebaskan belenggu nurani. Terlalu berat memang, tapi itulah hidup, selalu berat untuk hal apapun itu. Tapi bersamamu, semua yang berat selalu kurasa ringan saja. Mungkin itulah cinta.
***
            “Halo, Mbak Mulannya ada?” Suaramu terdengar khas di ponselku.
            “Mbak Mulannya nggak ada, Mas.” Candaku seraya menahan tawa.
            “Kalo Sayangku ada?”
            Sekarang kamu jauh lebih romantis dan perhatian. Kamu mulai lebih banyak meluangkan waktu untuk berkomunikasi denganku. Dalam keadaan tersibuk pun kamu selalu menyempatkan hanya untuk menanyakan apakah aku sudah makan, aku sedang apa dan di mana, dan obrolan ringan tak penting yang selalu membuat kita tertawa.
            Tapi masih saja, kamu tak pernah sekali pun mengucap kata cinta. Sejuta ungkapan sayang dan panggilan sayang serta sentuhan sayang bertubi kamu limpahkan, tak sekali pun kata cinta kamu ucapkan. Suatu saat mungkin aku harus menanyakan hal ini padamu, apakah cinta suatu hal yang berat bagimu untukku? Walau hanya omongan kosong belaka? Mengapa kata cinta sangat kaujaga ketat hingga tak sekali pun terucap?
            Bagiku cinta adalah pengorbanan. Ringan melakukan apapun untuk hal terberat sekalipun bagiku itu karena terdorong rasa cinta. Cintalah yang membuat diri mampu untuk bertahan dalam kondisi tersulit sekali pun. Aku tak pernah menuntut banyak padamu, apapun itu. Aku selalu ingin membuatmu nyaman bersamaku, lepas tanpa beban apapun itu.
            Kamu tidak perlu membuktikan apapun untuk meyakinkanku kalau kebersamaan kita sungguh berarti di hidupmu. Aku hanya perlu merasakan desah napasmu walau hanya sesekali saja dalam kurun waktu tertentu. Kamu tak perlu 24 jam dalam seminggu berada di sisiku, aku harus mengerti posisimu. Sudah bisa mendengar suaramu melalui telepon saja atau berkabar melalui pesan singkat itu sudah lebih dari cukup untukku. Itu sudah menandakan kamu selalu berusaha ada untukku.
           Satu hal yang kumengerti tentang cinta adalah bahwa perasaan cinta bisa sirna dimakan waktu. Rasa jenuh dapat mengikis cinta. Mungkin itu sebabnya kamu tak pernah ingin menghadirkan cinta di antara kita. Itu semata karena kamu tak menginginkan perasaan cinta hilang suatu saat nanti.
            Aku rasa kini tak perlu membahas tentang cinta lagi bersamamu. Apa yang kita jalani saat ini sudah cukup membuktikan padaku kalau kamu ada di hidupku. Sebagai apapun itu, aku akan berusaha selalu ada untukmu, Sayangku. Mungkin memang tak perlu ada cinta antara kita, sebab bagi kita kenyamanan adalah segalanya. Dan rasa nyaman itu jauh lebih berbahaya daripada rasa cinta.

            ***