Kamis, 16 Oktober 2014

..



Ada Dalam Tiada


Aku … Ada dalam tiada
Aku ada saat dia tiada dan aku tiada saat dia ada
Kita … Ada dalam tiada
Kita ada saat mereka tiada dan kita tiada saat mereka ada

Aku serupa bayang dalam hidupmu
Menjelma di kala terang dan menghilang saat gelap datang
Karena terang bisa menampakkanku di sisimu
Dan gelap memusnahkanku untuk menjauh darimu

Kita serupa guliran jam pasir
Yang tak pernah tahu di butir keberapa akan berakhir
Karena waktu bagi kita hanyalah menunggu
Tanpa pernah tahu kapan akan terus bersatu

Cinta kita ada dalam tiada
Akan tetap ada walau tampak tiada
Terus bertahan walau sulit menjelang
Takkan menyerah seberapa pun parah



Kamis, 09 Oktober 2014

.

Ternyata Tanpamu Aku (Tidak) Baik-baik Saja

Gerhana Bulan. Aku menatap langit malam ini, berusaha mencari keberadaan benda langit yang bulat nan indah itu. Gegernya malam ini akan ada gerhana Bulan. Satu kata itu refleks memutar kembali memori tiga tahun lalu. Saatku dan lelaki berlesung pipit itu memandang Bulan dalam waktu yang sama di tempat yang berbeda. Aku masih bisa mendengar jelas suaranya, masih terekam dengan indah dalam memori otak kiri.
"Aku hitung sampe tiga ya, nanti dihitungan ketiga kita lihat ke atas sama-sama. 1,2,3 ... I see it now, Honey"
Kalimat itu masih terngiang dengan jelas hingga detik ini. Membuatku selalu mencari keberadaan Bulan saatku sangat merindukanmu, Syams.
Hhh, entah bagaimana caranya untuk memusnahkan satu file kenangan indah bersamamu, Syams. Seolah file itu dilindungi anti virus super canggih. Bahkan kebencian, kemarahan dan kekecewaanku pun tak mampu untuk menghapusnya. Setiap kali aku merasa benci, marah dan kecewa terhadapmu, semua perasaan itu malah berbalik padaku. Aku yang jadi benci, marah dan kecewa pada diriku sendiri. Kamu selalu menang, Syams. Sesalah apa pun kamu tak akan pernah mendapat hukuman yang pantas dan setimpal. Justru aku yang menjadi pesakitan akibat keputusanku sendiri yang selalu sok tegar saat meninggalkanmu. Ternyata ... aku tak pernah baik-baik saja tanpamu Syams.
Aku selalu tersiksa saat mendapati kamu tak lagi berusaha untuk menghubungiku kembali. Aku bertambah kecewa saat tak menemukan kamu berusaha mengambil hatiku lagi. Dan aku semakin marah saat kamu menghilang dari hidupku. Bukankah itu membuktikan kalau hatiku ternyata tidak baik-baik saja tanpamu, Syams. Semakin aku menampik, semakin aku muak dengan keputusanku. Mengapa tak pernah bisa menerima kenyataan kalau semua telah berlalu. Bukankah aku yang mengambil keputusan itu?
Aku hanya bisa tertawa saat tak mendapati namamu di kontak BBM-ku lagi. Aku hanya bisa terbahak saat icon Yahoo Messenger-mu tak pernah berwarna hijau lagi. Aku hanya bisa tergelak saat mendapati tak ada tanda-tanda kamu mengunjungi akun-akun sosial mediaku lagi. Pantaskah kalau aku menganggap tanpamu aku masih baik-baik saja, Syams?
Setiap Matahari terbit, aku berharap tak mengingatmu lagi. Tapi bagaimana caranya? Segala hal yang klise di keseharianku selalu mengingatkanku padamu. Seharusnya kamu mati saja, Syams. Kamu ... atau aku? Agar cerita tentang kita bisa menemukan titik akhir tanpa ada pihak lain yang tersakiti oleh kisah kita yang terlalu indah ini. Baiklah, mungkin lebih baik aku saja yang mati. Agar kamu tak perlu lagi memikirkan bagaimana caranya membagi hati.
***
"Aku bosan dengan cerita ini, seperti sinetron yang mulai nggak jelas ending-nya akan seperti apa." Ucap Tyas terdengar misuh-misuh di telepon.
"Kalau gitu tolong ingetin aku untuk bunuh diri ya,"
"Lebay! Mending kalo langsung mati, kalo belum waktunya mati? Kan cuma ngerepotin orang aja tuh, bikin malu lagi."
"Tenang, aku pastikan racunnya mujarab tingkat internasional, supaya sekali tenggak langsung koit."
"Omonganmu kayak orang nggak punya Tuhan, Kak. Ini bukan kamu, ke mana Mulanku yang dulu? Ke mana Mulan yang selalu optimis dan punya slogan everything gonna be okay?"
"..."
"Jawab, Kak! Ke mana Mulan yang dulu selalu tegar sebelum memutuskan untuk survive tanpa Syams atau siapa pun?"
"..."
"Yang pecundang itu kamu, Kak, bukan Syams."
Aku termangu mendengar suara Tyas yang pedasnya melebihi Maicih level 10.
"Memiliki Syams atau tidak ternyata tidak membuat kamu jauh lebih baik, Kak. Kamu selalu sibuk dengan perasaanmu yang lebay tingkat RT itu. Apa perlu aku rekomen pengganti Syams?"
"If I can do that ..."
"Sure yukendu!"
"How?"
"Jangan tanya sama aku, cari saja di list pertemananmu, siapa tau salah satunya akan menjadi next Syams."
"Aku nggak punya waktu untuk itu ..."
"Tapi kamu punya waktu buat bahas itu sama aku, ngabisin waktu obrolin masalah nggak penting kayak gini. Nggak punya waktu dari mananya? Taruhan, kamu pasti ngabisin waktu sedikitnya 5 jam dalam sehari buat bolak balik ngecek e-mail, blog, BBM dan tetek bengek tentang Syams. Iya, kan? Padahal kamu cuma butuh waktu 1 jam aja buat interaksi dengan next Syams. Kamunya aja nggak niat."
"..."
"Hhhhhh, ganti topik! Sudah sampai mana proyek kita?"
"Ummm ..."
"Jangan bilang belum digarap lagi deh."
"Hehe, kasih waktu tiga hari ya, aku beresin bab-ku."
"Tiga hari? What the hell?"
"..."
"Oke, enough. It's all still because Syams, right?"
"Besok udah beres, lusa aku e-mail, suer pake banget."
"I'm wait!"
Aku sudah kehabisan bahasa untuk berdebat dengan Tyas. Satu-satunya orang yang tahu tentang aku dan Syams, Matahariku itu. Tyas tampak jenuh mendengar curhatku tentang Syams. Mungkin juga Syams sudah jenuh dengan sikapku yang tak pernah mau mengerti dengan keinginannya itu. Sehingga Syams berpikir untuk tak lagi peduli tentang aku.
Tapi aku yakin, seperti takdir Tuhan atas sistem tata surya, Matahari pasti akan terus memantulkan cahayanya untuk Bulan. Pun Syams, yang menurut prediksiku akan tetap menunggu hingga aku bersedia menjadi apa pun yang dia mau. Meskipun bagian tersulit dari mencintaimu adalah berusaha untuk tak memilikimu secara utuh. Aku akan tetap menunggu keputusanmu hingga bisa memilih antara satu. Aku atau dia, agar kita bisa menjalani kehidupan normal dengan baik-baik saja.
***


Selasa, 30 September 2014

....



Wake Me Up When September Ends

"It's time for wake up ..."
Mulan mendesis demi merunut angka yang tertera di kalender yang terpampang di hadapannya.
"September has ended, begitu  pun impianku bersamamu ... Syams."
Mulan hanya bisa membatin, demi mengingat apa yang pernah ia rencanakan bersama Syams di awal Oktober nanti, mengadakan pernikahan terindah di pulau paling eksotis di tanah air ini. Sayangnya, rencana yang sudah ia susun bersama Syams setahun lalu hanya akan menjadi angin lalu.
"Teganya kamu Syams, how could you do this to me. Kamu hancurkan impian indah kita dengan keegoisanmu itu ..."
Mulan hanya bisa meradang meratapi kisahnya yang harus kandas tanpa bekas. Mulan terhenyak, saat mendapati Zenfone 5-nya mengeluarkan suara bip. Tampak notifikasi BBM muncul di bagian kiri atas LCD. Jemari Mulan menyapu notif tersebut. Tyas mengiriminya BBM yang berbunyi ... "Kak, are you okey?"
Ajaib sekali makhluk satu itu, selalu hadir di saat tepat seperti ini. Saat Mulan membutuhkan seseorang yang mampu mengurangi beban pikirannya.
"Kenapa sih? Selalu tau kalo aku lagi galau?" Balas Mulan.
"Alarmku langsung bunyi, Kak. Hihihi."
"By phone aja yak, mau curhat."
"I was ready, Sist."
Mulan mengarahkan jemarinya keluar dari menu chat BBM. Dan langsung mengeklik menu kontak dan mencari nama Tyas di sana. Begitu dapat, Mulan segera men-dial nomor Tyas.
"Keep smile my Sist ..." Terdengar suara ceria Tyas saat Mulan baru say hello.
"Yes I do, but ..."
"No no no no! Kali ini nggak boleh pake tapi tapian lagi. Ingat! Life is a simple things, when you choose it … never to regret!"
"Tyas, plis deh, jangan sembarangan mengutip tagline orang lho. Kalo yang punya sadar bisa kena charge."
"Hahahaha, tagline siapa emangnya, Kak?"
"Skip!"
"Hihihi ..."
"I feel hopeless, hampa ..."
"Halah, lebay ..."
"Sampe akhir bulan ini aja, boleh ya lebay dulu,"
"Ingat umur, Kak. Udah nggak pantes kamu tuh bergalau-ria. Nggak capek apa kamu digituin terus sama Syams. Keputusanmu buat ninggalin dia udah tepat kok, sekarang kamu bisa fokus sama kehidupanmu dan masa depanmu. Yakin dong, you are strong! Kamu pasti bisa jadi single parent yang sangat berbahagia. Orang-orang kayak kita nggak butuh laki-laki kok, mereka tuh cuma jadi parasit aja. Apalagi yang hobi PHP, black list aja deh!"
Mulan hanya diam mendengar ‘kicauan’ Tyas yang berapi-api di seberang sana. Dalam hati berharap bisa melakukan apa yang Tyas katakan semudah membalikkan telur dadar di penggorengan. Hhhh ... Mulan menarik napas panjang dan mengembuskannya pelan.
"Lama-lama aku bisa frigid beneran lho karena over dosis obat-obatan penurun libido itu."
"Baguslah,"
"Heh! Eyke masih normal tauk!"
"Hihihi, sampe akhir bulan ini doang gapapa. Udah gitu langsung move on, cari ganti, jatuh cinta lagi, tapi jangan sama suami orang lagi ya, hahaha."
"Sialan!"
"Come on, sist. Sure yukendu! Jatuh cintalah dengan baik dan benar. Carinya di dunia nyata ya, pensiunlah dari dunia maya."
"Hmmm, udah ceramahnya?"
"Hadehh, kalo cuma masuk kuping kiri keluar kuping kanan ya sudahlah, wassalammm."
"Woy, belom kelar nih curhatnya!"
"Opo meneh?"
"..."
"What again?"
"Aku ..."
"Jangan bilang kalo kamu masih ngarep Syams-mu itu hubungi kamu lagi walopun jelas-jelas kamu gengsi buat ngakuinya. Iya, kan?"
"..."
"Jangan bilang kalo kamu masih kayak orang bego yang masih ngecekin e-mail tiap menitnya ngarep dia kirim sesuatu yang so swiit di sana buat ngambil hati kamu lagi."
"..."
"Answer me!"
"..."
"Dan jangan bilang kamu masih nangisin dia dan masih ngarep dia tetap kekeuh invite BBM-mu lagi."
"Aku ... ya, aku-masih ...."
"Hadoohhh!"
"Tyas, aku .... Ah, sudahlah!"
"So?"
"..."
"Hmmm, mending secepatnya kamu cari pengganti deh."
"Nggak semudah itu, lagi pula ..."
"Kamu kalo nasihatin aku lancar banget ya, Kak. Tapi kalo kamu yang ngalamin sendiri kok lebih parah dari aku sih."
"Mudah-mudahan aku bisa lewati semua ini dengan baik-baik aja."
"Gimana bisa baik-baik aja kalo hati kamu nggak baik-baik aja."
"Ya sudah, semoga aku bisa cepat jatuh cinta lagi, hihi."
"Much better, Sist. Gitu donk! Jangan melo lagi ya. Mendingan beresin tuh novelmu, jangan kelamaan hibernasi, nanti basi."
"Siap!"
"Trust me, Sist ... You never be alone, I still here for you every time you want."
"Big hug. Daahhhh."
Klik, Mulan menyudahi teleponnya setelah terdengar suara salam dari Tyas. Tapi, alam bawah sadarnya kembali menyebut nama Syams. Pertanda ia masih berharap Syams menjelma menjadi sosok gentle dan sesuai harapannya. Mulan masih saja gagal membohongi kata hatinya. Harus ia akui semua praduga Tyas tadi. Ya, karena sampai detik ini ia masih saja berharap Syams akan hadir kembali ke dalam hidupnya yang mulai terasa hampa.
Mulan masih saja mengecek e-mail-nya, berharap Syams mengiriminya sebuah lagu seperti dulu, atau hanya sekedar say hello menanyakan kabarnya saja. Atau tiba-tiba Syams mengomentari postingan blog-nya, atau masih berkenan meng-invite BBM-nya lagi. Mulan berharap Syams masih penasaran dan membuka e-mail rahasia mereka, dan menemukan beberapa draft e-mail yang sengaja ia tulis untuk Syams. E-mail yang sengaja tak pernah dikirim oleh Mulan, berharap Syams akan menemukannya sendiri dan masih menghafal password e-mail tersebut.
 Mulan masih saja berharap Syams akan begitu mencintainya sepenuh hati hingga mau melakukan apa saja untuknya. Walaupun ia tidak bisa menutupi rasa kecewanya karena Syams tidak pernah punya keberanian untuk memperjuangkan cintanya. Di lain sisi, Mulan masih tidak bisa terima sikap Syams yang semaunya, tak pernah punya waktu untuknya bahkan untuk diri Syams sendiri, Syams terlalu larut dengan dunianya sendiri. Ia hanya sangat tidak menyangka, bila lelaki yang selalu membuatnya tertawa bahagia adalah orang serupa yang membuatnya menangisi takdir cintanya.
Ternyata benar jika ada ungkapan yang mengatakan; biasanya orang yang terlalu kau cintai adalah orang yang selalu menyakitimu. Kenyataan itu membuat Mulan gamang. Apakah ia harus menjalani saran Tyas? Mencari cinta yang baru agar bisa move on dari Syams? Karena obatnya hanya itu, ya ... tak ada obat patah hati yang lebih mujarab selain harus jatuh cinta lagi. Dengan begitu ia tak harus berlama-lama larut dalam kesedihannya.
"God, just wake me up when September ends ..." Bisik Mulan. Dan samar terdengar Green Day mengalun pelan dari Zenfone 5-nya meneriakkan Wake Me Up When September Ends.
***