Minggu, 12 Februari 2017

.



Cinta tak Kasat Mata

            Aku ada, tapi tampak tiada. Seperti cinta kita, yang nyata namun tak kentara. Mungkin hanya sebatas ini Tuhan menginginkan, membuat skenario yang bergenre horor untuk hubungan kita. Bagaimana tidak horor, kita seperti hantu, menakutkan bagi siapa pun. Kita takut bila ada yang tahu, kita takut untuk mengakui pada dunia nyata bahwa kita ada. Kita takut bila keberadaan kita akan menghancurkan segalanya. Itulah sebabnya kita memilih untuk menjadi tak kasat mata.
            Kini aku mulai terbiasa menjadi sesuatu yang tiada. Walau aku selalu memastikan untuk selalu ada buat kamu saja. Kamu yang terlalu takut mengakui kita dengan berbagai dalih, kamu yang memaksa untuk membuatku tak kasat mata. Kamu yang terlalu kucinta, hingga membuatku rela menjelma bukan siapa-siapa.
            “Ini demi kebaikan kita,” ucapmu menenangkanku.
            Tebersit kekhawatiran di pikiranku, sampai kapan kita akan begini. Tapi prinsip hidupku yang hanya untuk hari ini selalu mengingatkan, bahwa tak dibutuhkan harapan dan masa depan untuk cinta yang tak kasat mata. Jalani saja, hanya entah yang bisa menjawab semua tanya. Tentang bagaimana dan akan seperti apa kisah kita selanjutnya. Menjadi episode tanpa ending, seperti sinetron kejar tayang yang tak tahu akan berakhir kapan.
***
            Impian itu masih menghantui, selalu menagih janji hati. Walau telah kubatalkan dan kubuang semua angan tentang masa depan, kamu tetap saja menjadi bayang. Terkadang hati sulit ditebak, entah apa maunya. Pikiran pun selalu berubah suasana, kadang bisa mengerti kadang tidak. Sesaat mampu pahami sesaat lagi sulit dimengerti.
            Mungkin ini hanya efek dari menjalani cinta yang tak kasat mata. Tapi belakangan ada kemajuan dari kisah kita. Kamu yang awalnya tak pernah mengucap kata cinta kini mulai membuka suara dengan lugasnya. Kesabaranku berhasil mengambil hatimu, ketulusanku sepertinya telah membuka matamu, menyadarkanmu bahwa aku tak sedang main-main menjalani kisah kita yang absurd ini.
            Aku rasa kita tidak membutuhkan banyak kata untuk buktikan kalau pada akhirnya kita telah saling mencinta. Kenyamanan yang kita rasakan satu sama lain cukup untuk menyadarkan bahwa kita memang saling membutuhkan pengukuhan ikatan. Itulah sebabnya, aku tak pernah berharap banyak atas apa yang telah kita jalani selama satu tahun ini. Hingga tercetus kata pernikahan yang kau niatkan atas hubungan kita.
            Aku pun tak dapat menjabarkan lewat kata-kata atas kebahagiaan yang kurasa melalui kata pernikahan. Niat tulusku atas hubungan ini hanyalah ingin memberi, memberi dan memberi. Tak peduli apa yang kuberi akan kembali atau tidak, itu sudah kuanggap sebagai ritual atas ketulusanku pada hubungan kita. Aku hanya merindukan satu hal, aku ingin tak hanya mengingatkanmu untuk menjaga kesehatan saat kamu sedang tak bersamaku. Lebih dari itu, aku ingin kamu jadi imamku.
            Magrib saat terdengar azan dari berbagai penjuru, menggugahku untuk memberanikan diri membisikkan keinginanku itu padamu.
            “Sayang, aku mau suatu saat nanti aku nggak hanya ngingetin kamu supaya jangan telat makan. Aku pengin banget ngingetin kamu supaya jangan telat untuk sholat.”
            Kamu tersenyum menanggapi ucapanku dan hatiku terasa lega.  Aku sungguh merindukan suasana religi di rumah kita. Satu hal yang tertinggal dari tanya hatiku, sangat ingin kutahu apakah kamu sudah merasakan ‘home’ saat bersamaku? Tapi tersadar akan kisah kita yang tak kasat mata, sepertinya aku harus lebih tahu diri.
            Yang pasti inginku tak muluk, aku hanya tak mau gagal untuk hal yang sama dengan orang yang berbeda. Aku paham, aku harus lebih banyak mengalah dan mengerti situasi semaksimal mungkin. Jangan sampai aku merasakan murkamu atas kelalaianku untuk hal yang tak kamu sukai. Aku harus kuat menahan ego untuk tak memaksakan kehendakku atas apa-apa yang aku ingini dan atas apa yang tak kusukai darimu.
            Walau sebenarnya masih banyak sekali tanya yang berkecamuk di kepala. Bukan karena masih tak percaya pada hubungan kita, tapi sikapmu yang terkadang ambigu, membuatku kaku. Seolah masih ada yang tak kamu ingin aku tahu tentang hidupmu, masih banyak yang tersembunyi entah apa itu. Aku hanya perlu meyakinkan diri bahwa kamu tak sedang main-main saja denganku saat ini.
            Menikah dengan kamu, masih menyisakan satu pertanyaan besar di kepalaku. Bisakah kita menikah dengan masih menyimpan banyak rahasia di kehidupan kita? Bisakah kita menikah dengan latar sandiwara yang masih menyimpan banyak tanya? Aku ingin pernikahan kita berjalan normal walaupun hubungan kita sangat abnormal.
            Sebenarnya terlalu banyak hal yang ingin kuungkap. Tapi bibir selalu kelu setiapku bertatap denganmu. Tak ingin membuatmu tersinggung dan merasa tak nyaman atas banyaknya pertanyaanku. Aku terlalu khawatir membuatmu berpaling dariku, hanya itu. Aku mungkin belum mampu menjadi apa yang kamu mau, tapi aku selalu berusaha menunjukkan padamu akan kesungguhanku.
            Ini bukan soal materi dan keterpurukan, tapi masalah kenyamanan akan kepercayaan untuk dapat terbuka satu sama lain dalam segala hal. Bagaimana bisa kamu masih saja merasa tak nyaman menyimpan privacy saat bersamaku, seolah ada rahasia besar tersimpan dalam handphone dan tas mu yang selalu kamu jauhkan dariku.
            Menikah berarti sepenuh hati kita bisa berbagi dalam segala hal. Membicarakan apa-apa yang terasa mengganjal, jika masih ada yang terpendam dan kita saling sungkan, sungguh sebenarnya kita belum siap untuk disatukan dalam ikatan pernikahan. Kita masih harus mendalami lagi satu sama lain, agar hati sungguh yakin dengan keputusan yang bukan main-main.
***
            Tampaknya Tuhan mengijabah keinginanku beberapa waktu lalu. Kamu menunjukkan perubahan di luar dugaan. Aku semakin yakin dengan pilihan hatiku, kamu imam yang aku inginkan untuk bisa menyempurnakan hidupku. Doaku terkabul, kini aku tak sungkan mengingatkanmu lagi untuk jangan telat sholat, tidak hanya mengingatkan jangan telat makan.
            Sungguh, aku semakin nyaman dengan kemajuan hubungan kita. Dari hal kecil yang mampu membahagiakan senantiasa. Memang belum lengkap sempurna, tapi setidaknya kita masih mengingat Tuhan dan takut akan dosa. Kita memang belum bisa memastikan arah dan ending dari kisah kita yang tak kasat mata. Tapi aku yakin, bersamamu hidupku akan selalu baik-baik saja. Karena cinta telah menemukan kita, dan kebahagiaan kita pun akan selalu menemukan jalannya.
***

Sabtu, 03 Desember 2016

.



Kuatkan Aku, Cinta
Oleh : Mel A.

            “Jangan pernah buat hatiku patah. Jika hatiku patah aku akan mudah menyerah.” ucapku di tengah isak yang tersendat.
            “Aku nggak mau jadi penghalang kebahagiaanmu.” sahutmu.
            “Definisi bahagia itu apa sih menurut kamu?”
            “Bahagia itu nggak ada beban.”
            “Apa menurutmu hubungan kita adalah beban?”
            “Ini soal kebahagiaan kamu, bukan tentang aku.”
            “Aku bahagia sama kamu, aku nggak mau yang lain buat bahagiain aku.” tukasku, dan kau terdiam.
            Entah apa inti dari pembicaraan ini, masing-masing kita memiliki pembenaran sendiri. Kau dengan pikiran negatifmu bahwa aku mulai jenuh dengan masalah hidupmu, dan aku dengan pikiran negatifku bahwa kau menginginkan aku pergi dari hidupmu. Kita kembali tak menemukan titik temu. Berputar-putar dengan pemikiran salah dan saling menyalahkan sesuatu yang entahlah.
            Sebenarnya apa yang ada di benak kita saat ini? Terpikir untuk menyerah setelah begitu jauh melangkah? Aku kecewa dengan pemikiran negatif kita yang tak pernah berusaha untuk saling terbuka. Selalu harus ada yang memulai untuk bertanya. Mengapa begitu sulitnya untuk saling terbuka pada segala hal?
            “Apakah ada yang mau kamu ceritain ke aku? Aku sudah baca postingan tumblr-mu, sepertinya ada yang belum kamu ceritakan tentang sesuatu yang kamu seharusnya paham apa yang aku maksudkan.” Kau memancingku dengan pertanyaan yang menyudutkanku.
            “Ya, ada hal yang belum aku ceritain ke kamu. Menurutku itu nggak penting.”
            “Segala hal tentang kamu itu penting buat aku, bahkan untuk sesuatu yang menurutmu nggak penting.” Kau mendesakku.
            “Sebenarnya ada laki-laki lain yang tengah berusaha mengambil hatiku belakangan ini.”
            “Trus? Kalian sudah ada komunikasi pribadi?” Suaramu terdengar datar tanpa ekspresi, membuatku berpikir kau sepertinya sangat ingin melepasku begitu saja tanpa ada reaksi untuk mempertahankan hubungan kita.
            “Aku nggak tertarik untuk membuka hatiku untuk siapapun. Selama masih ada kamu aku nggak akan merespons siapapun yang ingin dekat denganku lebih dari sekadar teman.”
            “Tapi aku jadi ngerasa udah jadi penghalang kebaikan buat kamu, Sayang. Kalau ternyata laki-laki itu lebih baik dan lebih pantas buat kamu kenapa nggak?”
            “Kamu pengin banget ya ngelepas aku dan biarin aku sama yang lain?”
            “Bukan gitu. Aku cuma mau kamu dapat yang terbaik.”
            “Yang terbaik buat aku cuma kamu. Apa kamu nggak pernah berpikir untuk miliki aku seutuhnya?”
            Akhirnya pertanyaan yang terendap lama itu mencuat sudah, apapun jawabanmu aku pasrah. Jika keinginanmu tak sejalan dengan apa yang aku pikirkan, aku cukup merasa bersyukur sudah bisa bersamamu sejauh ini. Memperjuangkan sesuatu yang entahlah, yang tak pernah kutahu akan berujung seperti apa.
            “Bukankah semua tergantung kamu? Aku sudah berniat untuk menghalalkan kita, katamu ini soal waktu, bukan?” jawabmu meyakinkan.
            “Ya, ini cuma soal waktu. Jadi tolong, jangan pernah menyuruhku untuk membuka hati dengan siapapun itu. Pilihanku sudah bulat, aku mau bertahan sama kamu dengan segala risikonya apapun itu. Aku yakin kamu bisa jadi yang terbaik buat aku. ”         
            Aku tahu konsekuensi dari apa yang kujalani saat ini. Tapi sepertinya aku terlanjur jauh melangkah dan hilang arah. Sepertinya butuh waktu lama untukku mampu kembali menemukan jalan pulang. Sama sepertimu yang membutuhkan waktu hampir setahun lamanya untuk mengucap kata cinta dan yakin untuk menghalalkan hubungan kita. Akhirnya kata cinta kau kumandangkan juga setelah kau menyerah pada pilihan yang tak pernah mampu kau jatuhkan. Aku tahu, kau tak pernah bisa memilih.
            Waktu memang mampu menjawab segala hal, tentang tanya, tentang pembuktian dan tentang keyakinan. Aku hanya butuh waktu untuk membuktikan kebenaran pilihan hidupku. Kau hanya butuh waktu untuk meyakinkan diri kalau kau mampu. Kita hanya butuh waktu untuk mewujudkan apa yang sudah kita mulai. Waktu yang akan memberikan hasil akhir. Akan berakhir indah, ataukah hanya akan menjadi kisah tragis yang membuncah.
***
            Pada akhirnya aku menemukan cinta yang tak pernah kau ucapkan selama setahun kebersamaan kita. Kau yang tak pernah berucap cinta membuatku terperangah saat kalimat sakti itu kau ucapkan. Apakah memang butuh waktu selama itu bagimu untuk meyakinkan kesungguhanku padamu? Sungguh, aku terlalu takut untuk berharap banyak pada apa yang kujalani saat ini.
            Menurutku tak ada hal yang pasti di dunia ini, itulah sebabnya mengapa aku tak pernah meminta kepastian padamu atas apa yang kita jalani. Aku tak ingin membuatmu tertekan pada keadaan yang selalu melemahkanmu dari waktu ke waktu. Aku tak mau menjadi penyebab hal terburuk yang kau alami dalam hidupmu.
            Aku ingin menjadi pelengkap hidupmu, yang selalu ada saat kau membutuhkan tempat untuk berbagi. Aku harap kita bisa saling menguatkan satu sama lain dalam keadaan terburuk dan terpuruk. Mungkin benar, kalau cinta adalah sesuatu yang mampu menguatkanmu. Entah benar atau salah, tak akan ada yang mampu menghalangi sebuah perasaan pada siapapun itu.
            Apa yang membuatmu tiba-tiba mempertanyakan sesuatu yang sempat ragu untuk kuceritakan padamu? Sesuatu yang akan menjadi penghalang langkah kita untuk menghalalkan kebersamaan ini. Tapi aku dengan sangat yakin mengutarakannya padamu, kalau pilihanku tetap kamu dan cuma kamu. Tak ada yang akan bisa merebut hatiku dari kamu. Walaupun logika menghadang tetap saja aku punya berbagai cara untuk mengenyahkannya, kita akan terus bersama.
            Untuk itu, jangan pernah buat aku menyerah pada hubungan kita, sesulit apapun keadaan. Jangan pernah membuatku patah. Bila hatiku patah maka aku akan sangat mudah menyerah. Aku selalu yakin kau mampu membuat hidup kita lebih bahagia. Bahagia yang tanpa beban. Bahagia yang tak hampa. Bahagia yang saling melengkapi dan saling menguatkan. Maka dari itu, selalu kuatkan aku, Cinta.
***
 

Senin, 21 November 2016

.



Sesosok Senja
Oleh : Mel A.
            Bagiku kau adalah sesosok senja. Keindahanmu selalu hadir di hidupku walau hanya sesaat saja setiap harinya. Tapi serupa senja, walau kau menghilang saat malam tiba, namun aku yakin esok sore kau akan menjelang senantiasa. Itulah yang tak pernah membuatku takut setiap harus berpisah denganmu menjelang malam tiba. Aku melepasmu dengan keyakinan esok kau pasti akan hadir kembali untukku.
            Kau dan aku kini semakin mengerti, bahwa perpisahan bukanlah hal yang patut ditakuti. Karena jeda yang kita jalani hanyalah suatu kondisi, dan itu bukan penghalang bagi kita untuk menyerah dan terus memperjuangkan kebersamaan ini. Kau adalah sosok yang selalu kunanti, dan kuberharap senja yang kulalui bersamamu bisa kurasakan hingga usia kita menjelang senja nanti. Betapapun mustahilnya harapan yang kubuat, aku selalu yakin waktu akan selalu mampu menjawab.
            “Saat ini, kalau sehari saja aku tak bisa menemuimu aku merasa sangat jauh darimu.” ucapmu suatu ketika.
            “Seperti ada perasaan bersalah ...” lanjutmu.
            Aku mulai merasa waktu telah mengubah pemikiranmu tentang kita. Tanpa sadar kau mulai menjadikanku bagian dari hidupmu. Sekuat apapun kau menampik rasa itu, kenyamanan hubungan kita akan mengalahkannya. Kau bisa saja membohongi diri sendiri tak terlalu memikirkan serius akan hubungan ini, tapi sikapmu yang mulai menunjukkan kepedulian berlebih terhadapku berbicara lain.
            Aku hanya bisa memperhatikan sampai sejauh mana kau mampu berbuat adil di dua sisi kehidupanmu saat ini. Namun, aku tak lagi merasa tersisih dalam kondisi apapun. Jikalau esok hari kau tak mampu mengabarkan diri pun aku sudah cukup mengerti. Isyaratmu akan tetap bisa kutangkap melalui dinding kebisuan kita. Bahasa yang bisa kutangkap maknanya, dan aku yakin hanya ditujukan untukku saja.
            Tak ada lagi hal yang perlu aku khawatirkan darimu selain keinginanku akan kesehatanmu. Aku hanya ingin kau sehat selalu agar aku selalu bersemangat jalani hari-hariku. Aku ingin pancaran lembayungmu senantiasa indah bercahaya. Agar senjaku selalu berwarna dan hidupku semakin indah saja.
            Harapku tak banyak, hanya ingin melewati senja ini dan kembali menemui sosokmu lagi, hanya itu saja. Pergilah, dan kembalilah senja yang indah. Tak akan sulit untuk melepasmu kini, karena kau sudah pasti akan kembali lagi.
***
            Terkadang tebersit di benakku keinginan untuk menyerah pada segala hal. Hidupku sudah terlalu sulit untuk dijalani saat ini. Langkahku semakin terasa berat, kesendirian sungguh membuat bebanku bertambah marak. Dan sesosok senja terkadang membuatku gundah, tetap bertahan atau sebaiknya kutinggalkan.
            Namun, seperti apapun pemikiranku untuk pergi darimu, keindahan lembayungmu selalu mampu menambatkanku agar tak beranjak lagi dari pesonamu. Aku selalu bergeming tatkala kau memelukku, kehangatanmu selalu meyakinkanku kalau bersamamu hidupku akan baik-baik saja. Sehingga aku mampu menolak siapapun yang berusaha menarikku dari sisimu.
            Kau tak pernah tahu, aku pun tak pernah bercerita padamu, tentang pesona lain yang tengah berjuang merebut hatiku darimu. Kau selalu mampu menambatku dengan segala keteduhanmu. Sehingga aku berpikir tak akan ada lagi yang bisa menggantikan indahmu seperti apapun itu.
            “Apa kamu benar-benar yakin dengan keputusan untuk melanjutkan saja ketidakpastian hidupmu itu?” tanya seorang sahabat tentang sesosok senjaku.
            “Bukankah tak ada hal yang pasti di dunia ini? Suatu kepastian pun kadang tidaklah pernah berjalan sesuai rencana dan keinginan.” sahutku.
            Memang, terkadang aku membutuhkan suatu hal yang bisa kujadikan alasan untuk selalu bertahan menjalani hubungan yang menurut sahabatku itu tak jelas. Tapi sungguh, bersamanya aku sama sekali tak butuh suatu ikrar apapun. Asalkan dia masih selalu ada di keseharianku itu sudah lebih dari cukup.
            Bahkan kini sesosok senjaku terkadang tanpa sadar mulai membahas tentang masa depan kami secara tersirat, tapi lagi-lagi aku terlalu takut untuk berharap. Kuiyakan saja setiap apa yang dia inginkan terhadap kelangsungan hubungan yang masih terasa absurd ini. Yang kutahu hanya menjalani di hari ini, esok adalah rahasia Illahi yang tak pernah kutahu akan seperti apa jalan ceritanya nanti.
***
            Sepertinya waktu semakin menjawab semua tanya hatiku akan kesungguhan dari apa yang aku jalani. Tak terhitung berbagai masalah dan duka keterpurukan yang kujalani bersamanya. Segala yang terjadi pada kehidupan kami tak terpikir sama sekali untuk menyerah setiap kali rasa lelah mendera dan memaksa untuk mengalah pada keadaan.
            Tahukah kau apa yang membuatku bahagia bersamamu wahai sesosok senja? Seburuk apapun keadaan kau selalu mampu membuatku menertawakan takdir Tuhan. Bersamamu aku lupa cara menangisi keterpurukan. Kau tak pernah kehilangan cara untuk membuatku tertawa dan selalu berpikir bahwa semua akan baik-baik saja. Bersamamu aku merasa kuat.
            Walaupun kau tak pernah memberiku kepastian akan hubungan kita akan seperti apa ke depannya, namun kehadiranmu selalu pasti kudapatkan. Seperti senja yang selalu pasti akan datang setiap malam menjelang. Kau menjelma hal yang pasti dari sekian ketidakpastian yang kualami dalam hidup. Memang, tak pernah ada hal pasti di dunia ini selain lembayung senja yang pasti akan muncul di penghujung hari. Dan kau sesosok senja, semoga kau selalu menjadi hal yang pasti dalam hidupku untuk kini dan nanti.
***
              

Senin, 26 September 2016

.



Why Love is so Hurt?

            Why love is so hurt, Kak?”
            Aku tercenung, tak langsung menanggapi pertanyaanmu. Jauh di lubuk hati aku membenarkan pernyataan kalau cinta itu memang menyakitkan apapun bentuknya tanpa pengecualian. Bahkan untuk cinta yang tak bertepuk sebelah tangan pun tetap akan menyakitkan bila salah satunya tak mampu setia. Meski cinta tak terhalang restu orang tua pun bisa menyakitkan pula bila dijalani dengan tak adanya kejujuran dan tak saling pengertian. Cinta yang tak disembunyikan juga tetap akan menyakitkan bila ternyata hati pasangan masih bisa tergoda oleh lain jiwa.
            “Kamu benar, love is so hurt!”
            Akhirnya aku tak mampu lagi memberi alasan mengapa cinta itu menyakitkan. Apapun bentuknya cinta memang menyakitkan pada akhirnya. Sakit bila dikecewakan, sakit bila sedang merindu, sakit bila dikhianati, padahal awalnya dari sebuah rasa cinta. Ternyata cinta itu sangat tidak penting dan sebaiknya memang tidak harus ada rasa cinta.
            Sekarang aku jadi tahu, kenapa selama ini dia tak pernah menyatakan cinta padaku. Aku akhirnya mampu menjawab pertanyaan hatiku sendiri, mengapa selama ini tak pernah terucap kata cinta dari dia untukku. Dia tak mau menyakitiku oleh cinta, bukan? Aku rasa begitu. Karena dia lebih paham tentang apa itu cinta, karena dia bukan laki-laki pengobral cinta. Dia adalah laki-laki yang penuh dengan kasih sayang, dan itu sudah lebih dari cukup bagiku.
            “Kak, kamu nggak pernah tanya sama dia tentang cinta?”
            “Aku terlalu takut untuk bertanya, aku nggak mau merasa bodoh oleh pertanyaan yang aku sudah tau sendiri apa jawabannya.” Sahutku menanggapi pertanyaanmu tentang hubunganku dengan dia.
            “Apa kamu nggak merasa sakit menjalani hubungan seperti itu, Kak?” tanyamu lagi.
            “Hidup ini seperti cinta, life is so hurt too. Jadi tinggal dijalani aja, siapa yang tahu akan takdir, siapa yang sangka dengan nasib, jalani dengan ikhlas maka rasa sakit itu akan terabaikan jika hidupmu nyaman.”
            “Dia laki-laki seperti apa sih, Kak? Sebegitu nyamannya kamu sama dia.”
            “Dia laki-laki yang nggak pernah mengucap kata cinta, yang pasti dia nggak pernah menyakitiku. Dia penuh perhatian dan kasih sayang, itu yang aku butuhkan dan itu sudah lebih dari cukup. Aku nggak butuh cinta kalau akhirnya hanya akan menyakitkan.”
            “Ya, love is so hurt, Kak. Lebih baik kalau kita nggak usah mengenal cinta.”
            Ada yang bilang kalau cinta itu pengorbanan. Hidup itu pengorbanan. Jadi cinta itu adalah hidup. No, cinta dan hidup memiliki makna yang sama, sama-sama berkorban. Namun, bukankah sebaiknya tidak ada yang dikorbankan dalam hubungan kita, bukan? Sekarang kita sudah tahu, jadi tinggal kita jalani saja tanpa ada yang harus berkorban apapun itu.
            Kasih sayang itu saling memberi dan menerima. Take and give yang sebenarnya kita butuhkan tanpa harus berkorban. Kenyamanan dan kepuasan yang kita inginkan, bukan kata-kata bullshit tentang cinta. Jadi,  jika hubungan tak ingin terasa menyakitkan jangan pernah terkontaminasi oleh rasa cinta. Cinta itu bullshit, hanya sebuah kata tanpa makna dan merupakan alat yang pada akhirnya hanya akan membuatmu merasa sakit.
            Love is so hurt! So, stop it!
***



*catatan kecil perbincangan tentang cinta bersama seorang sahabat.