Jumat, 14 April 2017

.



Tak Ada Kata dan Waktu yang Tepat untuk Mengakhiri Kita

            Aku selalu kehilangan aksara saat bertatap denganmu, semua kalimat yang sudah kususun rapi di kepala buyar seketika saat kau memelukku. Seakan tak pernah ada kata dan waktu yang tepat untukku bisa mengungkapkan semua yang berjejalan di kepala. Tentang kita yang semakin tak saling memahami satu sama lain belakangan ini.
            Entah aku yang tak mengerti kamu atau kamu yang tak memahami inginku. Kita tak pernah menemukan titik temu. Tapi saat kita bertemu, semua selalu baik-baik saja. Segala persoalan sirna seketika, seakan kita tak mempunyai permasalahan apa-apa. Padahal saat kamu tak bersamaku, isi kepalaku selalu berontak menuntut penjelasan dari semua pertanyaan yang belum kutemu jawabnya.
            Kita memang sudah membahas segala hal, tak ada yang terlewat. Aku selalu berusaha untuk tak memendam apapun yang kurasa. Bahkan beberapa waktu terakhir kita sering memperdebatkan segala hal. Dan ujung dari perdebatan selalu berakhir manis dan indah, seolah semua masalah telah terselesaikan dengan mudah.
            Aku sangat ingin sekali membuatmu marah. Di saat marah akan mudah melihat dan menilai watak asli seseorang. Itu yang sangat ingin aku lakukan terhadapmu. Aku ingin kita saling mengenal segala hal terburuk dalam diri kita, agar tak ada lagi sedikit pun rahasia yang tersisa. Memutuskan untuk hidup bersama berarti tak ada lagi yang namanya rahasia, itu menurutku. Kita pasti mempunyai pemikiran yang berbeda, tapi setidaknya kita bisa menyatukannya jika satu sama lain saling terbuka dan meniadakan rahasia.
             Sikapmu yang tak pernah mampu meredam prasangka burukku selalu menimbulkan asumsi negatif dalam otakku. Sekuat apapun usahaku untuk selalu berpikir positif atas semua lakumu tetap saja tak mampu meredam banyak tanya yang masih berkeliaran di kepala. Penjelasanmu bagiku hanyalah obat penenang untuk meredakan pikiran negatifku saja. Tapi chemistry kita sudah membentuk suatu ikatan bathin yang membuatku mampu berfirasat atas segala hal tentangmu, terutama saat kamu sedang berdusta.
            Aku selalu tahu saat kamu berusaha menutupi sesuatu. Alam bawah sadarku mempunyai radar yang kuat dan firasat yang selalu tepat. Memang sulit dijelaskan dengan logika, tapi aku selalu mampu membuktikan itu semua pada akhirnya. Semua firasatku selalu benar adanya, kamu memang tak pernah berusaha mengelak saat ucapku begitu telak.
            Tapi haruskah kejujuran itu terucap dengan keterpaksaan? Padahal akan sangat nyaman bila kita saling mengetahui keadaan satu sama lain sekecil apapun itu. Buat apa malu untuk mengeluh dan mengungkapkan hal terburuk sekali pun, untuk itulah kita hidup berpasangan. Mungkin kita hanyalah pelengkap hidup, bukan pasangan hidup. Tapi setidaknya kita bukan orang lain lagi, bukan?
            Aku tidak sedang mengulangi kesalahan yang sama dengan orang yang berbeda, bukan? Sangat ingin aku menemukan jawaban itu secepatnya, agar aku bisa menentukan sikap sebelum mengambil keputusan yang lebih fatal lagi dalam hidupku. Sudah waktunya untuk menyudahi pembenaran sendiri. Kita harus sejurus agar bisa terus, kita harus senalar agar tidak bubar, kita harus saling mengerti agar tidak ada yang tersakiti.
            “Kamu nggak mau, kan? Kalo aku sampe curhat di status tentang perasaan aku ke kamu? Komunikasi yang baik itu dasar utama untuk hubungan yang baik, Sayang.” ucapku.
            “Iya, aku paham. Tapi aku nggak suka dengan hubungan yang meniadakan privacy. Itu bentuk hubungan yang nggak dewasa.” sahutmu.
            Posesif sesungguhnya suatu bentuk tameng menjaga hubungan dari kecurangan. Posesif akan menimbulkan efek positif berupa kesetiaan. Dan posesif adalah bentuk rasa takut kehilangan. Cemburuku tidak buta, kan? Ada alasan kuat di balik itu. Sikapmu belakangan ini membuatku bertanya-tanya, menimbulkan rasa unsecure secara tiba-tiba. Ini bukan efek dari kondisi keterpurukan, aku tak pernah bermasalah dengan kondisi terburuk sekali pun.
            Aku tak pernah mengeluh dan selalu menerima keadaanmu apapun itu. Aku selalu bersyukur masih bisa berjuang bersamamu menghadapi segala kepahitan hidup. Yang menjadi pertanyaanku, aku berjuang untuk apa? Jika yang aku perjuangkan tak menunjukkan kepeduliannya. Apa ini hanya perasaanku saja? Efek dari asumsi negatif atas sikapmu yang ambigu? Sekali lagi, ini sebenarnya aku yang tak mengerti kamu atau kamu yang tidak juga memahami inginku?
            Segala hal harus dibicarakan, untuk hal yang sepele sekali pun. Kita terlalu banyak berbasa-basi dalam rangka pengalihan isu dan mengelak dari hal paling krusial. Satu-satunya cara untuk mengelak adalah dengan mengalihkan pembicaraan, selalu itu yang kamu lakukan saatku sedang membahas sesuatu yang tak kamu ingin aku tahu. Selalu begitu.
            Memutuskan untuk mempunyai pasangan berarti harus siap selalu berbagi dalam segala hal. Kita sudah terlalu jauh melangkah ke depan, sudah tak ada peluang untuk berbelok jalan selain meneruskan perjalanan ini bersama sampai tujuan. Walaupun kita masih belum menemukan alamat yang dituju, setidaknya kita sudah tak hilang arah. Kita sudah keluar dari labirin dan menemukan titik terang menuju jalan pulang.
            Semua kejadian terburuk sudah kita lalui, dan tak ada perubahan sikapmu untuk mengakhiri hubungan kita dalam kondisi apapun, kita selalu mampu bertahan. Aku semakin yakin kalau kita tidak lagi sedang main-main. Kamu memang bukan pengobral janji, tak pernah mengimingiku hal yang tak pasti. Sekali lagi ucapmu, ‘Ini hanya soal waktu.’
            Semua soal waktu. Kita hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengakhiri semua ketidakpastian kita. Hanya butuh waktu untuk mengakhiri kekacauan yang sudah kita buat dan membereskan semua dari awal. Kita hanya butuh komunikasi yang intens untuk saling menemukan apa yang kita inginkan. Dan pada akhirnya, kita memang saling membutuhkan.
***


Selasa, 28 Maret 2017

.

Saat Logika Berkata, Cinta saja Tidak Cukup untuk Kita

            Sepertinya batas kemampuanku untuk mengerti keadaan ini berada diambang punah. Kapasitasku untuk berjuang mulai melemah, saatku di hadapkan pada pilihan yang sulit, orang tua dan keluarga atau sesosok cinta. Masalahnya terletak pada cinta yang ambigu, cinta yang kuperjuangkan tanpa ada bayang-bayang kepastian masa depan. Cinta yang kujalani hanya untuk hari ini, esok entah bagaimana ceritanya nanti. Kadang hal itulah yang membuatku gamang.
            Sesosok cintaku pun sepertinya merasakan hal yang sama, yang kami jalani absurd semata. Walau sudah mengerahkan segala upaya untuk tetap bersama, sepertinya kepastian belum memihak dengan segera. Masih tentang apa yang bisa dijalani hari ini, entah esok dan lusa nanti. Masih saja dengan alur cerita yang belum ada ending-nya. Membuat hati bertanya-tanya, aku ini sedang memperjuangkan apa?
            Memang benar yang orang tua bilang, hidup itu tak cukup hanya dengan cinta. Sebesar apapun rasa cinta yang dimiliki sepasang manusia, seiring waktu akan terkikis juga bila tak dijaga oleh faktor penunjangnya. Sekeras apapun aku berusaha bertahan dengan kondisi terburuk, tetap saja logika selalu berteriak di dalam kepala. Kesabaran yang kupelihara perlahan berontak dan berusaha lari dariku.
            Sekuat apapun aku menjaga pada akhirnya tetap dihadapkan pada pilihan juga. Apakah sebaiknya aku tak harus memilih apapun dalam hidup? Bukankah dengan tidak memilih pun berarti aku telah menjatuhkan pilihan juga? Sesosok cinta atau keluarga? Aku tak mungkin mengabaikan keluarga, mereka yang mampu untuk selalu ada untukku. Sedangkan sesosok cintaku terlalu sibuk memperjuangkan hidupnya untuk keluar dari segala permasalahan hidup. Lalu aku harus apa? Terlalu banyak pertanyaan yang belum mampu kumenjawabnya.
            Tapi aku telah terperangkap dan sulit untuk membebaskan diri dari jerat cinta tanpa logika ini. Sekuat apapun usahaku untuk mengedepankan logika selalu saja kalah oleh tatap mata sesosok cinta. Mata itu selalu berusaha meyakinkanku kalau semuanya akan baik-baik saja. Pelukan sesosok cintaku selalu saja mampu membuatku bertahan dalam keadaan terburuk sekali pun. Genggaman erat sesosok cintaku selalu meluluhkan hati. Dan pada akhirnya menggoyahkan keyakinanku akan logika.
            Manusia tidak akan hidup dengan makan cinta! Selalu begitu logika berbicara, selalu ada tuntutan dari kebutuhan yang tak bisa dikesampingkan. Tapi bukankah sesosok cintaku selalu berusaha untuk membuat keadaan menjadi baik-baik saja? Aku hanya butuh sabar dan membantunya agar kami bisa membuat keadaan menjadi jauh lebih baik. Dia butuh dorongan semangat dan kekuatan dari cinta yang akan membuatnya merasa berarti.
            Namun, aku hanya ingin sekali saja mengeluh. Aku ingin menunjukkan padanya bahwa aku tak sekuat yang dia kira. Sekuat apapun aku di depannya, aku tetaplah manusia biasa yang punya batas kemampuan dalam segala hal. Aku mulai hilang arah dan lelah. Aku butuh dia selalu ada untukku setiap waktu untuk menguatkanku, aku ingin sesosok cinta memberiku semangat untuk terus bertahan. Aku ingin terus mampu berusaha dan merasa semua akan baik-baik saja.
            Tapi lagi-lagi aku selalu kehilangan aksara setiap kali bertatap dengan sesosok cinta. Mendadak lemahku lenyap bila bersamanya, ada kekuatan yang menyerang dan memaksa mengenyahkan logika. Apakah ini wujud ketulusan cinta? Apakah cinta telah berhasil menguatkan kita? Sepertinya aku harus mengabaikan logika. Ya, kalau begitu abaikan saja logika. Dan tetap percaya bahwa cinta akan selalu menguatkan kita.
***

Minggu, 12 Februari 2017

.



Cinta tak Kasat Mata

            Aku ada, tapi tampak tiada. Seperti cinta kita, yang nyata namun tak kentara. Mungkin hanya sebatas ini Tuhan menginginkan, membuat skenario yang bergenre horor untuk hubungan kita. Bagaimana tidak horor, kita seperti hantu, menakutkan bagi siapa pun. Kita takut bila ada yang tahu, kita takut untuk mengakui pada dunia nyata bahwa kita ada. Kita takut bila keberadaan kita akan menghancurkan segalanya. Itulah sebabnya kita memilih untuk menjadi tak kasat mata.
            Kini aku mulai terbiasa menjadi sesuatu yang tiada. Walau aku selalu memastikan untuk selalu ada buat kamu saja. Kamu yang terlalu takut mengakui kita dengan berbagai dalih, kamu yang memaksa untuk membuatku tak kasat mata. Kamu yang terlalu kucinta, hingga membuatku rela menjelma bukan siapa-siapa.
            “Ini demi kebaikan kita,” ucapmu menenangkanku.
            Tebersit kekhawatiran di pikiranku, sampai kapan kita akan begini. Tapi prinsip hidupku yang hanya untuk hari ini selalu mengingatkan, bahwa tak dibutuhkan harapan dan masa depan untuk cinta yang tak kasat mata. Jalani saja, hanya entah yang bisa menjawab semua tanya. Tentang bagaimana dan akan seperti apa kisah kita selanjutnya. Menjadi episode tanpa ending, seperti sinetron kejar tayang yang tak tahu akan berakhir kapan.
***
            Impian itu masih menghantui, selalu menagih janji hati. Walau telah kubatalkan dan kubuang semua angan tentang masa depan, kamu tetap saja menjadi bayang. Terkadang hati sulit ditebak, entah apa maunya. Pikiran pun selalu berubah suasana, kadang bisa mengerti kadang tidak. Sesaat mampu pahami sesaat lagi sulit dimengerti.
            Mungkin ini hanya efek dari menjalani cinta yang tak kasat mata. Tapi belakangan ada kemajuan dari kisah kita. Kamu yang awalnya tak pernah mengucap kata cinta kini mulai membuka suara dengan lugasnya. Kesabaranku berhasil mengambil hatimu, ketulusanku sepertinya telah membuka matamu, menyadarkanmu bahwa aku tak sedang main-main menjalani kisah kita yang absurd ini.
            Aku rasa kita tidak membutuhkan banyak kata untuk buktikan kalau pada akhirnya kita telah saling mencinta. Kenyamanan yang kita rasakan satu sama lain cukup untuk menyadarkan bahwa kita memang saling membutuhkan pengukuhan ikatan. Itulah sebabnya, aku tak pernah berharap banyak atas apa yang telah kita jalani selama satu tahun ini. Hingga tercetus kata pernikahan yang kau niatkan atas hubungan kita.
            Aku pun tak dapat menjabarkan lewat kata-kata atas kebahagiaan yang kurasa melalui kata pernikahan. Niat tulusku atas hubungan ini hanyalah ingin memberi, memberi dan memberi. Tak peduli apa yang kuberi akan kembali atau tidak, itu sudah kuanggap sebagai ritual atas ketulusanku pada hubungan kita. Aku hanya merindukan satu hal, aku ingin tak hanya mengingatkanmu untuk menjaga kesehatan saat kamu sedang tak bersamaku. Lebih dari itu, aku ingin kamu jadi imamku.
            Magrib saat terdengar azan dari berbagai penjuru, menggugahku untuk memberanikan diri membisikkan keinginanku itu padamu.
            “Sayang, aku mau suatu saat nanti aku nggak hanya ngingetin kamu supaya jangan telat makan. Aku pengin banget ngingetin kamu supaya jangan telat untuk sholat.”
            Kamu tersenyum menanggapi ucapanku dan hatiku terasa lega.  Aku sungguh merindukan suasana religi di rumah kita. Satu hal yang tertinggal dari tanya hatiku, sangat ingin kutahu apakah kamu sudah merasakan ‘home’ saat bersamaku? Tapi tersadar akan kisah kita yang tak kasat mata, sepertinya aku harus lebih tahu diri.
            Yang pasti inginku tak muluk, aku hanya tak mau gagal untuk hal yang sama dengan orang yang berbeda. Aku paham, aku harus lebih banyak mengalah dan mengerti situasi semaksimal mungkin. Jangan sampai aku merasakan murkamu atas kelalaianku untuk hal yang tak kamu sukai. Aku harus kuat menahan ego untuk tak memaksakan kehendakku atas apa-apa yang aku ingini dan atas apa yang tak kusukai darimu.
            Walau sebenarnya masih banyak sekali tanya yang berkecamuk di kepala. Bukan karena masih tak percaya pada hubungan kita, tapi sikapmu yang terkadang ambigu, membuatku kaku. Seolah masih ada yang tak kamu ingin aku tahu tentang hidupmu, masih banyak yang tersembunyi entah apa itu. Aku hanya perlu meyakinkan diri bahwa kamu tak sedang main-main saja denganku saat ini.
            Menikah dengan kamu, masih menyisakan satu pertanyaan besar di kepalaku. Bisakah kita menikah dengan masih menyimpan banyak rahasia di kehidupan kita? Bisakah kita menikah dengan latar sandiwara yang masih menyimpan banyak tanya? Aku ingin pernikahan kita berjalan normal walaupun hubungan kita sangat abnormal.
            Sebenarnya terlalu banyak hal yang ingin kuungkap. Tapi bibir selalu kelu setiapku bertatap denganmu. Tak ingin membuatmu tersinggung dan merasa tak nyaman atas banyaknya pertanyaanku. Aku terlalu khawatir membuatmu berpaling dariku, hanya itu. Aku mungkin belum mampu menjadi apa yang kamu mau, tapi aku selalu berusaha menunjukkan padamu akan kesungguhanku.
            Ini bukan soal materi dan keterpurukan, tapi masalah kenyamanan akan kepercayaan untuk dapat terbuka satu sama lain dalam segala hal. Bagaimana bisa kamu masih saja merasa tak nyaman menyimpan privacy saat bersamaku, seolah ada rahasia besar tersimpan dalam handphone dan tas mu yang selalu kamu jauhkan dariku.
            Menikah berarti sepenuh hati kita bisa berbagi dalam segala hal. Membicarakan apa-apa yang terasa mengganjal, jika masih ada yang terpendam dan kita saling sungkan, sungguh sebenarnya kita belum siap untuk disatukan dalam ikatan pernikahan. Kita masih harus mendalami lagi satu sama lain, agar hati sungguh yakin dengan keputusan yang bukan main-main.
***
            Tampaknya Tuhan mengijabah keinginanku beberapa waktu lalu. Kamu menunjukkan perubahan di luar dugaan. Aku semakin yakin dengan pilihan hatiku, kamu imam yang aku inginkan untuk bisa menyempurnakan hidupku. Doaku terkabul, kini aku tak sungkan mengingatkanmu lagi untuk jangan telat sholat, tidak hanya mengingatkan jangan telat makan.
            Sungguh, aku semakin nyaman dengan kemajuan hubungan kita. Dari hal kecil yang mampu membahagiakan senantiasa. Memang belum lengkap sempurna, tapi setidaknya kita masih mengingat Tuhan dan takut akan dosa. Kita memang belum bisa memastikan arah dan ending dari kisah kita yang tak kasat mata. Tapi aku yakin, bersamamu hidupku akan selalu baik-baik saja. Karena cinta telah menemukan kita, dan kebahagiaan kita pun akan selalu menemukan jalannya.
***

Sabtu, 03 Desember 2016

.



Kuatkan Aku, Cinta
Oleh : Mel A.

            “Jangan pernah buat hatiku patah. Jika hatiku patah aku akan mudah menyerah.” ucapku di tengah isak yang tersendat.
            “Aku nggak mau jadi penghalang kebahagiaanmu.” sahutmu.
            “Definisi bahagia itu apa sih menurut kamu?”
            “Bahagia itu nggak ada beban.”
            “Apa menurutmu hubungan kita adalah beban?”
            “Ini soal kebahagiaan kamu, bukan tentang aku.”
            “Aku bahagia sama kamu, aku nggak mau yang lain buat bahagiain aku.” tukasku, dan kau terdiam.
            Entah apa inti dari pembicaraan ini, masing-masing kita memiliki pembenaran sendiri. Kau dengan pikiran negatifmu bahwa aku mulai jenuh dengan masalah hidupmu, dan aku dengan pikiran negatifku bahwa kau menginginkan aku pergi dari hidupmu. Kita kembali tak menemukan titik temu. Berputar-putar dengan pemikiran salah dan saling menyalahkan sesuatu yang entahlah.
            Sebenarnya apa yang ada di benak kita saat ini? Terpikir untuk menyerah setelah begitu jauh melangkah? Aku kecewa dengan pemikiran negatif kita yang tak pernah berusaha untuk saling terbuka. Selalu harus ada yang memulai untuk bertanya. Mengapa begitu sulitnya untuk saling terbuka pada segala hal?
            “Apakah ada yang mau kamu ceritain ke aku? Aku sudah baca postingan tumblr-mu, sepertinya ada yang belum kamu ceritakan tentang sesuatu yang kamu seharusnya paham apa yang aku maksudkan.” Kau memancingku dengan pertanyaan yang menyudutkanku.
            “Ya, ada hal yang belum aku ceritain ke kamu. Menurutku itu nggak penting.”
            “Segala hal tentang kamu itu penting buat aku, bahkan untuk sesuatu yang menurutmu nggak penting.” Kau mendesakku.
            “Sebenarnya ada laki-laki lain yang tengah berusaha mengambil hatiku belakangan ini.”
            “Trus? Kalian sudah ada komunikasi pribadi?” Suaramu terdengar datar tanpa ekspresi, membuatku berpikir kau sepertinya sangat ingin melepasku begitu saja tanpa ada reaksi untuk mempertahankan hubungan kita.
            “Aku nggak tertarik untuk membuka hatiku untuk siapapun. Selama masih ada kamu aku nggak akan merespons siapapun yang ingin dekat denganku lebih dari sekadar teman.”
            “Tapi aku jadi ngerasa udah jadi penghalang kebaikan buat kamu, Sayang. Kalau ternyata laki-laki itu lebih baik dan lebih pantas buat kamu kenapa nggak?”
            “Kamu pengin banget ya ngelepas aku dan biarin aku sama yang lain?”
            “Bukan gitu. Aku cuma mau kamu dapat yang terbaik.”
            “Yang terbaik buat aku cuma kamu. Apa kamu nggak pernah berpikir untuk miliki aku seutuhnya?”
            Akhirnya pertanyaan yang terendap lama itu mencuat sudah, apapun jawabanmu aku pasrah. Jika keinginanmu tak sejalan dengan apa yang aku pikirkan, aku cukup merasa bersyukur sudah bisa bersamamu sejauh ini. Memperjuangkan sesuatu yang entahlah, yang tak pernah kutahu akan berujung seperti apa.
            “Bukankah semua tergantung kamu? Aku sudah berniat untuk menghalalkan kita, katamu ini soal waktu, bukan?” jawabmu meyakinkan.
            “Ya, ini cuma soal waktu. Jadi tolong, jangan pernah menyuruhku untuk membuka hati dengan siapapun itu. Pilihanku sudah bulat, aku mau bertahan sama kamu dengan segala risikonya apapun itu. Aku yakin kamu bisa jadi yang terbaik buat aku. ”         
            Aku tahu konsekuensi dari apa yang kujalani saat ini. Tapi sepertinya aku terlanjur jauh melangkah dan hilang arah. Sepertinya butuh waktu lama untukku mampu kembali menemukan jalan pulang. Sama sepertimu yang membutuhkan waktu hampir setahun lamanya untuk mengucap kata cinta dan yakin untuk menghalalkan hubungan kita. Akhirnya kata cinta kau kumandangkan juga setelah kau menyerah pada pilihan yang tak pernah mampu kau jatuhkan. Aku tahu, kau tak pernah bisa memilih.
            Waktu memang mampu menjawab segala hal, tentang tanya, tentang pembuktian dan tentang keyakinan. Aku hanya butuh waktu untuk membuktikan kebenaran pilihan hidupku. Kau hanya butuh waktu untuk meyakinkan diri kalau kau mampu. Kita hanya butuh waktu untuk mewujudkan apa yang sudah kita mulai. Waktu yang akan memberikan hasil akhir. Akan berakhir indah, ataukah hanya akan menjadi kisah tragis yang membuncah.
***
            Pada akhirnya aku menemukan cinta yang tak pernah kau ucapkan selama setahun kebersamaan kita. Kau yang tak pernah berucap cinta membuatku terperangah saat kalimat sakti itu kau ucapkan. Apakah memang butuh waktu selama itu bagimu untuk meyakinkan kesungguhanku padamu? Sungguh, aku terlalu takut untuk berharap banyak pada apa yang kujalani saat ini.
            Menurutku tak ada hal yang pasti di dunia ini, itulah sebabnya mengapa aku tak pernah meminta kepastian padamu atas apa yang kita jalani. Aku tak ingin membuatmu tertekan pada keadaan yang selalu melemahkanmu dari waktu ke waktu. Aku tak mau menjadi penyebab hal terburuk yang kau alami dalam hidupmu.
            Aku ingin menjadi pelengkap hidupmu, yang selalu ada saat kau membutuhkan tempat untuk berbagi. Aku harap kita bisa saling menguatkan satu sama lain dalam keadaan terburuk dan terpuruk. Mungkin benar, kalau cinta adalah sesuatu yang mampu menguatkanmu. Entah benar atau salah, tak akan ada yang mampu menghalangi sebuah perasaan pada siapapun itu.
            Apa yang membuatmu tiba-tiba mempertanyakan sesuatu yang sempat ragu untuk kuceritakan padamu? Sesuatu yang akan menjadi penghalang langkah kita untuk menghalalkan kebersamaan ini. Tapi aku dengan sangat yakin mengutarakannya padamu, kalau pilihanku tetap kamu dan cuma kamu. Tak ada yang akan bisa merebut hatiku dari kamu. Walaupun logika menghadang tetap saja aku punya berbagai cara untuk mengenyahkannya, kita akan terus bersama.
            Untuk itu, jangan pernah buat aku menyerah pada hubungan kita, sesulit apapun keadaan. Jangan pernah membuatku patah. Bila hatiku patah maka aku akan sangat mudah menyerah. Aku selalu yakin kau mampu membuat hidup kita lebih bahagia. Bahagia yang tanpa beban. Bahagia yang tak hampa. Bahagia yang saling melengkapi dan saling menguatkan. Maka dari itu, selalu kuatkan aku, Cinta.
***