Minggu, 18 Januari 2015

Dilema Hati

Jika hidup ini pilihan, mana yang kamu pilih ... menanti sesuatu yang nggak pasti atau jalani yang sudah pasti tapi nggak sesuai keinginan hati? Dilema sangad.

Jadi inget sama lagunya Ebiet G. Ade ... "Apakah ada bedanya hanya diam menunggu, dengan memburu bayang-bayang, sama-sama kosong."  #Nyambung nggak sih ama tema postingan ini? 

Whatever-lah, intinya ... menjalani sesuatu yang nggak sesuai keinginan hati itu sakitnya tuh di jero kalo kata wong kulon mah. #eh?

Bisa jadi dilema yang bikin pusing kepala, dan rasanya mau mati aja walopun takut, hehe. Gimana nggak, menanti yang nggak pasti, belum jelas apakah yang dinanti akan terjadi. Apakah yang dinanti akan datang, apakah yang dinanti akan sadar kalo dia tuh lagi ditungguin setengah hidup. 

Apa sebaiknya menjalani yang sudah ada di depan mata tapi sekadar pelarian semata, hanya sebagai pengobat rasa kecewa, yang ujung-ujungnya malah akan nambah kecewa?

Kalau kamu jadi saya ... gimana?

Tapi sayang ... kamu bukan saya, jadi nggak tau gimana kecewanya di PHP sama sebuah kata penantian. #maap curhat.



Kamis, 08 Januari 2015

..



Hari yang Pergi


Pagi yang kemarin telah pergi
Tapi hari ini pagi datang lagi
Kau tahu apa artinya?
Pagi adalah milik hari, walaupun pergi tapi pasti kembali lagi


Tak sulit berpisah dengan senja
Karena esok senja pasti selalu tiba
Tapi berpisah dengan hal yang tak akan terjadi lagi
Apakah bisa?


Hujan datang lagi
Tapi esok entahlah, tak pernah pasti
Dan kini, kau serupa hujan
Tak pernah ada kepastian


Hari telah pergi
Mungkin esok akan kembali
Tapi seperti kehidupan
Tak akan pernah ada yang pasti



Jumat, 26 Desember 2014

....



Cinta itu Luka


Cinta itu luka
Bahagianya seketika
Itulah sebabnya mengapa cinta itu jatuh
Karena cinta itu sakit dan buat rapuh

Benar pula kata pepatah
Orang yang kau cintai justru yang sering menyakiti
Ujungnya selalu jadi serapah
Bila cinta berlalu pergi

Jatuh cinta, bukan bangun cinta
Pantas kalau cinta itu adalah luka
Bahagia sesaat lalu berakhir nestapa
Bila abadi pun hanya sisakan hampa



Selasa, 23 Desember 2014

Prioritas



Menurutku ... Cinta itu prioritas. Apa yang jadi prioritas utama dalam hidup, itulah yang sebenarnya kita cintai. Banyak hal, misal pekerjaan, anak, suami, istri, hewan peliharaan, de el el de es te. Tapi sayang, nggak banyak manusia yang memprioritaskan ibadah. Artinya apa? Cinta dunia dan seisinya lebih dominan daripada cinta sama Sang Penciptanya.

Apakah prioritas hidup itu penting? Sebenarnya itu hanya sebagai skala, agar kita tahu apa yang paling diinginkan dalam hidup. Jadi kalau ada seseorang yang mengucapkan kata cinta tanpa bukti nyata yang memperlihatkan Anda adalah salah satu prioritas hidupnya, berarti Anda sudah tahu apakah sebenarnya Anda diinginkan atau tidak.

Cinta itu butuh pengorbanan, anak kecil pun tahu akan hal itu. Korban waktu atau materi sudah menjadi hal yang sangat biasa sekali. Jadi, kalau pasangan Anda teramat pelit terhadap waktu yang dia punya untuk berbagi kepada Anda, apalagi materi, lebih baik Anda berpikir ulang untuk meneruskan hubungan dengan alasan apa pun. Cinta tak butuh kata-kata, tapi bukti nyata. 


Senin, 22 Desember 2014

...



Nyata

Duniaku nyata, tidak semu
Matahariku bercahaya, tidak kelabu
Kesendirianku bahagia, tidak pilu
Tanpamu aku baik-baik saja, tidak sendu

Kau ada atau tiada
Semua sama saja
Apalah arti mencinta
Jika hanya nikmati bayang belaka

Aku ingin raga, tak hanya jiwa
Karena jiwa tanpa raga
Bagai napas tanpa nyawa
Kesia-siaan belaka

Tiadamu aku bisa
Rapuh mungkin berlaku sementara
Tapi pengalaman selalu menguatkan
Agar tiada pernah menjadi beban

Tangisku kini usai
Tak akan lagi ada derai
Senyumku kan mengembang
Ucapkan kata selamat datang

Minggu, 21 Desember 2014

Menunggu

Menunggu adalah hal paling membosankan. Seluruh umat manusia tahu akan hal itu. Bahkan kalau bayi yang ada dalam kandungan bisa bicara, dia juga pasti akan menyetujui hal itu. Menunggu itu seolah mesin pembunuh tak kasatmata. Hanya jiwa-jiwa yang besarnya melebihi kapasitas sewajarnya saja yang masih bisa mengembangkan senyum manis di tengah sebuah penantian. Apalagi penantian yang tak memiliki nomor antrian dan batas waktu tunggu.

Sepertinya orang yang suka membuat seseorang menunggu harus dikenakan sanksi psikis, agar orang itu tidak semena-mena membuat orang lain tersiksa dengan yang namanya menunggu. Tidak banyak orang bisa mengisi waktu tunggu dengan hal menyenangkan, yang ada jenuhlah yang mendominan. Sesabar apa pun orang menunggu, pasti akan keluar keluh kesah sebagai bentuk luapan kekecewaan, itu manusiawi.

Apa alasan seseorang mau menunggu? Lebih tepatnya lagi menunggu tanpa kepastian. Pastilah orang tersebut menyimpan harapan yang sangat besar di balik penantiannya itu. Mungkin lelahnya menunggu akan mendapat hasil setimpal atau bahkan lebih. Mungkin penderitaan menanti tak seberapa dibanding dengan kenikmatan sesudahnya. Tapi tetap saja,  menunggu bukanlah hal yang menyenangkan betapa pun akan ada keindahan di balik penantian itu sendiri.

Apa pun alasannya,  menunggu tetaplah menjadi hal paling menyebalkan di antara semua kegiatan yang menyebalkan di dalam hidup ini. Dan orang yang sering membuat Anda menunggu apalagi dalam batas waktu yang tak tertentu adalah orang yang tak menjadikan Anda sebagai prioritas hidupnya.