Senin, 21 April 2014

Merindukan Tawa

          Lekat kutatap bayangannya di cermin. Ada yang berubah, bentuknya tak seperti beberapa tahun yang lalu. Saat itu aku masih sering melihat segurat senyum mengembang di bibirnya, bahkan tak jarang ada suara tawa lepas menggema mewarnai senyum manisnya. Tapi bayangan wajah itu kini tampak kuyu, seperti sosok renta dimakan usia.
          Perlahan aku beralih pandang, menekuri tumpukan buku dan kertas yang berserakan. Suasana yang selalu membuatku tentram. Buku, kertas, pena, gadget dan segelas jus alpukat yang tak pernah absen menghiasi meja di sudut kamarku yang lengang.
          “Aku merindukan tawa. Sepertinya sudah lama sekali aku tidak bisa tertawa lepas,” gumamku, lirih.
          “Apa aku tidak bisa membuatmu tertawa?” tanya Bintang, kaku menatapku yang tak beranjak dari buku yang kubaca.
          “Menurutmu?”
          Bintang terdiam.
          “Kapan terakhir kali kau mendengarku tertawa? Bahkan acara televisi yang menurutmu lucu dan film komedi yang selalu kutonton pun tak pernah membuatku tertawa, kan?” ucapku, datar.
          “Lalu? Apa yang bisa membuatmu tertawa?” tanya Bintang.
          “Melepaskan beban. Hanya itu yang bisa membuatku tertawa.”
          “Maksudmu?”
          Ada kalimat tertahan di benakku, yang selalu ingin kusampaikan tapi tak kunjung terungkapkan. Tentang satu hal, hanya satu hal … kejujuran.
***
            Jika ada sebuah buku yang sangat ingin kubaca saat ini, maka buku itu berisi tentang cara menipu pikiran sendiri. Aku mulai lelah dengan berbagai macam teori menikmati hidup. Bersyukur, beribadah, menerima kenyataan dan entah apa lagi yang sudah berjejalan di otakku tentang bagaimana menjadi pribadi yang berbahagia. Yang kutahu hanya satu hal yang bisa membuatku bahagia, tertawa.
            Berkali kutatap bayangnya di cermin, dia melebarkan bibirnya, membentuk senyuman yang menurutku malah menyerupai seringai, bukan tawa. Entah ke mana perginya euforia yang kerap spontan muncul di wajah manisnya. Sepertinya tidak ada di dalam kamar yang sejuk ini, tidak di depan meja dengan tumpukan buku dan laptop tanpa koneksi internet yang bisa membawanya pergi jauh menuju dunia lain tanpa meninggalkan penjaranya kini.
            Satu-satunya teman bicara yang bisa membuatku tertawa hanyalah sebuah boneka mungil dengan satu ekspresi yang tergurat di wajah cerianya. Tapi aku merasa kalau boneka itu yang menertawakanku, dan hal itulah yang membuatku tertawa.
            “Aku banyak menemukan hal baru belakangan ini,” ungkapku suatu kali, pada Langit yang masih betah meladeni semua ocehan kosongku.
            “Tentang apa?” tanya Langit.
      “Ternyata banyak hal yang bertentangan dengan filosofi yang sudah berkarat keabsahannya di khalayak.”
            “Contohnya?”
            “Analogi baru tentang pilihan hidup. Nggak baru juga sih, mungkin aku yang baru tahu, bahwa ternyata hidup ini bukan harus memilih, pilihan yang maksa kita untuk ngikutin dia.”
            “Oya?”
            “Itu menurut Bram dalam film Rayya sih, hehe.”
            “Kalo menurutmu?” Langit masih terus bertanya.
      “Jangan bertanya pada pada orang yang nggak bisa konsisten dengan pikirannya sendiri.”
Langit tergelak mendengar kalimat terakhir yang terucap dari mulutku.
Well … hidup itu bukan soal apa yang kamu cari dan temukan, bukan? Apa kamu sudah selesai dengan pencarian? Bukankah kamu sudah menemukan yang kamu cari?”
“Aku memang sudah menemukan apa yang aku cari, tapi setelah aku mendapatkannya … aku hanya bisa merindukannya.” Ucapku, lirih.
“Mungkin benar … hidup itu bukan harus memilih, tapi pilihan yang memaksa kita buat ngikutin dia, karena apa pun yang kita pilih, pada akhirnya kita tetap harus mengalah pada realitas yang logis bila tidak ingin berhadapan dengan yang namanya masalah.”
     “Tapi bukankah hidup itu nggak seru kalo nggak ada masalah? Hampa, hambar, datar …”
“Hahaha, itu kan kamu, senangnya cari masalah.”
“Nggak juga, aku hanya mencari orang yang bisa membuatku tertawa.”
“Mencari orang yang bisa membuatmu tertawa atau merindukan orang yang bisa membuatmu tertawa? Hahahaha ….”
Langit kembali terbahak sendiri, menurutku statemennya tidak lucu sama sekali. Aku jadi merasa ada yang salah dengan urat tawaku, atau memang saraf tawaku sudah rusak dan butuh seseorang yang benar-benar ahli untuk memperbaikinya?
“Kamu cuma butuh keluar rumah, Mulan.” Langit memberiku saran.
Travelling, diving, senorkeling, rafting kalo perlu, untuk memacu adrenalin. Kalau mendaki aku khawatir, kayaknya butuh tandu untuk bisa bawa kamu sampai ke atas puncak, hahahahaha.” Lanjut Langit.
“Ya … kamu benar, yang aku butuhkan cuma refreshing. Semoga aku masih punya jatah me time dari Bintang.”
“Masihlah … kamu berhak untuk itu.”
“Ya, mungkin nanti … kalau aku masih tak berhasil menemukan cara untuk tertawa lepas kembali. Atau sebaiknya aku tak usah merindukan tawa lagi.”
Aku sebenarnya ragu dengan kata-kataku sendiri, bagaimana bisa aku berhenti merindukan tawa? Jika setiap malam saat purnama aku masih bisa menatap rembulan sambil mengingat sesuatu. Seolah ada kenangan yang tertinggal di momen itu, saatku mendengar tawa khasnya menghitung sampai tiga memberi aba-aba untuk menatap rembulan yang sama walau kami berada di tempat yang berbeda. Tawa itu memang hanya terdengar melalui gelombang suara, melalui handphone yang menyuarakan gelak khasnya, berteriak di antara deru laju kendaraan dan menyanyikan lagu kerinduan. Aku masih sangat mengingatnya, setiap kalimat yang mengalir selalu membuatku tertawa lepas. Ya, dan aku sangat merindukannya.
***
“Berusaha mengenyahkan keinginan hanya semakin merindukan apa yang diinginkan.”
—Mel A.—

Minggu, 06 April 2014

Review Novel Seribu Kerinduan




Judul Buku                 : Seribu Kerinduan
No. ISBN                  : 9786027572195
Penulis                        : Herlina P. Dewi
Penerbit                      : Stiletto
Tanggal Terbit             : November 2013
Jumlah Halaman          : 249 halaman
Jenis Cover                 : Soft cover
Kategori                     : Novel Romance Dewasa
Teks                           : Bahasa Indonesia
Harga                         : Rp. 43.000


Cinta Akan Selalu Menemukan Jalannya

Ungkapan kalau jodoh tak akan ke mana begitu terasa di novel ini. Walaupun sebuah hubungan terpisah karena berbagai masalah, tak akan mengubah ending yang sudah dituliskan oleh-Nya. Hanya perlu usaha untuk memperjuangkannya. Ya … usaha!

Cinta memang patut diperjuangkan, jika cinta itu sangat berharga hingga bisa mempengaruhi kehidupan pribadi yang membuat hidup menjadi tak berarti jika tak bersama orang yang dicintai dan diinginkan kehadirannya secara nyata. Cinta itu harus memiliki, itulah realita cinta sejati.

Renata Kumala, seorang fashion editor yang kehidupannya menjadi hancur karena hubungannya bersama Panji harus kandas akibat perjodohan yang dilakukan Ibu Panji yang tak menyetujui hubungan mereka karena status sosial Renata yang tidak selevel dengan keluarga Panji yang keturunan ningrat. Kariernya yang cemerlang harus ia relakan karena depresi berkepanjangan akibat kehilangan seorang Panji. Sebegitu hebatnya cinta yang dirasakan Renata hingga ia merasa hilang arah ketika Panji terpaksa harus meninggalkannya karena memilih menyetujui perjodohannya sekadar menuruti keinginan Ibunya.

Renata yang merasa terabaikan karena menurutnya Panji tak memperjuangkan cintanya menjadi gelap mata, khilaf serta melakukan kebodohan dan mengambil jalan pintas untuk menutupi rasa kehilangannya. Ia memilih menjadi pelacur highclass. Menurutnya dengan melakukan pekerjaan itu ia merasa dibutuhkan, dihargai, disanjung dan dicintai oleh pelanggannya yang selalu merasa terpuaskan olehnya. Renata merasa bosan dengan kehidupannya karena tak pernah mampu mengikis sosok Panji dari pikirannya.

Renata menghabiskan waktunya hanya untuk menelusuri kenangannya saat masih bersama Panji. Hingga suatu saat ia merasa rindu untuk kembali ke kehidupannya sebelum Panji meninggalkannya. Takdir sudah memilihkan jalan hidupnya. Kerinduannya akan menulis kembali ternyata mampu membawanya move on dan meneruskan hidupnya tanpa dihantui bayangan Panji lagi. Ia menuangkan semua kisah perjalanan hidupnya pada novel yang ditulisnya. Dengan begitu Renata merasa lega karena telah mengeluarkan semua unek-unek dan beban hidupnya.

Hingga suatu ketika, Panji yang gagal dengan pernikahan hasil perjodohan Ibunya karena istrinya ternyata berselingkuh dengan mantannya, hingga Panji memutuskan bercerai dan kembali mencari Renata. Apakah Renata masih menerima kehadiran Panji yang tiba-tiba menyentuh hidupnya kembali setelah setahun lebih meninggalkannya dan membuat hidupnya hancur? Bagaimana sikap Panji yang mengetahui profesi Renata sebagai pelacur? Apakah Renata benar-benar berhasil move on setelah memutuskan kembali ke dunia menulisnya?
***
Novel yang sarat pesan moral ini akan membawa pembacanya terhanyut dalam kisah klise yang dibalut dengan teknik penceritaan yang luar biasa. Herlina P. Dewi begitu apik mengemas cerita dengan bahasa sederhana yang tidak menggurui pembaca. Bagaimana tentang realita kehidupan seorang manusia yang tak mampu menerima kenyataan takdirnya, ia menggambarkannya secara gamblang dengan alur yang eksotis. Ternyata sebuah kerinduan berhasil membawa pemikiran seseorang untuk tetap bertahan dan memperbaiki keadaan. 

Apa mungkin juga karena kerinduan saya pada sesuatu yang mendorong saya untuk membabat habis novel romantis ini? Entahlah … Saya hanya setuju pada satu kutipan dalam novel ini “Cinta akan selalu menemukan jalannya.”
—Di sini aku duduk dan menunggu …—
Waktu akan membawa cinta kembali kepada seseorang yang merindu. Yang dibutuhkan hanya satu … perjuangkan cintamu!
***

Sabtu, 29 Maret 2014

Alasan Membeli Buku


Bagi penulis seperti saya, buku adalah ‘makanan’. Jadi, kalo nggak baca bakalan ‘kelaparan’, karena idealnya seorang penulis adalah pembaca yang baik. Suka nulis tapi nggak suka baca sama artinya dengan nggak makan tapi pengin kenyang. Nah, masalahnya … kadang saya suka dilema dalam hal membeli buku. Sejak bergabung di grup-grup kepenulisan dan komunitas kelas menulis, saya jadi mempunyai banyak sekali kenalan penulis, mulai dari yang baru aja ‘melahirkan’ naskahnya sampai yang karyanya udah bejibun. Jumlahnya ada puluhan bahkan ratusan orang.

Yang saya bayangin, kalau dalam sebulan ada puluhan teman sesama penulis yang berhasil menerbitkan buku, dan nggak jarang mereka pasti menginfokan itu di grup atau secara pribadi agar saya ‘wajib’ memiliki, lalu apa kabar isi dompet saya nantinya? Ada rasa sungkan kalau saya nggak beli buku mereka, apalagi kalau teman yang lumayan kenal dekat dan sering curcol saban hari. Walaupun motif dari membeli buku mereka alasannya karena nggak enak hati dan belum tentu buku mereka sesuai kebutuhan saya atau jenis tulisannya saya suka. Kalau sehati sih ndak masalah, cuma melihat daftar antrian buku teman-teman yang ‘wajib’ saya beli sudah sangat panjang, kasihan juga melihat isi dompet saya jadinya … hiks.

Membeli buku memang suatu kebutuhan tersendiri bagi saya, dalam sebulan pastinya minimal ada lima buku yang wajib jadi bahan bacaan saya. Walaupun sekarang nggak harus beli buku juga kalau mau baca, cukup blogging atau googling aja kita bisa mendapatkan banyak sekali bahan bacaan. Cuma menurut saya, membaca via gadget itu kepuasannya beda. Ibarat makanan, membaca via internet itu ibarat makanan fast food bahkan junk food, gizinya jauh banget sama bacaan yang hardcopy, kenikmatan membacanya juga beda. Jadi mau secanggih apapun media informasi via internet, saya tetap memilih buku sebagai sumber ‘hiburan’ yang sangat memuaskan #halah

Untungnya sekarang saya punya cara tersendiri menyiasati supaya bisa memiliki buku yang saya inginkan tanpa harus menguras isi dompet secara berlebihan. Tapi saya punya prinsip yang masih saya pegang sampai detik ini, saya paling anti meminta buku secara gratis dari teman penulis walaupun itu udah soulmate banget. Saya akan tetap menghargai jerih payah mereka menghasilkan buku dengan membelinya. Kecuali kalo dia ikhlas memberikannya tanpa saya minta, rezeki nggak boleh ditolak toh? Tapi saya tetap say no to minta-minta gratisan buku ke teman penulis, titik!

Lebih baik saya cari diskonan atau ke tokbuk loakan untuk meminimalisasi pengeluaran. Atau ikutan kuis dan give away yang penulis adakan kalo pengin dapat gratisan buku. Setidaknya saya ada usaha dan membantu mereka mempromokan bukunya, sehingga nerima hadiahnya juga nggak pake malu karena pake usaha. Barteran buku masih lebih terhormat menurut saya, daripada ngerengek minta japrem. Kadang ada satu hal yang bikin saya miris, ketika saya harus merasa tak enak hati saat bilang nggak suka sama buku yang ditawarkan ke saya, padahal dia teman seperjuangan … he. Moso harus maksain diri tetap beli kalo ujung-ujungnya nggak bakalan saya baca. Jujur, dikasih gratis pun belum tentu saya minat buat baca kalo saya nggak suka, yang ada saya hibahkan ke orang tuh buku jadinya. Tapi yang pasti untuk menjaga perasaannya saya nggak koar-koar langsung ke dia soal itu #yaealahhh, nyare mate? Hihihi.

So, kadang saya punya alasan tersendiri untuk membeli buku yang di luar daftar antrian. Itulah jeleknya saya, suka nggak konsekuen sama daftar belanjaan, hiks. Selain memang urgent dan terdesak kebutuhan bahan tulisan, saya memang suka nggak bisa menahan diri untuk menyegerakan hal apapun yang saya kehendaki, kecuali satu hal … (apa yaaa, kasih tau nggak yaaa)

Di saat ibu-ibu kompleks tetangga rumah pada sibuk belanja baju, tas ato sepatu buat memenuhi passion mereka, saya justru ngubek-ngubek tokbuk buat hunting novel terbaru. Saat teman-teman sosmed pada heboh buka situs Berrybenka.com dan Zalora.com, saya lebih asyik ngacak-ngacak Bukabuku.com ato BukuKita.com. Untungnya saya nggak sendirian, setidaknya saya punya teman berbagi yang juga maniak belanja buku (bahkan ada yang lebih parah dari saya). Jadi sah-sah aja kalo beli buku jadi salah satu alasan tersendiri buat saya untuk tetap bertahan ‘hidup’.

Selasa, 11 Maret 2014

Menjeda Asa

Pada akhirnya kita hanya bisa merangkum bisu
Merunut detik dengan seribu tanya dan duga
Mengharap kabar dari kepekaan menghampa
Menunggu waktu terlewat dengan kegamangan jiwa

Pada akhirnya kita hanya bisa mengais harap
Mengeruk rindu pada celah kenangan
Menikmati kebersamaan pada relung pikiran
Menyentuh keindahan pada helai kebisuan

Pada akhirnya kita hanya bisa berpasrah pada Sang Sutradara
Mengikuti skenario dalam untaian delusi
Memamah perih yang mulai tak terkendali
Menjeda asa yang masih menggantung dan membumbung tinggi

Pada akhirnya kita hanyalah untaian lara
Sekilas kisah yang tergores pada lembaran ilusi
Memaksa hati untuk menyamarkan realita dan mimpi
Dalam asa yang kian terendap dan entah kapan mencuat kembali

Pada akhirnya aku dan kamu bukan lagi kita
Aku adalah bayang dan kamu adalah angan
Sementara kita?
Kita adalah asa yang menjeda



Rabu, 26 Februari 2014

Review Novel Tell Your Father, I am Moslem


Judul Buku                 : Tell Your Father, I am Moslem
No. ISBN                  : 9797958124
Penulis                        : Hengki Kumayandi
Penerbit                      : Wahyu Qolbu
Tanggal Terbit             : Februari 2014
Jumlah Halaman          : ix + 259 halaman
Jenis Cover                 : Soft cover
Kategori                     : Novel Religi
Teks                           : Bahasa Indonesia
Harga                         : Rp. 47.000


Keyakinan dan Logika yang Menghalangi Cinta

            Ini kisah cinta yang sangat pelik. Melibatkan keyakinan dua agama yang berbeda melawan kekuatan cinta dua remaja yang sangat besar. Seperti kisah Layla Majnun yang melegenda, dalam versi modern dibalut kisah romance yang dramatis dan menginspirasi.

            David, remaja tampan anak angkat seorang Pastor. Maryam, gadis cantik anak duta besar Uni Emirat Arab. Keduanya terlibat cinta pada pandangan pertama saat bertemu di sekolah. Cinta yang mereka rasakan sangat berbeda dan belum pernah mereka rengkuh sebelumnya seumur hidup sebelum perkenalan mereka. Cinta yang tak pernah mereka dapatkan dari orang-orang yang mereka sayangi.

            David dan Maryam sangat memegang teguh ajaran agama masing-masing. Walaupun sangat saling mencintai, namun keduanya berusaha keras melawan kata hati untuk menegakkan logika dan memegang teguh ajaran agama masing-masing. Perjuangan yang sangat berat saat harus berbohong pada diri sendiri untuk saling melupakan karena perbedaan keyakinan. Perjuangan yang menciptakan beban batin hingga membuat mereka depresi dan nyaris sekarat.

Di tengah kemelut permasalahan cinta mereka, ayah Maryam memutuskan untuk menjodohkan Maryam dengan Khaled demi memisahkan David dan Maryam. Merasa tak mempunyai daya dan tak ingin berpaling dari Tuhannya, Maryam akhirnya menerima perjodohan itu dengan satu syarat. Khaled tidak diizinkan menyentuhnya sampai ia mampu melupakan David.

Mampukah Khaled mempertahankan rumah tangganya dengan kondisi mempunyai istri yang sama sekali tak bisa disentuhnya? Apakah Maryam dan David mampu saling melupakan? Apalagi setelah Maryam mengetahui akhirnya David memilih untuk beralih keyakinan karena ternyata orang tua kandung David adalah seorang muslim. David yang telah menjadi seorang muslim dan tetap menanti Maryam.
***
Hengki Kumayandi menuliskan novel ini dengan bahasa yang santun dan berani. Berani menggambarkan secara detail pertentangan batin dua keyakinan berbeda yang saling mencinta. Dengan seimbang mendeskripsikan sisi positif dari agama tersebut, sehingga tidak ada kesan SARA dalam novel ini. Walaupun turut dijabarkan cuplikan isi ayat suci dari kedua agama tersebut.

Hanya ada beberapa bab yang terlalu dramatis hingga menimbulkan kesan berlebihan dalam novel ini. Saat kedua tokoh berusaha mempertahankan cinta mereka hingga keduanya jatuh sakit dan hampir sekarat karena menanggung beban psikis yang teramat berat. Namun, dalam sebuah fiksi terkadang alur yang melodrama juga dibutuhkan untuk menimbulkan emosi pembaca. Dan Hengki sukses membuat saya merasa trenyuh dengan kondisi tokoh yang memprihatinkan tersebut dalam memperjuangkan cinta mereka.
***

Senin, 27 Januari 2014

Review Kumcer Sepanjang Musim


Penulis      : - Aveus Har 
                    - Karina Ayu Pradita 
                    - Gari Rakai Sambu 
                    - Asya Azalea 
                    - Ovita Sari 
                    - Bagas Prasetyadi
Penyunting : Fatimah Azzahrah
Penerbit     : Media Pressindo
Ukuran       : 13 x 19 cm
Tebal          : 184 halaman
ISBN            : 978-979-911-325-2
Harga          : Rp. 28.500

Kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh 6 orang penulis handal yang beberapa di antaranya berprofesi sebagai editor, desainer bahkan sutradara. Malah ada beberapa orang mengaku kalau cerpen yang mereka buat ini adalah cerpen perdananya. Kumpulan cerita yang sebagian besar memiliki benang merah yang diceritakan dengan sudut pandang yang berbeda. Mengambil tema tentang musim, mulai dari musim hujan, kemarau, liburan, durian, kawin, mudik, pemilu, ujian, haji, kembang api sampai musim pancaroba. Tersaji lengkap dengan ide cerita yang sederhana namun memiliki pesan moral dan makna yang luar biasa.

            Masing-masing cerita mempunyai gaya kepenulisan yang berbeda. Sudut pandang dan gaya bahasa beragam, dikemas dengan diksi dan alur yang memesona, membuat saya penasaran untuk menuntaskan setiap cerita perjudulnya sampai halaman terakhir. Gaya bahasa yang santai, tidak membuat saya mengernyitkan dahi dengan istilah-istilah yang biasanya hanya dipahami oleh si penulisnya sendiri. Bacaan yang ringan dan sederhana namun sarat makna dan pembelajaran hidup.

            Ada kisah tentang bagaimana jatuh bangunnya kehidupan cinta dan sosialitas seseorang sampai bagaimana dia bisa mengatasi kegalauannya hingga berhasil move on dan keluar dari masalahnya. Tidak melulu tentang kisah cinta yang happy ending, kisah yang terkesan real dan apa adanya yang mungkin banyak dialami dalam kehidupan kita sehari-hari. Bahkan pada setiap kisah yang serba kebetulan, ternyata bisa menghasilkan alur cerita yang menakjubkan. Seperti cerpen romantis dan dramatis yang ditulis Gari Rakai Sambu dengan judul 'Selamat Datang Cinta'.

            Setiap judul dalam buku kumpulan cerita pendek ini menyajikan isi yang mengundang penasaran. Bagaimana diksi yang dikemas apik dan alur cerita yang melompat indah namun mudah dicerna. Membuat saya merasa perlu mengatakan bahwa ide Sepanjang Musim ini sangatlah antimainstream dan cocok buat tempat belajar bagi penulis yang ingin tahu bagaimana cara membuat cerita yang tidak biasa.

       Sebut saja ini kumpulan kisah sederhana, kumpulan kontemplasi, mungkin juga kumpulan cara memaknai cinta.

Kamis, 23 Januari 2014

Kau, Cinta yang Menyembuhkan


            “Tak pernah ada yang namanya kebetulan, termasuk untuk cinta yang dipertemukan,” ucapku, terdengar suara tawa Saraswati di seberang sana.
            “Kak … Kak, filosofimu dalem buanget, jleb!” sahut Saraswati, masih terkekeh.
       “Aku nggak pernah menganggap apa pun yang terjadi dalam hidupku adalah kebetulan,”
            “Termasuk saat kenal Hari? Lalu mulai main hati? Trus tiba-tiba patah hati? Dan nggak tau gimana ceritanya sekarang balikan lagi? Hahaha …”
          “Hehehe, itu skenario terindah yang dirancang Tuhan untukku, Sar … Mungkin juga sedang terjadi sama kamu sekarang, cuma sekarang kamu lagi memasuki fase chaos, dan itu fase di mana kamu harus bisa move on dan mulai bersiap mencari pengganti …”
            “No! I still waiting him …” tukas Saras.
            “Mau sampai kapan?”
            Tak kudengar jawaban, Saras terdiam untuk beberapa saat …
            “Hei … come on! Hidup itu terlalu indah untuk menunggu sesuatu yang tak pasti. Jalani aja apa yang ada di depanmu sekarang. Kalo kamu stuck di tempat, gimana bisa ada perubahan?” ujarku panjang lebar.
            “Kak …, bicara itu tak semudah realita …”
         “Hahaha, itu bahasaku beberapa bulan yang lalu, Sar. Sekarang? Kamu tahu, kan? Ternyata aku lebih bahagia dengan apa yang aku jalani saat ini. Coba kalau aku memutuskan untuk menunggu dan menunggu … sedangkan yang ditunggu selalu meragu atau lebih tepatnya nggak mau tahu. Apa yang terjadi? Aku akan tetap galau selalu dan meratapi masa lalu. Ayolah, coba pelan-pelan kikis sosok Hendri dari memorimu.”
         “Kakak bahagia dengan Hari? Walaupun hubungan kalian sangat absurd?” tanya Saras.
            “Ya, aku menikmatinya.”
            “Sama seperti aku menikmati bayangan Hendri, Kak … biarlah …,”
            “Hadeehh, up to you deh … tapi jangan berlama-lama sok merasa kuat ya. Segala sesuatu sebaiknya dikomunikasikan, jangan dipendam sendirian.”
            “Iya, Kak. Ini aku udah cerita, kan? Makanya agak plong, makasih ya, Kak, masih mau dengerin curhatku.”
            “Kamu tuh ngomong gitu kayak sama siapa aja, Sar.”
            “Hehe, aku mau banyak-banyak terapi curhat aja deh sama tumblr-ku.”
            “Siplah, kalo udah penuh nanti tinggal dijadiin buku ya, hihihi.”
            “Emangnya Kakak … hahahaha.”
            “Aku sudah punya cara sendiri kok untuk melewati fase penyembuhanku.”
            “Hari?”
            “Iya, Hari itu cinta yang menyembuhkan, hehe.”
            “Hmm, iya deh, yang lain lewaat … hahaha.”
            Tawa Saraswati membuatku tersenyum miris. Setidaknya aku bisa membuatnya membebaskan tumpukan beban hati yang sepertinya masih belum sepenuhnya dia lepaskan. Saras masih berkutat dengan kesakitannya sendiri. Membiarkan hatinya dirongrong oleh kegalauan yang tidak seharusnya dibiarkannya terus mengendap. Karena seorang Hendri yang tak mampu dienyahkannya dari ruang hati sahabat kecilku itu.
            Aku hanya bisa menjadi pendengar yang baik saat ini, karena masukan seperti apa pun tampaknya tak pernah mengena di otaknya. Aku memakluminya karena aku pun pernah mengalaminya. Tapi seandainya Saras bisa membaca pikiranku dan mengikuti langkah yang pernah kuambil untuk melewati fase chaos, setidaknya dia bisa menyembuhkan penyakit hatinya sendiri, seperti aku.
***
           Lebih menebalkan keimanan dan menyibukkan diri serta berpikir positif #move on euy!
            @Saras_wati: Basi!
            @Mulan: Hahahaha … Suhu dilarang protes!
            Aku tergelak membaca kultwit yang dibuat Saras di timeline-nya malam ini. Seleb twit yang satu itu selalu tak pernah kehabisan bahan untuk memenuhi wall-nya. Sedangkan aku sudah cukup puas menjadi silent reader saja di semua akun sosial mediaku, dan hanya ikut berkicau saat ada yang me-mention saja.
            Terkadang tergelitik hasratku untuk men-stalking akun seseorang yang menjadi bahan pikiranku. Tapi sesegera mungkin aku enyahkan keinginan itu dan mencoba mencari kesibukan lain. Aku tak mau hanyut kembali dengan kebodohan masa lalu. Atau pun tak memercayai apa yang aku jalani saat ini dengan seseorang di dunia mayaku.
            “Aku percaya sama kamu, Har … apa pun yang terjadi aku yakin, aku dan kamu tak akan pernah mengulangi kebodohan dan kesalahan yang sama sampai berulang kali.” Batinku berbisik.
            Walau terkadang mencuat kecurigaan saat aku tak bisa berkomunikasi dengannya dalam waktu lewat dari tiga hari saja. Itu batas maksimal waktu sabarku untuk tak bisa terlalu lama kehilangan komunikasi dengannya. Entahlah, pikiranku seolah mati rasa bila tak menemukan tanda-tanda kehidupannya. Mungkin ini yang sedang dirasakan Saras, dalam keadaan sesakit apa pun, semua terasa baik-baik saja bila tulus mencinta.
            Menemukan cinta yang mampu menyembuhkan memang tak semudah membalikkan telapak tangan. Tak jarang buta melanda jiwa dan tak mengenal logika. Tapi aku yakin, cintaku dan Hari adalah cinta yang dewasa, yang tumbuh untuk saling mengisi dan melengkapi masing-masing kekurangan tanpa harus merasa tertekan dengan keadaan yang tak pernah berpihak hingga detik ini. Walaupun aku masih menikmati embus napasnya melalui chemistry.
            Drrrttt!
            Aku terhenyak dari lamunan saat getaran android membuatku terperanjat.
            “Kak …”
            Saras mengirimiku pesan singkat.
            “Hadir.” Balasku.
            “Move on itu menurut Kakak sama aja dengan sebuah pengkhianatan hati nggak sih?”
            “Hah? Hahahaha … move on itu menyelamatkan hati, Sar.”
            “Tapi sebelumnya aku udah berjanji untuk setia menantinya. Kalau aku move on dan menggeser posisinya, berarti hatiku berkhianat dong, Kak.”
            “Sar, peduli apa kesetiaan dengan sakit hati? Bukankah seharusnya kesetiaan itu bisa peka dan mengerti lalu membalas kesetiaanmu kembali. Tapi kenyataannya?”
            “Aku nggak bisa lupain dia, Kak …”
            “Siapa yang suruh kamu lupain dia? Selama kamu masih waras dan nggak mengidap amnesia kenangan apa pun nggak ada yang bisa pergi dari otakmu, Sar. Aku juga gitu, tapi setidaknya masih bisa tergantikan kalau kita menciptakan kenangan yang baru, kan?”
            “How?”
            “Cari penggantinya, segera!”
            “Nggak ada cara lain ya?”
            “Ada, jadilah pengidap androphobia!”
            “Kakaaaaakkk!!!!”
            “So what gitu loh?”
            “Apakah obat move on itu hanya dengan cari pengganti?”
            “Emang kamu punya obat lain yang lebih ampuh dari itu? Kalo ada kenapa kamu masih susah move on, hahaha.”
            “Aku kan pengikut Fatin, Kak.”
            “Iya deh, silakan setia. Tapi yang disetiain juga setia nggak?”
            “Hiks … speechless.”
            “Katanya mau menikmati penantian dan kesetiaan hati. Ya silakan atuh …”
            “Sindiranmu jleb, Kak.”
            “Hahahahaha.”
            “Butuh waktu berapa lama ya, Kak?”
            “Relatif. Aku pernah nggak bisa move on sampe bertahun-tahun, karena memegang teguh prinsip seperti kamu itu. Tapi apa yang kudapat? Aku malah tenggelam dan terpuruk sendiri oleh kegalauan yang nggak jelas.”
            “Trus bisa langsung move on begitu dapat pengganti?”
            “Lebih tepatnya begitu membuka hati.”
            “Oh … beda ya membuka hati sama mencari pengganti?”
            “Beda tipis sih. Sebenarnya aku nggak pernah mencari pengganti, tapi pengganti itu yang datang sendiri begitu aku membuka hati, hehe.”
            “Hmmm, berarti waktu kenal Hari itu nggak disengaja dong.”
            “Aku nggak pernah memilih dia, tapi Tuhan yang memilihkan dia untukku.”
            “So swiittt …”
            “Seperti kamu, seharusnya kamu membuka hati lagi buat Riko, mungkin dulu dia pernah nyakitin kamu, tapi dia kembali lagi bukan tanpa alasan, kan?”
            “Kadang aku masih bingung dengan yang namanya kebetulan, Kak. Persahabatan kita juga bukan suatu kebetulan, kan? Kenapa cerita cinta kita bisa selalu kebetulan sama ya?”
            “Hahaha, itulah hebatnya skenario Tuhan. Selalu bisa mempertemukan hal yang di luar jangkauan, termasuk kebetulan.”
            “Tapi bukankah kalo aku balikan lagi sama dia sama aja terjerumus dalam lobang yang sama?”
            “Kalo lobangnya sudah ditutup sama kasur yang empuk, jatohnya nggak akan sakit, kan? Hahahahahaha.”
            “Kakak tuh ya, bisaaa aja … hadeehhh.”
            “Nggak semua yang namanya jatuh itu akan mengalami sakit, Sar. Tergantung jatuhnya di mana dulu, hihihi.”
            “Kak, dirimu butuh waktu berapa lama untuk menumbuhkan kembali rasa cinta ke Hari setelah kalian sempat berpisah.”
            “Lumayan lama juga sih, itu karena aku bertahan dengan penantian yang nggak memberikan harapan. Aku dibodohi oleh keragu-raguan.”
            “Bukannya sampe sekarang juga masih ragu? Ragu untuk memilih cinta yang nyata dan yang semu. Hahaha.”
            “Mengenai itu aku hanya menunggu, hanya waktu yang mampu menjawab keragu-raguanku. Karena hanya waktu yang bisa menentukan takdir.”
            “Sampai kapan Kakak sanggup menunggu?”
            “Sampai Tuhan memberikan kepastian takdirku, hehe.”
            “Hadeehh, nggak jelas!”
            “Yang jelas aku akan tetap bertahan, selama yang namanya cinta tidak saling menyakiti, karena cinta itu hakikatnya saling memahami.”
            “Intinya?”
            “Pengendalian diri, hahaha.”
            “Wassalam.”
            Aku tergelak membaca isi WhatsApp kami malam ini. Terkadang obrolan ngalor ngidul yang berisikan curahan hati sahabat kecilku itu membuatku terhibur sendiri. Kalau sebenarnya aku pun sering menguatkan diri sendiri setiap kali ada yang meminta masukan dariku tentang apa pun itu. Memang, menjalani terkadang lebih sulit dari sekadar berbicara. Tapi aku sudah membuktikan kalau setiap kali menguatkan orang lain secara tak langsung aku telah menguatkan diri sendiri. Aku bisa bertahan dari segala kesakitan, karena telah menemukan cinta yang mampu menyembuhkan.
***
           
"Bahagia itu seperti angin, disadari ketika telah berlalu"
—Tolstoy—