Minggu, 21 Agustus 2016

Cerpen



Secangkir Kenangan
Oleh: Mel A.

            Aku masih  di sini, di tempat yang tak pernah kau lihat. Aku selalu mengamatimu sejak pertama kali kau mengunjungi kedai kopi sederhana ini. Tampaknya kau tergila-gila pada tiap cangkir kopi yang kau sesap hingga tak bersisa. Kau selalu datang dengan wajah lusuh, penat tampak jelas terukir di wajah tampanmu itu. Kau memang tampan, dengan alis tebal terukir jelas dan hidung mancung serta lesung pipi yang menambah keindahan wajah tampanmu.
            Ada satu hal yang membuatku selalu bertanya-tanya, setiap kau sudah duduk di salah satu sudut favoritmu dan membuka gadget, spontan senyummu mengembang diselingi dengan tawa. Wajahmu mendadak ceria dan penatmu tampak hilang seketika. Aku sangat ingin tahu, apa yang membuatmu menjadi seperti itu? Apakah aroma kopi hitam yang menguar dari cangkirmu itu yang mengubah bad mood-mu? Atau ada sesuatu lain di layar gadget-mu yang mampu menyihirmu menjadi ceria seketika.
            Tak jarang kau menelepon entah siapa. Yang pasti kau sedang berbicara dengan seorang wanita. Dari namanya yang kau sebut sudah jelas lawan bicaramu adalah seorang wanita. Hana, itu nama yang selalu kau panggil diiringi kata sayang setelahnya. Hana sayang, kamu lagi apa? Hana sayang, kamu hari ini pakai baju apa? Hana sayang, kamu lagi di mana?
            Sepertinya wanita  bernama Hana itu sangat spesial bagimu. Setiap hari yang kausebut selalu nama Hana, seolah tak ada yang lain lagi yang bisa kau ajak bicara selain Hana. Aku selalu memperhatikanmu, walau kau tak pernah pedulikan aku sedikitpun. Bahkan kau seolah tak pernah menyadari kehadiranku yang selalu ada di satu sudut lain kedai ini. Kau selalu sibuk dengan gadget dan cangkir kopimu.
            Sesekali aku menguping pembicaraanmu, kau kerapkali membahas tentang kopi kesukaanmu. Pembicaraan tentang kopi sangat mendominasi di setiap teleponmu dengan wanita bernama Hana itu. Tampaknya wanita di seberang sana juga mempunyai kesukaan yang sama denganmu, minum kopi. Tak ada bosannya kalian membahas tentang kopi dan kopi.
            Walaupun kerap kudengar kau berdalih setiap Hana memarahimu jika kopi yang kau minum sudah melebihi batas normal. Kau mempunyai penyakit asam lambung dan maag yang sudah kronis, tak seharusnya kau merasa aman dengan kopi hitam kesukaanmu itu. Tapi kau memang bandel, tetap saja tak mengurangi kebiasaanmu meminum kopi setiap hari.
            Tak pernah sekali pun kau tak datang ke kedai ini setiap harinya, kecuali hari libur kerjamu. Tak jarang kau mengeluh tentang kopi buatan istrimu yang tak sesuai dengan seleramu. Tunggu! Istri? Apakah kau sudah mempunyai istri? Lalu siapakah Hana yang selalu kau panggil sayang itu? Aku mulai tak mengerti, ada apa dengan kehidupan pribadimu dan apa statusmu? Kenapa ada dua wanita dalam hidupmu? Entah apa masih ada wanita lain selain Hana dan istrimu yang tak aku tahu. Kenapa aku jadi sangat ingin tahu dan sungguh tertarik padamu?
            Kau memang menarik, itu yang aku rasakan sejak pertamaku melihatmu. Terlepas dari keinginanku yang sangat ingin kau juga memperhatikanku setiap kali kau singgah di kedai kopi ini. Sederhana saja, aku ingin kau melihatku, hanya itu. Aku tak pernah berharap lebih dari itu. Entah bagaimana caranya agar aku bisa menarik perhatianmu. Kau selalu disibukkan oleh gadget dan Hana serta kopi hitammu. Seolah tak ada hal lain yang mampu menarik perhatianmu selain hal itu.
            Selain pembicaraan tentang kopi, kau dan Hana selalu membahas tentang petualangan. Sepertinya kau sangat ingin bepergian berdua dengan Hana berkeliling Indonesia. Mulai dari Aceh Tenggara, tepatnya di dataran tinggi tanah Gayo, tempat yang terkenal dengan kopi Gayo. Lalu ceritamu beralih ke Sulawesi Selatan, sepertinya kau sangat penasaran dengan kopi Toraja. Kau pun sangat ingin bertandang ke Bangli, menyesap kopi Kintamani seraya berlibur ke pulau Bali. Hingga sampailah khayalanmu menuju Wamena, ingin juga kau menikmati aroma kopi arabika Wamena di lembah pegunungan Jaya Wijaya, Papua.
            Semua perbincanganmu dengan Hana selalu tentang khayalan akan sebuah petualangan beraroma kopi. Kalian sangat ingin menjelajah setiap daerah penghasil kopi terbaik di Indonesia, keluar dari rutinitas harian yang membosankan dan merengkuh kebersamaan kalian yang selama ini hanya kalian nikmati melalui dunia maya dan gelombang suara saja. Hey ... jadi selama ini kalian belum pernah bertemu di dunia nyata?
            Aku ingat tentang cerita kalian akan sebuah pertemuan di dunia nyata yang hingga detik ini belum juga terlaksana. Impian kalian untuk hidup bersama dalam sebuah petualangan dan menuliskan kisah kalian dalam sebuah cerita panjang tentang cinta yang entahlah kalian pun tak pernah tahu akan mengarah ke mana. Aku sangat iri dengan kisah kalian yang penuh dengan impian dan harapan untuk dapat bahagia bersama. Sangat indah sekali khayalan kalian berdua.
            Sudah cangkir kedua. Hari ini tak biasanya kau menghabiskan waktu lebih lama di tempat ini. Dan kegiatanmu masih saja berkutat dengan gadget serta perbincanganmu dengan Hana. Senja telah beranjak menuju pekatnya malam dan kau masih saja tak bergerak dari sudut favoritmu itu. Aku pun merasa senang karena hari ini bisa menikmati senyum manismu lebih lama dari biasanya.
            Besok hari Sabtu dan Minggu, dua hari ke depan aku pasti akan sangat merindukanmu. Kau libur dari rutinitas kerjamu dan Senin sore baru aku bisa melihatmu lagi di sini. Entahlah, kenapa aku selalu menantikanmu setiap waktu. Walau tak pernah sekali pun aku bisa menarik perhatianmu dan menggeser posisi cangkir kopi hitammu itu. Tapi tak mengapa, bisa melihat senyummu saja sudah cukup bagiku. Kau memang selalu mampu membuatku terus merindumu.
***
            Ada pemandangan lain sore ini. Sudut favoritmu kulihat tak lagi di tempati hanya kau sendiri. Ada seorang wanita manis dengan rambut ikal sebahu menemanimu duduk sambil menyesap secangkir kopi. Kau tak lagi sendiri ke tempat ini, baru kali ini sejak setahun terakhir kesendirianmu menikmati secangkir kopi hitam dan kini ada sosok lain menemanimu. Yang membuatku terkejut, kau memanggilnya dengan nama yang biasa kau sebut di setiap pembicaraanmu di telepon, Hana. Akhirnya kalian berjumpa!
            Kulihat ada rona bahagia memancar di wajah kalian berdua. Dan pembicaraan kalian masih saja sama, tentang impian akan petualangan keliling Indonesia ke tempat penghasil kopi terbaik yang pernah ada. Dalam waktu dekat kalian merencanakan akan merealisasikannya. Tapi tunggu dulu ... Mengapa kini kalian berdebat tentang hubungan kalian yang tidak pernah ada kejelasan? Kau bergeming saat kudengar Hana memintamu untuk memilih. Jalani hidupmu yang baru dengan Hana atau lupakan saja impian kalian selama ini. Kudengar kalian berdebat dan bertengkar hebat, hingga secangkir kopi panas yang belum tandas kalian tinggalkan begitu saja.
            Ada apa dengan kalian? Yang menantikan indahnya pertemuan namun berakhir  dengan keributan akan kepastian sebuah hubungan. Apakah selama ini kau hanya memberinya harapan palsu? Teganya dirimu! Mendadak aku benci padamu wahai lelaki tampan! Kau yang ternyata adalah suami orang dengan beraninya berjanji untuk menikahi wanita lain yang tak pernah tahu siapa kau sebenarnya. Dan ketika kau dihadapkan pada sebuah pilihan, dengan entengnya kau berdalih tak bisa menyakiti dan mengorbankan seorang yang lain yang lebih dulu hadir di hidupmu sebelum dia. Akhirnya hubungan kalian binasa.
            Aku memandangi secangkir kopi yang masih menguarkan aroma kesukaanmu. Kopi hitam dengan sedikit gula yang untuk pertama kalinya tak tandas hingga tuntas. Pertemuanmu dengan Hana yang hanya berlangsung beberapa saat saja. Meninggalkan secangkir yang belum sempat kalian nikmati hingga malam tiba. Kalian berlalu begitu saja. Aku masih terpaku tanpa bisa berbuat apa-apa. Andai kau izinkan aku untuk menahan wanitamu itu dan memadamkan emosinya, pastilah kalian akan baik-baik saja.
            Betapapun kesalahan yang kau buat pasti ada alasannya. Tak mungkin kau mencintai Hana jika tak terjadi sesuatu dengan pernikahanmu di sana. Tapi kau adalah pecundang yang takut menghadapi kenyataan. Hanya berani berkhayal dan bermimpi tapi takut untuk merealisasikannya. Kau tetap saja salah, tak heran bila Hana meninggalkanmu dan menyudahi impian kalian.
            Andai  saja aku bisa berbuat sesuatu untukmu. Mungkin menjadi penenangmu seperti secangkir kopi yang selalu mampu mengubah bad mood-mu itu. Tapi sayang, kau tak pernah melihatku. Kau tak pernah ingin mengenalku. Kau tak pernah menyukai secangkir teh manis sepertiku. Kau penggila kopi hitam dan kau tak berselera pada secangkir teh manis yang selalu memandangimu dari sudut lain di kedai ini.
            Tak mengapa, aku akan tetap menantikan kehadiranmu seperti biasa. Aku tak akan cemburu pada cangkir kopimu itu, tak juga pada seorang Hana yang tampaknya akan menjadi kenangan dalam hidupmu. Karena sekilas aku mendengar Hana berucap, kalau secangkir kopi yang kalian nikmati tadi akan menjadi secangkir kenangan untuk hubungan kalian yang kandas di awal jumpa.
***


Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com



Senin, 27 Juni 2016

Cerpen



Cinta yang Tak Pernah Berucap Cinta

            Ini kali pertama aku mendengar kamu mengucap kata love you. Setelah enam bulan menjalin hubungan yang entah apa namanya, akhirnya kamu mengucap kata cinta. Entah itu tanpa sadar atau mungkin hanya refleks saja saat kamu berucap love you. Biasanya saat mengucap salam sebelum mengakhiri pembicaraan di telepon, kamu hanya mengucap miss you, walaupun baru beberapa menit saja kita bertemu selalu saja miss you.
            Apa sebaiknya aku bertanya saja untuk meyakinkan hati kalau kalimat love you yang kamu lontarkan itu bukan faktor ketidaksengajaan? Sebegitu pentingnyakah sehingga harus kuperjelas? Bagaimana jika jawabannya tak sesuai keinginan hati? Toh tidak ada yang perlu diragukan lagi dari hubungan yang sedang kita jalani. Walaupun tidak ada kepastian ikatan apapun, tapi kita tak pernah berniat untuk mengakhirinya begitu saja.
            Kamu tak pernah menyakitiku, pun aku padamu. Kita saling menjaga keutuhan hubungan ini dengan tidak merusaknya dengan hal-hal konyol. Kita saling menerima kekurangan, dalam keadaan tersulit pun kita selalu mampu bertahan. Lalu apa lagi yang harus aku khawatirkan? Hanya karena satu kata sakti yang baru sekali kamu ucapkan? Yang kupikir tadinya mungkin kamu tak akan pernah mengucapkannya dalam keadaan tak sadar sekali pun. Tapi kamu sedang sangat sadar dan dalam kondisi santai. Tak mungkin mengucap kata love you karena refleks keceplosan. Sayang, tolong jawab tanya hatiku tentang ini.
***
            Tadinya kupikir hubunganku dan kamu hanya berorientasi pada kebutuhan biologis saja. Kupikir kita hanya saling melampiaskan hasrat seksual yang tak terpenuhi. Tapi sejauh ini perasaan kita sepertinya sudah berkembang menjadi lebih dari sekadar teman bercinta yang tak pernah sekali pun mengucap kata cinta. Kamu menjelma penyemangat hidupku. Kamu senantiasa memberiku bahagia yang tak hampa, menggenapi kekosongan hati dan menyulap duka menjadi tawa.
            Memang tak ada hal penting yang kita bahas setiap kali bertemu, hanya bertukar cerita tentang keseharian yang membosankan. Tak ada yang lebih penting selain bisa tertawa dan merengkuh kenikmatan bercinta. Selebihnya hanya omong kosong tentang impian yang entahlah. Impian yang semakin tenggelam oleh ketidakberdayaan diri memaksakan kemampuan isi otak untuk berkreatifitas dengan cerkas. Tapi kamu adalah salah satu alasanku terus berjuang mewujudkan semua impian itu, walau timbul tenggelam.
            Sejak bersamamu aku tak pernah lagi menenggak pil-pil benzodiazepine itu. Kamu lebih dari obat bagiku, obat termujarab yang mampu menstabilkan sakit jiwaku. Bipolar yang kuidap selama ini seakan sembuh sejak bersamamu. Kamu lebih berfungsi lebih dari pada aku harus menjadi pasien psikiater lagi. Aku tak membutuhkan psikiater lagi, aku tak memerlukan benzodiazepine lagi. Emosiku drastis menjadi stabil sejak bersamamu. Aku tak pernah mengalami swing mood lagi belakangan ini. Perasaan nyaman saat bersamamu perlahan membentukku menjadi manusia normal pada umumnya. Kamu sebegitu hebatnya.
            Lantas apa alasanku untuk mengakhiri hubungan ini? Apa alasanku untuk pergi dari kehidupanmu? Aku tak yakin kondisiku akan semakin membaik dengan keputusan yang menurutmu baik itu. Setiap kali membahas serius tentang apa yang sebenarnya tengah kita jalani hanya akan berujung pada kebisuan dan tanya yang tak pernah terjawab.
            “Aku nggak mau jadi pengaruh buruk buat kamu, Mulan.” Ucapmu malam itu.
            Aku menatapmu lekat, mencari tahu apa arti dari kalimat yang kamu lontarkan itu. Aku takut untuk bertanya, aku sungkan untuk memulai pembahasan tentang arah hubungan ini. Akan berakhir seperti apa dan bagaimana masa depan kita.
            “Intinya aja deh, kamu pikir dengan aku tanpa kamu, hidup aku bisa berjalan normal?”
            “Aku cuma nggak mau kamu terbebani dengan hubungan kita, Mulan.”
            “Apa aku kelihatan terbebani? Atau mungkin justru sebaliknya...”
            “Tuh, kan? Malah ngebalikin omongan deh.” Tukasmu seraya balik menatapku lekat.
            “Kita lagi ngebahas apa, sih?”
            Dan kamu pun hanya menghela napas berat lalu terdiam. Selalu seperti itu keadaannya. Tak ada bahasan tentang cinta atau perasaan apapun. Aku khawatir untuk memulai mengemukakan ribuan tanya yang masih bercokol di kepala. Enggan rasanya menanyakan perihal cinta bila kamu pun tak pernah ada gambaran tentang masa depan kita. Aku tak mau menuntut apapun darimu. Waktu yang kamu luangkan untukku sudah membuktikan keseriusanmu dalam menjalani hubungan ini. Waktu yang kita curi dan sarat dengan berbagai risiko. Itu sudah lebih dari cukup bagiku sebagai pembuktian keseriusanmu.
            Lantas apa yang salah dengan kita? Karena kita tak saling memiliki secara sah? Perlukah status kita perjuangkan jika hanya akan menimbulkan banyak korban? Lalu untuk apa mempermasalahkan masa depan jika kita pun tak pernah tahu sampai kapan kita masih bisa bernapas? Masalah kita hanya berputar-putar di sini saja, tak pernah ada jalan keluarnya. Tapi aku sudah terlanjur nyaman dengan keadaan yang rumit ini. Aku sangat menikmati kerumitan ini hingga mengabaikan aral yang sangat fatal. Entahlah, aku hanya butuh kamu, itu saja. Mengenai kata cinta dan ending kita? Abaikan saja.
***

Senin, 30 Mei 2016

My Dreams Come True



        Di tahun 2013, aku pernah membuat buku mimpi. Salah satu isinya adalah aku mempunyai keinginan untuk berkunjung ke kota Surabaya dan Malang untuk rafting di sana. Hingga tahun 2016 ini, impian untuk rafting belum juga kesampaian. Tapi aku selalu percaya, jika aku mempunyai keinginan dan impian, aku cari gambarnya dan aku tuliskan di buku mimpiku itu. Walaupun entah kapan waktunya akan terealisasi, aku tetap yakin mimpi-mimpiku suatu saat nanti bisa terwujud dengan jalan yang nggak disangka-sangka.
            Amazing, tanggal 26 Mei 2016 ini, salah satu impianku itu akhirnya bisa terwujud. Ke kota Surabaya dan Malang lalu rafting di sana. Persis seperti apa yang kutulis di buku mimpiku itu, aku pun berjumpa dengan salah satu penulis teman sosial mediaku. Impianku untuk bisa rafting terwujud secara nggak langsung melalui Poet, my sweetest soulmate. Poet memberikanku kado ulang tahun terindah di usiaku yang ke-35 di tahun ini.
            Terbang jam 5 subuh dari bandara Soekarno-Hatta menuju Bandara Juanda, Surabaya. Ini pertemuan kelima yang sebelumnya kami jadwalkan akan berlangsung di Ubud bulan Oktober nanti, ternyata perjumpaan kelima ini terealisasi lebih cepat dari perkiraan.


 At Bandara Juanda, Surabaya
              Dari Surabaya, kami langsung menuju Kota Malang. Sarapan nasi krawu di mobil saking mengejar waktu buat rafting, hihihi (piknik yang dikejar waktu). 
             Sampai di Malang langsung menuju Kampung Lumbung tempat penginapan. Pemandangannya fresh banget dahh. Cuma udaranya dingin banget, hipotermiaku mesti deh kumat-kumatan, hiks.

 Kampung Lumbung

                Setelah cek in, langsung cuss ke Kaliwatu buat rafting, yeaayyyy... seru-seruan pun dimulai. Tapi sayang, Poet nggak bisa ikutan rafting karena sesuatu dan lain hal, hiks. Tapi rapopo, dapet teman satu perahu yang seru-seru kok, hehe. Meskipun arusnya nggak terlalu deras, tapi have fun banget rafting di situ.





 Serasa sungai milik sendiri, abis potonya sendirian ajah, hihihi.

          
               Sampe sore selesai rafting, balik lagi ke penginapan. Istirahat ampe abis isya langsung jalan-jalan ke Batu Night Spectaculer. Lampion gardennya keren bangeetttt. Kalo nggak mabok gegara naik graviton di taman hiburannya mungkin kami bisa pulang subuh saking betahnya.




            Besoknya lanjut ke taman bunga Selecta. Pemandangannya... wuihhh, ajib deh pokoknya.



              Aku sempat mau diculik di Selecta ama Mbak Novy ER, hihihi. Berteman di dunia maya sejak 2012 baru kali ini bisa ketemuan ama penulis yang punya Villa Nova di Kota Malang ini.

            Pulang dari Selecta nyempetin beli oleh-oleh buat orang rumah dan teman-teman di toko, hehe. Lanjut penginapan, cek out, go to Gresik ke rumah Poet. Malemnya nongkrong di angkringan sambil curcol ampe malem.
            Tanggal 28 subuh balik lagi Tangerang dengan rasa masih nggak percaya kalo abis ketemuan ama Poet plus dikasih kado ulang tahun yang ajib. Salah satu mimpiku terwujud di tahun ini. Masih banyak lagi impian yang semoga bisa terwujud dengan jalan yang nggak disangka-sangka. Alhamdulillah, rezeki anak soleh.