Selasa, 26 April 2016

Cerpen



Kita yang Tak Saling Memiliki
Oleh : Mel A.

            Ini bukan tentang cinta lagi. Bersamanya aku jadi tahu kalau kata cinta sangat tak penting dalam sebuah hubungan. Walau sampai detik ini aku masih sangat heran, begitu bisanya dia tak pernah keceplosan mengucap cinta dalam keadaan paling romantis sekali pun. Ucapannya sangat dijaga ketat hingga kalimat yang terlontar dari mulutnya tak pernah sekali pun membuatku terluka.
            Masih dalam konteks entah ke mana arah hubungan kami. Aku dan dia tak pernah punya tujuan pasti. Kami hanya saling melengkapi tanpa pernah membuat agenda masa depan untuk kelanjutan kami. Sekali lagi, hubungan ini hanya berjalan untuk hari ini, entah esok atau lusa nanti. Bagaimana bisa aku yang tipikal haus perhatian bisa betah berhubungan dengan lelaki secuek dia?
            Cinta memang tak butuh penjelasan atau alasan. Mungkin itu sebabnya mengapa dia tak begitu peduli dengan kata cinta. Kami hanya bisa merasakannya, tanpa perlu mengumbar kata-kata. Sekali lagi, bagaimana bisa aku yang tipikal perempuan pengumbar kalimat romantis bisa bertahan dengan lelaki yang tak punya banyak waktu untuk membahas masalah hati?
            Saat ini aku mulai merasa kehilangannya. Keterbatasan komunikasi membuatku tak lagi merasa memilikinya. Pertemuan yang intensitas waktunya hanya bisa dihitung jari membuatku seolah berpacu dengan waktu ketika bertemu. Aku mulai kehilangan raganya, bahkan jiwanya seperti tak utuh saat bersamaku. Aku sepertinya tak lagi memilikinya. Atau memang seharusnya begitu? Tak memiliki yang memang bukan milikku seutuhnya.
***
            “Dia berubah?”
            “Nggak sih, cuma keadaannya dan cara pandangku yang berubah.”
            Pertanyaan Tyas atas curahan hatiku tentang lelakiku itu membuatku gamang. Dia memang tidak berubah, hanya keadaan yang mengubahnya. Dia tak seperti di awal perkenalan, tapi aku bisa memakluminya dengan alasan yang cukup logis berkenaan dengan banyaknya permasalahan hidup yang menimpanya setelah mengenalku. Terkadang aku merasa bersalah entah karena apa, kulihat kehidupannya tak lagi mudah sejak menjalin hubungan denganku. Apa yang salah denganku? Atau dengan hubungan kami yang tak semestinya?
            Banyak hal yang membuatku tak mengerti akan sikapnya, keinginannya dan tujuannya kepadaku dan hubungan yang kami jalani. Pola pikirku dan dia sudah mulai terlihat jelas perbedaannya, sedikit banyaknya mulai mempengaruhi pemikiranku terhadap apa yang kami jalani. Sudah biasa bila aku tak selalu mendapatkan apa yang kuinginkan. Tapi kali ini aku benar-benar lelah dan ingin berhenti mencari apa yang tak pernah kutemui.
            Dengan keadaan ini, aku semakin menyadari kalau yang aku butuhkan saat ini adalah hidup sendiri, lagi. Aku mulai merasakan hubungan ini sudah tak membuatnya nyaman, aku tak mau memaksakan diri dan kehendakku atasnya hingga membuatnya merasa tak enak hati sampai mengorbankan kehidupannya. Aku tak ingin mengacaukan hidupnya. Aku memutuskan untuk mengalah dan melepasnya agar dia bisa lebih fokus ke kehidupannya yang bukan milikku. Karena aku memang tak berhak memilikinya, kami adalah sepasang yang tak saling memiliki, dan aku harus tahu diri.
            Teringat kembali ucapan Tyas, karibku yang selalu memahami kebodohan dan kekonyolan hidupku. Hanya kepada Tyas aku berani menebar aibku. Tyas seperti kaca yang tak pernah membohongi, tak pula menghakimi atas kesalahan yang kulakukan, apapun itu. Dia selalu menyadarkanku dengan caranya yang tak biasa.
            “Jangan pernah berpikir bahagiamu ada di tangan siapapun. Bahagialah atas dirimu sendiri. Aku bahagia karena diriku sendiri, atas apapun pencapaian tanganku sendiri. Berhenti berharap pada manusia kalo kamu nggak ingin kecewa. Mulai sekarang egoislah pada semua orang, siapapun itu. Kamu nggak akan pernah mendapatkan apa yang kamu inginkan kalau masih berharap pada sesuatu yang bersifat fana.”
            Ucapan Tyas begitu dalam dan menohokku tajam. Aku memang selalu terlambat menyadari hal yang tak semestinya kulakukan sejak awal. Aku yang selalu menyakiti diri sendiri dan tertawa di atas luka yang kubuat sendiri. Aku harus berhenti bertingkah abnormal. Aku punya masa depan yang menjanjikan tanpa bergantung pada siapapun, tidak juga dia.
            Aku harus mengubur dalam impianku memiliki pasangan yang bisa membuatku bahagia. Aku harus bisa membahagiakan diri sendiri. Aku harus egois dan berhenti menjadi malaikat yang selalu terluka atas kebaikan yang kulakukan. Sudah cukup aku menyiksa batin sendiri dengan mengharap keajaiban yang bisa membunuhku perlahan.
***
            Dalam impian, aku selalu ingin memilikimu seutuhnya, lelakiku. Andai aku menemukan sosok yang sesuai dengan keinginan, aku akan merawatnya dengan baik. Tak akan kulepas dan akan kujaga jangan sampai menghilang apalagi pergi dari hatiku. Aku akan menjaga ragamu, tak akan kubiarkan jiwa ragamu sakit. Aku akan lebih cerewet demi kebaikanmu selalu, walaupun aku akan menjadi sosok yang sangat menyebalkan di matamu dengan segala bentuk perhatian dan kepedulianku itu.
            Kamu tak pernah menyadari, keposesifan dan over protektif yang dilakukan seorang perempuan sebenarnya adalah bentuk kekhawatiran akan kehilangan. Kamu tak peka untuk mengetahui itu semua. Ternyata kamu bisa lebih tega dan egois dengan memerdekakan dirimu sendiri dari perhatian yang kamu anggap sebagai bentuk keposesifan seorang perempuan terhadap pasangan. Baiklah, kini aku mengerti, kamu adalah makhluk bebas yang selalu ingin memerdekakan diri dari sebuah ikatan apapun, walaupun ikatan itu kamu yang membuatnya sendiri. Kamu berusaha lepas dari belenggu ikatan hasil simpul tanganmu. Apakah semua lelaki seperti itu?
            Mungkin aku yang terlalu berharap lebih akan sebuah hubungan yang abadi. Pada kenyataannya, lelakiku tak menginginkan keabadian atas hubungan ini. Belum terjadi dan belum terucap olehmu, tapi aku mulai merasakan kamu berusaha melepaskan diri dari hubungan ini. Aku merasa kamu mulai insecure dan berusaha menyelamatkan diri. Hanya demi satu kata, baik-baik saja. Ya, baik-baik saja bagimu, tidak bagiku apalagi kita.
            Sampai di sini, aku makin menyadari, kita memang sepasang yang tak saling memiliki. Kita masih enggan berbagi rahasia dan mengutamakan privacy. Aku akan melepaskan kita, demi kebaikanmu saja. Aku, kamu, mungkin belum saatnya menjadi kita untuk selamanya. Karena kita belum mampu saling memiliki satu sama lain. Kita berjalan tak seiring. Kita belum saatnya mengutuh. Kepak sayap kita terlalu rapuh untuk mengepak bersama dan tak terjatuh. Selama kita tak saling memiliki, hati kita masih selalu terbagi.
            Sayup kudengar alunan yang menohok hati. Syair tentang isi hati yang saat ini sangat kuingin dia juga mendengar lagu ini. Kita yang tak pernah mengucap cinta, mungkin memang seharusnya tak lagi bercinta agar rasa cinta tak tumbuh subur antara kita.

Kulupakan semua aturan
Kuhilangkan suara yang berbisik
Yang selalu menyuruhku
Tuk tinggalkan kamu

Hanya hati yang kuandalkan
Dan kucoba melawan arus
Namun saat bersamamu
Masalahku hilang terbang melayang

Kau adalah kesalahan yang terindah
Hingga buatku marah
Tapi juga menikmati
Kau adalah dosa termanis yang menggodaku
Saat kubutuh rasakan sedikit cinta

Kembalilah kau padanya
Hanya itu jalan satu-satunya
Karena semakin lama kuingin kau lebih

***




Senin, 25 April 2016

Jogja (again)



Tanggal 24 April kemarin ceritanya Kampus Fiksi ulang tahun yang ke-3. Berhubung Poet udah ada di Indonesia lagi dan dia menjadi salah satu nominasi kumcer kampus fiksi emas tersebut, jadilah kami janjian lagi buat kopi darat untuk yang keempat kalinya. Bayangin aja, sejak sahabatan dari tahun 2012 sampe sekarang, aku sama Poet baru empat kali ketemuan... hiks.

Pertemuan yang pertama waktu di Ubud, pertemuan kedua di Jogja waktu KFE yang kedua, pertemuan ketiga di bandara Soekarno Hatta waktu pesawat Poet yang mau ke Thailand transit di CGK. Dan ini pertemuan keempat, kami balik lagi ke Jogja. Seperti biasa, selalu ada cerita seru dari pertemuan kami. Dan selalu aja kami ketiban rejeki anak soleh di tiap-tiap momen yang kami buat. Alhamdulillaahhh.

Pertemuan keempat ini judulnya silaturahmi membawa rezeki, hehe. Dimulai dari aku dan Poet yang dapat pinjeman motor gratis dari Mbak Tiwi buat ngebolang di Jogja (Makaci Mbak Tiwiiiiii....). Sebelum ngebolang, kami nyempetin mampir ke Pakualam buat makan es krim rujak. Biasalah, sesi curhat di udara terbuka biar lebih plong pikirannya. 


Es nya nggak keliatan ya?

Lanjut silaturahmi ke rumah teman Poet yang di Sewon, namanya Yusda. Ternyata Poet kenal lewat dunia maya, sama waktu Poet kenal ama aku dulu. Baru nyampe Sewon udah ditraktir makan mie ayam jamur sama baso iga yang uenaakk bangedd. Mana Ibunya Yusda baeknya ngaujubileeee, Poet dapat terapi gratis tis tisss. Rumahnya Yusda adem benerr, ada tambak ikan nila di dalam rumahnya. Kereeeeennnn...


Yang moto Ibunya Yusda, tuh keliatan jempolnya, hihi.


                                                 Gemess ngeliat ikan nilanya bejibuunnn...

 Pulang dari rumah Yusda di Sewon aku sama Poet lanjut ke Alun-alun Selatan, Keraton Jogja. Poto-poto duyuuu di depan beringin kembar yang fenomenal dengan mitos ‘barang siapa yang berhasil berjalan melewati dua pintu antara dua beringin tersebut dengan mata tertutup, maka akan terkabul keinginannya’. Poet protes, musrik katanya percaya ama begituan, gak jadi deh aku ikutan ritual jalan sambil merem di depan beringin itu, hihi. 
 Menuju pohon beringin kembar...
Di depan Keraton Jogja. (Gak bisa masuk, jadi narsis di gerbangnya ajah.)

Mumpung di Jogja dan punya teman SMA yang tinggal dekat Malioboro, akhirnya janjian reunian sama Wahyu. Ditraktir makan oseng mercon di tempat bersejarahnya Poet sama sang mantan yang orang Jogja  #uhuk
 
Aslinya cuma penasaran ama yang namanya oseng mercon, padahal Poet kebelet ama ayam geprek. Tapi akhirnya Poet ngalah dan jadilah kami makan itu oseng mercon yang rasanya lebih persis kayak makan cabe ditumis. Sumpah, kapok, gak lagi-lagi makan oseng mercon. Perut Poet langsung kontraksi gegara itu oseng mercon (maap ya, Poet) Dan Wahyu yang udah ngingetin tentang oseng mercon itu yang rasanya berbahaya cuma mesem aja ngeliatin aku ama Poet yang menangis bahagia tapi merana kepedesan abis makan itu oseng.



Kenyang kepedesan akhirnya aku ama Poet mampir ke Malioboro. Aku harus menyelesaikan satu misi yang belum terselesaikan, poto di plang jalan Malioboro. Dan akhirnyaaa... yeaayyy, berhasil juga berpose dengan sukses di plang fenomenal itu. Setelah tiga kali ke Jogja akhirnya kesampean juga, hahaha.
 Norak ya gueh, biarinnn ...

Puas ngebolang seharian akhirnya pulang ke asrama dan langsung tepar. Zzzzzzzz  (sensor no poto.)

Besoknya ngikutin acara kampus fiksi emas. Ada Opa SGA, Kak Aan Mansyur ama Faisal Oddang sebagai bintang tamu kali ini. Udah gak terlalu penasaran sih ama mereka bertiga, secara waktu UWRF 2015 lalu aku pernah jadi LO mereka, hehehe. (Jadi no poto yaaaa.)

Ketemuan lagi sama anak-anak kampus fiksi angkatan 15. Walopun gak lengkap 19 orang, tapi pembodohan massal yang dilakukan si Putri berhasil bikin reunian alumni KF-15 jadi ruamee. (Apa coba? Si Putri bawa topi yang buat ultah bocah TK dan kita disuruh poto pake itu. Tapi kok ya pada nurut ya? Hadehhh...)


Rombongan anak TK di tengah para penulis kampus fiksi  #tepokjidat.

 9 dari 19 orang alumni KF angkatan 15. (Tetap kuuullllll)

Ke Jogjanya cuma dua hari, tapi serunya gak bikin kapok (kecuali sama oseng mercon tadi). Jogja selalu punya cara menarik hati untuk kembali dan kembali lagi (khususnya buat Poet, hihihi). Dan semoga pertemuanku dan Poet yang kelima nanti akan kembali terselenggara di Ubud bulan Oktober nanti, amiinnnn.

Sabtu, 23 April 2016

Cerpen



Maaf, Aku Tak Selalu Ada Untuk Kita
Oleh : Mel A.

            Maaf, lagi-lagi hanya kata itu yang mampu kulontarkan kepada perempuanku yang satu ini. Untuk yang kesekian kalinya aku tak menepati rencana yang sudah kami susun rapi. Padahal sudah jauh hari kami merancang bersama tentang perjalanan jauh ini. Tapi pada akhirnya, lagi-lagi perempuanku harus pergi sendiri. Aku tak pernah keberatan dengan aktivitasnya yang sering membutuhkan waktu untuk bepergian jauh, ke luar kota bahkan luar pulau. Aku percaya padanya, apa yang ia lakukan demi usahanya meraih impian indahnya.
            Kulihat kecewa di matanya, walaupun nada bicaranya selalu meyakinkanku kalau dia baik-baik saja dan selalu memahami kondisiku. Dia selalu tampak mati-matian berusaha mengerti keadaanku, selalu dia yang mengalah, jarang sekali aku melakukan itu. Sungguh, aku tak berniat menyakitinya dengan hal seperti ini. Seandainya aku bisa, aku akan bersikap adil terhadap keduanya, terhadap dia dan perempuanku yang pertama.
            Aku adalah lelaki yang membagi hati. Aku tak bisa menyalahkan siapa-siapa dalam hal ini, bukan salahnya yang sudah membuatku harus berbagi segala hal yang ada dalam hidupku saat ini. Bukan salahku pula mengapa aku bisa menemukan sosok perempuan lain dalam hidupku selain muhrimku. Semua terjadi di luar kemampuanku sebagai manusia yang hanya bisa menjalani hidup tanpa kata munafik. Aku membutuhkannya, sosok lain yang membuat adrenalinku memuncak. Seseorang yang mampu mengenyahkan kejenuhanku. Sosok yang menguatkanku saat sisi lainku sedang melemahkanku.
            Terkadang aku merasa berkepribadian ganda sejakku mempunyai perempuan kedua. Tapi perempuan ini begitu beda. Dia mampu mengikat hatiku dengan sikapnya yang selalu meluluhkanku. Dia melengkapiku dalam segala hal. Dalam hubungan kami sejauh ini memang terlalu banyak dosa yang kami ukir dengan indahnya. Terkadang membuatku terkapar dengan perasaan bersalah, membunuh sisi batinku yang lain saatku sedang di samping perempuan pertamaku. Tapi aku membutuhkannya, semangat hidupku dan segelintir masalahku mampu terpecahkan bersama perempuan kedua.
            Ini salah, setiap orang pasti akan meneriakkan hal yang sama. Aku berengsek di mata muhrimku dan semua manusia sejagat raya, perempuan keduaku berpredikat jalang dan perusak rumah tangga orang. Begitulah penilaian semua orang tentang hubungan terlarang. Tak ada yang benar, tak ada baiknya di mata semua orang. Menjadi kutukan paling mematikan bagi pelakunya. Aku terhina, aku biadab, tak bermoral dan beragam bahasa cacian yang kudapatkan.
            Tapi apa salah? Jika aku ingin menjadikan hubungan ini sah? Poligami memang tabu di abad ini. Tak ada perempuan pertama yang bersedia tanpa sebab dan pengecualian yang tak memberatkanku untuk melakukan itu. Walau aku yakin, perempuan keduaku berbesar hati menerima keputusanku. Sungguh, aku tak mampu memilih. Sebab muhrimku telah memberiku sepasang buah hati. Selalu itu yang memberatkanku.
            Meski di satu sisi hati kecilku kerap melirih, mampukah aku menjadi adil bagi kedua perempuanku? Untuk saat ini, perempuan keduaku selalu yang harus mengalah. Aku tak selalu ada untuknya, aku tak mampu memberi waktuku sebanyak yang aku punya. Walaupun dia sangat sadar akan hal itu dan selalu menerima keadaanku apa adanya, bukan ada apanya.
            Ini entah untuk apa, mengapa dan bagaimana bisa menjadi sejauh ini. Perjalanan yang tak menemukan arah, bahkan tak tahu bagaimana cara untuk kembali pulang. Aku tersesat dalam perjalanan indah yang penuh bahaya. Setiap saat aku bisa terbunuh oleh kesialan yang tak kutahu kapan akan datang. Aku hanya bisa berharap keberuntungan selalu berpihak padaku. Dan aku tetap bisa bersama perempuan keduaku.
            “Kalau sampai terjadi sesuatu, dalam keadaan terburuk, kamu bisa tinggalkan aku.” ucap perempuan keduaku malam itu.
            “Ngomong apa sih kamu?” sahutku gusar.
            Sungguh, aku benci mendengar kalimat itu. Aku mau semua tetap berjalan baik-baik saja. Perempuan keduaku terkadang terlalu berlebihan dengan perasaannya. Aku maklumi itu, setiap perempuan memang selalu berlebihan, tak terkecuali perempuan pertamaku. Dan ujung-ujungnya mereka bersikap posetif sebagai bentuk over protektif kepadaku. Aku selalu mencoba untuk pahami itu, walaupun aku bukanlah tipikal yang senang diperlakukan seperti itu. Namun aku mencoba pahami bahwa ini adalah risiko dari yang namanya pernikahan. 
            “Aku nggak mau sampai terjadi sesuatu yang buruk denganmu. Aku ada buat kamu bukan untuk memperburuk kondisi kehidupanmu.”
            “Aku pernah mengalami yang lebih buruk dari ini. Semua akan baik-baik saja. Trust me, okey.” hiburku pada diri sendiri.
            Awalnya sempat kuberpikir jika keterpurukan hidup yang sedang kualami saat ini adalah akibat dari kelakuanku berkaitan dengan perempuan keduaku. Tapi kembali kutelusuri jatuh bangunku akan kehidupan sebelum kumengenal perempuan keduaku, sepertinya tak jauh beda. Jadi rasanya tak adil jika aku mendokrin kehadirannya adalah penyebab dari keterpurukan yang sedang kualami. Satu hal lagi, perempuan keduaku tak selalu merepotkanku dalam berbagai hal, justru sebaliknya.
            Jika sampai detik ini aku tak pernah mengucap kata cinta untuknya itu karena aku bukanlah tipikal lelaki pengobral kata apalagi janji. Aku tak pernah memberikan harapan apapun berkenaan dengan hubungan yang kami jalani. Dia tahu, aku tak bisa menjelma romantis dan tak pernah memaksakan diri untuk sok peduli dengan cara memberikan perhatian yang berlebihan dalam hal komunikasi. Aku tak selalu ada untuknya, dia pun bisa menerima itu. Anggap saja ini adalah bagian dari risiko hubungan yang kami jalani.
            “Maafin aku ya, aku nggak bisa selalu ada untuk kita.” ucapku pada perempuan keduaku sebelum melepasnya melakukan perjalanan ke luar kota. Sepertinya, kelak aku juga akan mengucapkan kalimat yang sama pada perempuan pertamaku, suatu hari nanti.
***