Minggu, 12 Februari 2017

.



Cinta tak Kasat Mata

            Aku ada, tapi tampak tiada. Seperti cinta kita, yang nyata namun tak kentara. Mungkin hanya sebatas ini Tuhan menginginkan, membuat skenario yang bergenre horor untuk hubungan kita. Bagaimana tidak horor, kita seperti hantu, menakutkan bagi siapa pun. Kita takut bila ada yang tahu, kita takut untuk mengakui pada dunia nyata bahwa kita ada. Kita takut bila keberadaan kita akan menghancurkan segalanya. Itulah sebabnya kita memilih untuk menjadi tak kasat mata.
            Kini aku mulai terbiasa menjadi sesuatu yang tiada. Walau aku selalu memastikan untuk selalu ada buat kamu saja. Kamu yang terlalu takut mengakui kita dengan berbagai dalih, kamu yang memaksa untuk membuatku tak kasat mata. Kamu yang terlalu kucinta, hingga membuatku rela menjelma bukan siapa-siapa.
            “Ini demi kebaikan kita,” ucapmu menenangkanku.
            Tebersit kekhawatiran di pikiranku, sampai kapan kita akan begini. Tapi prinsip hidupku yang hanya untuk hari ini selalu mengingatkan, bahwa tak dibutuhkan harapan dan masa depan untuk cinta yang tak kasat mata. Jalani saja, hanya entah yang bisa menjawab semua tanya. Tentang bagaimana dan akan seperti apa kisah kita selanjutnya. Menjadi episode tanpa ending, seperti sinetron kejar tayang yang tak tahu akan berakhir kapan.
***
            Impian itu masih menghantui, selalu menagih janji hati. Walau telah kubatalkan dan kubuang semua angan tentang masa depan, kamu tetap saja menjadi bayang. Terkadang hati sulit ditebak, entah apa maunya. Pikiran pun selalu berubah suasana, kadang bisa mengerti kadang tidak. Sesaat mampu pahami sesaat lagi sulit dimengerti.
            Mungkin ini hanya efek dari menjalani cinta yang tak kasat mata. Tapi belakangan ada kemajuan dari kisah kita. Kamu yang awalnya tak pernah mengucap kata cinta kini mulai membuka suara dengan lugasnya. Kesabaranku berhasil mengambil hatimu, ketulusanku sepertinya telah membuka matamu, menyadarkanmu bahwa aku tak sedang main-main menjalani kisah kita yang absurd ini.
            Aku rasa kita tidak membutuhkan banyak kata untuk buktikan kalau pada akhirnya kita telah saling mencinta. Kenyamanan yang kita rasakan satu sama lain cukup untuk menyadarkan bahwa kita memang saling membutuhkan pengukuhan ikatan. Itulah sebabnya, aku tak pernah berharap banyak atas apa yang telah kita jalani selama satu tahun ini. Hingga tercetus kata pernikahan yang kau niatkan atas hubungan kita.
            Aku pun tak dapat menjabarkan lewat kata-kata atas kebahagiaan yang kurasa melalui kata pernikahan. Niat tulusku atas hubungan ini hanyalah ingin memberi, memberi dan memberi. Tak peduli apa yang kuberi akan kembali atau tidak, itu sudah kuanggap sebagai ritual atas ketulusanku pada hubungan kita. Aku hanya merindukan satu hal, aku ingin tak hanya mengingatkanmu untuk menjaga kesehatan saat kamu sedang tak bersamaku. Lebih dari itu, aku ingin kamu jadi imamku.
            Magrib saat terdengar azan dari berbagai penjuru, menggugahku untuk memberanikan diri membisikkan keinginanku itu padamu.
            “Sayang, aku mau suatu saat nanti aku nggak hanya ngingetin kamu supaya jangan telat makan. Aku pengin banget ngingetin kamu supaya jangan telat untuk sholat.”
            Kamu tersenyum menanggapi ucapanku dan hatiku terasa lega.  Aku sungguh merindukan suasana religi di rumah kita. Satu hal yang tertinggal dari tanya hatiku, sangat ingin kutahu apakah kamu sudah merasakan ‘home’ saat bersamaku? Tapi tersadar akan kisah kita yang tak kasat mata, sepertinya aku harus lebih tahu diri.
            Yang pasti inginku tak muluk, aku hanya tak mau gagal untuk hal yang sama dengan orang yang berbeda. Aku paham, aku harus lebih banyak mengalah dan mengerti situasi semaksimal mungkin. Jangan sampai aku merasakan murkamu atas kelalaianku untuk hal yang tak kamu sukai. Aku harus kuat menahan ego untuk tak memaksakan kehendakku atas apa-apa yang aku ingini dan atas apa yang tak kusukai darimu.
            Walau sebenarnya masih banyak sekali tanya yang berkecamuk di kepala. Bukan karena masih tak percaya pada hubungan kita, tapi sikapmu yang terkadang ambigu, membuatku kaku. Seolah masih ada yang tak kamu ingin aku tahu tentang hidupmu, masih banyak yang tersembunyi entah apa itu. Aku hanya perlu meyakinkan diri bahwa kamu tak sedang main-main saja denganku saat ini.
            Menikah dengan kamu, masih menyisakan satu pertanyaan besar di kepalaku. Bisakah kita menikah dengan masih menyimpan banyak rahasia di kehidupan kita? Bisakah kita menikah dengan latar sandiwara yang masih menyimpan banyak tanya? Aku ingin pernikahan kita berjalan normal walaupun hubungan kita sangat abnormal.
            Sebenarnya terlalu banyak hal yang ingin kuungkap. Tapi bibir selalu kelu setiapku bertatap denganmu. Tak ingin membuatmu tersinggung dan merasa tak nyaman atas banyaknya pertanyaanku. Aku terlalu khawatir membuatmu berpaling dariku, hanya itu. Aku mungkin belum mampu menjadi apa yang kamu mau, tapi aku selalu berusaha menunjukkan padamu akan kesungguhanku.
            Ini bukan soal materi dan keterpurukan, tapi masalah kenyamanan akan kepercayaan untuk dapat terbuka satu sama lain dalam segala hal. Bagaimana bisa kamu masih saja merasa tak nyaman menyimpan privacy saat bersamaku, seolah ada rahasia besar tersimpan dalam handphone dan tas mu yang selalu kamu jauhkan dariku.
            Menikah berarti sepenuh hati kita bisa berbagi dalam segala hal. Membicarakan apa-apa yang terasa mengganjal, jika masih ada yang terpendam dan kita saling sungkan, sungguh sebenarnya kita belum siap untuk disatukan dalam ikatan pernikahan. Kita masih harus mendalami lagi satu sama lain, agar hati sungguh yakin dengan keputusan yang bukan main-main.
***
            Tampaknya Tuhan mengijabah keinginanku beberapa waktu lalu. Kamu menunjukkan perubahan di luar dugaan. Aku semakin yakin dengan pilihan hatiku, kamu imam yang aku inginkan untuk bisa menyempurnakan hidupku. Doaku terkabul, kini aku tak sungkan mengingatkanmu lagi untuk jangan telat sholat, tidak hanya mengingatkan jangan telat makan.
            Sungguh, aku semakin nyaman dengan kemajuan hubungan kita. Dari hal kecil yang mampu membahagiakan senantiasa. Memang belum lengkap sempurna, tapi setidaknya kita masih mengingat Tuhan dan takut akan dosa. Kita memang belum bisa memastikan arah dan ending dari kisah kita yang tak kasat mata. Tapi aku yakin, bersamamu hidupku akan selalu baik-baik saja. Karena cinta telah menemukan kita, dan kebahagiaan kita pun akan selalu menemukan jalannya.
***