Jumat, 19 Februari 2016

Soliloquy




Hidup tidak hanya tentang kamu, Cinta
Ada Cita yang juga harus dikejar
Tapi percayalah, ini demi kita
Yang pasti, kamu melengkapiku, Cinta


Senin, 15 Februari 2016

Imprint



Kamu percaya sama yang namanya imprint? Apa manusia biasa di dunia nyata bisa melakukan imprint?

Istilah imprint saya dapat dari film favorit saya, Twilight, pada seri Breaking Dawn part 2. Saat Jacob meng-imprint Renesmee. Seketika muncul keinginan absurd di benak saya, seandainya saya mampu meng-imprint seseorang, siapakah yang akan saya imprint?

Imprint adalah suatu perasaan sayang seseorang yang tiba-tiba muncul sejak pertemuan pertama, namun langsung yakin kalau orang itu adalah belahan jiwanya. Sayangnya, imprint ini cuma ada di novelnya Stephenie Meyer yang di filmkan, Twilight. Seandainya di dunia nyata setiap manusia dianugerahi untuk bisa melakukan imprint, pastilah tak akan ada pasangan yang berpisah, bercerai atau berselingkuh...he.

Karena orang yang di-imprint adalah belahan jiwanya, jodoh matinya. Sudah pasti tidak akan pindah ke lain hati lagi, tidak akan berpaling lagi, tidak akan tergoda oleh siapa pun walaupun menemukan orang yang lebih sempurna dari pasangannya. Ya Tuhan, kenapa imprint cuma ada di film aja sih?

Coba seandainya setiap kita bisa melakukan imprint, pasti akan damai dunia percintaan. Tidak ada yang merasa was-was melepas pasangan jauh dari pandangan mata, tidak ada perasaan takut kehilangan dan tidak ada kegalauan. Dunia percintaan bisa adem ayem selalu. Ah, seandainya ...

Di dunia nyata, imprint lebih dikenal dengan istilah jatuh cinta pada pandangan pertama dan berjodoh. Sayangnya, pada pandangan pertama sulit dibedakan mana yang benar-benar jatuh cinta atau hanya sekadar nafsu. Hanya waktu yang bisa membuktikannya. Mampu menerima kekurangan pasangan dan menerima apa adanya, itulah cinta. Jika nafsu, biasanya banyak tuntutan dan akan menghilang jika sudah bosan atau telah menemukan yang lebih baik. Namanya juga manusia, tidak pernah ada puasnya.

Kembali ke pertanyaan absurd saya tadi. Jika saya bisa meng-imprint seseorang, siapa ya yang akan saya imprint. Nggg ... siapa yaaa? 

*Yang merasa peka silakan langsung japri, hahahahaha.   



 

Selasa, 09 Februari 2016

Terkenal tapi Nggak dikenal




Siapa sih yang nggak pengin jadi orang terkenal? Diketahui publik dengan reputasi mencuat. Rata-rata penduduk Indonesia sudah terkena demam publisitas diri. Mulai dari bayi yang di-eksiskan oleh ortunya di media sosial, hingga lansia yang masih suka pamer selfi. Fenomenal meng-eksiskan diri sudah jadi hal yang lumrah di semua kalangan. Sepertinya ada kebanggaan tersendiri jika bisa dikenal banyak orang. Walopun yang ngenalin cuma teman dari temannya teman yang berteman di akun media sosial. Yang penting judulnya terkenal.

Eit, tunggu dulu. Ternyata nggak semua orang gila publikasi diri. Yang saya tahu dari Mbah Google, ada dua orang penulis dari sekian yang justru di saat kariernya sedang booming, mereka malah bertapa di goa antah berantah dan menghilang dari peradaban. Yang diketahui hanya hasil karyanya yang terus eksis, tapi orangnya entah berada di mana bahkan penampakan wajahnya pun tidak ada.

Siapa sih yang nggak kenal Ilana Tan dan Hoeda Manis? Kalo masih ada di antara kalian yang baca tulisan ini dan bingung dengan pertanyaan saya tadi, berarti Ilana Tan dan Hoeda Manis benar-benar sukses menyembunyikan identitas dirinya, hahaha.

Saya nggak akan bahas tentang apa saja hasil karya sosok Ilatan Tan dan Hoeda Manis. Biar kalian penasaran dan cari-cari sendiri tentang mereka. Tapi buat para penulis, jika Anda tak tahu beliau, layaklah Anda terus tersisih (copas kalimat Pak Edi Akhiles, hihihi)

Jadi, bagi beberapa orang, ternyata publisitas diri itu nggak terlalu penting. Yang lebih penting adalah bagaimana membuat karya sebaik mungkin agar bisa terkenal tanpa dikenal. Jadi ingat kejadian di asrama Kampus Fiksi kemarin, gara-gara bahas masalah beginian, kami sekamar jadi saling curiga satu sama lain, jangan-jangan di antara kami adalah Ilana Tan yang sedang boring dan iseng menyamar jadi peserta Kampus Fiksi. Ternyata seru juga ya jadi orang terkenal yang nggak dikenal.

 

Rabu, 03 Februari 2016

Serunya Kampus Fiksi Angkatan 15



Amazing! Dari sekian pengalamanku bersosialisasi dengan para penulis, aku rasa ini adalah pengalaman paling asyik, menarik dan menyenangkan. Dua hari hidup satu atap bersama 19 orang peserta Kampus Fiksi angkatan ke-15 di asrama DivaPress, Jogjakarta. Kegiatan yang memicu kembali semangatku untuk menghasilkan karya tulis. Acaranya seru, apalagi narasumbernya keren-keren. Setelah ini, semoga draft novel terendapku bisa segera rampung dan dibukukan, amiinnn.

Nggak akan bisa dilupain, tidur sekamar berjejalan bersama tujuh orang dari berbagai daerah. Dan sama sekali belum mengenal satu sama lain. Luar biasanya, setelah usut punya usut, barulah terungkap ternyata ada beberapa orang yang sudah berteman denganku di facebook selama dua tahun lalu, satu komunitas menulis di KOBIMO. Dunia nyata memang sempit sodara-sodara.

 ini kamar apa kapal ambruk yaaa...

Jadwal ngampusnya emang padat, jadi nggak punya banyak waktu buat jalan-jalan keliling Jogja. Tapi rapopo, ini bukan kedatanganku yang pertama di Jogja, jadi udah nggak begitu penasaran lagi buat keliling dan wisata kuliner. Walopun masih ada satu hal yang belum kesampean, pengin foto-foto di plang jalan Malioboro. Pas acara bebas dan sempat ke Malioboro, malah hujan deras, gatot lagi dah acara narsisnya di plang jalan Malioboro, hiks.

 Untungnya ada plang KW di mall Malioboro. Mayan, yang penting ada tulisan Malioboronya, hihihi.

Pengisi materinya keren-keren banget. Ada Agus Mulyadi, Pemred DivaPress, Editor-editor DivaPress, Pak Edi juga ngisi materi. Ada Uda Damhuri Muhammad juga lho.


Begini nih suasana kampus fiksi yang lagi serius tapi santai ngampusnya, hehe.

 Ceritanya lagi serius... hihihi.

Enggak cuma dikasih materi tentang nulis mulu. Kita juga dibekali ilmu agama di kampus fiksi ini. Pak Edi juga ternyata jago dakwah lhooo.

 
Dapat sertifikat, pulang disangoni buku sekardus gede (ampe kewalahan bawa pulangnya) dan yang lebih amazing lagi dapat kesempatan untuk bimbingan online langsung dimentori sama editor DivaPress. Wuaahhh, jadi nggak sabar buat utak atik draft novel yang terendap. Semoga jalan menuju cita-cita menjadi penulis profesional semakin terbuka lebar setelah ini, amiinnnn lagi.

 Yeaayyy... lulus!

Makasih banyak buat Pak Edi Akhiles yang sudah memberikan kesempatan emas ini. Semoga kebaikan Bapak menjadi ladang pahala yang tak terhingga amal ibadahnya.

 
Twistnya nih... Ternyata nggak ada yang tahu lho kalo Meilanny alias Mel Ara itu ternyata sudah punya anak dua, hahahahaha. 



Tadaaaaa... ini dia tampang-tampang teman sekamarku. Ketauan deh muka-muka jeleknya, hihihi.

 Aku, Puput, Mitri, Devi, Emma, Happy.


Siti Nur Banin jangan ngambek ya kalo yang aku pajang mukamu yang lagi nggak banget ini, hahahaha. (Langsung usap-usap perut dah dia)
 
Hahahahaha... Emma paling imut.

Colek buat si Happy yang masih nggak percaya kalo ada emak-emak gaul yang nyempil di kamarnya. 


Siti Nur Banin yang protes ternyata kita berteman di facebook sejak dua tahun lalu tapi baru bisa lihat penampakannya si Mel Ara itu seperti apa (soalnya nggak pernah pasang foto diri di pesbuk, hihihi)


Puput alias Putri kesekian dari beberapa yang punya nama Putri yang heboh selalu di sebelahku pas ngampus.


Dewi alias Devi yang plang namanya salah huruf V dan rajin bantuin aku ikat tali pita bajuku. 


Emma yang penampakannya sangat fenomenal dan berkarakter yang karena kamu kita satu asrama ngerasa jadi item kulitnya. 


Ika jelmaan Jupe ato Uut Permata Sari yang rame selalu. 


Nani sang Kepala Suku grup di whatsApp yang jago bikin karikatur (kok cuma Emma doank yang kamu lukis, sih?) 

Nani dan lukisan Emma

Nabila yang kritis abis dan paling rajin nanya di setiap sesi yang ternyata temannya Poet si Buleg Darmi (Aaaaaaa... jadi kangen kamu Poet). 



Dan semua teman-teman kampus fiksi yang seru-seru punya. Kalian luar biasa. Ketemuan lagi ya kita di bulan April 2016 pada Kampus Fiksi Emas. Daaahhhhhh...

19 peserta Kampus Fiksi angkatan 15.