Sabtu, 13 Oktober 2012

Hidup adalah Pilihan

"Bunda, ada paket..." teriak Zahra dari halaman rumah. Kuperhatikan tubuh mungilnya yang berlari lincah membawa kotak kecil yang baru diterimanya dari seorang kurir pengantar paket.
"Dari siapa?" tanyaku seraya menerima paket dari tangan Zahra anakku.
"Dari tante Melati," jawab Zahra masih berdiri dihadapanku, dengan tatapan mata masih tertuju pada kotak kecil yang sudah berpindah posisi ditanganku sekarang. Zahra seperti sangat ingin tahu benda apa yang ada di dalam kotak mungil itu.
"Penasaran ya pengen tau isinya," ledekku pada anak semata wayangku yang manis ini. Zahra terkekeh dan tersipu malu tapi masih belum beranjak juga dari hadapanku.
"Kita buka yuk, tolong ambilkan gunting ya buat buka paket ini"
"Oke deh Bun," dan tubuh kecilnya yang selalu lincah itu segera menghambur ke ruang tengah mencari benda yang aku minta tadi.

Kuperhatikan paket yang ada di tanganku ini. Hmm, Melati... Sedang apa sahabatku itu sekarang? pikirku seraya mengguncang-guncang kotak berwarna cokelat ini. Melati sahabatku yang sedang berpetualang ke berbagai negara, sungguh seru kisah hidup yang dia jalani saat ini. Cita-citanya dari sejak SMU memang ingin menjadi seorang petualang yang bebas berkelana kemana saja, mengunjungi berbagai negara berkeliling dunia. Melati orangnya sangat tidak mau terikat, pantas saja kalau hubungan cintanya selalu kandas di tengah jalan. Sepertinya dia akan menjadi jomblo sejati. Gara-gara patah hatinya pada laki-laki yang bernama Adrian, membuatnya menjadi berpikir tidak ada yang namanya cinta sejati di dunia ini.

"Gue mau keliling dunia Ra, gue bosan hidup monoton" teringat kembali ucapan Melati sebelum keberangkatannya ke luar negeri beberapa bulan yang lalu. Sebagai awal petualangannya, Melati memilih mengunjungi kota Paris sebagai tujuan pertamanya. Aku dan Melati sangat berbeda karakter dan watak, tapi kami bisa menjadi sahabat yang sangat mengerti sifat satu sama lain. Aku adalah perempuan rumahan dengan kehidupan monoton yang aku jalani setiap harinya, mengurus anak dan suami. Sedang Melati, perempuan modern yang energik dan pembosan. Melati sangat berani mengambil risiko dan tidak takut berspekulasi. Dengan modal nekat dan pegangan uang yang sangat pas-pasan, dia berani menjalani niatnya untuk berpetualang. Mengandalkan faktor lucky untuk menjadi seorang bacpacker. Aku selalu mendukung niat uniknya itu dan hanya bisa mendoakan semoga sahabatku yang nyeleneh itu bisa menjadi lucky backpacker.

"Isinya apa sih Bun," Zahra mengamati dengan saksama saatku mengeluarkan isi paket dari Melati. Melati mengirimiku sebuah foto polaroid dan bingkisan berupa baju anak perempuan. Kuperhatikan gambarnya yang sedang berpose dengan latar belakang menara Eiffel. Menggunakan syal, jaket tebal, kupluk dan kaca mata hitam, Melati tampak seperti turis. Ada secarik kertas bertuliskan "untuk dede Zahra" ditempel di bungkusan mungil berisi dress cantik. Aku teringat, Melati pernah berjanji akan membelikan Zahra dress yang lucu yang akan dia pesan dari agen baju anak branded.

Beberapa hari yang lalu Melati sempat curhat via BBM, kalau dia merasa berhasil menjalani terapi duka dengan cara berpergian ke berbagai tempat. Melati hanya sedang membutuhkan pelarian positif dan menurutnya berpetualang adalah solusi terbaik. Masalah putus hubungannya dengan Adrian membuat Melati merasa hilang harapan, karena selama ini hanya Adrian satu-satunya laki-laki yang sudah mulai bisa memahami karakter uniknya itu. Itulah sebabnya, ketika ternyata Adrian mengkhianatinya Melati sangat terpukul sekali.

Sebagai sahabat, aku hanya bisa mendukung niat baiknya untuk mencari pelarian yang positif dengan memilih berpetualang keliling dunia untuk menghilangkan stresnya itu. Seperti dia yang juga telah mendukungku saat aku mengambil keputusan untuk memilih home schooling bagi Zahra. Karena anakku mempunyai fobia, Zahra sangat takut berada di tempat keramaian dan di tengah orang banyak. Fobia itu mulai terlihat saat Zahra duduk di bangku TK. Wajahnya selalu ketakutan seperti melihat hantu bila bersosialisasi dengan orang-orang yang belum dikenalnya. Membuatku merasa kesulitan karena harus selalu berada di sisinya dan memeluknya erat untuk memberikan kenyamanan dan menghilangkan perasaan takutnya yang berlebihan itu.

Akhirnya dengan bantuan dan dukungan Melati juga seizin suamiku, aku memutuskan untuk memberikan pendidikan home schooling untuk Zahra, agar anakku bisa merasa lebih nyaman dalam belajar. Dibantu dengan buku cerdas dan ceria dengan cerita teladan, sekarang Zahra mulai terlihat ada perubahan. Anakku yang manis itu menjadi lebih ceria saat ini. Aku bahagia memilih menjadi seorang ibu rumah tangga dengan kegiatan monoton setiap harinya. Dan sahabatku pun sepertinya terlihat senang dengan pilihannya sebagai penjelajah negara. Ya, hidup itu memang sebuah pilihan.



 Postingan ini diikutkan dalam kuis Duta Buku IIDN

14 komentar:

  1. ciaaa... my life my rule! dimana-mana lagi ada kontes, bikin ngiler ajah! :)

    BalasHapus
  2. Balasan
    1. makasih ya mbak Dwi udah baca :)

      Hapus
  3. semoga menang lagi ya mbak

    salam kenal ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiinnn, makasih mas Imam, lam kenal jg ya

      Hapus
  4. Pastinya si ibu rumah tangga juga ingin ke Paris ya... :)
    Aku juga ikutan lagi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe tau aja nih, good luck ya mbak, semoga menang lg kita hehe

      Hapus
  5. aku kasih nilai 100, karena benar, hidup adalah pilihan

    #Salam sahabat dari saya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tks Yousake, lam sahabat jg yaa

      Hapus
  6. Tambahan;;; Hidup harus bermasalah;;; kalau tak mau punya masalah;;; ya.... gak usah hidup. hehehhe.... | Ronda Malam | #Masyonow.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa ajah nih Masyonow, tks udah baca ya mas :)

      Hapus