Sabtu, 29 Maret 2014

Alasan Membeli Buku


Bagi penulis seperti saya, buku adalah ‘makanan’. Jadi, kalo nggak baca bakalan ‘kelaparan’, karena idealnya seorang penulis adalah pembaca yang baik. Suka nulis tapi nggak suka baca sama artinya dengan nggak makan tapi pengin kenyang. Nah, masalahnya … kadang saya suka dilema dalam hal membeli buku. Sejak bergabung di grup-grup kepenulisan dan komunitas kelas menulis, saya jadi mempunyai banyak sekali kenalan penulis, mulai dari yang baru aja ‘melahirkan’ naskahnya sampai yang karyanya udah bejibun. Jumlahnya ada puluhan bahkan ratusan orang.

Yang saya bayangin, kalau dalam sebulan ada puluhan teman sesama penulis yang berhasil menerbitkan buku, dan nggak jarang mereka pasti menginfokan itu di grup atau secara pribadi agar saya ‘wajib’ memiliki, lalu apa kabar isi dompet saya nantinya? Ada rasa sungkan kalau saya nggak beli buku mereka, apalagi kalau teman yang lumayan kenal dekat dan sering curcol saban hari. Walaupun motif dari membeli buku mereka alasannya karena nggak enak hati dan belum tentu buku mereka sesuai kebutuhan saya atau jenis tulisannya saya suka. Kalau sehati sih ndak masalah, cuma melihat daftar antrian buku teman-teman yang ‘wajib’ saya beli sudah sangat panjang, kasihan juga melihat isi dompet saya jadinya … hiks.

Membeli buku memang suatu kebutuhan tersendiri bagi saya, dalam sebulan pastinya minimal ada lima buku yang wajib jadi bahan bacaan saya. Walaupun sekarang nggak harus beli buku juga kalau mau baca, cukup blogging atau googling aja kita bisa mendapatkan banyak sekali bahan bacaan. Cuma menurut saya, membaca via gadget itu kepuasannya beda. Ibarat makanan, membaca via internet itu ibarat makanan fast food bahkan junk food, gizinya jauh banget sama bacaan yang hardcopy, kenikmatan membacanya juga beda. Jadi mau secanggih apapun media informasi via internet, saya tetap memilih buku sebagai sumber ‘hiburan’ yang sangat memuaskan #halah

Untungnya sekarang saya punya cara tersendiri menyiasati supaya bisa memiliki buku yang saya inginkan tanpa harus menguras isi dompet secara berlebihan. Tapi saya punya prinsip yang masih saya pegang sampai detik ini, saya paling anti meminta buku secara gratis dari teman penulis walaupun itu udah soulmate banget. Saya akan tetap menghargai jerih payah mereka menghasilkan buku dengan membelinya. Kecuali kalo dia ikhlas memberikannya tanpa saya minta, rezeki nggak boleh ditolak toh? Tapi saya tetap say no to minta-minta gratisan buku ke teman penulis, titik!

Lebih baik saya cari diskonan atau ke tokbuk loakan untuk meminimalisasi pengeluaran. Atau ikutan kuis dan give away yang penulis adakan kalo pengin dapat gratisan buku. Setidaknya saya ada usaha dan membantu mereka mempromokan bukunya, sehingga nerima hadiahnya juga nggak pake malu karena pake usaha. Barteran buku masih lebih terhormat menurut saya, daripada ngerengek minta japrem. Kadang ada satu hal yang bikin saya miris, ketika saya harus merasa tak enak hati saat bilang nggak suka sama buku yang ditawarkan ke saya, padahal dia teman seperjuangan … he. Moso harus maksain diri tetap beli kalo ujung-ujungnya nggak bakalan saya baca. Jujur, dikasih gratis pun belum tentu saya minat buat baca kalo saya nggak suka, yang ada saya hibahkan ke orang tuh buku jadinya. Tapi yang pasti untuk menjaga perasaannya saya nggak koar-koar langsung ke dia soal itu #yaealahhh, nyare mate? Hihihi.

So, kadang saya punya alasan tersendiri untuk membeli buku yang di luar daftar antrian. Itulah jeleknya saya, suka nggak konsekuen sama daftar belanjaan, hiks. Selain memang urgent dan terdesak kebutuhan bahan tulisan, saya memang suka nggak bisa menahan diri untuk menyegerakan hal apapun yang saya kehendaki, kecuali satu hal … (apa yaaa, kasih tau nggak yaaa)

Di saat ibu-ibu kompleks tetangga rumah pada sibuk belanja baju, tas ato sepatu buat memenuhi passion mereka, saya justru ngubek-ngubek tokbuk buat hunting novel terbaru. Saat teman-teman sosmed pada heboh buka situs Berrybenka.com dan Zalora.com, saya lebih asyik ngacak-ngacak Bukabuku.com ato BukuKita.com. Untungnya saya nggak sendirian, setidaknya saya punya teman berbagi yang juga maniak belanja buku (bahkan ada yang lebih parah dari saya). Jadi sah-sah aja kalo beli buku jadi salah satu alasan tersendiri buat saya untuk tetap bertahan ‘hidup’.

Rabu, 26 Februari 2014

Review Novel Tell Your Father, I am Moslem


Judul Buku                 : Tell Your Father, I am Moslem
No. ISBN                  : 9797958124
Penulis                        : Hengki Kumayandi
Penerbit                      : Wahyu Qolbu
Tanggal Terbit             : Februari 2014
Jumlah Halaman          : ix + 259 halaman
Jenis Cover                 : Soft cover
Kategori                     : Novel Religi
Teks                           : Bahasa Indonesia
Harga                         : Rp. 47.000


Keyakinan dan Logika yang Menghalangi Cinta

            Ini kisah cinta yang sangat pelik. Melibatkan keyakinan dua agama yang berbeda melawan kekuatan cinta dua remaja yang sangat besar. Seperti kisah Layla Majnun yang melegenda, dalam versi modern dibalut kisah romance yang dramatis dan menginspirasi.

            David, remaja tampan anak angkat seorang Pastor. Maryam, gadis cantik anak duta besar Uni Emirat Arab. Keduanya terlibat cinta pada pandangan pertama saat bertemu di sekolah. Cinta yang mereka rasakan sangat berbeda dan belum pernah mereka rengkuh sebelumnya seumur hidup sebelum perkenalan mereka. Cinta yang tak pernah mereka dapatkan dari orang-orang yang mereka sayangi.

            David dan Maryam sangat memegang teguh ajaran agama masing-masing. Walaupun sangat saling mencintai, namun keduanya berusaha keras melawan kata hati untuk menegakkan logika dan memegang teguh ajaran agama masing-masing. Perjuangan yang sangat berat saat harus berbohong pada diri sendiri untuk saling melupakan karena perbedaan keyakinan. Perjuangan yang menciptakan beban batin hingga membuat mereka depresi dan nyaris sekarat.

Di tengah kemelut permasalahan cinta mereka, ayah Maryam memutuskan untuk menjodohkan Maryam dengan Khaled demi memisahkan David dan Maryam. Merasa tak mempunyai daya dan tak ingin berpaling dari Tuhannya, Maryam akhirnya menerima perjodohan itu dengan satu syarat. Khaled tidak diizinkan menyentuhnya sampai ia mampu melupakan David.

Mampukah Khaled mempertahankan rumah tangganya dengan kondisi mempunyai istri yang sama sekali tak bisa disentuhnya? Apakah Maryam dan David mampu saling melupakan? Apalagi setelah Maryam mengetahui akhirnya David memilih untuk beralih keyakinan karena ternyata orang tua kandung David adalah seorang muslim. David yang telah menjadi seorang muslim dan tetap menanti Maryam.
***
Hengki Kumayandi menuliskan novel ini dengan bahasa yang santun dan berani. Berani menggambarkan secara detail pertentangan batin dua keyakinan berbeda yang saling mencinta. Dengan seimbang mendeskripsikan sisi positif dari agama tersebut, sehingga tidak ada kesan SARA dalam novel ini. Walaupun turut dijabarkan cuplikan isi ayat suci dari kedua agama tersebut.

Hanya ada beberapa bab yang terlalu dramatis hingga menimbulkan kesan berlebihan dalam novel ini. Saat kedua tokoh berusaha mempertahankan cinta mereka hingga keduanya jatuh sakit dan hampir sekarat karena menanggung beban psikis yang teramat berat. Namun, dalam sebuah fiksi terkadang alur yang melodrama juga dibutuhkan untuk menimbulkan emosi pembaca. Dan Hengki sukses membuat saya merasa trenyuh dengan kondisi tokoh yang memprihatinkan tersebut dalam memperjuangkan cinta mereka.
***

Senin, 27 Januari 2014

Review Kumcer Sepanjang Musim


Penulis      : - Aveus Har 
                    - Karina Ayu Pradita 
                    - Gari Rakai Sambu 
                    - Asya Azalea 
                    - Ovita Sari 
                    - Bagas Prasetyadi
Penyunting : Fatimah Azzahrah
Penerbit     : Media Pressindo
Ukuran       : 13 x 19 cm
Tebal          : 184 halaman
ISBN            : 978-979-911-325-2
Harga          : Rp. 28.500

Kumpulan cerita pendek yang ditulis oleh 6 orang penulis handal yang beberapa di antaranya berprofesi sebagai editor, desainer bahkan sutradara. Malah ada beberapa orang mengaku kalau cerpen yang mereka buat ini adalah cerpen perdananya. Kumpulan cerita yang sebagian besar memiliki benang merah yang diceritakan dengan sudut pandang yang berbeda. Mengambil tema tentang musim, mulai dari musim hujan, kemarau, liburan, durian, kawin, mudik, pemilu, ujian, haji, kembang api sampai musim pancaroba. Tersaji lengkap dengan ide cerita yang sederhana namun memiliki pesan moral dan makna yang luar biasa.

            Masing-masing cerita mempunyai gaya kepenulisan yang berbeda. Sudut pandang dan gaya bahasa beragam, dikemas dengan diksi dan alur yang memesona, membuat saya penasaran untuk menuntaskan setiap cerita perjudulnya sampai halaman terakhir. Gaya bahasa yang santai, tidak membuat saya mengernyitkan dahi dengan istilah-istilah yang biasanya hanya dipahami oleh si penulisnya sendiri. Bacaan yang ringan dan sederhana namun sarat makna dan pembelajaran hidup.

            Ada kisah tentang bagaimana jatuh bangunnya kehidupan cinta dan sosialitas seseorang sampai bagaimana dia bisa mengatasi kegalauannya hingga berhasil move on dan keluar dari masalahnya. Tidak melulu tentang kisah cinta yang happy ending, kisah yang terkesan real dan apa adanya yang mungkin banyak dialami dalam kehidupan kita sehari-hari. Bahkan pada setiap kisah yang serba kebetulan, ternyata bisa menghasilkan alur cerita yang menakjubkan. Seperti cerpen romantis dan dramatis yang ditulis Gari Rakai Sambu dengan judul 'Selamat Datang Cinta'.

            Setiap judul dalam buku kumpulan cerita pendek ini menyajikan isi yang mengundang penasaran. Bagaimana diksi yang dikemas apik dan alur cerita yang melompat indah namun mudah dicerna. Membuat saya merasa perlu mengatakan bahwa ide Sepanjang Musim ini sangatlah antimainstream dan cocok buat tempat belajar bagi penulis yang ingin tahu bagaimana cara membuat cerita yang tidak biasa.

       Sebut saja ini kumpulan kisah sederhana, kumpulan kontemplasi, mungkin juga kumpulan cara memaknai cinta.

Sabtu, 11 Januari 2014

Waktu yang Menyembuhkan

Banyak orang yang gagal move on dari suatu masalah bukan karena tidak menemukan solusi untuk memecahkannya. Setelah diamati, ternyata yang menggagalkan usaha move on itu sendiri hanyalah kurangnya kesabaran saja. Bahwasanya setiap masalah pastilah ada solusinya, solusi yang tepat sebenarnya hanyalah menjalani tanpa berdiam diri dan biarkan waktu yang akan mengobati. Kalimatnya berat banget yak? hihihi. Simpelnya gini deh, pernah dengar kalimat 'badai pasti berlalu'? Yups, begitu pun yang namanya masalah, seberat apa pun masalahmu semua pasti akan berlalu, kuncinya sabar, jalani dan jangan berdiam diri meratapi masalah itu sendiri. Carilah sesuatu yang baru dan tinggalkan saja masalah itu tanpa beban, yakin deh ... move on pasti bisa kamu lewatkan.

Ini nggak hanya move on tentang masa lalu, perasaan, patah hati atau tetek bengek mengenai percintaan. No, ini move on dalam segala hal lho ya. Survey sudah membuktikan kalau yang namanya permasalahan itu timbul sebenarnya dari diri sendiri. Kita yang buat, kita yang bikin ribet dan kita yang uring-uringan sendiri. Kekhawatiran kita yang berlebihan itulah yang memonopoli pikiran menjadi negatif, padahal belum tentu yang akan terjadi seperti apa yang ada di pikiran kita saat ini. Siapa yang tahu tentang kejadian yang akan kita alami satu menit saja ke depannya. Tak ada yang tahu, kan? So? Santai saja dengan masalah, tinggal dijalani, dan biarkan sang waktu yang akan memendarkannya dari pikiran kita. Yang penting jangan pernah berdiam diri, carilah sesuatu hal yang baru dan beralihlah ke hal-hal positif selalu.


Rabu, 08 Januari 2014

Mempelajari Cinta, Perlukah?

Kemarin twitter saya di follow satu akun yang tidak saya kenal. Biasanya saya cuek aja, coz nggak begitu hobi nge-twit. Nggak ada yang menarik pada awalnya, sampai saya sadar kalau yang follow saya itu ternyata seorang psikiater. Dan yang bikin saya tertarik, saat saya ngeh kalau dia mengelola sebuah website yang isinya mengenai berbagai pelajaran tentang cinta. Sepertinya orang ini mentor, guru, psikolog atau motivator spesialis cinta deh kayaknya ... he.

Saya sempat bertanya-tanya, dan pertanyaan saya ternyata ada di salah satu judul artikel yang tertera di website tersebut. Perlu nggak sih mempelajari yang namanya cinta? Tapi kalo nggak perlu kok sampe ada orang yang mendirikan sekolah cinta yang biayanya lumayan lhoo. Cinta aja sampe ada sekolahnya, wew ...

Saking penasarannya, saya baca semua artikel di website tersebut. Setelah saya cerna, teliti dan mengamati isi tulisannya, serta program-program kelas yang ditawarkan, ternyata cukup masuk akal juga. Nggak heran kalau orang itu berani pasang tarif jutaan hanya untuk biaya seminar, workshop dan konseling tentang ... CINTA. Untuk orang awam mungkin akan berpikir dua rakaat sebelum mendaftar kelas tersebut. Pasti Anda akan berpikir ... apa sih yang mesti dipelajari dari cinta?

Cinta, anak kecil juga udah pada ngerti kale! Yups, itu pemikiran sebagian orang yang nggak pernah ngerasain bermasalah sama yang namanya cinta. Kalo pelajaran tentang cinta nggak penting, kenapa sampe ada orang yang trauma bahkan sampe bunuh diri karena cinta? Nah lho? Ada yang mau menyangkal lagi kalo pelajaran tentang cinta itu nggak penting?

Kalo menurut saya pribadi sih cinta itu sebenarnya yang bikin awet adalah komunikasi yang baik dan take en give sama pasangan, cuma itu aja kok. Saling mengerti dan harus ada yang mau mengalah dengan perbedaan. Yang namanya masalah pasti ada, apalagi buat yang sudah berumah tangga. Masalah ekonomi, anak, keluarga, itu merupakan hal yang wajar, tinggal bagaimana kita menyikapinya dengan kesabaran, lapang dada, pikiran terbuka dan saling menerima.

Yang bikin gawat sebenarnya kalau salah satu pasangan nggak bisa diajak kerjasama, mementingkan ego dan selalu merasa benar sendiri. Itu yang biasanya menimbulkan perpecahan suatu hubungan. Sebenarnya simpel aja sih, asal kita sama-sama tahu keinginan pasangan dan mau mewujudkannya, semuanya akan berjalan lancar, itu aja kok. Jangan pernah membatasi privacy dan 'me time' pasangan, itu yang terpenting. Memiliki bukan berarti bisa seenaknya menggenggam, karena nggak semua orang mau diatur-atur dan disetir seenaknya. Justru dengan memberikan kebebasan bersyarat maka pasangan akan berpikir untuk bertanggung jawab.

Kesetiaan itu akan kita dapatkan tergantung bagaimana kita bisa memuaskan pasangan. Kalau pasangan kita puas dengan apa adanya kita, nggak bakalan dia cari pelarian lagi. Itulah pentingnya komunikasi dan saling mengerti keinginan pasangan satu sama lain. Jangan pernah menilai seseorang dari penampilan luarnya dan dari perilaku sosialitasnya, karena itu tidak menjamin bagaimana sifat asli orang tersebut. Orang yang kelihatan kalem dan tertutup belum tentu tidak bisa menjadi liar, pun sebaliknya.

Cinta memang suatu hal yang selalu menarik untuk dibahas. Dan ternyata suatu hal yang menarik juga untuk dipelajari, karena cinta itu penyemangat hidup. Jangan pernah menampik kalau hidup hampa tanpa cinta. Karena efek dari kehilangan rasa cinta itu besar pengaruhnya. Bisa bikin bad mood, galau, patah hati bahkan sampe bunuh diri ... hiiiyy. Dan tak sedikit orang yang bisa bangkit karena cinta. Jadi ingat lagunya Delon ...

Dan bila aku berdiri tegar sampai hari ini
Bukan karena kuat dan hebatku
Semua karena cinta, semua karena cinta ...
Tak mampu diriku dapat berdiri tegar, terima kasih cinta



Senin, 30 Desember 2013

Antara Eksis dan Mencari Sensasi

"Eksis sih boleh ... tapi nggak harus cari sensasi juga kalee!"

Pengin banget meneriakan kalimat itu setiap kali melihat hal-hal yang nggak lazim. Seperti maraknya para pencari sensasi di televisi belakangan ini. Terkenal karena prestasi dan terkenal gara-gara sensasi pasti beda sekali nilainya. Begitu pun yang terjadi dalam kehidupan sosial kita, baik di dunia nyata maupun maya. Apalagi di sosial media, memang sih ... sosial media itu diciptakan untuk sarang bernarsis-ria, promo, iklan, cuap-cuap sampe curhat. Tapiiii, kok gerah banget ya ngeliat mereka-mereka yang menyalahgunakan media untuk ajang yang tidak semestinya.

Kenapa para manusia itu merasa penting sekali mencuatkan dirinya untuk dikenal. Supaya laku? Hellowww ... Hare gene orang bisa menilai kaleee. Terkenal karena prestasi sama terkenal gara-gara sensasi pasti tetap beda feel-nya. Biasanya orang yang terkenal karena prestasi jarang memublikasikan diri sendiri. Malah seringnya mereka dikenal karena orang lain yang memublitaskan mereka karena fanatisme atau sekadar dompleng popularitas. Yaahh, itu memang tergantung dari sudut pandang masing-masing individu untuk menilai. Penilaian orang tak akan sama, ada yang negatif dan positif. Tapi seringnya kok ya manusia-manusia itu senang mencari sensasi dengan mengadakan kontroversi nggak penting berbau negatifisme. #Ahh, berat kali bahasa kau, Nak

Ternyata Hoeda Manis benar, kebanyakan sesuatu yang bagus dan baik itu biasanya selalu tersembunyi atau pun jarang diketahui kebanyakan orang. Nggak cuma buku aja, bisa jadi informasi yang berguna atau sejenisnya. Memang, yang namanya mutiara walaupun ada di dalam lumpur tetap aja namanya mutiara. Tetap akan berharga pastinya. #yaealaahhh

Jadi intinya, mari hilangkan kebiasaan mencari-cari kesalahan orang yang sekadar untuk eksistensi diri. Kenapa nggak cari hal positif untuk disebarkan dan negatifnya pelajari saja sendiri tanpa harus menghujat dan menjatuhkan dalam menilai sesuatu.

Selasa, 24 Desember 2013

3 Film Favoritku di Tahun 2013

Sepanjang 2013, ada beberapa film Indonesia yang sangat menginspirasi dan menjadi tontonan favoritku sampai detik ini. Saking sukanya, aku sampai membeli DVD-nya untuk disetel di rumah. Ketiga film ini sudah kutonton puluhan kali, tapi herannya aku nggak pernah bosan dan masih kerap kali menitikkan air mata di adegan tertentu. Cuma ada 3 ... ya, cuma 3. Ketiga film ini sangat berkesan bagiku.

1. Rectoverso

Hampir setiap minggu aku memutar ulang film ini untuk kutonton. Kalau lagi suntuk, bad mood, males ngapa-ngapain, pasti penginnya nonton film ini. Ada beberapa kutipan yang sangat aku suka ...

"Kadang-kadang pilihan terbaik adalah menerima, maka semuanya akan baik-baik saja."

"Saya adalah orang yang paling bersedih, karena saya mengetahui apa yang tidak mungkin saya miliki."

Dan entah mengapa, setiap melihat adegan terakhir film (terutama di bagian saat Abang memeluk Bunda sambil menangis ketika mengetahui Leia sudah pergi, tidak ngekos di tempat Bunda lagi) aku selalu ikut menangis. Jleb banget nih film, nggak bakalan bosan nontonnya.

2. Habibie & Ainun

Ini juga film yang udah aku tonton puluhan kali. Kisah romantis dan kesetiaan yang sangat menginspirasi. Kata bijak yang sangat aku suka dari film ini ... "Tak perlu seseorang yang sempurna, cukup temukan orang yang selalu membuatmu bahagia dan membuatmu berarti lebih dari siapa pun."
Memang, kisah dalam film ini sangat jarang ditemui di kehidupan nyata, walaupun film ini diangkat dari kisah nyata. Tapi setidaknya bisa memberikan gambaran kepada kita semua, bahwa yang namanya cinta sehidup semati itu memang masih ada.

3. 5cm.

Film ini pas banget ditonton kalo lagi down berat dan butuh suntikan semangat. Banyak motivasi dan inspirasi di dalamnya. Kutipan yang paling kusukai adalah:

"Cinta dan setia itu pilihan, bukan sejalan."

"Ketika Tuhan mengambil sesuatu dari genggamanmu, Dia tak menghukummu. Namun hanya membuka tanganmu untuk menerima yang lebih baik."

"Semua keberhasilan dan kesuksesan diawali dari keputusan untuk mencoba."

"Kadang kamu tak sadar dengan apa yang kamu miliki hingga mereka pergi."

"Gagal itu urusan nanti, yang terpenting kita berani untuk mencoba dan mencoba."

"Jangan pernah berhenti untuk bermimpi."

Ketiga film itu sangat membawa dampak positif bagi kehidupanku. Entahlah, seolah ada makna dan hikmah tersendiri yang terpendam di dalamnya. Yang pasti ketiga film ini nggak akan pernah bosan buat kutonton sampai detik ini.