From
Socmed Becomes Roommate
Oleh : Mel A.
Aku mengenalnya melalui dunia maya.
Namanya Puput Palipuring Tyas. Seperti namanya, gadis itu memang jagonya
menjadi pelipur lara, kerap menghiburku dalam segala suasana. Chemistry seolah
telah ditakdirkan untuk menyatukan persahabatan kami. Walaupun persahabatan
yang kami jalani melalui long distance friendship,
tapi kami sudah seperti prangko dan amplopnya.
Berawal dari sebuah e-mail yang kuterima darinya, yang isinya
memberitahukan bahwa ia telah mengikuti event
launching novel perdanaku. Tak disangka, ternyata Puput juga seorang
penulis yang bahkan lebih matang di dunia kepenulisan dibanding aku. Entah
kebetulan atau memang sudah skenario Tuhan, kami seperti sudah diperjodohkan
untuk menjadi sepasang sahabat yang selalu mempunyai alur kisah kehidupan yang
nyaris sama.
Aku dan Puput memang penghayal,
namanya juga penulis. Kami membuat banyak sekali rencana dan berusaha
mewujudkan impian kami bersama-sama. Kami yang penggila travelling ini membuat banyak sekali daftar tempat yang harus kami
kunjungi di setiap kopi darat kami nanti. Aku dan Puput juga penggila sastra,
UWRF (Ubud Writers and Readers Festival)
adalah impian pertama kami untuk mewujudkan pertemuan pertama di dunia nyata.
“Put, kita harus jadi bagian dari
UWRF.”
“Setuju, Kak. Mari mulai menyusun
agenda impian kita.”
Usiaku dan Puput memang terpaut
jauh, hampir sepuluh tahun selisihnya. Tapi kami seolah tak menemukan
sedikitpun perbedaan usia. Kami sama-sama percaya, bahwa apa yang kami tuliskan
untuk merancang impian disertai keyakinan yang kuat, itulah yang akan kami
alami di masa yang akan datang. Aku dan Puput selalu yakin, suatu saat nanti
pasti semua impian yang kami buat akan menjadi nyata.
***
Skenario Tuhan memang sangat indah, sepertinya
Dia sungguh merestui persahabatanku dan Puput. Apapun yang kami rencanakan
selalu bisa terwujud. Termasuk menjadi bagian dari kemegahan pesta UWRF, yang
berhasil mempertemukanku dan Puput untuk pertama kali di dunia nyata. Di
bandara Ngurah Rai, adegan dramatis pertemuan dua sahabat pun terjadi. Pelukan
erat dan tangisan bahagia mengawali petualanganku dan Puput di Pulau Dewata
ini.
“Wah, perjuangan kita luar biasa ya,
Kak.”
“From
socmed becomes roommate nih ceritanya kita.”
Sungguh dream come true, hampir satu tahun kami merancang impian untuk bisa
bertemu di dunia nyata. Berbagai aral yang sempat merintang pun dengan sangat
ringan kami hadapi bersama. Keberuntungan seolah selalu menyertai dalam perwujudan
impian kami. Aku dan Puput menghabiskan lima hari di Ubud dengan mengikuti
acara festival para penggiat sastra dari seluruh penjuru dunia. Sangat bangga
bisa berada di antara para penulis terkenal yang sebelumnya hanya bisa kami
lihat di layar kaca.
“Our
dream come true, Put.”
“We
were make it happen, Sist.”
Puput bagiku seperti sesosok tongkat
ajaib, yang mampu mewujudkan beberapa impian indahku. Sejak mengenalnya, aku
bisa berada di tempat yang sebelumnya hanya ada dalam imajinasiku saja. Hanya
dengan bim salabim, bersama Puput aku menjelma petualang sejati. Bersama Puput,
aku menemukan banyak hal yang luar biasa menjadi penyemangat hidup.
Selama di Ubud, kami tak
menyia-nyiakan kesempatan untuk menyusuri setiap jengkal eksotisnya Pulau Dewata
ini. Keindahan panorama alamnya mampu me-refresh
otakku yang penat karena keseharian aktivitas monoton di tempat kerja. Saat
pagi hari selama di Ubud, kami selalu menyempatkan diri menikmati ritual masyarakat
Ubud yang membuat banten untuk diletakkan di depan kediaman mereka. Sungguh
adat istiadat yang menarik.
Acara UWRF merupakan surga bagi para penggiat
sastra. Aku dan Puput sangat bersyukur bisa dipertemukan di tempat seindah ini,
di tengah euforia acara tahunan yang fenomenal bagi para penulis. Bukan hanya
pesona budayanya yang membuat kami takjub, tapi keramahan penduduk lokal
setempat menambah betah untuk tinggal lebih lama lagi di sini.
“Apa lagi impian kita setelah ini,
Kak?”
“Bagaimana dengan Belitung?”
“Wow, pulaunya Laskar Pelangi. Mari
kita mulai menuliskan impian lagi menuju Belitung, Kak.”
“Tambahin keterangan di buku mimpi
kita, kalo ke Belitungnya gratis yaa, hehe.”
“Bismillah, Kak. Nggak ada yang
nggak mungkin asal kita yakin dan berusaha.”
Persahabatan ini bagai sebuah
keajaiban bagi kami. Mampu mewujudkan hal yang mustahil, menyulap mimpi
menjelma nyata. Puput yang suka berfilosofi mengumpamakan persahabatan kami
seperti handuk, yang selalu bisa menghangatkan, membersihkan kotoran seumpama
aib, bahkan mengompres kening di kala sakit. Seperti itulah makna persahabatan
bagi kami. Selalu berusaha saling mencintai dan menemani tanpa melihat kondisi.
Serta selalu menyimpan rapat setiap curahan hati di antara kami.
Aku dan Puput yang berjarak dan
hanya mengandalkan keberuntungan bila ingin saling bersentuh raga, selalu
mengandalkan keyakinan dari impian indah kami untuk berkeliling dunia. Kami
telah membuktikannya, berawal dari sosial media hingga akhirnya bertemu dalam
sebuah ruangan hangat dan menghabiskan waktu bersama.
Sungguh persahabatan yang indah, tidak
hanya dalam makna hubungannya, tapi juga dalam menjalaninya di dunia nyata.
Indah karena kami bertekad untuk selalu bisa bertemu di tempat-tempat terindah
di penjuru tanah air tercinta ini, hingga penjuru dunia.
***
Cerpen ini ditulis dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen dari Tiket.com dan nulisbuku.com #FriendshipNeverEnds #TiketBelitungGratis
wan bagus nih, semoga menang ya..
BalasHapus