Kamis, 15 Mei 2014

Jatuh Cinta Berkali-kali pada Orang yang Sama Setelah tersakiti, Pernahkah?



Pernah nggak kalian merasakan jatuh cinta berkali-kali pada orang yang sama setelah tersakiti. Sempat sakit hati, patah hati dan cari pengganti, tapi nggak tau gimana ceritanya akhirnya balikan lagi dan makin cinta lagi (masih) dengan orang yang sama tadi. Ada yang bilang kalo cinta yang sempat tersakiti jika kembali maka kondisinya tak akan sama lagi. Hmmm … benarkah?
Tapi saya punya cerita, sebut saja namanya Kei dan Syams. Mereka menjalin hubungan selama satu tahun dan saling mencintai. Entah apa yang terjadi dengan Syams sehingga menyakiti perasaan Kei. Mungkin Syams jenuh atau ada sesuatu yang tak terpenuhi dari Kei sehingga Syams pindah ke lain hati. Intinya Kei tak terima dengan sikap Syams dan memutuskan untuk meninggalkan Syams. Dan ternyata Kei bisa jatuh cinta lagi.
Pada saat itu Kei berpikir, Syams aja tega membagi hati, kenapa dia nggak bisa melakukan hal yang sama? Mereka putus hubungan selama hampir setahun, walopun terkadang masih saling berkomunikasi dengan alasan tidak ingin putus silaturahmi.
Suatu hari Kei bermasalah dengan kekasih barunya dan akhirnya putus juga. Entah CLBK atau masih saling cinta atau juga ada cinta yang belum selesai antara Kei dan Syams, mereka pun balikan. Ternyata tidak ada yang berubah dengan perasaan Syams, Kei pun sebenarnya demikian. Dan di hubungan yang mereka jalin kembali, Kei merasakan jatuh cinta lagi dengan Syams (yang tadinya sempat memudar karena rasa sakit hati dan kehadiran kekasih barunya).
Kei benar-benar jatuh cinta lagi dengan Syams, jatuh cinta untuk yang kedua kali. Tapi apa yang orang bilang kalau cinta yang sempat tersakiti kalau balikan lagi maka kondisinya akan berbeda itu tak berlaku untuk Kei dan Syams. Mereka malah semakin hangat dan hubungan mereka menjadi lebih hebat. Entah apa yang ada di pikiran Kei dan Syams sehingga mereka mengabaikan masa lalu yang sempat kelam dan membuang jauh rasa kecewa yang pernah ada.
Intinya Kei dan Syams tidak menyimpan dendam dan tak memendam kepedihan. Mengapa Kei berpikir untuk balikan lagi dengan Syams? Kalau masalah itu saya hanya bisa bilang mungkin itu takdir Tuhan. Kei dan Syams bisa saja move on dan masing-masing mereka mendapatkan yang (mungkin) lebih baik lagi dari keduanya. Tapi kenyataannya mereka memilih untuk memperbaiki hubungan yang sempat hancur dan belajar dari kesalahan untuk tidak lagi melakukan kesalahan yang sama. Pada intinya mereka masih saling mencintai.
Ya … mencintai dengan menerima kekurangan adalah hal yang sangat langka bisa terjadi. Sebut saja satu dari seribu yang memiliki kisah seperti Kei dan Syams tadi. Saling memaafkan dan melupakan khilaf dan kesalahan akan terasa sulit dilakukan bila rasa cinta itu telah hilang. Jadi buat kamu yang pernah dimaafkan sama pasangan dan diberi kesempatan kedua, berbahagialah. Kamu beruntung bila masih dimaafkan setelah menyakiti tanpa alasan.

Senin, 12 Mei 2014

Mencintai = Melepaskan, Benarkah?





Belakangan ini saya jadi sering memperhatikan berita tentang perceraian selebritis di televisi. Sebenarnya saya bukan tipe orang yang suka nonton tivi, apalagi untuk acara yang nggak penting-penting banget. Berhubung sekarang saya full time di rumah dan itu tivi mode on dari bedug subuh ampe lewat isya, ya mau nggak mau mata dan kuping saya ikut mencerna apa yang ditonton sama orang-orang rumah yang (mungkin) hobinya nonton tivi.

Saya cukup terperangah mendengar berita perceraian salah satu chef cantik baru-baru ini. Yang membuat saya tak habis pikir adalah statement yang dia keluarkan mengenai perceraiannya. Dengan alasan hubungan yang sudah seperti kakak adik (tapi masih mencintai *katanya) maka dia merasa akan lebih bahagia jika melanjutkan hidup sendiri-sendiri saja.  

Saya sempat tercenung dengan ucapan chef cantik tersebut. Dia masih mencintai suaminya, bahkan menyatakan kalau hubungannya sudah bermutasi seperti kakak dan adik. Saya sempat mengambil kesimpulan berarti cinta yang dia rasakan terhadap suaminya sudah menjadi cinta platonik dong? Lalu … dia melepaskan ikatan pernikahannya dengan kondisi masih mencintai. Wow … trus apa kabar dong ya dengan perceraian orang-orang yang saling menyakiti dan sudah saling membenci yang pasti tak ada rasa cinta lagi di antara mereka.

Tapi saya cukup salut dengan keputusan yang diambil chef cantik tersebut. Setidaknya dia berani menjadi diri sendiri, tidak munafik, tidak berpura-pura dan memaksakan diri menjalani kehidupan rumah tangga yang penuh dengan kamuflase. Kita tidak pernah tahu ada permasalahan apa di antara mereka sehingga mengambil  keputusan berpisah sebagai jalan terbaik. Yang pasti orang seperti chef cantik itu bukan tipe yang suka memakai topeng dan bersandiwara dengan kehidupannya. 

Ada sisi negatif dan positif yang bisa kita ambil dari kisah perceraian chef cantik tersebut. Mungkin saja ada orang ketiga dalam rumah tangga mereka (mungkin lhooo … ) Tapi dengan perceraian pastinya tidak akan terjadi yang namanya perselingkuhan. Dan mereka bisa menata kehidupan ke depannya dengan tenang. Tidak seperti kisah perceraian pengacara yang suka cari sensasi itu. Dramatis dan sinetron banget kisahnya, bikin geleng kepala.

Ada yang bilang hidup itu harus memilih, ada juga yang bilang justru pilihan yang maksa kita buat ngikutin dia. Tapi yang pasti jika kita tidak bisa memilih dan tidak mungkin juga menjalani hidup dengan orang yang sebenarnya ingin kita pilih, berarti kita terpaksa menjalani kehidupan dengan bertahan dalam kondisi yang mungkin sudah tidak membuat kita nyaman. Dan yang terjadi? Pelarian!

Tidak banyak orang yang berani berspekulasi dan bertahan dengan pernikahan yang tidak bahagia. Dalam kondisi seperti itu, mereka yang tak bisa membohongi diri sendiri biasanya memutuskan melepaskan diri dari ikatan pernikahan adalah jalan terbaik. Tapi satu hal yang kadang masih menjadi pertanyaan saya adalah apakah benar jika sungguh mencintai maka akan ikhlas melepaskan?

Bukankah istilah cinta tak harus saling memiliki itu adalah cinta yang penuh dengan penderitaan? Siapa sih yang mau hidup menderita? Cinta itu ya harus memiliki kalo kata Om Mario Teguh sih. Kalo nggak memiliki berarti patah hati dong. Dan istilah mencintai berarti rela melepaskan apakah tidak akan terjadi kisah cinta yang tak pernah selesai nantinya? 

Whatever-lah … cuma pengin ngeluarin unek-unek aja sih sebenarnya, haha … *abaikan.

Minggu, 06 April 2014

Review Novel Seribu Kerinduan




Judul Buku                 : Seribu Kerinduan
No. ISBN                  : 9786027572195
Penulis                        : Herlina P. Dewi
Penerbit                      : Stiletto
Tanggal Terbit             : November 2013
Jumlah Halaman          : 249 halaman
Jenis Cover                 : Soft cover
Kategori                     : Novel Romance Dewasa
Teks                           : Bahasa Indonesia
Harga                         : Rp. 43.000


Cinta Akan Selalu Menemukan Jalannya

Ungkapan kalau jodoh tak akan ke mana begitu terasa di novel ini. Walaupun sebuah hubungan terpisah karena berbagai masalah, tak akan mengubah ending yang sudah dituliskan oleh-Nya. Hanya perlu usaha untuk memperjuangkannya. Ya … usaha!

Cinta memang patut diperjuangkan, jika cinta itu sangat berharga hingga bisa mempengaruhi kehidupan pribadi yang membuat hidup menjadi tak berarti jika tak bersama orang yang dicintai dan diinginkan kehadirannya secara nyata. Cinta itu harus memiliki, itulah realita cinta sejati.

Renata Kumala, seorang fashion editor yang kehidupannya menjadi hancur karena hubungannya bersama Panji harus kandas akibat perjodohan yang dilakukan Ibu Panji yang tak menyetujui hubungan mereka karena status sosial Renata yang tidak selevel dengan keluarga Panji yang keturunan ningrat. Kariernya yang cemerlang harus ia relakan karena depresi berkepanjangan akibat kehilangan seorang Panji. Sebegitu hebatnya cinta yang dirasakan Renata hingga ia merasa hilang arah ketika Panji terpaksa harus meninggalkannya karena memilih menyetujui perjodohannya sekadar menuruti keinginan Ibunya.

Renata yang merasa terabaikan karena menurutnya Panji tak memperjuangkan cintanya menjadi gelap mata, khilaf serta melakukan kebodohan dan mengambil jalan pintas untuk menutupi rasa kehilangannya. Ia memilih menjadi pelacur highclass. Menurutnya dengan melakukan pekerjaan itu ia merasa dibutuhkan, dihargai, disanjung dan dicintai oleh pelanggannya yang selalu merasa terpuaskan olehnya. Renata merasa bosan dengan kehidupannya karena tak pernah mampu mengikis sosok Panji dari pikirannya.

Renata menghabiskan waktunya hanya untuk menelusuri kenangannya saat masih bersama Panji. Hingga suatu saat ia merasa rindu untuk kembali ke kehidupannya sebelum Panji meninggalkannya. Takdir sudah memilihkan jalan hidupnya. Kerinduannya akan menulis kembali ternyata mampu membawanya move on dan meneruskan hidupnya tanpa dihantui bayangan Panji lagi. Ia menuangkan semua kisah perjalanan hidupnya pada novel yang ditulisnya. Dengan begitu Renata merasa lega karena telah mengeluarkan semua unek-unek dan beban hidupnya.

Hingga suatu ketika, Panji yang gagal dengan pernikahan hasil perjodohan Ibunya karena istrinya ternyata berselingkuh dengan mantannya, hingga Panji memutuskan bercerai dan kembali mencari Renata. Apakah Renata masih menerima kehadiran Panji yang tiba-tiba menyentuh hidupnya kembali setelah setahun lebih meninggalkannya dan membuat hidupnya hancur? Bagaimana sikap Panji yang mengetahui profesi Renata sebagai pelacur? Apakah Renata benar-benar berhasil move on setelah memutuskan kembali ke dunia menulisnya?
***
Novel yang sarat pesan moral ini akan membawa pembacanya terhanyut dalam kisah klise yang dibalut dengan teknik penceritaan yang luar biasa. Herlina P. Dewi begitu apik mengemas cerita dengan bahasa sederhana yang tidak menggurui pembaca. Bagaimana tentang realita kehidupan seorang manusia yang tak mampu menerima kenyataan takdirnya, ia menggambarkannya secara gamblang dengan alur yang eksotis. Ternyata sebuah kerinduan berhasil membawa pemikiran seseorang untuk tetap bertahan dan memperbaiki keadaan. 

Apa mungkin juga karena kerinduan saya pada sesuatu yang mendorong saya untuk membabat habis novel romantis ini? Entahlah … Saya hanya setuju pada satu kutipan dalam novel ini “Cinta akan selalu menemukan jalannya.”
—Di sini aku duduk dan menunggu …—
Waktu akan membawa cinta kembali kepada seseorang yang merindu. Yang dibutuhkan hanya satu … perjuangkan cintamu!
***

Sabtu, 29 Maret 2014

Alasan Membeli Buku


Bagi penulis seperti saya, buku adalah ‘makanan’. Jadi, kalo nggak baca bakalan ‘kelaparan’, karena idealnya seorang penulis adalah pembaca yang baik. Suka nulis tapi nggak suka baca sama artinya dengan nggak makan tapi pengin kenyang. Nah, masalahnya … kadang saya suka dilema dalam hal membeli buku. Sejak bergabung di grup-grup kepenulisan dan komunitas kelas menulis, saya jadi mempunyai banyak sekali kenalan penulis, mulai dari yang baru aja ‘melahirkan’ naskahnya sampai yang karyanya udah bejibun. Jumlahnya ada puluhan bahkan ratusan orang.

Yang saya bayangin, kalau dalam sebulan ada puluhan teman sesama penulis yang berhasil menerbitkan buku, dan nggak jarang mereka pasti menginfokan itu di grup atau secara pribadi agar saya ‘wajib’ memiliki, lalu apa kabar isi dompet saya nantinya? Ada rasa sungkan kalau saya nggak beli buku mereka, apalagi kalau teman yang lumayan kenal dekat dan sering curcol saban hari. Walaupun motif dari membeli buku mereka alasannya karena nggak enak hati dan belum tentu buku mereka sesuai kebutuhan saya atau jenis tulisannya saya suka. Kalau sehati sih ndak masalah, cuma melihat daftar antrian buku teman-teman yang ‘wajib’ saya beli sudah sangat panjang, kasihan juga melihat isi dompet saya jadinya … hiks.

Membeli buku memang suatu kebutuhan tersendiri bagi saya, dalam sebulan pastinya minimal ada lima buku yang wajib jadi bahan bacaan saya. Walaupun sekarang nggak harus beli buku juga kalau mau baca, cukup blogging atau googling aja kita bisa mendapatkan banyak sekali bahan bacaan. Cuma menurut saya, membaca via gadget itu kepuasannya beda. Ibarat makanan, membaca via internet itu ibarat makanan fast food bahkan junk food, gizinya jauh banget sama bacaan yang hardcopy, kenikmatan membacanya juga beda. Jadi mau secanggih apapun media informasi via internet, saya tetap memilih buku sebagai sumber ‘hiburan’ yang sangat memuaskan #halah

Untungnya sekarang saya punya cara tersendiri menyiasati supaya bisa memiliki buku yang saya inginkan tanpa harus menguras isi dompet secara berlebihan. Tapi saya punya prinsip yang masih saya pegang sampai detik ini, saya paling anti meminta buku secara gratis dari teman penulis walaupun itu udah soulmate banget. Saya akan tetap menghargai jerih payah mereka menghasilkan buku dengan membelinya. Kecuali kalo dia ikhlas memberikannya tanpa saya minta, rezeki nggak boleh ditolak toh? Tapi saya tetap say no to minta-minta gratisan buku ke teman penulis, titik!

Lebih baik saya cari diskonan atau ke tokbuk loakan untuk meminimalisasi pengeluaran. Atau ikutan kuis dan give away yang penulis adakan kalo pengin dapat gratisan buku. Setidaknya saya ada usaha dan membantu mereka mempromokan bukunya, sehingga nerima hadiahnya juga nggak pake malu karena pake usaha. Barteran buku masih lebih terhormat menurut saya, daripada ngerengek minta japrem. Kadang ada satu hal yang bikin saya miris, ketika saya harus merasa tak enak hati saat bilang nggak suka sama buku yang ditawarkan ke saya, padahal dia teman seperjuangan … he. Moso harus maksain diri tetap beli kalo ujung-ujungnya nggak bakalan saya baca. Jujur, dikasih gratis pun belum tentu saya minat buat baca kalo saya nggak suka, yang ada saya hibahkan ke orang tuh buku jadinya. Tapi yang pasti untuk menjaga perasaannya saya nggak koar-koar langsung ke dia soal itu #yaealahhh, nyare mate? Hihihi.

So, kadang saya punya alasan tersendiri untuk membeli buku yang di luar daftar antrian. Itulah jeleknya saya, suka nggak konsekuen sama daftar belanjaan, hiks. Selain memang urgent dan terdesak kebutuhan bahan tulisan, saya memang suka nggak bisa menahan diri untuk menyegerakan hal apapun yang saya kehendaki, kecuali satu hal … (apa yaaa, kasih tau nggak yaaa)

Di saat ibu-ibu kompleks tetangga rumah pada sibuk belanja baju, tas ato sepatu buat memenuhi passion mereka, saya justru ngubek-ngubek tokbuk buat hunting novel terbaru. Saat teman-teman sosmed pada heboh buka situs Berrybenka.com dan Zalora.com, saya lebih asyik ngacak-ngacak Bukabuku.com ato BukuKita.com. Untungnya saya nggak sendirian, setidaknya saya punya teman berbagi yang juga maniak belanja buku (bahkan ada yang lebih parah dari saya). Jadi sah-sah aja kalo beli buku jadi salah satu alasan tersendiri buat saya untuk tetap bertahan ‘hidup’.

Rabu, 26 Februari 2014

Review Novel Tell Your Father, I am Moslem


Judul Buku                 : Tell Your Father, I am Moslem
No. ISBN                  : 9797958124
Penulis                        : Hengki Kumayandi
Penerbit                      : Wahyu Qolbu
Tanggal Terbit             : Februari 2014
Jumlah Halaman          : ix + 259 halaman
Jenis Cover                 : Soft cover
Kategori                     : Novel Religi
Teks                           : Bahasa Indonesia
Harga                         : Rp. 47.000


Keyakinan dan Logika yang Menghalangi Cinta

            Ini kisah cinta yang sangat pelik. Melibatkan keyakinan dua agama yang berbeda melawan kekuatan cinta dua remaja yang sangat besar. Seperti kisah Layla Majnun yang melegenda, dalam versi modern dibalut kisah romance yang dramatis dan menginspirasi.

            David, remaja tampan anak angkat seorang Pastor. Maryam, gadis cantik anak duta besar Uni Emirat Arab. Keduanya terlibat cinta pada pandangan pertama saat bertemu di sekolah. Cinta yang mereka rasakan sangat berbeda dan belum pernah mereka rengkuh sebelumnya seumur hidup sebelum perkenalan mereka. Cinta yang tak pernah mereka dapatkan dari orang-orang yang mereka sayangi.

            David dan Maryam sangat memegang teguh ajaran agama masing-masing. Walaupun sangat saling mencintai, namun keduanya berusaha keras melawan kata hati untuk menegakkan logika dan memegang teguh ajaran agama masing-masing. Perjuangan yang sangat berat saat harus berbohong pada diri sendiri untuk saling melupakan karena perbedaan keyakinan. Perjuangan yang menciptakan beban batin hingga membuat mereka depresi dan nyaris sekarat.

Di tengah kemelut permasalahan cinta mereka, ayah Maryam memutuskan untuk menjodohkan Maryam dengan Khaled demi memisahkan David dan Maryam. Merasa tak mempunyai daya dan tak ingin berpaling dari Tuhannya, Maryam akhirnya menerima perjodohan itu dengan satu syarat. Khaled tidak diizinkan menyentuhnya sampai ia mampu melupakan David.

Mampukah Khaled mempertahankan rumah tangganya dengan kondisi mempunyai istri yang sama sekali tak bisa disentuhnya? Apakah Maryam dan David mampu saling melupakan? Apalagi setelah Maryam mengetahui akhirnya David memilih untuk beralih keyakinan karena ternyata orang tua kandung David adalah seorang muslim. David yang telah menjadi seorang muslim dan tetap menanti Maryam.
***
Hengki Kumayandi menuliskan novel ini dengan bahasa yang santun dan berani. Berani menggambarkan secara detail pertentangan batin dua keyakinan berbeda yang saling mencinta. Dengan seimbang mendeskripsikan sisi positif dari agama tersebut, sehingga tidak ada kesan SARA dalam novel ini. Walaupun turut dijabarkan cuplikan isi ayat suci dari kedua agama tersebut.

Hanya ada beberapa bab yang terlalu dramatis hingga menimbulkan kesan berlebihan dalam novel ini. Saat kedua tokoh berusaha mempertahankan cinta mereka hingga keduanya jatuh sakit dan hampir sekarat karena menanggung beban psikis yang teramat berat. Namun, dalam sebuah fiksi terkadang alur yang melodrama juga dibutuhkan untuk menimbulkan emosi pembaca. Dan Hengki sukses membuat saya merasa trenyuh dengan kondisi tokoh yang memprihatinkan tersebut dalam memperjuangkan cinta mereka.
***